Wednesday, 20 May 2026
above article banner area

Dibutuhkan Kearifan Para Pemimpin

Sejak  terjadi reformasi,  pada sekitar pertengahan tahun 1998 yang lalu, suasana batin bangsa ini terasa berubah, hingga berbeda dengan kharakter yang sebenarnya dimiliki sebelumnya. Bangsa Indonesia yang selama itu dikenal sebagai bangsa yang santun, ramah, rendah hati, toleran, penuh kepedulian  terhadap sesama, ternyata berubah. Perubahan itu seringkali terasakan  sedemikian mencolok.

  Kesantunan yang ditampakkan dalam bahasa dan juga perilaku  halus dan hati-hati,  ternyata hilang. Yang tampak kemudian adalah wajah keras, mudah marah dan bahkan berperilaku kasar. Sikap sementara anak muda terhadap orang tua, menjadi tidak sebagaimana adat istiadatnya. Demikian pula bawahan kepada atasan kadang menjadi berani.   Sejak masa reformasi,  pihak-pihak yang dianggap salah  tidak mudah diampuni. Umumnya kesalahan itu dialamatkan pada  pemerintah atau pejabat. Pemerintah dipandang sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas segala penderitaan rakyat,  oleh karena telah melakukan kesalahan sedemikian lama.   Demonstrasi terjadi di mana-mana menghujat siapapun yang dianggap salah. Orang marah, berdemo dengan menghujat dan  melontarkan kata-kata yang tidak semestinya diucapkan.  Mengeluarkan kata-kata apapun dianggap tidak ada larangan. Orang memprotes siapapun dianggap wajar dengan dalih menuntut hak. Hal demikian terjadi di mana-mana dan dalam masa yang lama.  Suasana sebagaimana digambarkan itu terjadi  di mana-mana, termasuk di pedesaan sekalipun. Oleh karena itu  siapapun orang  yang memimpin akan mengalami kesulitan. Prakarsa, ide atau program sebaik apapun  dicurigai terlebih dahulu.  Ada anggapan bahwa pemimpin atau pejabat tidak harus diikuti dan lebih-lebih  jika tidak  jelas  menguntungkan. Pemimpin harus siap  didemo dan bahkan dituntut turun pada setiap saat.   Para  pejabat seolah-olah selalu berada pada pihak yang salah dan harus diadili. Oleh karena itu, menjadi pemimpin atau pejabat, siapapun orangnya,  merasakan sangat berat. Apapun niat baiknya dicurigai terlebih dahulu. Salah sedikit diprotes, dituntut, dan bahkan didemo ramai-ramai. Kepercayaan terhadap  pemimpin menjadi sangat langka dan mahal.      Kepercayaan kepada pemimpin dan tidak terkecuali kepada pemerintah merosot  hingga derajat paling rendah. Bila pada waktu sebelumnya, pemerintah atau pejabat dianggap terhormat dan harus didengarkan kata-katanya,  dan diikuti keputusannya, maka sejak itu seolah-olah mereka  boleh dibantah dan bahkan diabaikan.  Sekalipun kejadian itu sudah berjalan lebih dari tiga belas  tahun, pada saat-saat tertentu, perlawanan terhadap pemimpin atau pejabat pemerintah muncul  kembali.  Kegiatan memprotes  kebijakan pimpinan atau pejabat pemerintah  seringkali terjadi. Padahal  bangsa timur pada umumnya, mengganggap  pejabat pemerintah bukan sebatas berperan sebagai pemimpin birokrasi, tetapi juga ditempatkan sebagai pengayom, pedoman,  dan bahkan sekaligus  sebagai orang tua.   Oleh karena itu tatkala  para pejabat atau pemimpin dianggap salah dan dihujat, maka yang terjadi seolah-olah muncul suasana ketidak-adanya pengayom, pedoman, dan orang tua yang patut didengar nasehatnya dan ditiru perilakunya. Maka sebenarnya, sejak reformasi hingga beberapa tahun setelahnya, ——dan bahkan hingga sekarang, bangsa ini sedang mengalami jenis krisis yang sangat mendasar, yaitu krisis  orang yang seharusnya bisa ditauladani dan  dituakan.  Untuk mengembalikan kondisi masyarakat tersebut,  maka yang diperlukan adalah kearifan para pemimpin  pada level,  dan lingkup apa saja.  Para  tokoh atau elite apapun, tatkala membuat statemen,  seharusnya  berhati-hati, bijak,  atau arif  untuk menghindari munculnya rasa  sakit hati, kecewa, dan termasuk mengganggu kewibawaan siapapun.    Bangsa Indonesia pada saat sekarang   memerlukan   ketenangan, keteduhan, kedamaian, terjadi saling percaya,  dan saling menghargai  dari,  oleh, dan terhadap  semua pihak. Jika demikian itu berhasil diwujudkan maka suasana psikologis bangsa akan kembali sebagaimana watak aslinya semula, yaitu santun, pemurah, dan berkharakter mulia. Wallahu a’lam.           

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *