Wednesday, 22 April 2026
above article banner area

Bertauhid

Mengenal dan meyakini  seyakin-yakinnya,  bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya tuhan adalah inti dari bertahuhid. Keyakinan itu  selalu  dipegang teguh, dijadikan sebagai  dasar berpikir dan berbuat dijadikan tumpuan dan bahkan yang paling dicintainya.  Seeorang yang bertauhid secara kokoh, maka pada  setiap waktu, di mana dan kapan pun selalu ingat kepada-Nya.

  Seorang yang bertauhid merasakan  ada kekuatan yang Maha Besar di luar dirinya, yang menyebabkan dirinya menjadi ada. Keberadaan dirinya tidak pernah direncanakan, dimaui dan dicita-citakan, tetapi ternyata ada. Hanya  dengan kasih sayang-Nya, dirinya  menjadi ada.  Seorang yang bertauhid, akan membayangkan keadaan, andaikan dirinya tidak ada, maka semua tidak diketahui dan dirasakan akan adanya. Tatkala ia tidak ada, maka kata ada pun,  bagi dirinya juga tidak ada.   Dengan jiwa dan pikiran  brtauhid, atau mengakui adanya Allah, maka seseorang akan merasakan  kenikmatan  dalam hidupnya. Ia merasa bersyukur tak terhingga, karena ternyata ia diadakan. Dengan keberadaannya itu,  di  sepanjang waktu dan tempat, ia  menikmati hidupnya. Ia melihat jagad raya ini sedemikian indah dan menakjubkan.  Semua makhluk,  baik yang  bernyawa maupun yang tidak bernyawa telah ditata atau disusun sedemikian rapid an indah, kait mengkait satu dengan lainnya.   Seseorang yang bertauhid merasakan keindahan pada dirinya. Ia diciptakan oleh Allah, dalam bentuk yang seindah-indahnya. Dirinya sebagai makhluk, terdiri atas  jasad, aql,  dan ruh. Masing-masing menyatu menjadi makhluk yang terindah, yaitu sebagai seorang manusia. Dibanding dengan makhluk lainnya, ia diciptakan dalam keadaan yang amat sempurna, indah, dan berderajad tinggi melebihi makhluk lainnya, apapun jenisnya.   Pengetahuan tentang manusia, yaitu tentang dirinya sendiri,  tidak pernah diraih secara sempurna. Dengan bertauhid, maka seseorang akan sadar, bahwa jangankan memahami orang lain, sementara memahami dirinya sendiri tidak pernah berhasil secara  baik. Manusia tidak pernah tahu, bahkan  tentang dirinya sendiri, apalagi tentang orang lain. Boleh-boleh saja, mereka merasa tahu, tetapi sebenarnya hanya sebatas perasaan belaka.   Atas keberadaan dirinya itu, manusia hanya dianjurkan untuk bersyukur.  Akan tetapi, ternyata  hanya sedikit saja di antara mereka yang berhasil melakukannya. Banyak dari manusia justru kufur, termasuk kufur atas nikmat yang telah dierimanya. Manusia dianjurkan untuk menjaga hatinya agar selalu sabar, ikhlas, tawakkal,  saling kasih sayang dengan sesama, tetapi justru yang terjadi adalah saling curiga, kebencian, merusak, dan saling berebut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu memberi manfaat, termasuk terhadap  dirinya sendiri.   Seseorang  yang bertauhid akan menganggap bahwa semua manusia  adalah sama. Tidak ada yang berderajat lebih tinggi, dan lebih mulia dari lainnya kecuali orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Seberapa tingkat keimanan dan pengetahuan seseorang,  juga tidak akan diketahui oleh dirinya maupun oleh orang lain. Pengetahuan tentang kualitas manusia yang sebenarnya,  hanya milik-Nya. Atas dasar pandangan itu, maka tidak semestinya seseorang mengklain bahwa dirinyalah yang paling mulia dan  berderajat paling tinggi. Jika perasaan atau pandangan itu muncul pada diri seseorang, maka justru ia sedang berada pada posisi salah atau keliru.   Namun dalam kehidupan sehari-hari, orang berkeinginan agar dilebihkan, diistimewakan,  dan dimuliakan atas lainnya. Berbagai asesoris, terkait dengan pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan symbol-simbol lainnya diusahakan agar berbeda dan dianggap mulia. Padahal letak kemuliaan itu bukan berada  di tempat itu semua. Kemuliaan seseorang  selalu berada pada keindahan hatinya, selanjutnya  terefleksi dalam pikiran, ucapan,  dan perbuatannya.  Jika demikian itu ukurannya, maka semua orang berpeluang menjadi yang terbaik dan mulia.  Kemuliaan, —–dengan demikian, bukan karena harta, jabatan, dan aksesoris kehidupan itu.   Dengan bertauhid, maka jiwa dan pikiran seseorang menjadi bebas. Tidak pernah ada sesuatu yang ditakuti selain Allah,  sebagai tuhannya.   Orang yang bertauhid akan merasakan bahwa dirinya tidak pernah tergantung pada siapapun, kecuali pada Allah. Jiwa, hati dan pikirannya selalu merdeka. Ia tidak akan merasa heran, tercengang, bahkan juga takjub  terhadap seseorang dan bahkan dengan siapapun, kecuali pada Allah swt. Orang yang bertauhid akan memiliki sifat berani, tetapi juga sabar, ikhlas, selalu bersyukur, dan tawakkal dalam keadaan apapun.   Manusia  bertauhid adalah manusia bebas, berani,  dan terbuka sehingga, ia   hanya   berharap  menjadi dirinya sendiri.  Ia merasa kaya, sekalipun tidak memiliki harta benda.  Sebaliknya, ia  selalu merasa miskin di hadapan-Nya.  Seorang bertauhid, merasakan dirinya adalah  pengelana dalam pentas kehidupan, untuk mencari ridha-Nya,  dengan selalu  memperkukuh keimanan dan amal shaleh.   Orang yang bertauhid adalah orang yang selalu ingin tahu tentang dirinya, dan kemudian berusaha mencari jalan   menuju Tuhan yang dicintainya. Ia selalu beranggapan bahwa semua adalah rendah, kecuali Allah. Karena itu  ia tidak ingin bergelimang dengan kerendahan. Sebaliknya pada setiap waktu,  ia  berusaha menuju tempat dan jalan mendaki yang semakin tinggi, yaitu Ridha Allah.   Kiranya itulah sebagiannya yang disebut bertauhid.  Seseorang  bertauhid  artinya adalah telah  meraih keindahan, keluhuran,  dan kemuliaan yang sebenarnya. Posisi seperti itu tidak akan diraih dan ditempati oleh siapapun  yang selalu berpikir, berjiwa,  dan berbuat kejelekan, yang hanya akan merugikan dirinya sendiri, dan bahkan juga terhadap  orang lain.  Islam menyerukan bertauhid, yakni  menyeru pada kemuliaan dan derajat yang tinggi itu. Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *