Ucapan selamat idul fitri, tiga sampai empat hari terakhir ini datang dari mana-mana. Bermacam-macam cara mengirimkan dan juga ungkapan yang disampaikan. Di antaranya lewat kartu lebaran, facebook, dan yang paling banyak melalui sms. Di antara berbagai cara itu yang paling gampang dijawab adalah kiriman ucapan selamat melalui facebook dan sms. Ucapan selamat melalui facebook paling efisien, hingga dijawab sekali saja sudah nyampai ke seluruh nama yang tergabung dalam media itu.
Cara mudah menjawab lainnya jika ucapan itu menggunakan sms. Begitu pesan itu masuk langsung dijawab. Pengiriman ucapan selamat idul fitri melalui sms, bisa dijawab dengan cepat, murah, dan mudah. Rasanya hidup di zaman teknologi modern seperti sekarang ini menjadikan hubungan antar orang semakin mudah, dan dalam waktu yang sangat singkat bisa menjangkau kalangan luas. Namun demikian, seperti yang saya tulis sebelumnya, bahwa kepada orang tertentu, seperti kepada orang tua atau orang yang dituakan, tidak mungkin cukup dilakukan dengan kartu ucapan selamat, facebook, atau sms. Terasa kurang mencukupi menyampaikan ucapan selamat kepada mereka itu hanya lewat sarana modern tersebut. Apalagi, masing-masing berada pada jarak yang masih bisa ditempuh. Kecuali, di antara keduanya berada di tempat yang terlalu jauh, ——sedang di luar negeri, misalnya. Membaca kalimat-kalimat yang disampaikan, baik melalui facebook atau sms, kadang memang menarik. Kalimat yang dikirim itu adakalanya pendek, secukupnya. Tetapi ada juga yang panjang sekali. Selain ucapan selamat, memohon maaf atas kesalahan, ada juga yang dilengkapi dengan pantun, puji-pujian pada Allah, kalimat-kalimat indah, dan filosofis. Semua itu, bermaksud mengajak gembira bersama di hari raya. Selain itu, ada pula, —-terutama yang datang dari daerah Solo dan Yogyakarta, menggunakan bahasa Jawa yang sangat halus. Terus terang, kadang saya tidak mengenali apa arti masing-masing kata tersebut sebenarnya secara tepat. Tetapi, secara garis besar saya memahami, bahwa kalimat-kalimat tersebut diungkapkan sedemikian rupa, dengan maksud agar terasa lebih menghormati, hingga masuk dalam wilayah batin yang terdalam. Namun sebaliknya, ada juga orang yang sangat emosional dan aneh. Misalnya, pengirim sms dengan mengatakan bahwa dirinya memang jelek, banyak berbohong, suka merepotkan, menjengkelkan, pengganggu, kalau berjanji tidak pernah ditepati dan seterusnya. Lalu, mengakhiri kalimatnya itu dengan meminta maaf. Selanjutnya, masih di sms itu pula, dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa mulai Idul Fitri ini, bertekat akan merubah perilakunya yang dianggap keliru itu. Ungkapan tersebut, saya rasa bagus. Dengan puasa ini, dia berhasil membangun kesadaran atas kesalahannya selama itu, dan bertekat akan mengubahnya. Melalui sms dengan kalimat emosional seperti itu, bisa dipahami bahwa, orang tersebut sebenarnya tatkala melakukan kesalahan-kesalahannya itu tahu dan sadar, bahwasanya ia sedang berbuat salah. Mendapatkan ucapan selamat lewat berbagai cara itu, saya senantiasa berusaha menjawabnya. Saya menganggap bahwa sapaan tersebut harus direspon. Hanya karena jumlahnya yang sedemikian banyak, maka bisa jadi sebagiannya terlewatkan. Melalui tulisan ini, saya sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa, sillaturrahmi di era modern seperti ekarang ini, semakin mudah dilakukan. Namun begitu, untuk hal-hal tertentu, teknologi itu tidak mencukupi untuk digunakan. Pertimbangan efektif dan efisien tidak selalu tepat dijadikan alasan. Hubungan-hubungan antar manusia, dalam banyak hal, harus dimaknai secara luas dan mendalam. Tidak selayaknya misalnya ucapan selamat atau sungkem kepada orang tua hanya melalui facebook atau sms. Dalam kehidupan ini, memang kadang ada tuntutan yang bersifat emosional yang harus dipenuhi. Sehingga, tidak semua hal cukup didasarkan pada pertimbangan rasional belaka. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
