Penerapan pembelajaran humanistik dapat diwujudkan dengan cara: siswa dihargai dan jangan dipaksa, jangan diberi tugas diluar batas kemampuan siswa, setiap pendapat yang muncul dari anak didik harus dihargai meskipun salah dengan cara diarahkan pada yang lebih tepat, terkait pula dengan aliran pendidikan developmetalisme, sedangkan aliran pendidikan developmentalisme mengarahkan modal dasar siswa yaitu mengenali modal dasar ang dimiliki setiap siswa yang ingin dikembangkan, maka melalui pembelajaran diarahkan ke positif. Ada pula aliran lain yang menyatakan dalam proses pendidikan bisa terdapat kesalahan-kesalahan pendidikan. Ketika pendidik menghadapi anak nakal jangan disalahkan tetpi diselidiki penyebabnya serta anak didik tersebut dipandang dari kegiatan anak didik yang sudah baik (berpikir positif pada siswa, tidak image/kesan negatif pada siswa).
Guru memprioritaskan penyelesaian KD dalam jangka waktu pembelajaran yang telah ditentukan sekolah, dan dalam pembelajaran sesuai tuntunan KD siswa diarahkan pada aplikasi materi di kehidupan nyata sehingga siswa juga dkembangkan minatnya, jadi humanistk bukan berarti hanya mengutamakan kebutuhan individual tiap siswa saja, tetapi disesuaikan dengan kepentingan bersama seluruh siswa/pelajar, pendidik (guru ataupun dosen) dapat membudayakan peserta didik untuk mengetahui manfaat materi yang dipelajari pada tahap awal pembelajaran yaitu apersepsi dan motivasi sehingga siswa akan tertarik belajar (motivasi internal) dan menjadi pembelajar sepanjang hayat (butuh proses dan pengkondisian/pembiasaan) dan guru/dosen menjadi teladan yang menikmati belajar.
Aplikasi pembelajaran humanistik dalam penerapannya dapat digabungkan dengan teori belajar lainnya, misalnya konstruktivis yaitu proses belajar dibangun sesuai potensi peserta didik dan tiap individu dihargai kemauan dan kemampuan belajarnya, ini dapat dikatakan sebagai pembelajaran bermakna (dicetuskan Ausubel).
Arabiyatuna Arabiyatuna
