Mengenal dan meyakini seyakin-yakinnya, bahwa hanya Allah sajalah satu-satunya tuhan adalah inti dari bertahuhid. Keyakinan itu selalu dipegang teguh, dijadikan sebagai dasar berpikir dan berbuat dijadikan tumpuan dan bahkan yang paling dicintainya. Seeorang yang bertauhid secara kokoh, maka pada setiap waktu, di mana dan kapan pun selalu ingat kepada-Nya.
Seorang yang bertauhid merasakan ada kekuatan yang Maha Besar di luar dirinya, yang menyebabkan dirinya menjadi ada. Keberadaan dirinya tidak pernah direncanakan, dimaui dan dicita-citakan, tetapi ternyata ada. Hanya dengan kasih sayang-Nya, dirinya menjadi ada. Seorang yang bertauhid, akan membayangkan keadaan, andaikan dirinya tidak ada, maka semua tidak diketahui dan dirasakan akan adanya. Tatkala ia tidak ada, maka kata ada pun, bagi dirinya juga tidak ada. Dengan jiwa dan pikiran brtauhid, atau mengakui adanya Allah, maka seseorang akan merasakan kenikmatan dalam hidupnya. Ia merasa bersyukur tak terhingga, karena ternyata ia diadakan. Dengan keberadaannya itu, di sepanjang waktu dan tempat, ia menikmati hidupnya. Ia melihat jagad raya ini sedemikian indah dan menakjubkan. Semua makhluk, baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa telah ditata atau disusun sedemikian rapid an indah, kait mengkait satu dengan lainnya. Seseorang yang bertauhid merasakan keindahan pada dirinya. Ia diciptakan oleh Allah, dalam bentuk yang seindah-indahnya. Dirinya sebagai makhluk, terdiri atas jasad, aql, dan ruh. Masing-masing menyatu menjadi makhluk yang terindah, yaitu sebagai seorang manusia. Dibanding dengan makhluk lainnya, ia diciptakan dalam keadaan yang amat sempurna, indah, dan berderajad tinggi melebihi makhluk lainnya, apapun jenisnya. Pengetahuan tentang manusia, yaitu tentang dirinya sendiri, tidak pernah diraih secara sempurna. Dengan bertauhid, maka seseorang akan sadar, bahwa jangankan memahami orang lain, sementara memahami dirinya sendiri tidak pernah berhasil secara baik. Manusia tidak pernah tahu, bahkan tentang dirinya sendiri, apalagi tentang orang lain. Boleh-boleh saja, mereka merasa tahu, tetapi sebenarnya hanya sebatas perasaan belaka. Atas keberadaan dirinya itu, manusia hanya dianjurkan untuk bersyukur. Akan tetapi, ternyata hanya sedikit saja di antara mereka yang berhasil melakukannya. Banyak dari manusia justru kufur, termasuk kufur atas nikmat yang telah dierimanya. Manusia dianjurkan untuk menjaga hatinya agar selalu sabar, ikhlas, tawakkal, saling kasih sayang dengan sesama, tetapi justru yang terjadi adalah saling curiga, kebencian, merusak, dan saling berebut terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu memberi manfaat, termasuk terhadap dirinya sendiri. Seseorang yang bertauhid akan menganggap bahwa semua manusia adalah sama. Tidak ada yang berderajat lebih tinggi, dan lebih mulia dari lainnya kecuali orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Seberapa tingkat keimanan dan pengetahuan seseorang, juga tidak akan diketahui oleh dirinya maupun oleh orang lain. Pengetahuan tentang kualitas manusia yang sebenarnya, hanya milik-Nya. Atas dasar pandangan itu, maka tidak semestinya seseorang mengklain bahwa dirinyalah yang paling mulia dan berderajat paling tinggi. Jika perasaan atau pandangan itu muncul pada diri seseorang, maka justru ia sedang berada pada posisi salah atau keliru. Namun dalam kehidupan sehari-hari, orang berkeinginan agar dilebihkan, diistimewakan, dan dimuliakan atas lainnya. Berbagai asesoris, terkait dengan pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan symbol-simbol lainnya diusahakan agar berbeda dan dianggap mulia. Padahal letak kemuliaan itu bukan berada di tempat itu semua. Kemuliaan seseorang selalu berada pada keindahan hatinya, selanjutnya terefleksi dalam pikiran, ucapan, dan perbuatannya. Jika demikian itu ukurannya, maka semua orang berpeluang menjadi yang terbaik dan mulia. Kemuliaan, —–dengan demikian, bukan karena harta, jabatan, dan aksesoris kehidupan itu. Dengan bertauhid, maka jiwa dan pikiran seseorang menjadi bebas. Tidak pernah ada sesuatu yang ditakuti selain Allah, sebagai tuhannya. Orang yang bertauhid akan merasakan bahwa dirinya tidak pernah tergantung pada siapapun, kecuali pada Allah. Jiwa, hati dan pikirannya selalu merdeka. Ia tidak akan merasa heran, tercengang, bahkan juga takjub terhadap seseorang dan bahkan dengan siapapun, kecuali pada Allah swt. Orang yang bertauhid akan memiliki sifat berani, tetapi juga sabar, ikhlas, selalu bersyukur, dan tawakkal dalam keadaan apapun. Manusia bertauhid adalah manusia bebas, berani, dan terbuka sehingga, ia hanya berharap menjadi dirinya sendiri. Ia merasa kaya, sekalipun tidak memiliki harta benda. Sebaliknya, ia selalu merasa miskin di hadapan-Nya. Seorang bertauhid, merasakan dirinya adalah pengelana dalam pentas kehidupan, untuk mencari ridha-Nya, dengan selalu memperkukuh keimanan dan amal shaleh. Orang yang bertauhid adalah orang yang selalu ingin tahu tentang dirinya, dan kemudian berusaha mencari jalan menuju Tuhan yang dicintainya. Ia selalu beranggapan bahwa semua adalah rendah, kecuali Allah. Karena itu ia tidak ingin bergelimang dengan kerendahan. Sebaliknya pada setiap waktu, ia berusaha menuju tempat dan jalan mendaki yang semakin tinggi, yaitu Ridha Allah. Kiranya itulah sebagiannya yang disebut bertauhid. Seseorang bertauhid artinya adalah telah meraih keindahan, keluhuran, dan kemuliaan yang sebenarnya. Posisi seperti itu tidak akan diraih dan ditempati oleh siapapun yang selalu berpikir, berjiwa, dan berbuat kejelekan, yang hanya akan merugikan dirinya sendiri, dan bahkan juga terhadap orang lain. Islam menyerukan bertauhid, yakni menyeru pada kemuliaan dan derajat yang tinggi itu. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
