Pada hari raya ini saya memang tidak menengok kampung kelahiran. Sejak kedua orang tua tidak ada lagi, acara mudik biasanya saya lakukan pada bulan Ramadhan, untuk berziarah kubur. Ziarah kubur ke makam ke dua orang tua, saya rasakan sebagai kebutuhan yang tidak bisa saya tinggalkan. Berbeda dengan dulu ketika orang tua masih ada, akhir-akhir ini acara pulang kampung hanya sebentar, —-selain ziarah kubur tersebut, menengok beberapa saudara yang masih ada.
Saya meninggalkan kampung halaman sekitar 45 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1964. Saya pergi dari desa setelah lulus sekolah dasar, dan selanjutnya meneruskan sekolah ke SMP di kota. Pada saat itu di kota kecamatan belum ada sekolah tingkat menengah. Anak desa yang meneruskan sekolah hingga SMP harus ke kota. Tidak banyak anak desa yang mau meneruskan sekolah setamat SD. Umumnya, mereka setelah lulus membantu orang tuanya bekerja di kebun, sebagai petani. Sekarang ini lembaga pendidikan di desa, dan apalagi di tingkat kecamatan sudah sedemikian banyak. Sekolah dasar di desa tempat kelahiran saya tidak kurang dari 7 buah, baik negeri maupun swasta. Dulu, 45 tahun yang lalu, SD di desa itu hanya satu. Sekarang ini, di kecamatan itu terdapat beberapa sekolah menengah, mulai SMP, M.Ts, SMU, dan SMK. Dengan demikian, kalau dulu hanya sedikit saja yang meneruskan sekolah ke tingkat lanjutan, maka sekarang berbalik. Terasa aneh jika ada anak yang tidak sekolah hingga ke tingkat lanjutan. Setiap kali saya pulang kampung, saya selalu melihat ada kemajuan dan perubahan dalam banyak hal. Dari penampilan fisik, ketika masih hidup di desa dulu, saya belum pernah melihat jalan beraspal. Sekarang ini, fasilitas jalan sudah diaspal semua. Listrik tersedia hingga ke rumah-rumah pinggiran hutan. Selain itu, hampir semua rumah sudah memiliki alat transportasi, seperti sepeda motor, dan bahkan beberapa orang telah mampu membeli mobil roda empat. Dulu hanya Pak Camat saja yang memiliki brompit atau sepeda motor sederhana. Masyarakat desa dulu belum mengenal tilpun. Sekarang ini, anak-anak muda, orang tua, dan bahkan ibu-ibu yang hanya bekerja di dapur pun telah mengenal HP. Desa sudah sedemikian maju, sehingga tidak jauh berbeda dengan kehidupan di kota. Pesawat TV, radio, dan jenis hiburan lainnya ada di desa. Demikian pula, dulu rumah-rumah hanya terbuat dari bahan kayu, anyaman bambu dan bahkan beratapkan ilalang saja. Sekarang ini, rumah-rumah penduduk terbuat dari tembok, beton dan bahkan banyak yang bertingkat, sekalipun tanah mereka masih luas. Rupanya, mereka meniru orang kota membuat rumah bertingkat, yang memang karena luas tanahnya terbatas. Desa itu sudah jauh berubah. Mobilitas penduduk juga sudah sedemikian tinggi. Anak-anak muda, karena lapangan pekerjaan di desa terbatas, maka mereka pergi ke luar negeri, seperti ke Korea, Jepang, Saudi Arabia, Singapura, Malaysia, Hongkong, dan seterusnya. Pada saat hari raya seperti sekarang ini, mereka pulang, bersilaturrahmi ke orang tua dan keluarga masing-masing. Dengan demikian, informasi di desa pun sekarang ini menjadi semakin luas. Gambaran seperti itu, maka menjadikan cita-cita anak desa tidak lagi ingin menjadi petani atau nelayan tradisional, tetapi adalah bekerja ke luar negeri. Berhasil bekerja ke luar negeri tidak saja merasa sukses dan bergengsi, tetapi lebih dari itu adalah secara ekonomis dianggap terpandang. Umumnya anak-anak sepulang dari luar negeri, mereka menikah dan membangun rumah besar dan bagus menurut ukuran desa. Anak-anak desa mengidolakan gambaran kehidupan seperti itu. Perubahan yang tidak membanggakan jutru tampak dari kalangan orang-orang yang dulu dianggap sebagai elite desa. Yaitu para pegawai negeri dan para guru-guru di desa itu. Dulu mereka itu dipandang sebagai kelompok yang paling terhormat. Mereka umumnya dijadikan sebagai sumber informasi. Apa saja terkait dengan kemodernan atau kemajuan, maka yang dijadikan acuan adalah guru. Guru pada sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu menduduki posisi strategis, karena dianggap kaya informasi, sebelum tersaingi oleh mereka yang bekerja dari luar negeri. Bahkan guru dikategorikan sebagai kelompok priyayi, sehingga dipandang sebagai kaum elite di desa. Kesan terhadap guru atau PNS seperti itu, sekarang ini menjadi berubah. Mereka tidak lagi dijadikan satu-satunya sumber informasi aktual. Munculnya kelompok baru, yakni pekerja luar negeri, masyarakat lebih suka mendengarkan cerita tentang keadaan di Hongkong, Korea, Jepang, Saudi Arabia, Singapura dari mereka, daripada cerita dari para PNS dan guru di desa itu. Apalagi secara financial atau kekayaan, pekerja luar negeri lebih unggul. Para pekerja luar negeri, selain kaya informasi dan unggul dari aspek kekayaan, juga menguasai bahasa negara di mana mereka bekerja. Lebih komplit lagi, manakala pekerja luar negeri tersebut juga telah menunaikan ibadah haji. Prestise mereka juga akan bertambah sempurna. Memang, masih ada juga pekerja dari luar negeri yang tidak terlalu beruntung, yaitu mereka yang hanya sebagai pekerja kasar, misalnya mereka yang hanya sebagai pembantu rumah tangga atau bekerja dengan tenaga kasar, sopir misalnya. Mereka yang sukses sebagaimana digambarkan tersebut adalah mereka yang bekerja di perusahaan, dengan berbekalkan ketrampilan tertentu. Bagi mereka yang tidak memiliki ketrampilan dan tidak lulus seleksi, ——-umumnya mereka mengikuti dan lulus seleksi, serta tidak memiliki bekal lainnya, maka hanya bekerja di desa, sebagaimana para guru dan PNS. Bahkan juga ada di antara mereka yang lulusan perguruan tinggi, bekerja sebagai guru bantu yang lama belum diangkat, atau bahkan masih menganggur. Di balik kisah semua itu, saya melihat bahwa kehidupan di pedesaan pun telah berubah dari waktu ke waktu. Problem mendasar yang selalu muncul di pedesaan,—– yang juga sama dengan di kota, atau di tempat-tempat lain, adalah terkait dengan penyediaan lapangan pekerjaan. Bagi mereka yang memiliki ketrampilan dan bekal lain yang diperlukan, ke luar negeri adalah alternative pilihan. Namun bagi mereka yang sebatas lulusan SMA dan tidak memiliki akses, peran pemerintah atau siapapun masih ditunggu-tunggu, yaitu mencarikan alternative lapangan pekerjaan bagi mereka. Di balik kelebihan dan kekurangannya, apapun kiranya banyak desa-desa di negeri ini sebenarnya sudah berubah. Sehingga dalam suasana hari raya seperti sekarang ini, agar kegembiraan dan kebahagiaan itu menjadi lebih sempurna, maka yang diperlukan adalah kelapangan hati, agar lebih bisa mensyukuri semua nikmat itu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
