Dalam kenyataannya tidak semua orang yang naik haji mendasarkan niatnya secara tepat. Ada saja sementara orang yang naik haji, hanya karena mengikuti apa yang dilakukan oleh teman, tetangga, atau orang pada umumnya. Oleh karena banyak orang naik haji, maka mereka pun ikut naik haji. Hal seperti ini menjadikan tidak sedikit orang yang sedang haji, tetapi sholatnya belum komplit, apalagi sempurna. Bahkan ada saja tatkala di Makkah ataupun juga di Masjid Nabawi di Madinah, ketika menjalankan sholat saja tampak belum terlatih, apalagi membaca al Qur’an, belum bisa. Orang-orang yang berhaji dengan niat beradaptasi dengan lingkungan seperti itu memang tidak bisa diharapkan terlalu banyak bisa berhasil mengubah perilakunya. Mereka naik haji karena mampu membayar ongkosnya. Padahal semestinya berhaji benar-benar didasarkan niat ikhlas untuk mendapatkan haji mabrur. Sehingga setelah pulang dari haji berhasil mengubah perilakunya sehari-hari, tidak sebagaimana sebelumnya. Harapan terhadap orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji sedemikian berat, misalnya harus selalu jujur dan adil, peduli pada orang miskin dan anak yatim, dan jika kebetulan menjadi pejabat tidak mendekati tindak kurupsi dan seterusnya. Orang percaya bahwa haji bisa mengubah perilaku. Oleh karena itu tatkala ada orang yang dikenal sudah menunaikan ibadah haji, tetapi masih berbuat yang tidak semestinya, maka langsung mendapatkan kalimat yang tidak enak didengar, misalnya sudah haji perilakunya masih sama saja dengan mereka yang belum melihat pelataran ka’bah. Komentar seperti itu kiranya sah-sah saja disampaikan. Paling tidak dengan komentar itu, mereka memiliki keyakinan bahwa haji memang memiliki kekuatan untuk mengubah perilaku bagi mereka yang menjalankannya. Hanya saja memang, tidak semua orang yang menjalani haji mendapatkan haji mabrur. Hal itu sesungguhnya sama dengan ibadah puasa, bahwa dikatakan dalam hadit nabi, banyak orang berpuasa di bulan Ramadhan, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Maka, haji juga demikian. Mereka yang tidak mendapatkan kemambruran haji akan sama saja perilakunya antara sebelum dan sesudahnya. Sesungguhnya tidak saja haji yang diharapkan berhasil merubah watak atau perilaku. Sholat lima waktu, dan juga dzikir yang diucapkan pada setiap saat seharusnya menjadi kekuatan untuk mengubah diri seseorang. Disebutkan dalam al Qur’an bahwa sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Akan tetapi pada kenyataannya, kita saksikan banyak orang yang melakukan perbuatan tercela, padahal sehari-hari mereka sholat pada setiap waktu. Begitu juga mereka senantiasa melakukan dzikir, tetapi juga tidak bisa berhenti dari melakukan kesalahan. Kenyataan seperti itu sesungguhnya memberikan pelajaran penting, yaitu bahwa menjadikan seseorang berperilaku baik, apalagi sempurna adalah sangat sulit dilakukan. Dinyatakan dalam hadits nabi bahwa memang manusia selalu menyandang sifat salah dan lupa. Oleh karena itu berharap mendapatkan orang yang tidak pernah berbuat salah dan lupa, sama artinya mengharapkan bisa menyaksikan kuda atau kerbau bisa terbang. Hal itu hanyalah bayang-bayang permainan animasi dalam televisi atau sejenisnya. Namun, kenyataan itu tidak boleh menjadikan kita meninggalkan dzikir, sholat, puasa, dan haji dengan alasan tidak akan memberi makna apa-apa. Cara berpikir seperti itu juga tidak tepat, sebab ber putus asa atau mengemangkan sikap pesimis juga tidak dibolehkan dalam Islam. Agama Islam mengajarkan agar selalu optimis dalam menghadapi kehidupan ini. Manusia harus selalu berusaha secara maksimal dalam membangun diri agar selalu meningkat menjadi lebih baik. Membicarakan sifat manusia yang selalu salah dan lupa, sesungguhnya setidaknya ada dua hal yang ingin saya kemukakan. Perama dalam hal memberikan pendidikan harus dilakukan secara terus menerus sepanjang hayat tanpa henti. Boleh saja pendidikan dilakukan selama seminggu, dua minggu, setahun dan seterusnya, tetapi cara itu tidak akan meraih hasil yang sempurna. Pendidikan dalam pengertian yang luas, yakni membangun watak dan perilaku harus dilakukan sepanjang waktu dan dengan menyentuh semua aspek kehidupan, mulai dari aql, hati, dan intelektualnya. Pendidikan yang hanya menekankan pada aspek intelektual, maka tidak akan memberi hasil banyak terhadap upaya membangun kualitas manusia yang sebenarnya. Memperbaiki orang juga tidak cukup dilakukan hanya dengan cara menghukum. Akhir-akhir ini pemerintah dalam memberantas korupsi, tampak sekali, terlalu percaya terhadap system hukuman. Mereka yang terbukti melakukan kesalahan, segera dimasukkan ke penjara. Akibatnya penjara menjadi penuh sesak. Terhedap penghuni penjara juga tidak dilakukan pembinaan secara maksimal. Penjara kemudian hanya bermakna sebagai wahana untuk menyakiti hati orang, merendahkan, dan bahkan menyiksa. Padahal jika dipahami tentang watak dan perilaku manusia secara mendalam, makhluk yang disebut mulia ini, memang tempatnya salah dan lupa. Oleh karena itu, jika orang yang salah selalu harus dihukum, maka semestinya semua orang harus dimasukkan ke dalam penjara. Semestinya perlu dibedakan antara orang yang nakal atau jahat dengan orang-orang yang melakukan kesalahan. Bagi mereka yang benar-benar memiliki watak nakal dan atau jahat maka mereka itu memang seharusnya dihukum. Tetapi, bagi mereka yang hanya melakukan kesalahan, dan apalagi kesalahan itu dalam kontek menunaikan tugas untuk menyelamatkan instiutusi, atau karena system dan apalagi hanya sebatas lupa, maka yang bersangkutan seharusnya dipahami dan kemudian diingatkan agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Lebih dari itu jika dzikir, sholat, puasa, dan haji saja tidak selalu berhasil menjadikan orang semakin meningkat ketaqwaannya, apalagi hanya sebatas penjara yang didasarkan atas pengadilan yang belum tentu dilakukan secara adil dan benar. Tentu tulisan ini tidak bermaksut mengusulkan agar penjara dibubarkan. Pandangan ini hanya sebatas mengingatkan, bahwa untuk memperbaiki watak dan perilaku orang, sesungguhnya banyak cara yang bisa ditempuh. Di antaranya adalah melalui ketauladanan dan juga pendekatan agama yang dilakukan secara maksimal dan secara bersama-sama, yang hal itu harus dimulai dari para tokoh dan pimpinannya. Akhirnya melalui tulisan ini, juga ingin disampaikan bahwa ibadah haji, dan juga I badah lainnya tidak selalu berhasil mengubah perilaku manusia. Sehingga, berharap agar kaum muslimin yang telah menjalankan sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, dan juga menunaikan ibadah haji, menjadi sempurna adalah merupakan tuntutan yang berlebih-lebihan. Memang, seharusnya begitu, tetapi sesungguhnya seseorang tidak cukup menuntut orang lain berbuat baik, sementara dirinya sendiri juga belum menjalankan sebagaimana harapannya itu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
RektorĀ Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
