Sunday, 12 July 2026
above article banner area

Memakmurkan Masjid Kampus

Tampaknya  sekarang ini sudah tidak ada lagi  kampus yang tidak dilengkapi dengan masjid, khususnya kampus yang sebagian besar warganya, ——dosen, karyawan dan mahasiswanya,  beragama Islam.  Bahkan ada sementara kampus yang  masjidnya berukuran sangat besar. Kampus yang dilengkapi dengan masjid  mengisyaratkan  bahwa  pimpinannya  memahami makna pendidikan yang sebenarnya.

  Akhir-akhir ini, menteri pendidikan nasional menekankan betapa pentingnya pendidikan karakter, agar semakin lebih ditingkatkan. Pandangan mendiknas tersebut disambut secara cepat dan meluas oleh masyarakat. Tidak ada yang kontra  terhadap pandangan menteri tersebut,  semua menyetujui. Kemudian, di mana-mana tema itu dibicarakan, didislkusikan, diseminarkan dan bahkan  ditulis buku-buku terkait dengan tema itu.    Kesamaan pandagan tetang pentingnya pendidikan karakter tersebut kiranya disebabkan oleh penglihatan yang sama terhadap kondisi bangsa ini. Bahwa akhir-akhir ini muncul fenomena yang semakin memprihatinkan,  yaitu seperti misalnya penggunaan narkoba, hubungan seks bebas, korupsi yang  terjadi  secara meluas, kekerasan, manipulasi, tidak peduli terhadap penderitaan orang lain dan seterusnya.   Semua itu dianggap mendesak ditanggulangi, di antaranya  melalui pendidikan karakter.    Masjid kampus adalah merupakan sarana efektif untuk menjadikan warga  yang ada di lingkungannya menjalankan agamanya secara lebih baik.  Agama  yang dijalankan secara baik,  sebenarnya adalah merupakan bagian bentuk dari pendidikan karakter itu sendiri. Seseorang yang secara disiplin menjalankan kegiatan ritual akan menjauhkan dirinya dari hal-hal buruk yang merugikan dirinya maupun orang lain. Kegiatan ritual, selain dilakukan sebagai upaya mendekatkan diri pada Tuhan,   sebenarnya adalah sekaligus dapat  mempertajam dan memperkokoh pribadi seseorang.   Memang  masjid sebenarnya hanyalah  sebagai tempat, dan  akan memiliki arti yang sebenarnya manakala dimanfaatkan.  Namun sayangnya, tidak semua warga kampus, tidak terkecuali para pimpinan dan dosennya, mau  memanfaatkan fasilitas yang disediakan itu. Di berbagai tempat, banyak orang mengangap betapa pentingnya tempat ibadah dibangun, akan tetapi  setelah selesai,  belum tentu segera  tumbuh kesadaran memanfaatkannya.  Akibatnya, banyak masjid  berukuran besar, namun  masih  sepi jamaáh, kecuali pada hari tertentu, misalnya pada waktu shalat Jumát.    Betapa beratnya secara bersama-sama membiasakan shalat berjamaáh di masjid, baik terhadap dosen, karyawan,  maupun para mahasiswanya. Semangat  berjamaáh di masjid tidak ada beda secara signifikan antara  dosen dan mahasiswa. Artinya tidak selalu bahwa dosen misalnya lebih rajin ke masjid setiap waktu berjamaáh  dibanding mahasiswanya. Pada kenyataannya, ada sementara masjid kampus, yang jumlah jamaáhnya lebih banyak mahasiswa dibanding  dosen dan karyawannya.   Sementara masjid  di kampus lainnya, jumlah jamaáh dari kalangan dosen dan karyawan lebih banyak, sementara mahasiswanya amat sedikit, sehingga seolah-olah tempat ibadah tersebut didominasi oleh dosen. Namun  ada  juga masjid kampus yang digunakan secara seimbang jumlahnya antara mahasiswa dan dosen. Bahkan  ada pula masjid kampus yang sepi penggunaannya, baik oleh dosen maupun mahasiswanya. Akhirnya, masjid sebagaimana  disebutkan terakhir ini,  hanya  digunakan sebagai pelengkap kampus, dan hanya ramai tatkala waktu shalat jumáh dan pada bulan puasa.   Melihat kenyatan itu, ternyata di mana-mana sama, memanfaatkan masjid tidak mudah, tidak terkecuali di kampus-kampus. Penggunaan masjid secara sempurna, ——sekalipun sebatas dalam kegiatan ritual, adalah di pesantren-pesantren. Secara jujur diakui bahwa masjid-masjid di pesantren, biasanya tidak pernah sepi dari jamaáh.  Hal itu bisa dilihat misalnya, di Pondok Gontor Ponorogo, di Al Amien, Prenduan, Madura  dan juga di semua pesantren pada umumnya,  tatkala  dikumandangkan adzan, maka  para santri, ustadz dan kyai segera  menuju ke masjid untuk menunaikan shalat bersama-sama.   Maka dalam hal memakmurkan tempat ibadah,  sementara kampus, ——–diakui atau tidak, masih kalah dibanding dengan pesantren. Padahal semestinya, kampus tidak boleh kalah,  tetapi   harus sama-sama menang.  Sebab dalam hal memakmurkan masjid,  sebenarnya tidak memerlukan lagi  diskusi dan apalagi debat,  tetapi  cukup meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Nabi Muhammad pada setiap shalat selalu berjamaáh dan selalu dilakukan di masjid.   Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa masjid adalah bagian dari pendidikan karakter atau pendidikan akhlak. Pada saat sekarang ini,   di kampus-kampus sudah tersedia masjid, namun  yang masih diperlukan adalah upaya memakmurkannya.  Masjid-masjid di pesantren lebih  ramai  dan hidup, oleh karena para kyai dan ustadznya  memberikan tauladan mendatangi tempat ibadah itu pada setiap shalat jamaáh. Demikian pula, pendidikan karakter terpeliraha oleh karena masjidnya selalu ramai digunakan.   Oleh  karena  itu,  memakmurkan masjid  di kampus-kampus,  sebenarnya tidak terlalu sulit dilakukan.    Cara  mudah,  meniru saja apa yang dilakukan oleh ustadz dan kyai  pimpinan pesantren.  Yaitu,   memulai  dari para  pimpinannya, maka   yang lain akan ikut, baik dosen, karyawan dan mahasiswanya. Apa saja selalu tergantung dari para pimpinannya, tidak terkecuali  adalah dalam memakmurkan masjid kampus. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *