Banyak sekali pemimpin yang mengajak untuk berjuang. Diterangkan bahwa berjuang itu penting dan seharusnya dilakukan oleh siapapun. Tanpa berjuang, maka seseorang, organisasi, dan bahkan negara dan bangsa tidak akan mengalami kemajuan. Kemajuan atau kemenangan selalu diraih oleh sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh. Kiranya tidak ada seorang pun yang membantah terhadap pandangan itu.
Bangsa Indonesia sendiri berhasil merdeka dari penjajahan Belanda dan juga Jepang adalah merupakan hasil dari perjuangan. Tanpa perjuangan maka tidak akan merdeka. Bangsa ini akan tetap dijajah, manakala tidak ada para pejuang yang gagah berani. Oleh karena itu, seharusnya siapapun sekarang ini meniru semangat itu. Tanpa semangat perjuangan, bangsa ini akan kehilangan jatidiri dan bahkan juga ruhnya. Jika sekarang ini banyak terjadi konflik antar elite bangsa, baik di kalangan eksekutif, legislative maupun yudikatif, sebenarnya karena merosotnya dan bahkan hilangnya semangat berjuang itu. Orang yang memiliki jiwa perjuangan dan atau bahkan sadar masih sedang mengalami perjuangan, maka tidak akan mungkin mau-maunya konflik dan saling menyalahkan dan atau memojokkan. Siapapun yang sedang merasa berjuang, maka selalu membutuhkan kawan untuk bersama-sama memenangkan perjuangan. Namun sebaliknya jika semangat atau kesadaran terhadap perjuangan itu sudah hilang, maka yang terjadi adalah saling berebut. Ada saja yang diperebutkan, seperti misalnya pengaruh, jabatan, kedudukan, dan bahkan juga uang atau proyek. Siapapun yang lagi berebut, biasanya kawan dianggap lawan, musuh atau saingan. Dalam keadaan itu, yang dipikirkan adalah bagaimana orang lain harus dienyahkan atau disingkirkan. Sejak beberapa tahun terakhir, para elite bangsa ini, sekalipun jargon yang dikembangkan adalah berjuang, tetapi yang tampak sebenarnya justru perebutan itu. Mulai dari munculnya kasus bank century, makelar kasus, persoalan di KPK, Kepolisian, Kejaksaan, hingga akhir-akhir ini termasuk kasus Gayus Tambunan, adalah bentuk dari telah terjadinya konflik dan perebutan di antara para elite bangsa. Semua itu terjadi karena di antaranya, mereka belum berhasil merumuskan secara jelas apa sesungguhnya yang benar-benar harus diperjuangkan tatkala menduduki posisi penting dan stretegis itu. Semula yang penting adalah berhasil menduduki posisi. Setelah berhasil, ternyata tidak menemukan apa yang seharusnya diperjuangkan. Namun mereka takut jatuh, hingga usaha yang dilakukan adalah mempertahankan posisinya dengan membangun citra baik. Adanya program pencitraan di semetara kementerian sebenarnya adalah menggambarkan tidak adanya tema atau isu perjuangan. Mereka mau berjuang, akan tetapi tidak tahu, apa yang harus diperjuangkannya. Selain itu, hal penting yang harus disadari bahwa semangat berjuang harus diikuti oleh kesediaan berkorban. Tidak pernah ada perjuangan tanpa diikuti oleh kesediaan berkorban. Berjuang hanya akan berhasil manakala diikuti oleh kesediaan berkorban itu. Berjuang dan berkorban, keduanya sama sekali tidak bisa dipisahkan. Berjuang harus dengan berkorban dan berkorban biasanya untuk sebuah perjuangan. Namun anehnya lagi, banyak orang yang merasa berjuang, akan tetapi tidak mau berkorban. Bahkan para pejuang tersebut menuntut agar dipenuhi fasilitas, honor, insentif, atau juga uang saku. Padahal seorang pejuang yang menuntut fasilitas segala, maka sebenarnya namanya bukan pejuang, melainkan ada kata lain yang lebih tepat untuk itu. Dalam tulisan ini, nama itu tidak perlu disebut, sebab semua orang sudah tahu semuanya. Jika diungkap sebutan itu, tidak enak dibaca. Maka inilah pertanda sedang terjadi krisis pejuang. Krisis pejuang pada saat ini sangat terasakan dari banyaknya pejabat atau pemimpin, tatkala baru saja diangkat dan dilantik, mereka segera menuntut fasilitas, misalnya perumahan, kendaraan, tunjangan, baju seragam yang beraneka ragam lainnya. Seolah-olh tanpa fasilitas dan berbagai tunjangan itu, tugas-tugas tidak bisa dijalankan. Orang yang memiliki pola pikir seperti itu adalah bukan pejuang yang sebenarnya. Entah apa itu namanya, semua saja, ——asal mau, bisa menyebutnya secara bebas. Rupanya banyak orang lupa, bahwa para pejuang dulu hingga berhasil merebut kekuasaan, baik dari Belanda maupun dari Jepang, tidak pernah berpikir honorarium, tunjangan, fasilitas dan apa saja yang diperlukan. Bung Tomo ketika memimpin anak-anak Surabaya berjuang melawan Belanda hanya menggunakan bambu runcing. Mereka langsung menyerang, bukan menunggu setelah perlengkapannya komplit. Selain itu, sebagai pejuang, Bung Tomo dan semua pasukannya bersedia mengorbankan apa saja yang dimiliki untuk meraih kemenangan, dan akhirnya benar-benar berhasil memenangkan perjuangan. Tuntutan terhadap para pejuang zaman sekarang tidak perlu sampai seperti Bung Tomo dan lainnya. Akan tetapi, semangat berkorban demi perjuangan tidak boleh sampai surut. Setidak-tidaknya, ketika menjadi pemimpin bangsa sebagai penerus para pejuang yang disebutkan itu, tidak keterlaluan. Selain itu harus sadar, bahwa dalam memperjuangkan rakyat yang sudah sangat menderita seperti sekarang ini, ——- harus bekerja ke luar negeri dan dianiaya, memerlukan pengorbanan para pemimpinnya, bukan tambahan fasilitas dan tunjangan untuk dirinya sendiri. Pemimpin dalam berjuang harus diikuti oleh kesediaan untuk berkorban. Hanya dengan cara itu, bangsa ini akan berhasil mengejar ketertinggalan yang dialami selama ini. Idul Adha yang kita rayakan beberapa hari yang lalu juga mengingatkan pada kita semua, bahwa Ibrahim dan Ismail hingga namanya sangat harum sepanjang sejarah kemanusiaan, bakan tercatat dan diabadikan dalam kitab suci al Qurán, karena keduanya belah berjuang dan sekaligus berkorban yang sedemikian besar dan beratnya. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
