Related Articles
Stress/Tekanan
January 17, 2018
KLASIFIKASI BUNYI DALAM BAHASA ARAB
October 11, 2017
Hikmah
May 5, 2017
KEBANGKITAN BAHASA ARAB DI TURKI
April 4, 2017
Kalau makna denotatif mengacu pada makna asli atau makna sebenarnya dari sebuah kata atau leksem maka makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Umpamanya kata ‘babi’ pada contoh di atas, bagi orang yang beragama Islam atau di dalam masyarakat Islam mempunyai konotasi yang negatif, ada rasa atau perasaan yang tidak enak bila mendengar kata itu. Kata ‘kurus’ juga pada contoh di atas, berkonotasi netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan. Tetapi kata ‘ramping’ yang sebenarnya bersinonim dengan kata ‘kurus’ itu memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping. Sebaliknya, kata ‘kerempeng’ yang sebenarnya bersinonim dengan kata ‘kurus’ dan ‘ramping’ itu mempunyai konotasi yang negatif, nilai rasa yang tidak mengenakkan. Orang akan merasa tidak enak kalau dikatakan tubuhnya kerempeng.
Dari contoh kata kurus, ramping, dan kerempeng, dapat kita simpulkan bahwa ketiga kata itu secara denotatif mempunyai makna yang sama atau bersinonim, tetapi ketiganya memiliki konotasi yang tidak sama; kurus berkonotasi netral, ramping berkonotasi positif, dan kerempeng berkonotasi negatif.
Berkenaan dengan masalah konotasi ini, satu hal yang harus Anda ingat adalah bahwa konotasi sebuah kata bisa berbeda antara seseorang dengan orang lain, antara satu daerah dengan daerah lain, atau antara satu masa dengan masa yang lain. Begitulah dengan kata babi di atas, berkonotasi negatif bagi yang beragama islam, tetapi tidak berkonotasi negatif bagi yang tidak beragama islam.
Sumber: Linguistik Umum (Abdul Chaer) terbtan Rineka Cipta.
Arabiyatuna Arabiyatuna
