Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Generasi Miskin Tauladan

Seminggu terakhir ini,  saya diundang untuk  bertindak sebagai  pembicara dalam diskusi di beberapa tempat. Hal yang saya rasakan agak aneh,  tema  diskusi   itu  di mana-mana sama, yaitu tentang pendidikan  kharakter. Padahal  kegiatan itu diselenggarakan  di masing-masing kota yang   berjauhan,  sehingga  tidak mungkin, mereka saling mengenal.  Pemilihan tema diskusi  tersebut, rupanya  bukan saja terpengaruh  oleh  isu yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan Nasional akhir-akhir ini, ——yaitu tentang pendidikan kharakter, melainkan memang didasarkan oleh rasa keprihatinan  yang sama.

  Mereka mengamati dan merasakan bahwa perilaku sementara anak-anak muda dipandang sudah sangat memprihatinkan. Hubungan  bebas antara pria dan  wanita sudah menjadi  hal biasa. Selain itu, kegiatan mabuk-mabukan dianggap  membanggakan. Belum lagi  kasus-kasus lainnya  seperti penggunaan obat telarang. Tawuran di mana-mana terjadi.  Sopan santun terhadap orang tua dan guru sudah dianggap ketinggalan zaman. Dirasakan, seolah-olah telah muncul generasi  baru yang memprihatinkan, yang sangat berbeda dari genarasi sebelumnya.   Berbagai diskusi itu diselenggarakan untuk mencari akar penyebab, dan selanjutnya jika mungkin berusaha menemukan jalan keluarnya,  untuk mengurangi rasa prihatin itu. Sudah  barang tentu persoalan itu bukan hal ringan, bisa dijawab  dengan cepat dan mudah. Persoalannya sudah sedemikian berat dan rumit. Ada berbagai variable penyebab yang terlanjur terjadi, dan tidak bisa dihapus. Kemerosotan akhlak tersebut adalah merupakan  akibat, sedangkan sebab-sebab yang mendahului sudah terjadi, dan karena itu tidak akan mungkin dihilangkan atau  ditarik kembali.   Jika ingin mengurai, mengapa keadaan tersebut  terjadi, kiranya perlu merenungkan peristiwa-peristiwa beberapa tahun terakhir di negeri ini.   Sejak tahun 1998 yang lalu, ketika  terjadi reformasi,  sehari-hari    di kampus-kampus,  hingga di kota-kota kecil, dan bahkan di tingkat desa terjadi demonstrasi  yang seolah-olah tidak ada henti-hentinya. Dalam setiap demo itu selain mereka membawa poster-poster bernada  protes, juga melontarkan teriakan-teriakan yang bernada mengolok-olok,  dan bahkan juga menghujat terhadap mereka yang dianggap keliru atau salah dalam mengambil kebijakan.   Maka  dalam waktu yang cukup  lama,  muncul generasai yang pekerjaannya sehari-hari menyalahkan terhadap generasi sebelumnya. Siapapun dianggap salah, apalagi pejabat pemerintah.  Dengan begitu sopan santun terhadap generasi tua,  termasuk  terhadap orang tua, guru, pemimpin menjadi hilang. Kewibawaan menjadi  tidak ada. Yang terjadi adalah menyalahkan dan menuduh. Keadaan seperti itu, maka otomatis menghilangkan tradisi yang sekian lama dipelihara, misalnya menghormat kepada orang tua, pemimpin, guru dan seterusnya.   Kesan buruk generasi muda terhadap generasi sebelumnya diperkukuh dengan gerakan memberantas korupsi, kolusi,  dan nepotisme. Para pejabat yang ditengarai telah melakukan penyimpangan atau korupsi ditangkap, diadili, dan dimasukkan ke penjara. Para pejabat yang terkena kasus seperti itu merata, baik secara vertical maupun horizontal.  Merata secara vertical, artinya terjadi di semua level, mulai dari kelurahan, camat, bupati atau wali kota, gubernur, kepala Bank, BUMN, pejabat perbankan, bahkan oknum KPK sendiri,   hingga tingkat kementerian. Mereka diadili dan kemudian dipenjarakan.  Sedangkan secara horizontal, hal itu terjadi di seluruh wilayah tanah air.   Kebijakan memberantas korupsi seperti itu tidak berarti kurang strategis atau salah. Niat dan strategi seperti itu, banyak orang memandang sudah semestinya dilakukan oleh pemerintah. Namun hal yang perlu direnungkan dan disadari,  bahwa kebijakan seperti itu sebenarnya tidak gratis.   Ada sesuatu yang harus dibayar mahal, terutama  terkait pendidikan geberasi muda.  Banyaknya  orang tua, pejabat di berbagai level, kepala sekolah, dosen, pimpinan perguruan tinggi, jaksa, hakim, oknum  KPK, gubernur dan bahkan menteri  diuduh melakukan korupsi dan kemudian dipenjara, maka  tidak ada lagi ketauladanan dalam pendidikan.     Maka itulah sebabnya, generasi pada saat ini adalah masuk kategori  kurang beruntung, yaitu sedang kekurangan atau miskin  ketauladanan. Memang masih banyak di antara orang tua, para pejabat di berbagai level yang selamat dari tindak penyimpangan. Akan tetapi, generasi muda akan melihat kenyataan-kenyataan yang sedang terjadi,  yang justru menyimpang itu. Akibatnya para guru akan mengalami kesulitan tatkala mencari sosok tipe ideal seseorang atau menanamkan kebanggaan  terhadap para pemimpin.   Gerakan pemberantasan korupsi yang berkepanjangan, ——-apalagi  juga membongkar kasus-kasus lama, maka akan melahirkan gambaran  bahwa para pemimpin atau pejabat negara selama ini dikonotasikan sebagai  telah berada pada kubangan dosa, kesalahan, kecurangan,  dan bahkan kejahatan. Maka bisa jadi hal itu menjadikan  generasi muda frustasi yang luar biasa hingga melahirkan banyak penyimpangan karakter, perilaku,  watak,   atau akhlak itu.   Itulah di antara sebab, mengapa terjadi kemerosotan akhlak atau kharakter generasi muda yang diprihatinkan oleh  banyak  kalangan  selama ini. Tentu sebab-sebab lainnya masih banyak. Misalnya, sehari-hari media massa menampilkan berita-berita  tentang kekerasan, ketidak-adilan, penyimpangan dan lain-lain.  Belum lagi, fenomena politik yang penuh dengan intrik, konflik, transaksi untuk mendapatkan jabatan dan lain-lain.  Semua itu secara langsung  atau tidak langsung  akan mempengaruhi perilaku generasi muda, yang sebenarnya diharapkan ke depan semakin baik itu.   Menyadari   atas gambaran yang mengerikan seperti itu, maka rasanya menjadi mudah dimengerti bahwa sebenarnya kemerosotan akhlak, watak  atau kharakter  sementara generasi muda itu, sebenarnya adalah merupakan  buah dari perbuatan  sementara  orang tua, pemimpin,  dan pejabat   ata generasi tua sendiri. Generasi muda yang sebenarnya  diharapkan menjadi generasi penerus yang seharusnya memiliki kualitas unggul,  namun ternyata  tidak mendapatkan contoh,  atau ketauladanan tentang kebaikan atau keunggulan itu.     Oleh karena itu, maka yang seharusnya dilakukan adalah bagaimana kekeliruan itu tidak berkepanjangan,  dan dipertontonkan secara terbuka kepada generasi muda. Jika ada kesalahan atau kekeliruan selama ini harus segera  disadari dan kemudian diperbaiki. Apa yang  kita pandang selama ini benar, belum tentu pada kenyataannya  benar. Sebaliknya,  apa yang kita pandang salah, belum tentu hal itu salah.  Karena itu melakukan perenungan kembali, dan apalagi selalu memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa  seharusnya dilakukan sepanjang waktu.   Selain itu mestinya logika formal,  yang  selama ini  digunakan untuk menyelesaikan persoalan bangsa,  kiranya perlu dilengkapi atau disandingkan dengan logika hati, yang menyejukkan dan menguntungkan  bagi semuanya. Orang  kadang begitu yakin terhadap hukum positif,  dianggap  akan selalu  berhasil menyelesaikan masalah.   Namun  kiranya,  dalam menyelesaikan persoalan bangsa yang besar dan rumit ini, maka sebenarnya masih perlu menengok tujuan dan filsafat hukum yang lebih mendalam, agar ditemukan apa yang disebut dengan istilah  kearifan.  Itu semua  agar   generasi ini tidak seterusnya berada dalam keadaan miskin tauladan,  seperti yang terjadi sejak beberapa tahun terakhir ini. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *