Wednesday, 22 April 2026
above article banner area

Sangatta : Membebaskan Biaya Pendidikan Hingga Perguruan Tinggi

Tatkala di mana-mana sering diributkan  tentang  besarnya biaya pendidikan, maka di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur,   suara itu  tidak akan muncul. Di sana sudah diberlakukan wajib belajar 12 tahun. Mulai dari ekolah dasar hingga sekolah menengah atas, biaya pendidikan dicukupi oleh pemerintah setempat.  Bahkan bebas biaya pendidikan juga diberlakukan hingga  bagi mahasiswa yang belajar di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta  ( STAIS) dan  Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian  (STIPER) di kabupaten itu.  

  Hari Selasa, tanggal 26 Oktober 2010,  saya diundang oleh STAIS Kutai Timur untuk memberi  kuliah umum. Kota Sangatta cukup jauh.  Untuk sampai ke kota itu, sebenarnya bisa ditempuh dari Balikpapan, sekitar satu jam dengan menggunakan pesawat ukuran kecil  bermuatan 18 orang. Akan tetapi,  karena pesawat yang biasa terbang ke sana mengalami trouble,  sehingga terpaksa  tidak terbang, maka saya harus lewat darat,  menempuh  sekitar 8 jam perjalanan dari Balikpapan.   Perjalanan ke Sangatta  dengan jalan darat tersebut memang benar-benar melelahkan. Karena sehari sebelumnya, saya juga dengan kendaraan darat pula,  baru  pulang menghadiri seminar dari Universitas Negeri Yogyakarta. Sehingga, dua malam saya harus  di perjalanan darat dalam jarak yang cukup jauh. Atas keadaan seperti itu, Ketua STAIS  Kutai Timur, Prof.H.Siti Muriah, menampakkan empatinya. Tetapi saya katakan, saya sudah berlatih pergi jarak jauh dengan kendaraan darat,  bahkan  lebih berat.   Saya  sampaikan kepadanya, bahwa saya    pernah  berkendaraan darat,  dari Amman, Yordan ke Baghdad.  Demikian pula, saya juga pernah dengan kendaraan darat pula,   dari Jeddah ke Kunfudha. Kedua perjalanan tersebut  jauh lebih berat dari pada perjalanan  antara  Balikpapan ke Sangatta,  karena di daerah padang pasir.  Perjalanan  di padang pasir,  jika terjadi angin kencang, maka sepanjang jalan tidak kelihatan. Suasan kanan dan kiri jalan sangat  gelap, karena hempasan angin bercampur debu. Sehingga saya katakan, sekalipun jauh perjalanan dari Balikpapan ke  Sangatta tidak berat.   Keadaan yang cukup melelahkan itu menjadi tidak terasa, karena sambutan mereka sangat menggembirakan.  Sekalipun acara itu hanya sekedar kuliah umum, tetapi  tidak saja diikuti oleh para mahasiswa, melainkan juga oleh semua pimpinan, dosen dan karyawan. Bahkan yang menarik, kuliah umum juga dihadiri oleh  para pejabat pemerintah daerah,  pimpinan dan anggota DPRD,  dan tokoh masyarakat. Bupati yang kebetulan tidak bisa hadir, karena sedang di luar kota, juga menunjuk wakilnya untuk hadir dan memberi sambutan pada kuliah umum itu.   Saya menjadi lebih terhibur lagi, setelah mendengarkan isi sambutan wakil Bupati pada acara itu. Melalui sambutan itu,  saya  sangat gembira dan menilai bahwa pemerintah daerah dalam membangun daerahnya sudah berada pada jalur yang tepat, yaitu di antaranya telah  menjadikan pendidikan sebagai program strategis. Wakil bupati menjelaskan tentang potensi daerahnya dan pengembangannya  ke depan, termasuk  program-program pengembangan pendidikan yang sudah dijalankan selama ini serta  proyeksinya ke depan.   Sebagai petunjuk tentang kepeduliannya pada pendidikan, pimpinan daerah sudah mengambil kebijakan  berupa memberlakukan wajib pendidikan 12 tahun. Disebutkan dalam sambutannya itu bahwa tidak boleh di Sangatta terdapat anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Semua biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah daerah. Bahkan di kedua perguruan tinggi yang ada di kabupaten itu, yakni STAIS dan STIPER, semua pembiayaannya dipenuhi oleh  pemerintah daerah. Para mahasiswa yang kuliah  di dua kampus tersebut,   sekalipun   institusinya masih berstatus swasta,  dibebaskan dari semua biaya pendidikan.   Sementara ini,  pemerintah telah berhasil menyelesaikan   pembangunan gedung kampus STIPER. Maka pada tahun 2011 ini akan mebangun gedung kampus untuk Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta di atas  tanah seluas 10 hektar yang juga telah tersedia. Dari acara itu saya  mendapatkan kesan  bahwa,  ada dua keuntungan besar bagi  masyarakat kabupaten Kutai Timur, yaitu daerahnya kaya sumber daya alam ——banyak tambang terutama Batubara,  dan sekaligus para pejabatnya tampak sangat memahami, bagaimana  mengembangkan daerahnya. Hal itu terlihat  jelas misalnya,  dari  betapa besarnya perhatian mereka pada pendidikan.   Banyak wilayah dan daerah yang saya datangi, mulai dari Aceh hingga Jayapura, Papua.  Namun  baru di Sangatta,   perguruan tinggi swasta mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah daerahnya. Tidak banyak pemerintah daerah memberi bantuan kepada  perguruan tinggi swasta sebagaimana yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Umpama membantu biasanya hanya berupa subsidi dan biaya  pengembangan fisik.  Pemerintah Kabupaten ini  membebaskan beban biaya pendidikan hingga  terhadap semua mahasiswa perguruan tinggi swasta di daerahnya.     Kebiajakan tersebut kiranya perlu mendapat apresiasi dari semua pihak di negeri ini.  Bangsa ini  ke depan akan maju manakala pendidikannya maju. Pendidikan akan maju manakala semua pihak, termasuk pemerintahnya juga memiliki kepedulian yang besar pada pendidikan. Ke depan, kata pejabat yang hadir dalam acara kuliah tamu tersebut, akan diberlakukan peraturan,  berupa  memberi sanksi  terhadap  siapa saja yang berusia sekolah tetapi tidak mau menjalaninya.   Saya yakin, jika semangat pendidikan dimiliki oleh semua pejabat, mulai dari pusat hingga  daerah, maka ke depan Indonesia akan benar-benar menjadi maju. Apalagi, sebagaimana di Kutai Timur, pendidikan yang dikembangkan sudah memadukan antara kebutuhan sains dan teknologi dengan pendidikan agama. Kedua-duanya oleh pemerintah setempat dipandang sama-sama penting, sehingga tidak boleh di antaranya ada yang diabaikan.     Memang  sebenarnya jika mau jujur, kegagalan bangsa ini  dalam bersaing dengan bangsa lain, adalah dimulai dari pengambilan keputusan yang kurang tepat, utamanya dalam pendidikan. Akibatnya,  bangsa ini selain  tertinggal  dalam  pengembangan ilmu dan teknologi, masih disempurnakan dengan penderitaan lainnya, yaitu miskin  akhlak, terbukti penyimpangan dan korupsi  terjadi di mana-mana, di hampir  semua lapisan. Karena itu, apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kutai Timur tersebut perlu diapresiasi,  dan juga dicontoh oleh lainnya. Wallahu a’lam.      

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *