Biogas
Seperti sudah disebutkan di coretan (1), biogas ini berasal dari campuran air dan kotoran sapi. Di dalam suatu berat kotoran sapi hampir 60%nya mengandung gas metan, yang juga terkandung dalam gas bumi.
Kotoran sapi, diaduk-aduk dengan air dalam rasio 1:1, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaktor biogas yang ditanam dalam lubang berukuran 1,1 m x 5 m. Melalui proses fermentasi oleh bakteri metanogenesis, dilepaskan dari campuran ini gas metan. Gas metan kemudian disimpan dalam tabung pengumpul, yang digantungkan pada ketinggian di atas 2 meter, gas metana disalurkan menggunakan selang atau pipa paralon ke kompor gas di dapur. Gas metan berwarna biru tak berbau itulah yang digunakan untuk memasak.
Keuntungan biogas dari minyak tanah adalah :
tidak bau
tidak merusak perabotan dapur karena apinya bersih
bagi para peternak tentu saja menghemat uang pembelian minyak tanah
ampasnya dapat digunakan sebagai pupuk organik
Harga satuan kompor biogas Rp. 1,5 juta, 2 liter minyak tanah sama dengan 40 kg kotoran sapi.
Pembuatan briket dari kotoran sapi :
Mereka terlebih dahulu mencampur kotoran sapi dengan limbah tebu (tetes) dengan perbandingan 1 banding 10 (satu bagian tetes dan 10 bagian kotoran sapi), setelah dikeringkan di bawah sinar matahari, campuran tetes dan kotoran sapi dipres dengan alat pres sederhana yang terbuat dari kayu (lihat foto). Fungsi tetes sebenarnya hanya sebagai pengikat, yang dapat diganti dengan bahan lain yang fungsinya sama.
Mengubah briket kotter menjadi gas bio
Pengembangan baru lainnya, tabung reaktor yang berfungsi untuk mengubah briket kotter menjadi gas bisa menggunakan reservoir air volume 500-1000 liter. Hal itu dilakukan supaya reaktor bisa ditaruh di mana saja. Berbeda dengan biogas konvensional yang reaktornya berbentuk fiber, memanjang horizontal 5 meter sehingga memakan tempat. “Kami juga membuat regulator yang mengatur batas optimal gas dari reaktor ke penampung gas saat terjadi overload. Regulator juga berfungsi sebagai water trap guna mengurangi kandungan air dalam kotoran,” katanya. Untuk penampung gas sepanjang 5 meter cukup dengan plastik 0,15-0,20 mm. Letaknya bisa dipasang di mana pun asal aman dari risiko bocor. Meski terjadi kebocoran, gas tidak akan menyebabkan ledakan karena tekanan biogas sangat rendah. Pada saat awal pengisian briket kotter ke reaktor, pemakai harus memasukkan 500 batang briket dicampur dengan 250 liter air. Setelah itu, cukup memasukkan 10 batang briket dicampur 5 liter air per hari untuk menggantikan 1-2 liter mintak tanah. Satu batang briket dihargai Rp 100,00, sedangkan untuk instalasi termasuk kompornya, menurut Sondi, bisa diperoleh dengan harga Rp 750.000,00.Harga itu diakui Sondi cukup besar untuk ukuran masyarakat miskin perkotaan. Akan tetapi, Libec telah memiliki konsep lembaga keuangan mikro, seperti dana bergulir di RT dan RW yang bisa mengatasi kesulitan masyarakat mendapat instalasi biogas. Sementara itu, pegiat Libec lainnya, Cecep Firmansyah menganggap, potensi biogas briket kotter sangat menjanjikan. Proses pemasangan instalasi yang murah, mudah, dan bahan bakar berlimpah menjadi keunggulan energi itu. “Di Jabar ada sedikitnya 86.000 sapi perah dan 275.000 sapi potong. Per hari seekor sapi menghasilkan kotoran 4,14 m3. Sementara itu, satu rumah tangga hanya membutuhkan 10 batang briket sehari atau setara dengan 0,002m3. Limbah yang keluar dari reaktor juga tidak berpolusi dan berbau. Bahkan, bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Kira-kira dua bulan lagi Libec akan mengujicobakan biogas baru itu ke beberapa rumah di kompleks perumahan. “Kami sedang mempersiapkan tim yang akan mendampingi konsumen baru untuk belajar memelihara instalasi,” ujarnya. Menurut dia, sosialisasi lebih efektif jika tetangga melihat manfaat yang diperoleh dari konsumen baru tersebut. (Alexander Priyasma)***
Arabiyatuna Arabiyatuna
