Akhir-akhir ini banyak orang mulai gelisah terhadap perilaku kehidupan masyarakat bangsa ini. Para elitenya banyak yang korup. Tidak kurang dari 17 Gubernur menjadi tersangka korupsi. Lebih dari 150 orang bupati dan wali kota, terkena kasus yang sama, yaitu menggelapkan uang negara. Belum lagi mantan menteri, jaksa, hakim, pimpinan BUMN, dan bahkan juga unsur KPK sendiri, ternyata masuk bui. Seolah-olah tidak ada yang tersisa, bertahan disebut jujur dan memiliki integritas yang memadai.
Di dunia pendidikan yang seharusnya menjadi tauladan, selalu menjaga prinsip-prinsip moral, ternyata juga tidak sepi dari sorotan negatif. Terungkapnya ijazah palsu, proses pendidikan yang dijalankan apa adanya, kenaikan jabatan akademik yang tidaik semestinya, bahkan terdengar ada plagiasi karya ilmiah yang dilakukan oleh seorang Doktor dan bahkan juga Guru Besar. Itu semua adalah pertanda, bahwa karakter bangsa ini, oleh sementara orang, sudah dianggap mulai mengkhawatirkan. Lebih terasa memprihatinkan lagi, adalah terjadinya kenalakan remaja di mana-mana, kasus-kasus penggunaan narkoba, seks bebas, video porno, tawuran dan lain-lain. Di kalangan orang tua juga terjadi peselingkuhan, beristeri simpanan, perzinahan, perjudian, korupsi, makelar kasus. Belum lagi munculnya kasus-kasus konflik antar elite, saling tidak percaya, menuduh, mencurigai dan bahkan juga fitnah terjadi di mana-mana. Semua itu kemudian mengusik banyak pihak, sehingga mereka merasa perlu mencari jalan keluar untuk memperbaiki kondisi karakter bangsa ini. Dalam sejarah kemanusiaan, dekadensi moral seperti itu sudah sering terjadi. Sejarah kemerosotan moral itu ternyata juga diabadikan dalam kitab suci. Sejarah kehidupan Namrud, Firáun, kaum Ats dan Tsamuth, dan termasuk kehidupan suku-suku atau kabilah-kabilah Arab sebelum nabi Muhammad datang juga menggambarkan tentang kemerosotan akhlak itu. Jika pada saat sekarang ini, terjadi penindasan terhadap orang-orang lemah, maka pada masyarakat Madinah sebelum Nabi Muhammad hijrah juga terdapat pasar budak. Bisa kita bayangkan, bagaimana moral masyarakat sedemikian lemah ketika itu, hingga manusia diperdagangkan bagaikan binatang, hingga memerlukan pasar tersendiri. Harkat dan martabat orang menjadi jatuh serendah-rendahnya. Di negeri kita ini, yang tampak di permukaan belum separah itu. Namun jika dicermati secara saksama, nilai-nilai kemanusiaan sudah banyak terabaikan. Dalam soal keadilan saja misalnya, sudah sedemikian memprihatinkan. Sekelompok kecil masyarakat memiliki akses untuk mengembangkan ekonomi. Akan tetapi sebagian lainnya yang jumlahnya sedemikian besar, justru tidak mendapatkannya. Sebagai akibatnya, di tengah-tengah lautan orang miskin terdapat beberapa gelintir orang kaya. Kelompok orang kaya sebagaimana bisa digambarkan sebagai pulau-pulau kecil di tengah-tengah lautan yang luas. Di sini tampak ketidak adilan yang luar biasa. Ketidak adilan juga terjadi di ranah hukum, politik, sosial dan lain-lain. Selain itu, akhir-akhir ini hampir seluruh kehidupan sudah diwarnai oleh suasana yang bersifat transaksional. Apa saja harus ditukar dengan uang, bahkan hingga ceramah-ceramah keagamaan pun tidak berjalan jika tidak tersedia dana untuk menyelenggarakannya. Apalagi, kehidupan politik. Seorang yang ingin menjadi pejabat, mulai dari kepala desa, bupati, wali kota, gubernur, DPRD dan DPR, mereka harus berkampanye dan tidak akan mungkin berjalan tanpa didukung oleh pendanaan yang cukup. Suasana seperti ini menjadikan orang hanya bisa digerakkan dengan kekuatan uang dan bukan moral, nilai-nilai, atau agama. Semua itu menjadikan betapa semakin sulitnya membangun karakter bangsa. Padahal dahulu bangsa ini dikenal ramah, suka berkorban, peduli, suka bertolong-menolong antar sesama. Kebiasaan mulia seperti itu, dengan hadirnya budaya transaksional, menjadikan bangsa ini mengalami perubahan yang luar biasa, dan itu berjalan sangat cepat. Nilai-nilai yang kita rindukan bahwa di tengah-tengah masyarakat ada pemimpin yang mengayomi, anak yang hormat kepada guru dan orang tua, tidak berebut dan konflik terkait dengan jabatan dan apalagi harta, rasanya sudah sangat sulit didapatkan lagi. Sifat individualisme, materialisme dan bahkan juga hedonisme, dalam berbagai ukurannya mewarnai kehidupan pada saat ini, tidak saja di kota tetapi hingga ke desa-desa. Keadaan yang sekilas digambarkan itu menjadikan banyak pihak, lebih-lebih para pendidik, seperti yang berlangsung sekarang ini, merasa tergugah untuk melakukan upaya-upaya mencari bentuk, bagaimana mengembalikan jati diri bangsa yang dikenal sebagai berakarakter unggul tersebut. Pertanyaan yang sering diajukan, di antaranya ialah model pendidikan karakter seperti apa yang sekiranya mampu mengembalikan atau setidak-tidaknya mampu menjawab persoalan, ialah semakin menurunnya karakter bangsa pada akhir-akhir ini. Mengenali Dan Mendidik Manusia Secara Utuh Berbicara tentang karakter, sebenarnya harus menyangkut aspek-aspek manusia secara utuh. Manusia terdiri atas bagian-bagian yang semuanya tidak bisa dipisah-pisahkan antara satu dengan lainnya. Manusia terdiri atas jasat atau raga, pikiran, nafsu, hati. Manusia tidak sebagaimana binatang hanya terdiri atas dua komponen, yaitu jasad dan nafsu. Berbeda dengan dengan binatang, makhluk yang disebut sebagai khalifah fil ard , selain erdiri atas raga dan nafsu, masih dilengkapi dengan pikiran dan hati. Atas kekuatan pikirannya, manusia bisa berpikir rasional, melakukan analisis, sintesis dan seterusnya hingga mendapatkan pengetahuan yang luas dan mendalam. Selain itu, manusia memiliki piranti yang disebut nafsu. Sementara orang menyebutya keinginan-keinginan yang jumlah dan jenisnya sedemikian banyak. Jika pikiran menjadikan orang cerdas, mengetahui mana yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang tidak, yang menguntungkan dan merugikan, maka nafsu mendorong manusia untuk memenuhi keinginannya itu. Dalam literature Islam terdapat berbagai jenis nafsu, yaitu mulai dari nafsu kebinatangan, nafsu perusak, nafsu untuk tetap hidup, hingga nafsu berbuat baik dan mulia. Nafsu sebenarnya tidak perlu dibunuh atau dihilangkan, melainkan harus dikendalikan. Orang yang tidak memiliki nafsu tidak akan sempurna. Manusia yang demikian tidak akan memiliki kekuatan penggerak pada dirinya. Seseorang yang tidak memiliki kemauan, cita-cita, hasrat , motivasi sebagai kekuatan penggerak dirinya, maka akan menjadi orang yang pasif dan lemah. Sebaliknya, orang yang memiliki nafsu terlalu besar dan beraneka ragam jenisnya dan tidak bisa dikendalikan, maka akan menjadi perusak di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, yang diperlukan adalah keseimbangan dan pengendalian terhadap nafsu itu. Kekuatan lain pada diri manusia adalah hati, atau dalam bahasa Arab disebut qolb. Dalam berbagai literatur Islam, qolb adalah kekuatan penentu dalam membangun perilaku, watak, karakter atau akhlak seseorang. Hati yang baik akan menghasilkan perilaku yang baik, dan begitu pula sebaliknya. Hati seseorang bisa sehat, sakit, dan bahkan mati. Ada tiga jenis keadaan hati, yaitu qolbun salim, atau hati yang sehat, qolbun maridh yaitu hati yang sedang sakit, dan ketiga adalah qolbun mayyit, yaitu hati yang telah mati. Hati sebagai mana anggota tubuh lainnya bisa berubah-ubah, suatu saat hati menjadi sakit dan bahkan mati. Demikian pula hati yang sakit dan bahkan mati seharusnya disehatkan atau dihidupkan kembali . Orang yang berhati sakit dan bahkan mati, maka perilakunya akan menjadi tidak normal. Orang yang sedang sakit hati dan apalagi hatinya mati, maka akibatnya pikiran, ucapan dan tindakannya hanya diarahkan untuk kepentingan diri sendiri. Orang yang hatinya sakit dan bahkan mati, maka justru menjadi senang jika orang lain susah, dan begitu sebaliknya susah tatkala orang lain senang dan beruntung. Hati menjadi sakit dan bahkan mati manakala mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya. Seseoran yang diperlakukan secara tidak adil, teraniaya, dirugikan atau dikalahkan, dan seterusnya, maka akan menjadikan hatinya sakit. Kondisi hati seperti itu, akan melahirkan suasana hati yang tidak sehat, hingga melahirkan iri hati, dengki, marah, kecewa, frustasi dan sebagainya. Orang seperti ini akan tidak bisa melihat sesuatu secara obyektif. Dirinya sendiri merasa benar dan sebaliknya orang lain menjadi salah. Selanjutnya yang terjadi adalah persaingan tidak sehat, permusuhan, konflik dan sejenisnya. Keadaan seperti digambarkan itu yang terjadi secara terus menerus akan membuahkan karakter yang tidak baik. Orang akan menjadi pendendam, sakit hati, pemarah, hingga perusak, oleh karena hatinya tidak mendapatkan iklim atau suasana yang menyehatkan. Itulah sebabnya, rasa keadilan harus ditegakkan di semua tatanan kehidupan ini. Sebab rasa tidak adil akan menjadikan rasa sakit hati dan selanjutnya akan berpengaruh pada perilaku orang dan bahkan masyarakat secara luas. Beberapa tahun terakhir ini, bangsa Indonesia mengalami krisis yang luar biasa. Mulai dari terjadinya krisis moneter, kemudian disusul oleh jatuhnya Presiden Soeharto. Berbagai gejolak sosial setelah itu terjadi secara meluas dan terus menerus. Muncul konflik di mana-mana, di Ibu kota hingga di daerah-daerah. Perang suku terjadi akibat hal yang sangat sepele. Siapapun yang dianggap sebagai bagian dari penguasa dipandang salah, korup, dan menyimpang. Masyarakat menjadi mudah marah dan sulit dikendalikan. Keadaan itu berlangsung lama dan bahkan hingga saat ini belum semuanya normal kembali. Bahkan akhir-akhir ini, dengan munculnya berbagai kasus seperti penyimpangan bank century, makelar kasus, peradilan yang tidak adil, pengemplangan pajak dan seterusnya menjadikan suasana batin masyarakat terganggu. Maka muncullah perilaku menyimpang, sebagai akibat dari keadaan yang dianggap menyakitkan dan tidak adil tersebut. Itulah sebabnya masyarakat sedemikian mudah tersulut konflik, bertengkar dan bahkan merusak. Bangsa Indonesia yang dikenal santun, memiliki kesabaran tinggi, suka damai, berubah menjadi keras, intoleran, suka konflik dan seterusnya. Inilah sebenarnya harga yang harus dibayar dari reformasi yang bertujuan akan memperbaiki kehidupan bangsa dan negara selama ini. Pendidikan Karakter Bangsa Dalam tulisan ini, saya menyamakan karakter dengan akhlak. Membangun karakter dan akhlak adalah bukan pekerjaan mudah. Tugas itu sebenarnya berada pada wilayah tugas-tugas kenabian. Sedangkan nabi, pada saat ini sudah tidak akan muncul kembali. Menurut kepercayaan Islam, Muhammad saw adalah nabi terakhir. Setelah itu tidak akan lahir lagi seorang nabi baru. Sebagai penerus risalahnya, adalah para ulama yang tersebar di mana-mana. Para ulama atau ilmuwan, ——termasuk kalau boleh disebut para guru, sebenarnya adalah pewaris para nabi. Disebutkan bahwa al ulama’ waratsatul ambiya’, atau bahwa para ulama adalah pewaris para nabi. Ulama adalah sebutan yang diberikan kepada orang-orang yang menyandang ilmu pengetahuan. Selama ini, guru di tengah-tengah masyarakat adalah dikenal sebagai orang yang berilmu pengetahuan. Sebutan itu kiranya tidak salah, ketika tidak akan ada seseorang yang tidak berilmu diangkat sebagai guru, apapun tingkatannya. Karena itu tidak salah sekiranya guru yang beriman disebut sebagai seorang ulama dan juga berperan sebagai pewaris tugas-tugas kenabian. Salah satu tugas penting para nabi adalah membangun karakter atau akhlak. Nabi Muhammad secara tegas mengatakan bahwa innama buístu liutammima makarimal akhlak. Sebenarnya, aku diutus tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak. Oleh karena itu, maka pendidikan karakter yang akhir-akhir ini dijadikan isu besar dalam pendidikan, maka sebenarnya telah ada contoh atau tauladan, bagaimana model pendidikan itu dikembangkan oleh para nabi dan rasul. Oleh karena itu pendidikan karakter atau akhlak adalah pendidikan kenabian atau saya sebut sebagai pendidikan profetik. Ada beberapa hal yang kiranya bisa kita tangkap, tentang bagaimana nabi dalam menunaikan tugasnya membangun orang dan juga masyarakatnya. Para nabi selalu berpegang pada wahyu yang datang dari Tuhan. Kumpulan dari wahyu itu sekarang telah didokumentasikan dalam bentuk sebuah kitab suci. Dalam Islam kitab suci itu dikenal dengan al Qurán, Kristen memiliki kitab suci Injil, Yahudi memiliki kitab Taurath, sedangkan kitab Zabur untuk ummat agama majuzi. Selain itu, para nabi dalam menjalankan tugasnya selalu dengan pendekatan uswah hasanah, artinya memberikan tauladan yang baik. Sebelum nabi memerintahkan orang lain untuk melakukan sesuatu kebaikan, maka ia sendiri menjalankannya. Itulah sebabnya maka masyarakat akan mengikutinya. Nabi tidak sebatas memerintah orang lain agar menjalankan ajarannya. Perilaku nabi adalah selalu sama dengan isi kitab yang dibawanya. Oleh karena itu, dalam Islam disebutkan, bahwa akhlak nabi adalah al Qurán itu sendiri. Pendidikan yang dikembangkan oleh nabi dilakukan secara menyeluruh, terhadap semua aspek kehidupan manusia sebagaimana dikemukakan di muka. Tugas nabi dalam mengembangkan manusia dilakukan secara utuh, yaitu meliputi aspek intelektual, emosional, akhlak dan amal shaleh atau bekerja secara profesional. Dalam wilayah intelektual, nabi memerintahkan untuk memperhatikan alam dan jagat semesta ini. Hal itu bisa diketahui dari betapa banyak ayat al Qurán berisi tentang perintah agar manusia memperhatikan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Al Qurán menyuruh manusia menggunakan akalnya. Melalui al Qurán pula, manusia dianjurkan untuk memperhatikan hingga bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi dihamparkan dan gunung ditegakkan. Dari perintah al Qurán tersebut dapat ditangkap, bahwa betapa pentingnya ilmu alam, ilmu sosial dan humaniora dipelajari. Oleh karena itu mempelajari biologi, fisika, kimia, matematika, psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain adalah bagian dari tugas-tugas yang datang dari kitab suci. Lebih tegasnya, bahwa Mempelajari ilmu tersebut adalah merupakan implementasi dari perintah al Qurán. Namun sayangnya, umat Islam tatkala mempelajari ilmu tersebut belum menganggapnya sebagai bagian dari implementasi dalam menjalankan perintah kitab suci itu. Padahal dengan mengetahui ciptaan Allah yang sedemikian luas, rapi, dan indah akan menjadikan seseorang pada suasana kagum dan akhirnya mampu menyusukuri nikmat yang telah diterimanya. Rasa syukur itu adalah merupakan pintu bagi seseorang menjadi sehat, baik jasmani maupun ruhaninya. Dalam konsep al Qurán mempelajari alam semesta dimaksudkan untuk mengantarkan seseorang pada kesadaran berketuhanan. Nabi sendiri dimikrajkan untuk mengetahui jagad raya, dan akhirnya setelah itu diperintah melakukan shalat lima waktu. Demikian pula manusia, semestinya diperkenalkan terhadap ciptaan Allah agar tumbuh kesadaran terhadap posisi dirinya dan juga Tuhannya. Dengan mengetahui ilmu-ilmu alam, sosial, dan humaniora secara mendalam, maka yang bersangkutan akan bertasbih atau mensucikan Tuhannya. Sementara ini, belajar ilmu pengetahuan, kadang hanya dimaksudkan agar lulus ujian, baik ujian sekolah maupun ujian nasional, sehingga tidak berpengaruh apa-apa terhadap pendidikan karakter. Sebagai pendidikan yang bersifat utuh dan komprehensif, maka pendekatan profetik dilakukan secara utuh pula, yaitu selain mengembangkan nalar juga mengembangkan potensi hati dilakukan dengan cara banyak berdzikir, atau ingat Allah, melakukan kegiatan ritual, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Nabi selalu konsisten menjalankan shalat lima waktu berjamaáh di masjid. Cara ini adalah sekaligus melakukan bimbingan dan tauladan secara nyata terhadap ummatnya ketika itu. Nabi tidak saja memerintahkan agar ummatnya shalat, melainkan dirinya sendiri memberikan tauladan secara nyata. Mendekatkan Para Siswa Pada Tiga Hal Penting Berangkat dari konsep tersebut di muka, maka pendidikan karakter dengan pendekatan profetik, bisa dilakukan dengan mendekatkan para siswa atau peserta didik pada tiga hal penting, yaitu mereka didekatkan pada kitab suci, tempat ibadah dan para ulama’nya. Cara itu sebenarnya tidak sulit dilakukan dan bahkan juga pengukurannya. Titik rawan pendekatan profetik justru terletak pada tenaga kependidikannya, yaitu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya. Ketiga jenis upaya tersebut dijelaskan sebagaimana berkut. Pertama, mendekatkan para peserta didik pada kitab suci, kiranya tidak sulit dilakukan. Sebagai orang beragama, kiranya memang seharusnya memiliki kedekatan dengan kitab sucinya masing-masing. Wahyu di manapun selalu dipandang sebagai sumber kebenaran. Oleh karena itu, para guru seharusnya mengajarkannya dan tidak perlu menunggu kedatangannya, oleh karena sudah lama datang, yaitu berupa kitab suci yang bisa didapatkan di mana-mana. Banyak orang tatkala mencari kebenaran, merasa masih perlu menunggu datangnya wahyu. Padahal sebenarnya, wahyu itu sendiri sudah disampaikan secara sempurna oleh Tuhan dalam rupa kitab suci agama masing-masing. Sebagai negara yang berlandaskan Pancasila, yang mengakui berbagai agama, maka tugas guru adalah mendekatkan peserta didiknya pada kitab sucinya masing-masing. Mereka yang beragama Islam memperkenalkan al Qurán, yang beragama Kristen dengan Injil, demikian pula yang beragama hindu dengan kitab Weda. QAnak yang selalu dekat dengan kitab suci, —-Islam misalnya dekat dengan al Qur’an, maka pikiran, hati dan jiwanya akan terjaga dari ajaran kitab suci yang dipercayai kebenarannya itu. Kedua, mendekatkan para siswa pada tempat ibadah. Selama ini umat beragama telah melihat betapa pentingnya tempat ibadah sebagai wahana untuk membangun karakter, sehingga di mana-mana dibangun tempat ibadah. Sedemikian besar semangat masyarakat membangun sarana itu, sehingga memerlukan pengaturan dari pemerintah. Sayangnya, semangat membangun tempat ibadah itu, belum diikuti oleh kegiatan untuk memanfaatkannya. Pada saat ini di sekolah-sekolah dan kampus-kampus telah dilengkapi dengan tempat ibadah. Maka sebagai bagian dari pendidikan karakter, para guru yang seharusnya bertindak sebagai uswah hasanah atau tauladan yang baik, pada saat waktunya beribadah, segera menuju tempat itu untuk mengajak sekaligus memberikan tauladan kepada para anak didiknya. Inilah cara mendekatkan mereka pada tempat ibadah. Ketiga, adalah mendekatkan para siswa atau peserta didik dengan para ulama atau para guru yang sehari-hari mengajar. Akhir-akhir ini ada pergeseran yang entah disadari atau tidak, para siswa yang seharusnya mengidolakan pada ilmuwan,ulama dan guru, justru mengidolakan para artis. Para siswa lebih akrab dengan nama-nama artis favoritnya daripada para ilmuwan, dan bahkan guru atau kepala sekolahnya sendiri. Anak-anak biasanya akan mengikuti perilaku siapa yang diidolakannya. Sehingga menjadi wajar, jika anak-anak bergaya penyanyi atau artis pada umumnya daripada berperilaku sebagaimana gurunya. Terkait dengan pendidikan karakter ini ternyata di kalangan pesantren tampak lebih berhasil. Kyai dan santri yang selalu tinggal bersama-sama di pesantren, sehingga rupanya lebih berpeluang mengembangkan pendidikan secara lebih utuh dan menyeluruh. Para santri berhasil mengidolakan para kyai dan menjadikannya sebagai reference person dalam kehidupannya. Hanya sayang, dengan perubahan sosial politik yang sedemikian dahsyat, sendi-sendi pendidikan pesantren pun sedikit banyak juga terpengaruh dengan lingkungan itu. Manakala para peserta didik di sekolah berhasil didekatkan pada tiga hal tersebut, yaitu dekat pada kitab suci, dekat pada tempat ibadah, dan dekat pada para ulama/cendekiawan dan gurunya maka kiranya akan berpengaruh pada keseluruhan pribadi peserta didik. Inilah kiranya pendidikan yang tidak saja mengembangkan aspek kognitif, yang selama ini dikritik oleh banyak kalangan, melainkan juga pendidikan yang meliputi aspek afektif dan psikomotorik sekaligus. Gambaran Implementat
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
