Bioetika ternyata tidak menjadi mode sesaat saja, sebagaimana terjadi dengan cukup banyak inovasi intelektual lainnya. Di Indonesia pun bioetika sudah bukan benda asing lagi, terutama dalam kalangan akademis. Misalnya, tahun 1988 di Universitas Atma Jaya, Jakarta, diadakan seminar bioetika yang mengikutsertakan pakar-pakar dari Belanda, Belgia, dan Amerika Serikat. Bahan seminar kemudian diterbitkan dalam bentuk buku: Bioetika. Refleksi atas Masalah Etika Biomedis, Jakarta, Gramedia, 1990. Dan sejak tahun 2000 kita memiliki “Jaringan Bioetika dan Humaniora” yang sudah tiga kali menyelenggarakan pertemuan nasional.
Bagaimana awal mula bioetika? Orang yang biasanya disebut untuk kali pertama menciptakan istilah bioethics adalah Van Rensselaer Potter, peneliti biologi di bidang kanker dan profesor di Universitas Wisconsin. Awal tahun 1971 ia menerbitkan buku Bioethics: Bridge to the Future. Tahun sebelumnya ia sudah menulis sebuah artikel yang menyebut istilah yang sama: Bioethics, the Science of Survival. Kemudian Potter mengakui bahwa istilah ini tiba-tiba timbul dalam pemikirannya, semacam “ilham”. Ia memaksudkan bioetika sebagai ilmu baru yang menggabungkan pengetahuan ilmu-ilmu hayati dengan pengetahuan tentang sistem-sistem nilai manusiawi dari etika. Dengan demikian, dua kebudayaan ilmiah yang senantiasa terpisah dapat memperkuat dan memperkaya satu sama lain. Hal itu perlu supaya bangsa manusia dapat bertahan hidup. Sebagai tujuan terakhir bidang baru ini ia melihat “not only to enrich individual lives but to prolong the survival of the human species in an acceptable form of society”.
Tidak lama kemudian André Hellegers dan kawan-kawan mulai memakai juga kata bioethics. Hellegers adalah ahli kebidanan, fisiologi fetus, dan demografi yang berasal dari Belanda dan bekerja di Universitas Georgetown, Washington DC. Ia berpikir bahwa dia sendiri (bersama rekan-rekannya) menciptakan istilah itu untuk kali pertama dan memang mungkin terjadi demikian, tak tergantung dari Potter. Namun, lebih probabel adalah Hellegers membaca kata itu dalam artikel atau buku Potter, lalu melupakan asal-usul itu dan secara spontan memberi isi baru kepada istilah ini. Yang pasti adalah Hellegers memakai kata bioetika seperti dimengerti kemudian. Ia memaksudkan bioetika sebagai kerja sama antara ilmu-ilmu hayati, ilmu sosial, dan etika dalam memikirkan masalah-masalah kemasyarakatan dan moral yang timbul dalam perkembangan ilmu-ilmu biomedis.
Pada tahun 1971 Hellegers mendirikan The Joseph and Rose Kennedy Institute for the Study of Human Reproduction and Bioethics di kampus Universitas Georgetown, Washington DC, kemudian namanya diubah menjadi Kennedy Institute of Ethics. Pendirian institut ini dimungkinkan karena sumbangan besar keluarga Kennedy. Hellegers menjadi direktur pertama. Dalam hal ini ia terutama tampil sebagai organisator dan inspirator yang menggerakkan orang lain. Ia sendiri hanya menerbitkan sedikit publikasi. Di antara staf selama tahun-tahun pertama terdapat ahli-ahli filsafat dan etika: Edmund Pellegrino (juga dokter), Tom Beauchamp, James Childress, Robert Veatch. Melalui ceramah, kursus, publikasi ilmiah serta populer, partisipasi dalam komisi-komisi, dan lain-lain mereka memberi kontribusi besar dalam mengembangkan bioetika sebagai suatu bidang intelektual dan akademis yang khusus. Antara lain mereka menerbitkan Encyclopedia of Bioethics, 1978, empat jilid, di bawah redaksi Warren Reich.
Ada yang berpendapat bahwa ensiklopedi itu memainkan peranan penting dalam menciptakan kesatuan, koherensi, dan arah jelas bagi bioetika sebagai suatu bidang ilmiah yang baru. Edisi kedua keluar pada tahun 1995 dalam lima jilid, dengan isi yang 80 persennya baru. L Walters dan TJ Kan memimpin proyek Bibliography of Bioethics, yang menginventarisasi semua literatur internasional di bidang bioetika. Dengan mengikuti perkembangan teknologi informasi, proyek ini kemudian dikomputerasi lagi. Proyek khusus dari dua anggota staf adalah buku Beauchamp/Childress, The Principles of Biomedical Ethics, 1979. Buku ini menjadi buku pegangan yang paling banyak dipakai dalam dunia berbahasa Inggris di bidang bioetika. Edisi- edisi berikutnya mengalami banyak revisi. Edisi ke-5 keluar pada tahun 2001. Setelah berdiri 20 tahun, institut ini baru memiliki majalah ilmiah sendiri: Kennedy Institute of Ethics Journal (sejak 1991), dan segera menjadi salah satu majalah terkemuka di bidangnya.
Kennedy Institute bukan lembaga pertama di bidang bioetika. Dua tahun sebelumnya di Hastings-on-the-Hudson, New York, sudah didirikan Institute of Society, Ethics, and the Life Sciences (1969) yang kemudian dikenal dengan nama singkat Hastings Center. Pusat Bioetika ini didirikan oleh Daniel Callahan, ahli filsafat, dan Willard Gayling, profesor psikiatri di Universitas Columbia, New York. Mereka mendirikan lembaga baru ini sebagai “an independent, nonpartisan, nonprofit organization that addresses fundamental ethical issues in the areas of health, medicine and the environment”. Jadi, nama dan program inti mereka tidak memakai nama bioetika. Namun, dalam kenyataan mereka berkecimpung dalam usaha yang tidak lama sesudahnya dimengerti sebagai bioetika. Dan kadang-kadang mereka memakai istilah bioetika juga, seperti misalnya Callahan dalam artikelnya yang terkenal Bioethics as a discipline (1973). Hastings Center ini menerbitkan Hastings Center Report (sejak 1971) yang berulang kali dipuji sebagai majalah paling bermutu mengenai bioetika. Di samping itu mereka menerbitkan juga IRB: A Review of Human Subjects Research, jurnal khusus untuk komisi-komisi etika penelitian. Dari semula pusat mereka berstatus independen dan tidak berafiliasi dengan perguruan tinggi, tetapi mereka banyak membantu sekolah tinggi dan universitas merancang program- program pengajaran bioetika atau etika profesi.
Arabiyatuna Arabiyatuna
