Banyak nasehat yang diberikan kepada seseorang yang akan menunaikan ibadah haji, agar tidak membawa pakaian atau perhiasan banyak-banyak, agar tidak merepoti. Saran itu tepat, karena kaya atau miskin pada saat menunaikan ibadah haji tidak akan dikenali. Tatkala sedang di Masjidil Haram, Arafah, dan Mina, semua orang dianggap sama. Tidak ada yang dianggap lebih mulia, lebih tinggi kedudukannya, dan atau seharusnya lebih dihormati.
Di tempat-tempat tersebut tidak mengenal adanya strata sosial. Semua jamaáh diperlakukan sama. Siapapun berhak menempati tempat yang masih kosong yang tidak ditempati oleh orang lain. Siapapun tatkala sedang berada di tempat itu, hanya dibedakan antara jamaáh laki-laki dan perempuan. Pada saat menjalankan ibadah haji, orang tidak akan menampakkan bahwa dirinya berbeda dari jamaáh lainnya, apalagi perbedaan itu hanya dari nasab atau keturunan, jabatan, atau harta kekayaan yang berhasil dikumpulkan atau dikuasai. Dahulu pemisahan tempat antara untuk laki-laki dan perempuan hanya di Masjid Nabawi, Madinah. Hal itu karena keadaannya memungkinkan diatur sedemikian. Sedangkan di masjidil Haram, jamaáh agak sulit diatur, karena posisi masjid yang melingkar. Biasanya selesai thawaf, orang menempati tempat di mana saja yang sekiranya memungkinkan. Karena mungkin mereka tidak mau repot atau juga karena sudah terlalu lelah. Tetapi akhir-akhir ini, jamaáh di Masjidil Haram pun juga sudah diatur, antara jamaáh laki-laki dan perempuan sekalipun tidak maksimal, sudah tidak terlalu bercampur baur sebagaimana terjadi sepuluh tahunan yang lalu. Sejak beberapa tahun terakhir ini, sebagian tempat disediakan khusus untuk jamaáh wanita, sedangkan lainnya diperuntukkan bagi laki-laki. Akan tetapi, karena banyak orang ingin selalu berdekatan antara suami dan isteri atau rombongannya, maka pemisahan itu tidak sepenuhnya efektif. Perbedaan antar jamaáh, terutama dari tingkat ekonomi, tidak pernah tampak. Umpama hal itu kelihatan, hanya tatkala di luar masjid, misalnya dari penginapan yang ditempati. Para jamaáh haji plus, biasanya menginap di hotel-hotel di sekitar masjid. Sedangkan jamaáh haji biasa diinapkan di maktab-maktab, yang kadang agak jauh dari masjid. Sebagai akibat tidak adanya strata sosial itu, maka orang bisa saja makan di sembarang tempat, belanja di sembarang toko, dan bahkan duduk-duduk di mana saja. Hal itu sangat berbeda ketika masih di kampung atau kotanya sendiri. Ada saja orang yang tidak mau duduk, makan, dan belanja di sembarang tempat. Tetapi ketika sedang berhaji, —–berada di tanah suci, siapapun bisa duduk klesetan. Derajat seseorang tidak ditentukan oleh pakaian, kendaraan, tempat tinggal, dan apalagi sebatas jenis makanan yang dikonsumsi, melainkan dari kekhusukannya dalam beribadah. Kesetaraan itu menjadi lebih tampak lagi, ketika mereka sedang di masjid, di Arafah, dan juga di Mina. Pada saat itu, semua orang dianggap sama. Bahkan bagi laki-laki, mereka mengenakan pakaian yang sama, yaitu dua potong kain ihram, ikat pinggang dan sepasang sandal. Umumnya mereka mengenakan sandal japit. Demikian pula kaum wanita, sekalipun pakaian yang dikenakan agak bebas, —–asal menutup aurat, tetapi juga tidak ada yang menyolok. Umumnya para wanita juga menyesuaikan, mengenakan pakaian yang patas, dalam pengertian sederhana. Memang di antara hikmah haji adalah membangun rasa kesamaan dan kebersamaan di antara semua manusia. Mereka mengenakan pakaian yang sama, melakukan dan mengikuti alur kegiatan yang sama, yaitu setelah umrah, pada waktu yang ditentukan , mereka wukuf di Arafah, kemudian tatkala mata hari sudah terbenam, jamaáh bergerak menuju muzdalifah. Di tempat ini para jamaáh mabit, dan kemudian setelah lewat tengah malam, mereka bergerak lagi menuju ke Mina untuk melempar jumrah aqobah. Setelah itu, ada yang istirahat dulu di Mina, atau pergi ke Masjidil Haram utuk thawaf ifadhah, lalu kembali lagi ke Mina untuk bermalam di sana. Semua tahap demi tahap kegiatan itu, ditunaikan, dan tidak akan ada yang tampak menunjukkan kelebihannya, apalagi hanya dari harta atau kekayaannya. Pada saat haji, kompetisi terkait kepemilikan harta tidak kelihatan. Orang kaya pada saat itu tidak akan dilihat secara berbeda dari lainnya yang tidak kaya. Semua jamaáh haji ketika itu, hanya memikirkan bagaimana agar tahap-tahap ibadah itu dapat dijalankan secara sempurna. Status kaya atau miskin pada saat pelaksanaan ibadah haji, terutama di masjidil haram, Arafah dan Mina, tidak akan tampak. Semua orang pada saat itu adalah sama. Jika ada yang berbeda-beda, kiranya adalah pada hati mereka masing-masing. Ada sementara orang yang pergi haji untuk mendekatkan diri atau secara ikhlas memenuhi panggilan Allah, ada pula yang karena terpengaruh oleh saudara, tetangga, atau atasannya. Namun mungkin ada pula di antara mereka, yang menunaikan haji hanya agar mendapatkan gelar haji, dan bahkan karena sekedar memenuhi ajakan isteri atau suaminya. Padahal sebenarnya, mengingat haji adalah jenis ritual yang amat mahal, baik dari besarnya biaya yang harus dibayar, ataupun juga kesempatan yang tidak sebentar menunggunya, maka semestinya ditunaikan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas, yaitu hanya karena memenuhi panggilan Allah. Ibadah seperti inilah yang akhirnya menjadi haji mabrur, yaitu haji yang berhasil mengubah watak, perilaku, karakter bagi pelakunya, hingga menjadi manusia terbaik, yaitu manusia yang selalu menyesuaikan diri dengan tuntunan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
