Sekalipun saya bukan termasuk seorang pemimpin yang sukses, seringkali mendapat pertanyaan tentang bagaimana memimpin orang. Mereka merasakan bahwa memimpin orang ternyata tidak mudah. Mengajak dan mengarahkan orang pada kenyataannya tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Padahal itulah tugas-tugas bagi para pemimpin. Banyak pemimpin mengira bahwa jika orang-orang yang dipimpin diberi ide-ide baru untuk meraih kemajuan, lalu dengan serta merta mereka mengikutinya. Ternyata tidak demikian, ada sementara orang yang segera mempercayai, menolak, dan bahkan ada yang tidak begitu jelas sikapnya. Ternyata tidak semua orang segera percaya terhadap ide dan juga niat baik. Selain itu, pemimpin juga dihadapkan oleh kenyataan bahwa tidak semua orang menyukai kemajuan atau ide-ide baru. Seseorang tidak saja menghendaki kemajuan tetapi juga keberuntungan. Bahkan justru keberuntungan itu yang diutamakan. Banyak orang justru berpandangan bahwa tidak maju tidak mengapa asalkan ia beruntung. Sebaliknya, tidak sedikit orang memilih tidak maju, jika kemajuan itu justru membawa kerugian baginya. Kenyataan itulah yang menjadikan memimpin orang tidak mudah, apalagi memimpin orang dalam jumlah besar. Setiap orang memiliki kepribadian atau karakter yang berbeda-beda. Masing-masing karakter, peribadi, atau watak memerlukan pendekatan yang berbeda-beda. Oleh karena itu memimpin orang tidak bisa menggunakan satu pendekatan. Lebih dari itu, perbedaan perilaku, karakter, atau watak tidak saja dari orang yang berbeda, melainkan bahkan pada diri seorang pun juga dimungkinkan berubah-ubah. Orang yang semula dianggap sabar, tulus, dan juga selalu loyal, dalam waktu yang tidak terlalu lama bisa berubah menjadi berperilaku sebaliknya. Lagi-lagi, inilah yang menjadikan memimpin orang tidak mudah dilakukan. Menghadapi pertanyaan itu, saya selalu menyarankan agar lebih memahami sifat dan watak manusia. Pemimpin memerlukan bekal ilmu-ilmu social seperti ilmu sosiologi, sejarah, psikologi, dan juga budaya. Berbekalkan ilmu-ilmu tersebut maka pemimpin sedikit banyhak akan dapat memahami perilaku manusia, baik perilaku individu maupun kelompok. Namun, perlu disadari bahwa beberapa ilmu social itu pun juga belum cukup, karena belum bisa menjawab berbagai hal secara sempurna tentang manusia. Saya kemudian menyarankan bahwa untuk memahami manusia secara sempurna, yang diperlukan bagi setiap pemimpin, ialah hendaknya menyempurnakannya melalui sumber yang lebih sempurna, yaitu al Qurán dan hadits. Saya selalu mengatakan bahwa bagaimana perilaku manusia yang sebenarnya dapat dibaca, paling tidak, dari Surat Al-Baqoroh. Pada surat kedua dalam al Qurán itu dibicarakan tentang bagaimana perilaku, watak, atau karakter manusia itu secara sempurna. Sebagai contoh, di awal surat itu manusia dibedakan menjadi tiga kelompok., yaitu kelompok yang berposisi jelas, yaitu disebut kelompok muttaqien dan kelompok kafirien. Selain itu, masih ada kelompok yang tidak jelas, yaitu yang disebut sebagai kelompok munafiqien. Ketiga kelompokm ini selalu ada dalam berbagai komunitas. Menghadapi kelompok yang berposisi jelas, sesungguhnya tidak terlalu sulit. Karena keadaannya yang jelas itu menjadikan pemimpin tidak sulit. Sebaliknya, jika orang yang dipimpin itu bersikap tidak jelas, yakni berubah-ubah dari waktu ke waktu, maka tidak gampang menghadapinya. Padahal sebagaimana dikemukakan di muka, kelompok ini selalu ada dalam setiap komunitas. Al Qurán menjelaskan dengan rinci ciri-ciri, watak, atau karakter ketiga kelompok manusia itu. Masih di dalam surat al-Baqoroh juga dijelaskan tentang bagaimana sulitnya menghadapi menusia, digambarkan melalui kisah Bani Israil tatkala diperintah menyembelih sapi. Maka perintah itu tidak segera dilaksanakan, melainkan bertanya dulu, sapi seperti apa yang dimaksudkan. Apakah sapi itu jantan atau betina, warnanya seperti apa, umurnya berapa, hingga apakah sapi itu sudah dipakai membajak atau belum. Kisah ini menggambarkan betapa manusia itu sulit diajak maju, dan apalagi juga selalu berkeluh kesah. Manusia termasuk makhluk yang tidak pandai bersyukur. Betapa sulitnya memimpin manusia, juga digambarkan dalam kisah yang termuat dalam surat al Baqoroh. Yaitu ketika Allah memberitahu kepada Malaikat akan menciptakan makhluk yang bernama manusia, segera mendapatkan protes dari Malaikat, sekalipun kemudian protes itu tidak dihiraukan. Disebutkan bahwa manusia selalu membuat kerusakan di muka bumi dan pertumpahan darah, atau saling membunuh. Berbagai hal tentang bagaimana dan siapa sesungguhnya manusia itu, semua bisa diperoleh dari al Qurán dan hadits nabi. Berbekalkan pengetahuan tentang manusia, maka tatkala memimpinnya akan mendapatkan bekal yang berharga. Bahkan melalui al Qurán dan hadits nabi tidak saja diperoleh bahan-bahan untuk memahami orang lain, melainkan juga bahan memahami tentang dirinya sendiri. Sebab pemimpin harus berbekalkan keduanya itu, jika mereka ingin berhasil atas kepemimpinannya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
