Sunday, 21 June 2026
above article banner area

Mental Pemburu Dan Mental Pejuang

Antara pemburu dan pejuang sebenarnya sama, yaitu sama-sama ingin mendapatkan sesuatu. Akan tetapi keduanya jelas berbeda baik terkait orientasi, tujuan dan mental yang dimiliki oleh masing-masing. Mungkin kedua kegiatan itu  bisa dilakukan oleh orang yang sama, akan tetapi mental yang dikembangkan tatkala melakukan tugas berbeda akan berbeda pula.

 Berburu biasanya dilakukan secara bersama-sama. Bahkan sekalipun sudah berbekalkan senjata cukup memadai, masih harus dibantu oleh anjing pemburu. Pekerjaan berburu mesti diikuti oleh jiwa atau mental berburu. Mereka berani, pekerja keras dan sanggup menanggung resiko. Apapun dijalani agar berhasil menangkap binatang buruannya.  Kerja berburu adalah kerja berkelompok. Jarang pemburu bekerja secara sendirian. Oleh karena itu, kalau berhasil, maka hasilnya akan dibagi secara merata kepada semua yang terlibat. Tidak boleh orang yang sebenarnya terlibat, kemudian  tidak mendapatkan bagian. Bahkan anjing pembantunya pun juga akan diberi bagian, sekalipun hanya bagian sisa yang tidak menarik, misalnya tulang-tulangnya. Pokoknya semua yang terlibat harus kebagian. Demikian itulah tata kesepakatan yang berlaku pada masyarakat berburu. Anggota kelompok pemburu yang misalnya,  ternyata tidak mendapatkan bagian atau tidak diperlakukan secara adil akan memisahkan diri, membentuk kelompok baru. Oleh karena itu, tanpa aturan yang jelas sekalipun, para pemburu sudah mengetahui etika pembagian hasil buruan. Inilah mental pemburu, mereka bekerja bersama untuk mendapatkan hasil yang bisa dinikmati secara bersama-sama.      Berbeda dengan mental berburu adalah mental pejuang. Para pejuang biasanya tidak memikirkan bagian yang akan didapat ketika perjuangannya selesai dan menang. Bagi mereka yang penting adalah berjuang. Biasanya perjuangan dilakukan untuk tujuan-tujuan jangka panjang. Selain itu, apa yang diperjuangkan bukan hal sederhana dan sepele, sebagaimana para pemburu, yaitu daging buruannya.  Cita-cita atau tujuan para pejuang biasanya bersifat jangka panjang, menyangkut tentang nilai-nilai yang semestinya diwujudkan, idiologi, filsafat atau agama. Oleh karena itu, maka selama ini   dikenal istilah pejuang kemerdekaan, pejuang agama, pejuang kemanusiaan dan seterusnya. Para pejuang selain tidak pernah berpikir tentang imbalan yang akan didapat, apalagi berupa materi, juga sekaligus yang bersangkutan bersedia untuk berkorban. Apapun dikorbankan demi  kemenangan perjuangannya.    Bangsa Indonesia ini memiliki banyak  pejuang tangguh, baik secara mental, jiwa, pikiran, dan bahkan juga kekuatan fisiknya. Atas perjuangan dan pengorbanan  para pejuang  itu, maka bangsa ini  berhasil merebut kemerdekaan dari penjajah yang sedemikian kuat dan telah berkuasa  dalam waktu yang lama. Hasil perjuangan itu diharapkan bisa diteruskan, hingga cita-cita para pejuang yang luhur berhasil diwujudkan. Akan tetapi,  ternyata tidak mudah meneruskan atau mewarisi jiwa atau mental pejuang itu.  Sebatas mewarisi harta benda saja  kadang sulit, sehingga selang beberapa waktu, semua harta warisan  habis. Apalagi hal itu adalah mewarisi nilai-nilai, cita-cita, semangat, jiwa yang  tidak pernah tampak, namun selalu ada dalam hati para pejuang. Mewarisi jiwa pejuang akan jauh lebih  sulit dari pada mewarisi harta benda, sehingga tidak banyak orang yang mampu menjalaninya. Oleh karena sulitnya itu, maka yang terjadi kemudian adalah perubahan orientasi. Mental pejuang berubah menjadi mental pemburu. Orang-orang yang bermental sebagai pemburu maka, selesai menangkap binatang buruannya,  yang mereka dilakukan,  adalah berbagi-bagi hasil. Dalam dunia politik, baik skala besar atau kecil, yang tampak adalah berbagi-bagi jabatan, tunjangan dan fasilitas setelah kemenangan diperoleh. Jika pembagian itu dirasa tidak adil, maka yang terjadi  adalah konflik. Itulah sebabnya banyak terjadi konflik di mana-mana, karena mental yang dikembangkan adalah mental berburu itu.  Seseorang yang bermental pejuang tidak pernah berharap hasil perjuangannya, apalagi sekedar yang bersifat materi. Pejuang hanya ingin kemenangan dan cita-cita, idiologi atgau pandangan hidupnya berhasil bisa diwujudkan. Namun memang mewujudkan cita-cita, ide, gagasan atau idiologi itu tidak mudah. Sebab mental pejuang suatu saat ternyata juga berubah,  menjadi mental pemburu. Akhirnya, oleh karena mentalnya sudah berubah menjadi mental berburu, maka  yang dipikirkan adalah pemerataan dan bagi-bagi hasil. Akibatnya, terjadi konflik terus menerus.  Oleh karena itu, yang perlu ditumbuhkan, dipelihara, dikembangkan dan dipertahankan, di mana dan kapan saja, adalah mental pejuang. Keruntuhan sebuah peradaban tidak perlu dikhawatirkan sepanjang mental pejuang itu masih berhasil dipelihara. Keruntuhan itu terjadi manakala dalam suatu masyarakat, mental para pemimpin dan masyarakatnya sudah berubah, yaitu dari mental berjuang  menjadi mental berburu.  Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *