Wednesday, 22 April 2026
above article banner area

Pendidikan Karakter Melalui Pendekatan Profetik

Akhir-akhir ini  banyak orang mulai gelisah terhadap perilaku kehidupan masyarakat bangsa ini. Para elitenya banyak  yang korup. Tidak kurang dari 17 Gubernur menjadi tersangka korupsi. Lebih dari 150 orang bupati dan wali kota,  terkena kasus yang sama, yaitu menggelapkan uang negara. Belum lagi mantan menteri, jaksa, hakim, pimpinan BUMN, dan bahkan juga unsur KPK sendiri, ternyata masuk bui.  Seolah-olah tidak ada yang tersisa,  bertahan disebut jujur dan memiliki integritas yang memadai. 

  Di dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tauladan, selalu menjaga prinsip-prinsip moral,  ternyata juga tidak sepi dari sorotan negatif. Terungkapnya ijazah palsu, proses pendidikan yang dijalankan apa adanya, kenaikan jabatan akademik yang tidaik semestinya, bahkan terdengar ada plagiasi  karya ilmiah yang dilakukan oleh seorang Doktor dan bahkan juga Guru Besar. Itu semua adalah pertanda,  bahwa karakter bangsa ini, oleh sementara orang,  sudah dianggap mulai mengkhawatirkan.   Lebih  terasa memprihatinkan lagi, adalah  terjadinya kenalakan remaja di mana-mana, kasus-kasus penggunaan narkoba, seks bebas, video porno, tawuran dan lain-lain. Di kalangan orang tua juga terjadi peselingkuhan, beristeri simpanan, perzinahan,  perjudian,  korupsi, makelar kasus.  Belum lagi munculnya kasus-kasus  konflik antar elite, saling  tidak percaya, menuduh, mencurigai dan bahkan juga fitnah terjadi di mana-mana. Semua  itu kemudian mengusik  banyak  pihak, sehingga mereka  merasa perlu mencari jalan keluar untuk memperbaiki kondisi karakter bangsa ini.   Dalam sejarah kemanusiaan,  dekadensi moral seperti itu sudah sering terjadi. Sejarah kemerosotan moral itu ternyata juga diabadikan dalam kitab suci. Sejarah kehidupan Namrud, Firáun, kaum Ats dan Tsamuth, dan termasuk kehidupan suku-suku atau kabilah-kabilah Arab sebelum nabi Muhammad datang juga menggambarkan tentang kemerosotan akhlak itu. Jika pada saat  sekarang ini, terjadi penindasan  terhadap  orang-orang lemah, maka pada masyarakat Madinah sebelum Nabi Muhammad hijrah juga terdapat pasar budak. Bisa  kita bayangkan, bagaimana moral masyarakat sedemikian lemah ketika itu, hingga  manusia  diperdagangkan bagaikan binatang,  hingga memerlukan pasar tersendiri.  Harkat dan martabat orang menjadi jatuh serendah-rendahnya.   Di negeri  kita ini, yang tampak di permukaan belum separah itu.  Namun jika dicermati secara saksama, nilai-nilai kemanusiaan sudah banyak terabaikan. Dalam soal keadilan saja misalnya, sudah sedemikian memprihatinkan. Sekelompok kecil masyarakat memiliki akses untuk mengembangkan ekonomi. Akan tetapi sebagian lainnya yang jumlahnya  sedemikian besar, justru tidak mendapatkannya. Sebagai akibatnya, di tengah-tengah  lautan orang miskin terdapat beberapa gelintir orang kaya.  Kelompok orang kaya sebagaimana bisa digambarkan sebagai pulau-pulau kecil di tengah-tengah lautan yang luas. Di sini tampak ketidak adilan yang luar biasa. Ketidak adilan juga terjadi di ranah  hukum, politik, sosial dan lain-lain.   Selain itu,  akhir-akhir ini hampir seluruh  kehidupan sudah diwarnai oleh suasana yang bersifat transaksional. Apa saja harus ditukar dengan uang, bahkan hingga ceramah-ceramah keagamaan pun tidak berjalan jika tidak tersedia dana untuk menyelenggarakannya. Apalagi, kehidupan politik. Seorang yang ingin menjadi pejabat,  mulai dari kepala desa,  bupati, wali kota, gubernur, DPRD dan DPR, mereka harus berkampanye dan tidak akan mungkin berjalan tanpa didukung oleh pendanaan yang cukup. Suasana seperti ini menjadikan orang hanya bisa digerakkan  dengan kekuatan uang dan bukan moral, nilai-nilai, atau agama.     Semua itu menjadikan betapa semakin sulitnya membangun karakter bangsa. Padahal   dahulu  bangsa ini dikenal   ramah, suka berkorban, peduli, suka bertolong-menolong antar sesama.  Kebiasaan mulia  seperti itu, dengan hadirnya budaya transaksional,   menjadikan  bangsa  ini mengalami perubahan yang luar biasa,  dan  itu berjalan  sangat cepat. Nilai-nilai yang kita rindukan bahwa di tengah-tengah masyarakat ada  pemimpin yang mengayomi, anak yang hormat kepada guru dan orang tua, tidak berebut dan konflik terkait dengan jabatan dan apalagi harta, rasanya sudah sangat sulit didapatkan lagi. Sifat individualisme, materialisme dan bahkan juga hedonisme, dalam berbagai ukurannya mewarnai kehidupan pada saat  ini, tidak saja di kota tetapi hingga ke desa-desa.   Keadaan yang sekilas digambarkan itu menjadikan  banyak pihak,  lebih-lebih para pendidik, seperti yang berlangsung sekarang ini,   merasa tergugah untuk melakukan upaya-upaya mencari bentuk,  bagaimana  mengembalikan  jati diri bangsa yang dikenal sebagai  berakarakter unggul tersebut.  Pertanyaan yang sering diajukan, di antaranya ialah model pendidikan  karakter seperti apa yang sekiranya mampu mengembalikan atau setidak-tidaknya mampu menjawab persoalan, ialah   semakin menurunnya karakter bangsa pada akhir-akhir ini.    Mengenali Dan Mendidik  Manusia Secara Utuh   Berbicara tentang karakter, sebenarnya harus menyangkut aspek-aspek manusia secara utuh. Manusia terdiri atas bagian-bagian yang semuanya tidak bisa dipisah-pisahkan  antara satu dengan lainnya. Manusia terdiri atas jasat  atau raga, pikiran, nafsu, hati.  Manusia tidak sebagaimana  binatang hanya terdiri atas dua komponen, yaitu jasad dan nafsu.  Berbeda dengan dengan binatang,  makhluk yang disebut sebagai khalifah fil ard , selain erdiri atas raga dan nafsu, masih  dilengkapi dengan pikiran dan hati.  Atas kekuatan pikirannya, manusia bisa berpikir rasional, melakukan analisis, sintesis dan seterusnya hingga mendapatkan pengetahuan yang luas dan mendalam.   Selain itu, manusia memiliki piranti yang disebut nafsu. Sementara orang menyebutya keinginan-keinginan yang jumlah dan jenisnya sedemikian banyak. Jika pikiran menjadikan orang cerdas, mengetahui mana yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang tidak, yang menguntungkan dan merugikan, maka nafsu mendorong  manusia untuk memenuhi keinginannya itu. Dalam literature Islam terdapat berbagai jenis nafsu, yaitu  mulai dari nafsu kebinatangan, nafsu perusak, nafsu untuk  tetap hidup, hingga  nafsu berbuat baik dan mulia.   Nafsu  sebenarnya tidak perlu dibunuh atau dihilangkan, melainkan harus dikendalikan. Orang yang tidak memiliki nafsu  tidak akan sempurna. Manusia yang demikian  tidak  akan memiliki kekuatan penggerak pada dirinya. Seseorang yang tidak memiliki kemauan, cita-cita, hasrat , motivasi  sebagai kekuatan penggerak  dirinya, maka akan menjadi orang yang pasif dan lemah. Sebaliknya, orang yang memiliki nafsu  terlalu besar dan beraneka ragam jenisnya  dan tidak bisa dikendalikan,   maka akan menjadi perusak di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu,   yang diperlukan adalah keseimbangan dan pengendalian terhadap nafsu itu.   Kekuatan lain pada diri manusia adalah hati, atau dalam  bahasa Arab disebut qolb. Dalam berbagai literatur Islam, qolb adalah kekuatan penentu dalam membangun perilaku, watak,  karakter atau akhlak  seseorang. Hati yang baik akan menghasilkan perilaku yang baik, dan begitu pula sebaliknya. Hati seseorang bisa sehat, sakit, dan bahkan mati. Ada tiga jenis  keadaan hati, yaitu qolbun salim, atau hati yang sehat, qolbun maridh yaitu hati yang sedang sakit,  dan ketiga adalah qolbun mayyit, yaitu hati yang telah mati.      Hati sebagai mana anggota tubuh lainnya  bisa berubah-ubah, suatu saat hati  menjadi  sakit dan bahkan  mati. Demikian pula hati yang sakit dan bahkan mati  seharusnya  disehatkan atau dihidupkan kembali . Orang yang berhati sakit dan bahkan mati, maka perilakunya akan menjadi tidak normal. Orang yang  sedang sakit hati dan apalagi hatinya  mati, maka akibatnya  pikiran, ucapan dan tindakannya hanya diarahkan untuk kepentingan diri sendiri. Orang yang hatinya sakit dan bahkan mati, maka justru menjadi senang jika orang lain susah, dan begitu sebaliknya susah tatkala orang lain senang dan beruntung.   Hati menjadi sakit dan bahkan mati manakala mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya. Seseoran yang diperlakukan secara  tidak adil, teraniaya, dirugikan atau dikalahkan,  dan seterusnya,  maka akan  menjadikan hatinya  sakit. Kondisi hati seperti itu, akan melahirkan suasana hati yang tidak sehat, hingga melahirkan  iri hati, dengki, marah, kecewa, frustasi dan sebagainya. Orang seperti ini akan tidak bisa melihat  sesuatu  secara obyektif. Dirinya sendiri merasa benar dan sebaliknya orang lain menjadi salah. Selanjutnya yang terjadi adalah persaingan tidak sehat, permusuhan, konflik dan sejenisnya.   Keadaan seperti digambarkan itu yang terjadi secara terus menerus akan membuahkan karakter yang tidak baik. Orang akan menjadi pendendam, sakit hati, pemarah, hingga perusak, oleh karena hatinya tidak mendapatkan iklim atau suasana yang menyehatkan. Itulah sebabnya, rasa keadilan harus ditegakkan di semua tatanan kehidupan ini. Sebab rasa tidak adil akan menjadikan rasa sakit hati dan selanjutnya akan berpengaruh pada perilaku orang dan  bahkan  masyarakat secara luas.   Beberapa tahun terakhir ini, bangsa Indonesia mengalami krisis yang luar biasa. Mulai dari terjadinya krisis moneter, kemudian disusul  oleh  jatuhnya Presiden Soeharto. Berbagai gejolak sosial setelah itu terjadi secara meluas dan terus menerus. Muncul konflik di mana-mana,  di Ibu kota hingga di daerah-daerah. Perang suku terjadi akibat hal yang sangat sepele. Siapapun yang dianggap sebagai bagian dari penguasa dipandang salah, korup,  dan menyimpang. Masyarakat menjadi  mudah marah dan sulit dikendalikan.   Keadaan itu berlangsung lama dan bahkan hingga saat ini belum semuanya normal kembali. Bahkan akhir-akhir ini, dengan munculnya berbagai kasus seperti penyimpangan bank century, makelar kasus, peradilan yang tidak adil, pengemplangan pajak dan seterusnya  menjadikan  suasana batin masyarakat terganggu. Maka muncullah perilaku menyimpang, sebagai akibat  dari  keadaan yang dianggap menyakitkan dan tidak adil tersebut. Itulah sebabnya masyarakat sedemikian mudah tersulut konflik, bertengkar dan bahkan merusak. Bangsa Indonesia yang dikenal santun, memiliki kesabaran tinggi, suka damai,  berubah menjadi keras, intoleran, suka konflik dan seterusnya. Inilah sebenarnya harga yang harus dibayar dari reformasi yang bertujuan akan memperbaiki  kehidupan bangsa dan negara  selama ini.    Pendidikan Karakter Bangsa   Dalam tulisan ini, saya menyamakan karakter dengan akhlak. Membangun karakter dan akhlak adalah  bukan pekerjaan  mudah. Tugas itu sebenarnya berada pada wilayah tugas-tugas kenabian. Sedangkan nabi, pada saat ini sudah tidak akan muncul kembali. Menurut kepercayaan Islam, Muhammad saw adalah nabi terakhir. Setelah itu tidak akan lahir lagi seorang nabi baru. Sebagai penerus risalahnya,  adalah para ulama yang tersebar di mana-mana.     Para ulama atau ilmuwan,  ——termasuk kalau boleh disebut  para guru,  sebenarnya adalah pewaris para nabi. Disebutkan bahwa al ulama’ waratsatul ambiya’, atau bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Ulama adalah sebutan yang diberikan kepada orang-orang yang menyandang ilmu pengetahuan.  Selama ini,  guru di tengah-tengah masyarakat adalah dikenal sebagai orang yang berilmu pengetahuan.  Sebutan  itu kiranya tidak salah, ketika  tidak akan ada seseorang yang tidak berilmu diangkat sebagai  guru, apapun tingkatannya. Karena itu tidak salah sekiranya guru yang beriman  disebut sebagai  seorang ulama dan juga  berperan sebagai pewaris tugas-tugas kenabian.   Salah satu tugas penting para nabi adalah membangun karakter atau akhlak. Nabi Muhammad secara tegas mengatakan bahwa innama buístu liutammima makarimal akhlak. Sebenarnya, aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak.  Oleh karena itu, maka pendidikan karakter yang akhir-akhir ini dijadikan isu besar dalam pendidikan, maka sebenarnya telah ada contoh  atau tauladan,  bagaimana model pendidikan  itu dikembangkan oleh para nabi dan rasul.   Oleh karena itu pendidikan karakter atau akhlak  adalah pendidikan kenabian atau saya sebut sebagai pendidikan profetik. Ada beberapa hal yang  kiranya bisa kita tangkap,  tentang  bagaimana nabi dalam menunaikan tugasnya membangun  orang dan juga masyarakatnya. Para nabi selalu berpegang pada wahyu yang datang dari Tuhan. Kumpulan dari wahyu itu sekarang telah didokumentasikan dalam bentuk sebuah kitab suci. Dalam Islam kitab suci  itu dikenal dengan al Qurán, Kristen memiliki kitab suci Injil, Yahudi memiliki kitab Taurath, sedangkan kitab Zabur untuk ummat agama majuzi.   Selain itu, para nabi dalam menjalankan tugasnya selalu dengan pendekatan uswah hasanah, artinya  memberikan tauladan yang baik. Sebelum nabi memerintahkan orang lain untuk melakukan sesuatu kebaikan, maka  ia  sendiri menjalankannya. Itulah sebabnya maka masyarakat akan mengikutinya.  Nabi tidak sebatas  memerintah orang lain  agar menjalankan ajarannya.   Perilaku nabi adalah selalu sama dengan isi kitab yang dibawanya. Oleh karena itu,  dalam Islam disebutkan,  bahwa  akhlak nabi adalah al Qurán itu sendiri.   Pendidikan yang dikembangkan oleh nabi dilakukan secara menyeluruh, terhadap semua aspek kehidupan manusia sebagaimana dikemukakan di muka.  Tugas nabi dalam  mengembangkan manusia dilakukan secara utuh,  yaitu meliputi  aspek intelektual, emosional, akhlak dan amal shaleh atau bekerja secara profesional. Dalam wilayah intelektual, nabi memerintahkan untuk memperhatikan alam dan jagat semesta ini. Hal itu bisa diketahui dari betapa banyak ayat al Qurán berisi tentang perintah agar manusia memperhatikan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi.  Al Qurán menyuruh manusia menggunakan akalnya.  Melalui al Qurán pula, manusia dianjurkan untuk memperhatikan hingga  bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi dihamparkan dan gunung ditegakkan.   Dari perintah  al Qurán tersebut dapat  ditangkap, bahwa  betapa pentingnya ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora  dipelajari.  Oleh karena itu mempelajari  biologi, fisika, kimia, matematika, psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain adalah bagian dari  tugas-tugas yang datang dari kitab suci.  Lebih tegasnya, bahwa Mempelajari ilmu tersebut adalah merupakan implementasi dari perintah al Qurán.    Namun  sayangnya,  umat Islam tatkala mempelajari ilmu tersebut belum menganggapnya  sebagai  bagian dari implementasi dalam menjalankan perintah kitab suci itu. Padahal dengan mengetahui ciptaan Allah yang  sedemikian luas, rapi, dan indah akan menjadikan seseorang pada suasana kagum dan akhirnya mampu menyusukuri nikmat yang telah diterimanya. Rasa syukur itu adalah merupakan pintu  bagi seseorang menjadi sehat, baik jasmani maupun ruhaninya.     Dalam konsep al Qurán mempelajari alam semesta   dimaksudkan untuk mengantarkan  seseorang  pada kesadaran berketuhanan.  Nabi sendiri dimikrajkan  untuk mengetahui jagad raya, dan akhirnya setelah itu diperintah melakukan shalat lima waktu.  Demikian pula manusia, semestinya diperkenalkan  terhadap ciptaan Allah agar tumbuh kesadaran terhadap posisi dirinya dan juga Tuhannya. Dengan mengetahui  ilmu-ilmu alam, sosial,  dan humaniora secara mendalam, maka  yang bersangkutan  akan bertasbih atau mensucikan  Tuhannya.  Sementara ini, belajar ilmu pengetahuan,  kadang hanya dimaksudkan agar lulus ujian, baik ujian sekolah maupun ujian nasional, sehingga tidak berpengaruh apa-apa terhadap pendidikan karakter.   Sebagai pendidikan yang bersifat utuh dan komprehensif, maka  pendekatan profetik dilakukan secara utuh pula,  yaitu  selain mengembangkan nalar juga mengembangkan potensi hati dilakukan dengan cara  banyak berdzikir, atau ingat Allah, melakukan kegiatan ritual, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Nabi selalu konsisten menjalankan shalat lima waktu berjamaáh di masjid. Cara ini adalah sekaligus melakukan bimbingan dan tauladan secara nyata terhadap ummatnya ketika itu. Nabi tidak saja memerintahkan agar ummatnya shalat, melainkan dirinya sendiri memberikan tauladan secara nyata.   Mendekatkan Para Siswa Pada Tiga Hal Penting   Berangkat dari konsep tersebut di muka, maka pendidikan karakter dengan pendekatan profetik,  bisa dilakukan dengan mendekatkan para siswa atau peserta didik pada tiga hal penting, yaitu  mereka didekatkan pada kitab suci, tempat ibadah dan para ulama’nya.  Cara itu sebenarnya tidak sulit dilakukan dan bahkan juga pengukurannya.  Titik rawan  pendekatan profetik justru terletak  pada  tenaga kependidikannya, yaitu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan  lainnya.  Ketiga jenis upaya tersebut dijelaskan sebagaimana berkut.          Pertama, mendekatkan para peserta didik pada kitab suci, kiranya tidak sulit dilakukan.  Sebagai orang beragama, kiranya memang seharusnya memiliki kedekatan dengan kitab sucinya masing-masing.   Wahyu di manapun selalu dipandang sebagai sumber kebenaran.  Oleh karena itu, para guru seharusnya mengajarkannya  dan tidak perlu menunggu kedatangannya, oleh karena sudah lama datang, yaitu  berupa kitab suci yang bisa didapatkan di mana-mana.     Banyak orang  tatkala mencari kebenaran, merasa masih perlu menunggu datangnya wahyu.  Padahal sebenarnya,  wahyu  itu sendiri sudah disampaikan secara sempurna oleh  Tuhan  dalam rupa kitab suci agama masing-masing.   Sebagai negara yang berlandaskan Pancasila,  yang  mengakui berbagai agama, maka tugas guru adalah mendekatkan peserta didiknya pada kitab sucinya masing-masing. Mereka yang beragama Islam memperkenalkan al Qurán, yang beragama Kristen dengan Injil, demikian pula yang beragama hindu dengan kitab Weda. QAnak yang selalu dekat dengan kitab suci, —-Islam misalnya dekat dengan al Qur’an, maka  pikiran, hati dan jiwanya akan terjaga dari ajaran kitab suci yang dipercayai kebenarannya itu.   Kedua, mendekatkan para siswa pada tempat ibadah. Selama ini umat beragama  telah melihat betapa pentingnya tempat ibadah sebagai wahana untuk membangun karakter, sehingga di mana-mana  dibangun tempat ibadah. Sedemikian besar semangat masyarakat membangun sarana itu, sehingga memerlukan pengaturan dari pemerintah.  Sayangnya,  semangat membangun tempat ibadah itu, belum diikuti oleh kegiatan untuk memanfaatkannya. Pada saat ini di sekolah-sekolah dan kampus-kampus telah dilengkapi dengan tempat ibadah. Maka sebagai bagian dari pendidikan karakter, para guru yang seharusnya bertindak sebagai uswah hasanah atau tauladan yang baik, pada saat waktunya beribadah,  segera menuju tempat itu untuk mengajak sekaligus memberikan tauladan kepada para anak didiknya. Inilah cara mendekatkan mereka pada tempat ibadah.   Ketiga,  adalah mendekatkan para siswa atau peserta didik dengan para ulama atau para guru yang sehari-hari mengajar. Akhir-akhir ini ada pergeseran yang entah disadari atau tidak,  para siswa yang seharusnya mengidolakan pada ilmuwan,ulama dan guru, justru mengidolakan  para artis. Para siswa lebih akrab dengan nama-nama artis favoritnya daripada para  ilmuwan, dan bahkan guru atau kepala sekolahnya sendiri. Anak-anak biasanya akan mengikuti perilaku  siapa yang  diidolakannya. Sehingga menjadi wajar, jika anak-anak bergaya penyanyi atau artis pada umumnya daripada berperilaku sebagaimana gurunya.     Terkait dengan  pendidikan karakter ini  ternyata di kalangan pesantren tampak lebih berhasil. Kyai dan santri yang selalu tinggal bersama-sama  di pesantren, sehingga  rupanya lebih berpeluang mengembangkan pendidikan secara lebih utuh dan menyeluruh. Para santri  berhasil  mengidolakan para kyai dan menjadikannya sebagai reference person dalam kehidupannya. Hanya sayang,  dengan perubahan sosial politik yang sedemikian dahsyat, sendi-sendi pendidikan pesantren pun sedikit banyak juga terpengaruh dengan lingkungan itu.   Manakala para peserta didik  di sekolah berhasil didekatkan pada tiga hal tersebut, yaitu dekat pada kitab suci, dekat pada tempat ibadah,  dan dekat pada para ulama/cendekiawan dan gurunya maka kiranya akan berpengaruh pada keseluruhan pribadi peserta didik. Inilah kiranya pendidikan yang tidak saja mengembangkan aspek kognitif, yang selama ini dikritik oleh banyak kalangan, melainkan juga pendidikan yang meliputi aspek afektif dan psikomotorik sekaligus.   Gambaran Implementat

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *