Sunday, 10 May 2026
above article banner area

Pengetahuan, Perilaku, Dan Pendidikan

Betapa banyak ungkapan kecewa yang disampaikan oleh orang tentang tidak adanya kesesuaian antara pengetahuan dengan perilaku seseorang. Setelah orang mengetahui tentang sesuatu maka berharapan pengetahuannya itu dijadikan sebagai dasar dalam bertindak atau mengambil keputusan. Sehingga orang yang semakin berpengetahuan, maka perilaku yang bersangkutan diharapkan sama dengan kekayaan pengetahuannya itu. Akan tetapi pada kenyataannya tidak selalu demikian. Orang mengerti bahwa narkoba itu dilarang dan bahkan merusak kesehatan, namun betapa banyak orang mengkonsumsi barang terlarang itu. Mereka mengerti bahwa perdagangan dan bahkan sebatas menyimpan barang haram itu diancam dengan hukuman berat, tetapi masih juga dikerjakan sekalipun dengan resiko yang sangat berat. Mereka melanggar norma tersebut bukan karena lupa, sebab di mana-mana dan pada setiap saat ada peringatan tentang itu. Bahkan larangan itu sudah menjadi pengetahuan popular bagi masyarakat. Demikian pula, siapa yang tidak tahu bahwa korupsi, kolosi dan nepotisme itu dilarang. Tetapi pada kenyataannya sehari-hari masih ada perilaku korupsi. Banyak pejabat di berbagai level, ternyata tidak sedikit yang melakukan tindakan tercela itu. Mereka juga sudah tahu, bahwa resiko dan bahkan kenyataan, betapa banyak pejabat yang telah diseret ke pengadilan dan bahkan dihukum berat karena melakukan tindak korupsi. Terkait korupsi ini, tidak saja pejabat biasa yang melakukannya, bahkan pejabat yang bertugas memberantas korupsi pun ternyata ada yang melakukan korupsi. Dalam berbagai kesempatan, mereka smemberikan penataran utuk menyadarkan orang lain tentang betapa besarnya bahaya dari tindakan korupsi. Karena itu harus diberantas hingga sekecil-kecilnya. Aneh dan lucunya, penataran tentang pemberantasan korupsi pun tidak jarang diwarnai oleh nuansa korupsi. Sehingga terjadi, polisi yang tugasnya sehari-hari menjaga agar tidak terjadi korupsi ternyata melakukannya. Jaksa, hakim dan bahkan KPK pun ada yang tersanglkut urusan polisi. Berbagai kenyataan itu, lantas muncul berbagai sindiran, misalnya bahwa korupsi sudah dilakukan oleh siapapun di negeri ini. Selama ini yang membedakan antara koruptor dan yang bukan koruptor hanyalah terkait persoalan waktu. Mereka yang dianggap bukan koruptor hanya karena belum ketahuan atau tertangkap, sedangkan lainnya sudah tertangkap. Sebagian sudah konangan, sedangkan yang lain belum konangan. Padahal sesungguhnya, pada tingkatan tertentu semua orang telah melakukan tindakan korupsi itu. Fenomena kontradiktif itu tidak saja terjadi di kalangan pemerintahan, melainkan juga terjadi di lingkungan yang dianggap bersih, yaitu di lingkungan kegiatan keagamaan. Banyak orang yang menganggap bahwa jika seseorang telah mendalami ilmu agama, maka perilakunya akan sesuai dengan bunyi kitab suci atau ajaran agamnya. Banyak orang mengira bahwa jika seseorang memahami al Qur’an maka perilakunya akan seperti bunyi dalam ayat-ayat al Qur’an itu. Akan tetapi ternyata tidak selalu berjalan demikian. Orang yang sekian lama mengajar agama, belum tentu perilakunya banyak berbeda dengan guru mata pelajaran lainnya. Kenyataan seperti itu menjadikan sementara orang mengatakan bahwa pengamalan lebih penting dari sekedar ahli. Statemen ini menggambarkan bahwa banyaknya pengetahuan seseorang tidak selalu sejalan dengan perilakunya. Banyak orang yang tahu tentang ilmu pertanian, peternakan, kehutanan, ekonomi, agama, dan lain-lain, tetapi perilakunya tidak selalu tergambar dari latar belakang ilmu yang disandangnya. Jika gambaran tersebut benar-benar terjadi, maka sesungguhnya pendidikan perlu dilihat dan dipertimbangkan kembali. Sementara ini pendidikan hanya berfungsi menstranfer informasi dan pengetahuan dari guru kepada para muridnya. Para pejabat di bidang pendidikan menyusun aturan-aturan pelaksanaan transfer informasi dan pengetauan itu. Mereka menyusun kurikulum, satuan acara pelajaran, evaluasi atau ujian, dan selanjutnya aturan itu diimplementasikan di lemaga pendidikan di semua level. Celakanya lagi keberhasilan pendidikan hanya diukur dari sejauh mana kurikulum dijalankan dan bahan-bahan yang semestinya ditransferkan itu dijalankan. Demikian pula para murid dikatakan berhasil manakala mereka bisa menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan terkait dengan kurikulum atau bahan ajaran itu. Selanjutnya, apakah para murid yang berhasil menguasai bahan pelajaran itu lantas mencintai bahan pelajaran, rupanya belum pernah terpikirkan. Selkali lagi, dalam pelaksanaan pendidikan yang terpenting adalah targetnya terpenuhi. Yaitu, bahan pelajaran berhasil disampaikan kepada para siswa. Padahal jika demikian, maka pendidikan belum berhasil membangun karakter atau kepribadian. Guru bukan menstranfer kepribadian, melainkan baru sebatas menstranfer informasi atau pengetahuan itu. Hasil dari proses pendidikan seperti itu, adalah menjadi tidak ada kesesuaian antara pengetahuan yang dimiliki dengan perilaku penyandangnya. Seseorang dinyatakan lulus sebagai sarjana pendidikan, perikanan, kelautan, ekonomi dan bahkan juga sarjana agama, tetapi tidak tampak bekas atau tanda-tanda kesarjaannya. Mereka diketahui sebagai seorang sarjana hanya karena yang bersangkutan memegang ijazah resmi. Selebihnya, tidak menggambarkan apa-apa. Akibatnya, banyak ijazah palu, sertifikat palu, dan bahkan juga sudah mulai ada lembaga pendidikan palsu. Memang semestinya, pendidikan tidak hanya berjalan sebagaimana yang terjadi saat ini, yakni dijalankan sebatas memenuhi target dan hanya berupa menstransfer informasi atau ilmu pengetahuan. Padahal sebagaimana dikemukakan di muka, seharusnya hingga sampai menstranfer kepribadian guru kepada para muridnya. Terkait dengan konsep itu, lembaga pendidikan semestinya memiliki guru atau dosen yang tangguh, sehingga berpengaruh terhadap para muridnya. Jika ini yang terjadi, insya Allah antara pengetahuan dan perilaku penyandangnya akan terjadi kesesuaian seb agaimana yang dikehendaki oleh banyak orang selama ini. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *