Sunday, 31 May 2026
above article banner area

Saat Berhaji Seseorang tidak Dikenali Kaya atau Miskin

Banyak nasehat yang diberikan kepada seseorang yang akan menunaikan ibadah haji,  agar tidak membawa pakaian atau perhiasan banyak-banyak, agar tidak merepoti. Saran itu tepat, karena kaya atau miskin pada saat menunaikan ibadah haji tidak akan dikenali.  Tatkala sedang di Masjidil Haram, Arafah, dan Mina,  semua orang dianggap sama. Tidak ada yang dianggap lebih mulia, lebih tinggi kedudukannya,  dan atau seharusnya lebih dihormati. 

Di tempat-tempat tersebut  tidak mengenal adanya strata sosial. Semua jamaáh diperlakukan sama. Siapapun berhak menempati tempat yang masih kosong yang tidak ditempati oleh orang lain.   Siapapun tatkala sedang berada di tempat itu,  hanya dibedakan antara  jamaáh laki-laki dan perempuan. Pada saat menjalankan ibadah haji, orang tidak akan menampakkan bahwa dirinya berbeda dari jamaáh lainnya, apalagi perbedaan itu hanya dari  nasab atau keturunan, jabatan, atau harta kekayaan yang berhasil dikumpulkan atau dikuasai.  Dahulu pemisahan tempat antara untuk laki-laki dan perempuan   hanya di Masjid Nabawi, Madinah. Hal itu karena keadaannya memungkinkan diatur sedemikian. Sedangkan di masjidil Haram,  jamaáh agak sulit diatur, karena posisi masjid yang melingkar. Biasanya  selesai thawaf, orang  menempati tempat di mana saja yang sekiranya memungkinkan. Karena mungkin mereka tidak mau repot atau  juga karena sudah terlalu lelah. Tetapi akhir-akhir ini, jamaáh di Masjidil Haram pun juga sudah diatur, antara jamaáh laki-laki dan perempuan sekalipun tidak maksimal,  sudah tidak terlalu bercampur baur sebagaimana  terjadi  sepuluh tahunan yang lalu.  Sejak beberapa  tahun terakhir ini, sebagian  tempat disediakan khusus untuk jamaáh wanita, sedangkan  lainnya diperuntukkan bagi  laki-laki. Akan tetapi, karena banyak orang ingin selalu berdekatan antara suami dan isteri atau rombongannya, maka pemisahan itu tidak  sepenuhnya efektif. Perbedaan antar jamaáh, terutama dari tingkat ekonomi,   tidak  pernah tampak. Umpama hal itu kelihatan,  hanya tatkala di  luar masjid, misalnya dari penginapan yang ditempati. Para jamaáh haji plus, biasanya menginap di hotel-hotel di sekitar masjid. Sedangkan jamaáh haji biasa diinapkan di maktab-maktab, yang kadang agak jauh dari masjid. Sebagai akibat tidak adanya strata sosial itu, maka orang bisa saja makan di sembarang tempat, belanja di sembarang toko, dan bahkan duduk-duduk di mana saja. Hal itu sangat berbeda   ketika  masih di kampung atau kotanya sendiri. Ada saja orang yang tidak mau duduk, makan, dan belanja  di sembarang tempat. Tetapi ketika sedang berhaji, —–berada di tanah suci, siapapun bisa duduk klesetan. Derajat seseorang tidak ditentukan oleh pakaian, kendaraan, tempat tinggal,  dan apalagi sebatas jenis makanan yang dikonsumsi, melainkan dari kekhusukannya dalam beribadah. Kesetaraan itu menjadi lebih tampak lagi,  ketika mereka  sedang  di masjid, di Arafah, dan juga di Mina. Pada saat itu, semua orang dianggap sama. Bahkan bagi laki-laki, mereka mengenakan pakaian yang sama, yaitu dua potong kain ihram, ikat pinggang dan sepasang sandal. Umumnya mereka mengenakan sandal japit. Demikian pula kaum wanita, sekalipun pakaian yang dikenakan agak bebas, —–asal menutup aurat, tetapi juga tidak ada yang menyolok. Umumnya para wanita juga menyesuaikan, mengenakan pakaian yang patas, dalam pengertian sederhana. Memang  di antara hikmah haji adalah membangun rasa kesamaan dan kebersamaan di antara semua manusia. Mereka mengenakan pakaian yang sama, melakukan  dan mengikuti alur kegiatan   yang sama, yaitu setelah umrah, pada waktu yang ditentukan , mereka   wukuf di Arafah, kemudian tatkala mata hari sudah terbenam, jamaáh  bergerak menuju muzdalifah. Di tempat ini para jamaáh mabit, dan kemudian setelah lewat tengah malam, mereka  bergerak lagi menuju ke Mina untuk melempar jumrah aqobah. Setelah itu,  ada yang istirahat dulu di Mina, atau pergi ke Masjidil Haram utuk thawaf ifadhah, lalu kembali lagi ke Mina untuk bermalam di sana. Semua tahap demi tahap kegiatan itu, ditunaikan, dan  tidak akan ada yang tampak menunjukkan kelebihannya, apalagi  hanya  dari  harta atau kekayaannya. Pada saat haji, kompetisi  terkait kepemilikan harta tidak kelihatan. Orang kaya pada saat itu tidak akan dilihat secara berbeda  dari lainnya yang tidak kaya. Semua jamaáh haji   ketika itu, hanya memikirkan bagaimana agar tahap-tahap ibadah itu dapat dijalankan secara sempurna.   Status kaya atau miskin pada saat pelaksanaan ibadah haji, terutama di masjidil haram, Arafah dan Mina, tidak akan tampak. Semua orang pada saat itu adalah sama.  Jika ada yang berbeda-beda, kiranya adalah pada hati mereka masing-masing. Ada sementara orang yang  pergi haji  untuk mendekatkan diri atau secara ikhlas memenuhi panggilan Allah, ada pula yang karena terpengaruh oleh saudara, tetangga,  atau atasannya. Namun mungkin ada pula di antara mereka, yang menunaikan haji  hanya agar mendapatkan gelar haji, dan bahkan  karena  sekedar memenuhi ajakan isteri atau suaminya. Padahal  sebenarnya, mengingat haji adalah jenis  ritual yang amat mahal, baik dari besarnya biaya yang harus dibayar,  ataupun juga kesempatan yang tidak sebentar menunggunya, maka semestinya ditunaikan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas,  yaitu hanya karena  memenuhi panggilan Allah.  Ibadah  seperti inilah yang akhirnya menjadi haji  mabrur, yaitu haji yang berhasil mengubah watak, perilaku, karakter bagi pelakunya, hingga menjadi manusia terbaik,  yaitu manusia yang selalu menyesuaikan diri dengan tuntunan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *