Judul: Pendidikan Nasional Antara Kegagalan dan Kesuksesan
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.
Nama & E-mail (Penulis): W I Hakim
Saya Guru di Jakarta
Topik: Pendidikan Nasional Antara Kegagalan dan Kesuksesan
Tanggal: 07 Desember 2008
Pendidikan Nasional Antara Kegagalan dan Kesuksesan
Oleh: Wawan Ihwanul Hakim, S.Pd, M.Si
Hari pendidikan merupakan hari yang jarang diperingati secara besar-besaran, bahkan mungkin juga tidak semua orang di negeri ini tahu ada hari pendidikan di Indonesia, padahal pada tanggal 2 Mei tonggak pendidikan bangsa dipancangkan. Sangat memprihatinkan ! Begitu kurang perhatiannya sebagian masyarakat kita pada dunia pendidikan. Hal ini menunjukan bahwa kita belum peduli terhdap pendidikan. Saya percaya dan yakin bahwa para praktisi pendidikan bangsa ini tidak menuntut hari pendidikan harus menjadi hari libur nasional dan diperingati secara besar-besaran karena hal tersebut akan mengeluarkan banyak biaya, tetapi justru kita harus banyak merenung dan mengevaluasi perjalanan pendidikan di negeri ini. Pendidikan kita mengalami proses yang panjang, terseok-seok dalam perjalanannya, terombang-ambing oleh gelombang politik, dan termarjinalkan oleh lingkaran kekuasaan.
Tidaklah mengherankan jika pendidikan di negeri ini ketinggalan jauh dari negara maju bahkan tertinggal dari negeri tetangga sebelah kita; Malaysia, Thailand dan Singapura. Mari kita berkaca pada negeri jiran Malaysia, negeri tersebut pernah mendatangkan guru dari Indonesia dalam membangun dan mengembangkan pendidikannya, tapi sekarang Malaysia lebih maju dari “gurunya”. Indonesia sebagai “guru” Malaysia, tetap seperti ini belum mampu mengejar ketertinggalan dalam pendidikan. Ini sama halnya seperti nasib guru yang ada di Indonesia, belum semua professional dalam aktivitas pendidikan, tidak diperhatikan secara optimal kesejahteraannya, hanya baru diakui keberadaannya. Ini juga barangkali yang menjadi alasan mengapa pemerintah kita tidak memperhatikan guru karena guru di Indonesia tidak profesional atau kalau dibalik apakah juga guru tidak profesional karena kesejahteraannya belum diperhatikan (seperti; telur dan ayam, duluan mana ?).
Lalu apa yang salah dengan pendidikan kita, sehingga kita belum mampu mencetak SDM yang berkualitas tinggi dan belum mampu mengejar ketertinggalan dari negara maju ? Mungkin kita perlu waktu, Amerika Serikat menjadi negara maju karena sudah lebih dari 300 tahun mereka merdeka, Eropa Barat maju karena sebagian besar mereka sebagai penjajah yang sudah maju duluan di abad pertengahan dan menguasai sebagian besar dunia sampai abad ke-19. Indonesia baru 60 tahun merdeka, jadi wajarlah kalau kita belum maju? Apakah kita harus menunggu 300 tahun untuk sama seperti dengan Amerika sekarang ? Kita tidak membayangkan Amerika seperti apa 300 tahun ke depan. Kita berharap, bahwa pendidikan di Indonesia mampu mencetak SDM yang berkualitas tinggi, sehingga mampu membawa Indonesia pada percepatan kemajuan di bidang IPTEK dan menjadikan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju, tapi kapan ini akan terjadi ? mudah-mudahan khayalan ini cepat terwujud.
Seandainya sistem pendidikan di Indonesia begini terus turun-temurun pada generasi berikutnya, maka kita tidak akan menemukan perubahan kemajuan. Apalagi sistem pendidikan di Indonesia “belum jelas” masih mencari jati diri, hal ini dapat dilihat pada setiap pergantian mentri pendidikan sudah dapat dipastikan akan ada pergantian kebijakan baru, mungkin kita terlalu “bermazhab” ke barat, ingin cepat maju tanpa memperhatikan kondisi realita bangsa ini, sehingga kita mengalami gagap budaya (Cultural Lag).
Kita belum memiliki keinginan untuk menciptakan sistem pendidikan sendiri, khas Indonesia. Kita baru bisa ambil, tiru dan modifikasi (ATM), tidak pernah terlintas untuk menggali kultur sendiri yang dapat diangkat menjadi sistem pendidikan khas Indonesia. Bukan berarti bahwa tidak boleh ATM, untuk yang positif dan bermanfat tidak salah kalau kita melakukan ATM. Tetapi kenyataannya sekarang, sistem pendidikan yang dilaksanakan dan notabene berasal dari barat dalam beberapa hal belum mampu memberikan solusi permasalahan yang dihadapi masyarakat bangsa ini. Kita tidak bisa hanya menyalahkan guru, atas “kegagalan” pendidikan kita, karena guru hanya pelaksana pendidikan disekolah. Tapi perlu dilihat juga kebijakan pemerintah tentang pendidikan, apakah kebijakan tersebut sudah sesuai dengan kondisi budaya masyarakat tempat dimana pendidikan itu berlangsung? Begitupun masyarakat, apakah masyarakat merespon positif pendidikan?
Pendidikan Kita Belum Mengajarkan Kedewasaan Berpikir
Dari jenjang SD sampai Perguruan Tinggi, para pelajar terbiasa diajarkan untuk menjawab berbagai pertanyaan guru/dosen, bukan belajar bertanya atau mempertanyakan berbagai persoalan. Sehingga terbiasa menjawab pertanyaan tetapi tidak memahami esensi dari pertanyaan tersebut. Sehingga jangan aneh, ketika dewasa usianya, output yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan kita belum optimal untuk menjawab permasalahan bangsa ini, tidak heran permasalahan sepele bisa menjadi panjang dan besar di negeri ini, atau sebaliknya masalah besar bisa menjadi kecil atau mungkin hilang, tidak tersentuh hukum. Jangankan menuntut optimal, untuk berpikir rasionalpun terkadang susah kita harapkan. Sebagai contoh munculnya “raport anak haram” seperti terjadi di Jawa Barat beberapa bulan lalu, hanya gara-gara tulisan “anak haram”, sebagian masyarakat pada teriak dan protes, padahal banyak hal-hal haram dalam kehidupan sehari-hari jarang yang protes.
Atau peristiwa Mbak Inul dengan goyangannya, menjadi pro dan kontra. Ada yang menentang habis-habisan karena katanya tidak sesuai dengan moralitas bangsa dan norma agama, ada yang mendukung habis-habisan dengan alasan kreatifitas seseorang tidak boleh diberangus, karena itu hak azasi. Hal ini menunjukan kita belum dewasa dalam mensikapi perbedaan. Inul boleh bebas apa saja, tapi masyarakat yang tidak menyukai goyang Inul juga punya kebebasan tontonannya tidak dicemari oleh goyang Inul. Jangan hanya alasan kreatifitas akhlak bangsa jadi terpuruk, jika alasannya ini suatu saat kita akan menyaksikan guru kesenian menari sambil telanjang di depan siswanya, jika ada yang protes, cukup dengan satu kata, tidak boleh memberangus kreatifitas seseorang, efektif bukan ? Secara emosional kita cepat bereaksi ketika melihat fenomena yang janggal dan belum terbiasa, baik fenomena alam terlebih fenomena sosial, karena kita tidak terbiasa melihat fenomena secara objektif dengan kelebihan dan kekurangannya. Padahal fenomena tersebut memiliki dua sisi yang harus kita lihat dua-duanya, yaitu positif dan negatifnya.
Sebetulnya kekawatiran yang paling menakutkan dalam pendidikan adalah, hancurnya rasa kemanusiaan yang dimiliki manusia dan rusaknya sendi-sendi akhlak dalam segala prilaku kehidupan sehari-hari. Akibat gagalnya membangun moralitas dan esensi keilmuan dalam pendidikan. Jika hal ini terjadi, maka kehidupan ini tidak lagi menyosngsong masa depan cerah, indah dan damai menata kehidupan yang harmonis antar manusia, juga dengan lingkungan alam, tetapi kita akan mengalami keterpurukan budaya atau kembali ke masa hukum rimba. Salah satu contoh adalah pengadilan jalanan untuk menghakimi penjahat karena masyarakat tidak percaya pada aparat penegak hukum, merupakan salah satu bukti betapa susahnya kita untuk rasional melihat kenyataan. Disatu sisi kita kasihan pada penjahat, eksistensinya sebagai manusia yang punya hak hidup, menjadi bulan-bulanan massa yang berakhir dengan kematian, tapi disisi lain kita kecewa pada kerja aparat penegak hukum. Bukankah mereka (aparat hukum dan penjahat) juga merupakan output pendidikan ? Hanya mungkin beda pekerjaan, yang satu penegak hukum, yang satu pelanggar hukum.
Di akui atau tidak, sebetulnya kita mengalami kegagalan dalam membangun dan mendidik moralitas bangsa, tetapi disisi lain pendidikan kita berhasil melahirkan para ilmuwan, tenokrat dan birokrat yang jujur dan religius walaupun jumlahnya relatif sedikit. Bukankah para pejabat yang korup di negeri ini sebagian besar dibimbing dalam lingkungan pendidikan kita ? Paling tidak mereka pernah Sekolah Dasar di Indonesia.
Kondisi pendidikan kita seperti dipersimpangan jalan, IPTEK belum kita kuasai, moralpun merosot, lalu apa yang kita banggakan sebagai bangsa yang memiliki penduduk terbesar di Asia Tenggara ? Disinilah perlu kearifan dan kedewasaan dalam melihat kenyataan yang terjadi pada pendidikan bangsa ini. Sehingga bisa muncul solusi-solusi yang efektif tepat mengenai sasaran. Telah banyak ilmuwan dan praktisi pendidikan serta LSM yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan Indonesia, mereka mengetahui kelemahan, kekurangan dan kegagalan pendidikan di Indonesia. Tetapi belum mampu memberikan solusi yang cocok untuk kultur Indonesia. Sama halnya seperti seorang dokter, yang tahu penyakit pasiennya, dia hanya menjelaskan jenis-jenis penyakit yang diderita oleh pasiennya tanpa bisa memberi obat yang tepat apalagi menyembuhkannya. Kemudian penyakitnya hilang sendiri bersamaan dengan meninggalnya pasien, tentu kondisi seperti ini tidak diharapkan. Pendidikan di negeri ini, perlu penanganan “dokter” yang betul-betul mengerti penyakit dan obat yang harus diberikan agar cepat sembuh dari ketertinggalan dan penguasaan IPTEK tanpa melupakan moralitas akhlak bangsa.
Mungkin karena selama ini orientasi pendidikan kita, terburu-buru dalam mengejar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tanpa melihat sisi lain, effek dari ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Padahal IPTEK memiliki kekuatan yang efektif untuk merubah tatanan nilai-nilai budaya masyarakat, jika IPTEK tidak dikontrol oleh moralitas agama maka akan melupakan rasa kemanusiaan bahkan menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Seperti apa yang dikatakan oleh Einstein, ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh.
Peningkatan Kualitas SDM dan kesejahteraan Guru
Lembaga pendidikan harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang dapat mengakses perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seandainya lembaga pendidikan tidak mampu merespon dan mengikuti tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka mustahil akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Penyiapan sumber daya manusia melalui pendidikan, juga harus memperhatikan SDM yang terlibat dalam pendidikan tersebut. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka kemungkinan besar pengaksesan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi masalah yang lebih serius, bukannya mengejar ketertinggalan malahan terpuruk karena tidak profesionalnya SDM yang terlibat dalam pendidikan tersebut. Guru sebagai bagian dari SDM pendidikan, merupakan orang yang diberi tanggungjawab berat, yang belum sebanding dengan gaji yang diterimanya. Bagaimana mungkin kita dapat membentuk pendidikan yang berkualitas, kalau gurunya masih berpikir kesejahteraan ketika mereka sedang mengajar ?
Pikirannya terbagi dua, disatu sisi harus mencerdaskan anak bangsa tapi dilain pihak harus memenuhi kebutuhan keluarga. Guru merupakan ujung tombak bagi kemajuan bangsa ini, jangan hanya diberikan predikat “Pahlawan tanpa tanda jasa” yang hanya merupakan ungkapan penghibur perasaan guru yang selalu “menderita” secara materi, hanya penghibur guru untuk melupakan lapar dan haus, serta basa-basi yang tidak memiliki makna apa-apa secara ekonomis, tetapi ungkapannya harus dirubah dalam bentuk kesejahteraan. Ungkapan tersebut memang sesuai dengan kenyataan sehari-hari, tidak punya jasa apa-apa dan tidak punya penghargaan. Memang demikian adanya, penghargaan apa yang harus diberikan pada para guru, karena pendidikan di Indonesia mengalami kegagalan dalam membangun moralitas bangsa ?
Dunia pendidikan sebagai lembaga dan guru sebagai partner dalam pendidikan, yang mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) harus mampu mendewasakan anak didik baik secara moral maupun intelektual. Karena di lembaga inilah anak didik dibimbing, dibina dan ditempa dengan berbagai ilmu dan teknologi. Sehingga diharapkan lahir SDM yang mampu menjawab persoalan yang terjadi pada bangsa ini. Mudah-mudahan kita tidak sedang mencetak generasi yang berwawasan pendidikan sempit melupakan moralitas kemanusiaan, dan juga tidak ingin memiliki generasi seperti itu, kalaupun ada, itu hanya kebetulan ! Kita mengharapkan SDM yang dihasilkan betul-betul berkualitas dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa ini. Saya ingin mengutip pendapat seorang penyair
Manusia itu jarang salahnya, jika salah sekedar kesalahan.
Manusia itu jarang betulnya, jika betul sekedar kebetulan.
Selamat Ulang Tahun Pendidikan Nasional !
Hari kebangkitan nasional bukan hanya sekedar kenangan perjuangan pahlawan yang pernah memberikan dan menumbuhkan semangat berbangsa, bernegara pada generasi muda, agar indonesia bisa bersatu bangkit bersama-sama mengusir penjajah, melainkan harus menjadi bahan renungan bagi para pendidik. Hampir 100 tahun yang lalu, dalam kondisi sebagai bangsa dan rakyat yang terjajah mereka mampu mempelopori dan menggerakkan para generasi muda untuk berpikir secara rasional, mengedepankan intelektual dalam berjuang untuk mendapatkan kehormatan sebagai bangsa yang merdeka. Sekarang dalam kondisi yang berbeda, kita sebagai pendidik belum mampu menjadi pelopor kebangkitan dan kemajuan pendidikan Indonesia. Hal ini bisa kita lihat dengan tidak berdayanya output pendidikan kita, baik tingkat menengah sampai perguruan tinggi dalam menjawab permasalahan bangsa. Pendidikan kita belum mampu memberi dan menjadi solusi terbaik untuk kemajuan bangsa. Diakui atau tidak output pendidikan kita baru bisa menyebutkan “jenis-jenis penyakit” belum bisa mengobati penyakitnya.
Kita terkadang tidak menyadari makna kebangkitan nasional bagi pendidikan kita ? Kita baru bisa mengajar, mentransfer ilmu dan mendapat gaji tiap bulan. Bahkan, kalau bisa kita mendapat gaji saja, tanpa harus bekerja. Kita belum bisa mendidik siswa dengan benar, hanya baru bisa mengajar dengan baik. Padahal mendidik bukan hanya sekedar mentransfer ilmu tapi menggali, memupuk, dan mengembangkan potensi anak didik baik secara intelektual maupun secara moral (akhlak). Ketidamampuan pendidikan Indonesia dalam menjawab tantangan zaman, bisa jadi salah satu faktornya disebabkan kegagalan kita dalam mendidik siswa. Dikarenakan kita tidak pernah mengembangkan potensi diri, tidak pernah introsfeksi diri atau bahkan menganggap diri kita sudah mumpuni (berilmu tinggi), sehingga tidak terjadi perubahan signifikan pada diri siswa selama proses pendidikan baik secara intelektual maupun moral. Padahal 15 abad yang lalu Al-Qur’an mengatakan.
“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau kaum itu sendiri tidak mengubahnya” (QS. Ar Ra’d: 11).
Kesadaran akan pentingnya perubahan ke arah kemajuan harus kita canangkan dalam diri kita, agar kita tidak terjebak kedalam ketertinggalan, sehingga kita mampu menjadikan pendidikan sebagai bagian dari perubahan diri. Kita harus lebih banyak introsfeksi diri terhadap pendidikan kita, dimana posisi pendidikan bangsa kita diantara negara-negara maju, haruskah kita terus menjadi negara berkembang, sampai kapan ? Mengutip apa yang dikatakan oleh pemenang nobel fisika tahun 1978 dari Pakistan Prof. Dr. Abdus Salam mengatakan tentang perkembangan sains di negara berkembang.
1. Tidak mempunyai komitmen terhadap sains; baik yang terapan apalagi yang murni.
2. Tidak memiliki hasrat yang kuat untuk mengusahakan kemandirian (self reliance).
3. Tidak mendirikan kerangka institusional dan legal yang cukup untuk mendukung perkembangan sains.
4. Menerapkan cara yang tidak tepat dalam menjalankan manajemen kegiatan di bidang sains.
Kalau kita cermati apa yang dikatakan oleh Abdus Salam di atas, bahwa perkembangan sains di negara berkembangan mengalami hambatan yang sangat serius. Hal ini bisa kita telusuri lewat pendidikan, jika pendidikannya bermutu maka akan menghasilkan manusia yang bermutu juga. Pendidikan bermutu bisa ada, jika sarana dan prasarana penunjang pendidikan lengkap. Tetapi hal ini tidak menjamin seratus persen, sebab faktor lain yaitu SDM pendidikan juga ikut berperan bahkan peranannya besar terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan.
Oleh sebab itu, seorang pendidik yang tidak introsfeksi diri, tidak mengembangkan diri serta tidak mau dikritik, maka siap-siaplah menjadi pendidik yang ketinggalan zaman dan mungkin hanya cocok untuk mendidik di era zaman batu. Mudah-mudahan kita sebagai pendidik mampu mengubah kondisi Indonesia menjadi lebih baik dari kondisi yang sekarang, melalui intelektualitas dan moralitas yang kita tanamkan pada anak didik. Sebagai seorang muslim, kita menyadari bahwa sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan di dunia ini akan dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh Swt.
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarah, niscaya dia akan mendapat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarah, niscaya ia akan mendapat balasannya pula” (QS. Az Zalzalah: 7-8)
Kapan Pendidik Bangkit ?
Kalimat di atas tidak gampang untuk ditindaklanjuti, karena menyangkut berbagai faktor baik meterial maupun spiritual. Kita akan mengkaji peranan faktor spiritual dalam membentuk pendidik yang berkualitas. Spiritualitas yang dimaksudkan adalah akhlakul karimah; semangat untuk berubah ke arah kemajuan, semangat menegakkan kebenaran, semangat berbuat jujur dan semangat mendekatkan diri kepada Alloh Swt. Sebagai manusia ciptaan Alloh Swt seharusnya menjadi manusia yang mampu menterjemahkan pesan-pesan Alloh Swt baik yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun yang tidak tertulis di alam semesta. Jika pendidiknya mampu mengambil hikmah ciptaan Alloh Swt dengan kecerdasan dan kearifan, maka kondisi seperti ini akan terimplementasikan pada diri anak didik. Sebelum siswa diajarkan dengan intelektualitas dan moralitas, yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah bagaimana pendidiknya terlebih dahulu menimba ilmu dan mengasah ketajaman hati nuraninya supaya mampu mengembangkan diri dengan intelektualitas dan moralitasnya, agar menjadi pendidik yang berkualitas. Sehingga dapat memberikan inspirasi dan motivasi pada anak didiknya.
Ibnu Mufaqa mengatakan bahwa mengajar dengan tingkah lakunya lebih berhasil dari pada mengajar dengan lisannya. Pendidik bagi dirinya lebih berhak mendapat ketinggian dan keutamaan dari pada pendidik terhadap orang lain. Jangan sampai kita mengawetkan ikan dengan garam agar tidak busuk, justru kita menggunakan garam yang busuk. Bagaimana kita bisa mendidik siswa agar berkualitas jika pendidiknya sendiri tidak mau belajar ? padahal belajar itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Berapa banyak ayat Al-Qur’an yang mengatakan bahwa Ulil Albab, Yaatafakarun dan banyak lagi ayat yang ditujukan untuk manusia yang berpikir. Tidakkah kita menterjemahkan ayat tersebut pada diri kita, yang diberi kewajiban untuk menuntut ilmu ?
Menuntut ilmu itu tidak mesti harus di sekolah atau perguruan tinggi. Membaca buku, majalah, koran dan diskusi tentang ilmu yang bermanfaat merupakan bagian dari menuntut ilmu yang diperintahkan oleh Alloh Swt.
“… maka bertanyalah kamu kepada ahli ilmu jika kamu tidak tahu” (QS. An-Nahl: 43).
Dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan Ahmad, Ibnu Hiban dan Alhakim, Nabi Muhammad bersabda.
“Sesungguhnya malaikat itu membentangkan sayapnya kepada penuntut ilmu, tanda rela dengan usahanya itu” (HR. Ahmad, Ibnu Hiban, Al Hakim).
Betapa besar pahala dan penghargaan Alloh Swt bagi orang yang mau menuntut ilmu, tetapi hal ini terkadang tidak kita sadari, karena kita jarang mengkaji kandungan Al-Qur’an dan Assunah. Sehingga seperti apapun bagus dan indahnya, halus dan tajamnya sentuhan ayat-ayat Al-Qur’an tidak kita ketahui maknanya.
Membentuk generasi yang berkualitas sangat sulit untuk dilakukan, berbeda dengan menanam benih mentimun, hari ini kita tanam tiga bulan sudah kita ambil hasilnya. Berbeda dengan manusia, hari ini kita didik belum tentu seratus tahun kita bisa merasakan manfaatnya.
Akhirnya kita mengetahui bahwa ilmu yang kita tuntut harus mampu menunjukan kita pada kebenaran Ilahi, sehingga menuntun dan meninggikan kita pada level taqwa yang paling tinggi dihadapan Alloh Swt.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS: Al Hujarat: 31).
Semoga kita menjadi pendidik yang bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan bangsa serta menjadi bagian dari solusi terbaik, semoga Alloh Swt memasukan kita kedalam kelompok orang-orang yang berilmu tinggi, berakhlak mulia dan bertaqwa kepada Alloh Swt. Aamiin !
Wawan Ihwanul Hakim, alumni Pasca Sarjana IPB Bogor, Dosen Akta IV Universitas Satyagama Jakarta, Guru di Jakarta.
Saya W I Hakim setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .
Arabiyatuna Arabiyatuna
