Tuesday, 21 April 2026
above article banner area

Membangun Kultur Akademik

Beberapa hari ini, saya selalu mengikuti tulisan-tulisan Pak Zainuddin lewat fecebook  tentang  apa yang dilihat selama di Jerman sekarang ini. Saya rasakan sangat menarik, karena saya pernah, walaupun hanya satu bulan, berkunjung  ke negara itu.  Bersama beberapa teman sesame pimpinan perguruan tinggi, —–atas biaya DAAD, saya berkesempatan mengunjungi banyak perguruan tinggi di sana.  Sama dengan Pak Zainuddin, saya

mendapatkan gambaran tentang kultur akademik yang  hidup di negeri itu.   Kampus-kampus di  Jerman memang tampak hebat. Perpustakaan dan laboratorium sedemikian komplit dan selalu diperbaharui menyesuaikan kebutuhan. Terasa benar bahwa perguruan tinggi, dengan perpustakaan dan laboratoriumnya sebagai pusat pengembangan ilmu. Orang-orangnya terasa sekali,   sangat menyukai ilmu pengetahuan. Semangat ingin tahu dan usaha menjawabnya melalui penelitian dapat  dilihat dan dirasaan.  Mereka  tekun bekerja di laboratorium untuk menemukan sesuatu yang baru.   Saya ketika itu juga ketemu banyak mahasiswa yang berasal dari Indonesia. Mereka juga menjadi seperti orang-orang Jerman dan juga orang yang berasal dari negara-negara lain yang sedang belajar di sana, memiliki semangat akademik yang tinggi.  Mereka  pulang dan pergi ke kampus, ke perpustakaan,  dan juga ke laboratorium. Mahasiswa Indonesia, menurut informasi yang saya dapatkan,  prestasi akademiknya juga  tidak beda dengan mahasiswa lain di Jerman, bahkan beberapa disebut lebih unggul. Saya ketika itu senang sekali mendengarkan informasi  yang demikian itu.   Setiap mengunjungi kampus-kampus di kota-kota yang berbeda,  dan juga ketemu dengan mahasiswa Indonesia yang sedang  belajar di sana, kesan yang saya tangkap  adalah sama. Mereka menceritakan bagaimana perpustakaan yang bisa diakses pada setiap waktu, mendapatkan bimbingan dari para profesornya, dan bagaimana harus lama-lama berada di laboratorium, mereka menulis makalah untuk memenuhi tugas-tugas dari para profesornya.   Semangat akademik mahasiswa Indonesia yang saya lihat  ketika saya  berkunjung  ke  negeri itu, sekalipun hanya selama satu bulan,   adalah  luar biasa besarnya.  Pada setiap kali mendengar pembicaraan mereka, saya sangat senang sekali. Selanjutnya  yang terbayang pada pikiran saya adalah alangkah hebatnya bangsa Indonesia nanti,  setelah mereka pulang kembali dan berhasil mewarnai suasana akademik di perguruan tinggi di Indonesia.  Menyaksikan keadaan itu, saya  memiliki keyakinan dan optimisme yang sedemikian tinggi  terhadap  masa depan bangsa.   Hal yang tampak dari keadaan fisik pada kampus-kampus di Jerman, seperti  bangunan  atau gedung-gedung, baik untuk perkuliahan, perkantoran dan pelayanan administrasi,    sebenarnya tidak terlalu mengagumkan. Mungkin kampus-kampus di Indonesia  pada saat sekarang ini sudah  banyak yang menyamai. Mungkin kalau dicari bedanya,  beberapa kampus di Jerman,  saya lihat  sedemikian luas, seperti satu kota tersendiri. Akan tetapi rupa  dan suasana bangunannya tidak banyak yang terlalu mengagumkan.   Dengan demikian soal penampilan fisik, umpama akan meniru, kiranya tidak sulit dilakukan. Atau bahkan selama ini sudah ada beberapa kampus di Indonesia yang sebenarnya sudah menyamainya. Sebab, sebagaimana di Indonesia dan juga di negara-negara lainnya, kampus-kampus di Jerman juga variatif. Ada beberapa kampus yang berukuran besar, tetapi juga ada yang kecil.  Gambaran seperti itu sama dengan di Indonesia yang juga bervariasi.   Adapun hal yang saya rasakan  berat ditiru dari  banyak perguruan tinggi di Jerman adalah yang terkait dengan pengembangan akademiknya.  Semangat  belajar,  bertanya, meneliti, rasa ingin tahu dari orang-orang Jerman dan bahkan mahasiswa Indonesia yang sedang di sana,  yang sedemikian tinggi itu, kiranya tidak mudah  ditiru oleh perguruan tinggi di Indonesia. Membangun gedung, perkantoran dan fasilitas lainnya,  tidak sulit  meniru kampus-kampus di Jerman. Akan tetapi, dalam hal meniru  pengembangan  suasana akademik  yang tidak mudah  dilakukan.   Apa  yang saya gambarkan bahwa,  sepulang   dari Jerman para sarjana  akan memberikan pengaruh besar terhadap iklim akademik  di kampus-kampus di Indonesia, ternyata juga tidak semua   bisa dibuktikan.  Bahkan tidak sedikit lulusan dari  Jerman, ketika sudah pulang  ke kampusnya, justru kembali ke aslinya, sebagaimana mahasiswa yang tidak pernah ke sana.  Bagi mereka yang    menjadi dosen,  kegiatannya  hanya rutin,  sehari-hari pergi ke kampus, mengajar, menguji dan pulang. Sedangkan kegiatan riset,  atau tulis menulis, kebanyakan juga tidak terlalu aktif. Kalaupun ada perbedaan dengan lulusan dalam negeri, maka perbedaan itu  seperti tidak signifikan.     Itulah sulitnya membangun akademik di negeri ini.  Orang yang sudah tinggal di Jerman yang sedemikian maju akademiknya hingga beberapa tahun, ternyata setelah pulang,  maka  kembali lagi ke aslinya. Padahal ketika masih di negara maju itu, mereka juga berhasil beradaptasi persis seperti orang-orang Jerman. Mereka juga bersemangat dan memiliki etos akadmik yang tidak kalah dari lainnya. Keadaan seperti itulah yang  sering  mendatangkan pertanyaan, apa sebenarnya yang salah dari lingkungan di negeri ini, sehingga membangun ilkim akademik sedemikian sulitnya.   Namun  anehnya  tidak saja  menyangkut  akademik yang sulit dikembangkan, tetapi juga kegiatan ritualnya. Kita lihat misalnya, para jamaáh haji. Tatkala masih di Masjidil Haram atau di Madinah, mereka sangat giat shalat berjamaáh di masjid. Bahkan ketika pondokannya jauh dari masjidil haram atau masjid nabawi, mereka mengeluh karena tidak bisa shalat berjamaáh secara rutin.  Mereka  mengejar agar bisa  arbain, atau shalat berjamaáh  sebanyak 40 kali  tanpa jeda. Akan tetapi, umumnya semangat berjamaáh itu kendor setelah  mereka pulang ke tanah air,  dan  kembali ke aslinya, tidak terlalu suka ke masjid.  Maka ternyata kedua-duanya,  baik  mengembangkan akademik dan juga spiritual, di negeri ini sama-sama sulitnya.  Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *