Tuesday, 26 May 2026
above article banner area

Beban Pejabat Politik

 Para pejabat politik seperti anggota DPR, DPRD, Bupati, Walikota, Gubernur dan lain-lain termasuk Menteri,  memiliki beban yang cukup berat. Para pejabat politik tersebut selalu terkait erat dengan partai politik. Mereka diangkat menjadi pejabat atas dukungan  partai politik. Tidak ada gubernur, bupati, wali kota, apalagi anggopta DPR, DPRD termasuk juga  sebagian menteri,  diangkat dari pertimbangan partai politik.

  Seringkali para pejabat politik tersebut disorot masyarakat terkait dengan  imbalan yang dinilai sedemikian besar. Jika ada kabar kenaikan tunjangan atau fasilitas anggota parlemen selalu diributkan. Belum lagi kalau muncul berita,  bahwa DPR berkunjung ke luar negeri, entah maksudnya  mendesak atau tidak, maka selalu dikritik habis-habisan. Kepergian mereka disebut ngelencer. Sebutan yang tidak terlalu enak didengar. Sebab,  kata ngelencer,  erat kaitannya dengan rekreasi atau bersenang-senang.  Rupanya tidak banyak orang yang mau  mencoba menghayati beban, termasuk beban finasial yang harus ditanggung oleh pejabat politik. Mereka diangkat oleh partai, tentu tidak pernah gratis. Para pejabat politik, sebagai imbalannya, harus ikut menanggung beban kehidupan dan usaha-uasaha memajukan partai.    Memang tatkala  partai politik masih  berorientasikan untuk memperjuangkan idiologi tertentu, untuk membela agama tertentu, atau rakyat tertentu,  maka  mereka yang merasa dibela  tidak segan-segan untuk berkorban. Akan tetapi,  tatkala partai politik sudah tidak terlalu kentara  idiologinya, maka semangat  membela yang disertai dengan kesediaan  berkorban,  semakin berkurang atau bahkan menjadi tidak ada.   Selanjutnya, tatkala partai politik  tidak digerakkan oleh  idiologi,  maka yang tersisa  adalah transaksi untuk mendapatkan keuntungan yang bersifat praktis dan prakmatis. Seseorang  diangkat menjadi anggota parlemen, pertimbangannya adalah seberapa banyak yang bersangkutan telah berkorban, atau seberapa besar kekuatan yang bersangkutan dianggap berhasil  mengumpulkan suara.    Sudah  jarang seseorang diangkat sebagai pejabat  politik hanya berdasarkan kemampuan intelektual dan moralnya.  Maka yang terjadi kemudian adalah,  jabatan politik lebih banyak diisi oleh para artis,  pelawak, atau pengusaha daripada para ilmuwan.  Kenyataan tersebut  tidak sulit dicarikan penjelasannya. Bahwa partai politik, apapun selalu  memerlukan biaya hidup dan berkembang. Sedangkan sumber-sumber pendanaan partai,  dengan keadaan seperti sekarang ini, ——-lagi-lagi idiologi partai semakin tidak jelas, maka dana yang dibutuhkan  tidak mudah dihimpun. Pada saat sekarang ini sudah jarang terdapat orang yang mau ikut membiayai kehidupan partai, kecuali mereka yang berkepentingan.   Keadaan seperti itu sangat berbeda dengan zaman dulu,  ketika  orang masih sangat gandrung dengan idiologi yang dikembangkan oleh partai politik. Orang mencintai partai politik oleh karena idiologi, lambang-lambang,  dan bahkan juga para tokoh-tokohnya.  Pada ketika itu, rakyat mau-mau saja diajak  mengumpulkan  dana  untuk kepentingan partainya.  Partai politik dihidupi  oleh para anggotanya. Hal itu adalah biasa, sehingga seorang tokoh partai politik, ketika akan menghadiri rapat atau konferensi misalnya, maka bekalnya dikumpulkan dari  sumbangan para anggota atau simpatisannya.  Apa yang terjadi pada zaman dahulu sebagaimana dikemukakan  itu,  jelas tidak akan ditemukan lagi pada saat sekarang ini. Para tokoh partai dan apalagi anggota DPR, DPRD, bupati, walikota dan juga mungkin Gubernur,  bukannya disumbang, melainkan secara terus menerus akan dimintai sumbangan. Lebih dari itu, mereka juga akan dibebani untuk menghidupi partainya. Sebab kehidupan partai politik sudah tidak akan mungkin  lagi berasal  dari sumbangan  masyarakat, kecuali mungkin para pengusaha yang berkepentingan   Padahal semua orang tahu, bahwa biaya partai politik tidak kecil.  Lembaga  ini harus membiayai kehidupan  kantor partai, program-program, melakukan pendekatan dengan para konstituennya, dan  biaya lain yang  tentu tidak sedikit jumlahnya. Selain biaya rutin, jika terjadi bencana, atau kegiatan masyarakat, maka partai politik harus ikut tampil untuk menunjukkan kepeduliannya. Semua itu memerlukan biaya yang tidak sedikit dan tidak mudah dicari.   Kalau gambaran itu betul, dan  atau setidak-tidaknya mendekatai kebenaran, maka beban pejabat politik memang cukup berat.  Mereka harus ikut menghidupi partai politik, menghadapi tuntutan masyarakat, dan bahkan  memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri yang juga semakin banyak, sebagai konsekuensi  dari jabatannya itu.  Tuntutan yang sedemikian berat itu menjadikan  mereka yang tidak mampu mengendalikan diri,  mengambil jalan pintas,  yaitu korupsi. Itulah sebabnya,  banyak pejabat politik, akhirnya  masuk penjara, oleh karena beban berat  itu.  Wallahu a’lam.         

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *