Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Self Change and Identity

Self Change and Identity

 

Komunitas lokal dalam berbagai diskursif, senantiasa di(liyan)20kan. Seolah komunitas lokal tidak bisa merepresentasikan  dirinya. Mereka adalah masyarakat  yang tidak berdaya bagi para pemikir modern. Kebudayaan,  tata cara kehidupan sampai pada masalah agama senantiasa dikontruksi oleh relasi kuasa  yang ada.  Agama,  negara  dan modal  merupakan  driving  forces  yang menjadi  aspek  penentu  dalam  perubahan  dan  pemaknaan  komunitas  lokal.

Dalam  memahami  kontruksi  yang  dilakukan  oleh  seperangkat  aturan  yang berada di luar komunitas lokal (Tengger), peneliti menggunakan analisis yang digagas   oleh  tokoh  Psikoanalisis   Pos-Strukturalis   Jaques  Emire  Lacan21.

Seperti ditulis oleh Mark Bracher22 berikut ini.

 

 

19 Hogg, Michael, Op. cit. p. 255.

20  Istilah  Gunawan  Muhammad  dalam  menyebut  Otherness.  Untuk bisa lebih difahami  di

Indonesia,  Gunawan  Muhammad  menggunakan   terminologi  Liyan.  Lihat  dalam  esainya  dalam beberapa catatan Pinggirnya  di majalah Tempo. pada tahun 90-an. Saat itu pemikiran Postmodern dan Postkolonial  mulai  menjadi  diskursif  di Indonesia.  Lihat  juga  dalam  pengantar  tulisanya  Al Fayadl, Jaques Derrid. (Yogyakarta: LKiS. 2006) hal. i-xii

21  Jacques Lacan lahir di Paris pada tahun 1901 dalam keluarga katolik borjuis. Kemudian

dia  mengikuti  pendidikan  kedokteran  di Sorbone  sebelum  lebih  lanjut  dia  belajar  dalam  bidang Psikiatri pada tahun 1930-1940-an  di bawah bimbinganm  Psikiatri terkenal Gaetan de Clerambaut. Dari  tokoh  Ini,  Lacan  Belajar  seni  pengamatan  dan  dari  kaum  Surealis.  Ia  juga  belajar  seni penampilan  diri gaya Barok.  Nama  lengkapnya  adalah  Jacquez  Marie  Emile  Lacan (1901-1981). Dia adalah tokoh pemikir Prancis yang memiliki pengaruh cukup signifikan di Prancis dan belahan bumi lainya  dalam bidang psikoanalisis.  Lacan memiliki  pandangan  yang sangat  berbeda  dengan para  pemikir-pemikir   lain.  Di  saat  para  pemikir  banyak  yang  mengkritisi  karya  Psikoanalisis Sigmund  Freud  dia  justru  menginkan  gerakan  untuk  kembali  menuju  Freud.  Berbeda  dengan kritikus Psikoanalisis  yang datang dari Asosiasi Psikoanalisis  Internasional  manakala bersebrangan dengan Freud, Lacan seringkali dianggap sebagai Psikoanalaisis yang keluar dari meanstrim Psikoanalisis  ortodok waktu itu. Lacan sempat dikeluarkan  dari Asosiasi Psikoanalis Internasional. Pengucilan   dan  pengalienasianpun   dialami   oleh  Lacan   dengan   lapang  dada.  Dalam   kondisi terpinggirkan  selepas  perang dunia  kedua,  Lacan  dengan  sahabatnya  Daniel  Lagache  mendirikan French Societey of Psychoanalysis  yang pada waktu itu terkenal dengan nama Freudian School of Paris. Dalam komunitas  itulah, Lacan mempelopori  gerakan kembali ke Freud (Return to Freud). Komunitas  ini  tidak  dimaksudkan  untuk  mendirikan  aliran  baru  dalam  Psikoanalisis  meskipun Lacan  pernah  mendirikan  aliran  tersendiri  yang  kemudian  ia  tinggalkan.  Lihat  dalam  Spivak, Gayatri   Chakravorti,   Jacques   Derrida   of  Gramatologi   ,(The  John  Hopkins   University   Press Baltimor   and   London   1976)   p.   35.   Untuk   perbandingan,    lihat   Yudiarso,   Ananta,   Kritik

 

 

 

 

Lacan  memandang  bahwa  subyek  senantiasa  tidak sadar.  Subyek dibentuk oleh kekuatan yang berada di luar dirinya. Dalam   pandangan lacan pola pembentukan subyek ini, bertahap. Pertama, tahap real merupakan tahap dimana subyek mengalami keadaan yang sebenarnya. Pada masa ini bahasa belum terbentuk. Tidak ada kekurangan (lake) dan kegelisahan yang ada hanyalah kepuasan segala kebutuhan dan kelengkapan. Tapi ini adalah ide pertama kekurangan yang muncul dari seorang bayi. Kekurangan itu tidak pernah akan bisa kembali terpenuhi lagi.

Kedua,  tahap imaginer,  tahap ini adalah tahap dimana  sang bayi

mulai  memiliki  permintaan.  Permintaan  itu  adalah  pengakuan  dirinya dari yang lain. Bayi  pada masa  ini, belum  memiliki  identifikasi  yang jelas. Dia masih memandang  yang lain di luar dirinya sebagai sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Dengan demikian oposisi biner antara aku (self) dan entitas di luar dirinya (liyan) kabur. Masa ini, disebut Lacan sebagai masa cermin. Proses identifikasi yang dilakukan oleh bayi tidak bersifat internal. Bayi lebih memilih identitasnya disesuaikan dengan apa yang berada di luar dirinya. Pada masa ini, sang bayi mulai gegar. Kebutuhanya tidak bisa dipenuhi total, seperti pada saat dia masih berada pada  masa  real.  Kekurangan,  tanpa  gagasan  disintegrasi  tubuh  dan alienasi mulai muncul. Bagi lacan, identitas diri senantiasa  dilihat dari sisi liyan.

Ketiga, masa simbolis. Pada masa ini, Lacan beranggapan  bahwa keretakan23  hubungan antara diri dan ibu yang terjadi pada masa cermin mulai  bisa  diatasi.  Anak  mulai  memutuskan  bahwa  ia  bisa  menyatu dengan apa yang diinginkan oleh ibu. Berhubung anak sudah beranjak

dewasa, maka tidak mungkin dilakukanya kepada ibu. Anak lebih melampiaskan dalam wilayah simbolik. Ayah, bagi Lacan merupakan penentu kebijakan yang memberikan hukuman tertentu bagi anak. Lacan melihat  ayah  bukan  sebagai  ayah  biologis  sebagaimana  digambarkan oleh Freud. Lacan memberikan gambaran ayah simbolis yang dituliskan

sebagai Phallus.24

 

 

Psikoanalisis   Jacques  Lacan,dalam  Jurnal  Psikologi  Alternatif  Antitesis  Vol.  1,  No.  1.  2003. (Surabaya:  Ubaya  2003)  Hal.  20.  sedangkan  untuk  melihat  inti  pemikiran  Lacan,  baca  dalam bukunya  Lechte,  John.  1994.  Fifty Key Contemporary  Thinkers,  Routledge  and New York. Terj. Gunawan,  A  Admiranto,  2001.  50  Filsuf  Kontemporer  dari  Strukturalisme  Sampai Poststrukturalisme, (Yogyakarta: Kanisius, 2001) Hal. 114.

22  Bracher,  Mark,  Lacan,  Dicourse,  and  Sosial  Change:  Psychoanaltic  Cultural  Critism,

(New  York     Cornell  University  press).  Terj.  Admiranto,   Gunawan.  Jaques  Lacan  Diskursus Perubahan  Sosia:  pengantar  Kritik  Budaya  Psikoanalisis,  (Yogyakarta:  Jalasutra  1997)  hal. xvi- xxiv.

23  Pada posisi seperti ini, identitas diri dan kelengkapan  diri tidak ada. Yang ada tidak lain

adalah  imajinasi  dan khayalan  tentang  diri yang berada  pada  luar  dirinya.  Khayalan  bagi  Lacan dimaknai  sebagai  dunia  citra  dimana  anak  membuat  identifikasi.  Dalam  perbuatan  keseharianya anak akan mengarah pada kesalahpahaman tentang dirinya sendiri. Lihat dalam John Story, An Introdutory  Guide  to  Cultural  Theory  and  Popular  Culture.  1993.  Terj.  Nurdin,  Dede.  Teori Budaya  dan Budaya  Pop: Memetakan  Lanskap  Konseptual  Cultural  Studies  (Yogyakarta:  Qalam

2003) 128-132.

24    Berbeda   dengan   Freud,   Lacan   memisahkan   konsep   penis  dengan   Phallus.   Dalam pandangan  Lacan, phallus  merujuk pada kepenuhan  dan merupakan  penanda  keutuhan  yang tidak

 

 

 

 

 

Bagi Lacan, hasrat untuk keutuhan, kerinduan akan kesatuan, dan keinginginan  untuk pengintegrasian  itu adalah wajar dirasakan  oleh subyek. Perlu   dipahami   bahwa,   segalanya   tidak   akan  pernah   mungkin   kembali. Pemikiran yang cenderung memberikan idealisasi masa lampau akan kembali

lagi, membuat keterjebakan ontologis yang cenderung romantisme masa lalu.25

 

Agar tidak terjebak dalam oposisi biner antara masa lalu dan sekarang, Lacan menggunakan posisi antara (periferi). Untuk menciptakan posisi antara, lacan menggunakan  teori  simbolic  order.  Dengan  memberikan  simbol  penyatuan seperti ini lacan hendak memberikan identitas kebudayaan yang senantiasa memiliki hasrat penyatuan.

Bagi Lacan, setiap subyek senantiasa mengisi kekosongan dan jeda oposisi biner yang terjadi antara subyek dan obyek (others) akan melahirkan desire.26   Pemenuhan  kebutuhan  ini  menggunakan  mekanisme  bahasa,  yaitu

dengan displacement melalui metonimia condensation melalui metafora yang

 

tidak pernah bisa dipenuhi. Bahasa bekerja dalam wilayah simbol yang secara paradigmatik akan mengisi kekosongan itu. Anak yang sudah mulai memasuki

kemampuan  bahasa  akan  memiliki  ketergantungan  terhadap  bahasa  dalam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

dimiliki   oleh  manusia.   Lihat   dalam   Sarup,   Madan,   1993.   An  Introductory   Guide   to  Post- Strukturalism  and Post Modern, Athens, Georgia, (The University of Georgia Press) Terj. Aginta, Hidayat              Aginta,           Post-Strukturalisme                dan                   Post-Modernisme,                        Sebuah                                   Pengantar                       Kritis (Yogyakarta: Jendela, 2004) hal. 17 -22.

25   Ibid. hal. 38.

26    Untuk   mengetahui   wacana   tentang   hasrat   lihat   esainya   Edhenk,   Postmodern   dan

Pembebasan  Hasrat,  Majalah  Inovasi.  UIN Malang   Edisi 22 Th. 2005. (Malang:  Inovasi,  2005) hal. 57–58. Bandingkan dengan Agustinus Hartono, Deluze, Guatari dan Skizoanalisis: Sebuah Pengantar Genealogi Hasrat. (Yogyakarta: Jalasutra 2007) hal. 13-40.

 

 

 

 

mengenali  subyek.  Dengan  demikian  simbol  menjadi  sesuatu  yang  sangat dibutuhkan oleh subyek.27

Andrew Michener dan John Delamater, (1999) melihat bahwa struktur sosial28 memiliki peranan yang signifikan terhadap pembentukan identitas.

There are three ways in wich social structure influences a person’s life.  First,  every  person  ucopies  one  or  more  position  in  the  social structure (role). Second, influence from the individual is social network, the set of relationships asosiated  with the various  position  a person ucopies. A third way that social stucrure influences the individual trough status,  the  social  ranking  of  a  person’s  position.  Impact  of  social structure  on four area: achivement  value, mental health and person’s

belonging.29

 

Subyek (self) tidak lagi memberikan  identifikasi pada dirinya sebagai sesuatu yang riil adanya. Dia akan senantiasa melihat sisi lain diluar dirinya untuk dijadikan  cerminan  dirinya.  Dengan cara demikianlah  subyek berhasil untuk      mengidentifikasikan         dirinya.             Sebenarnya                 Jaques      lacan              hendak memberikan pemahaman bahwa, subyek terbentuk dari berbagai diskursif yang berada di luar diri. Karena diskursif yang berada di sekelilingnya  senantiasa membentuknya, maka subyek tidak lagi sadar kalau dia dibentuk dari kondisi sosialnya.

Subyek  bukanlah   suatu  kesadaran   yang  bebas  yang  terlepas  dari kontruksi  di  sekelilingnya.   Subyek  adalah  kontruksi  bahasa,  politik,  dan

budaya.  Subyek  hanya  bisa  dimengerti  dengan  cara  mencermati  cara-cara

 

 

27    Lechte,   John.  Fifty  Key  Contemporary   Thinkers,   Routledge   and  New  York.  Terj. Gunawan,  A  Admiranto,  2001  50  Filsuf  Kontemporer  dari  Strukturalisme  Sampai Poststrukturalisme.  (Yogyakarta: Kanisius, 1994) Hal. 68.

28   Dalam  pandangan  Claude  Levi  Strauss  struktur  sosial  tidak  hanya  berbicara  tentang

struktur  masyarakat  (organisasi  masyarakat).  Struktur  sosial  lebih  dimaknai  sebagai  aspek-aspek formal   yang  berada   dalam  fenomena   sosial.   Bahasa,   sistem  kekerabatan   dan  mitologi   juga merupakan  struktur  yang  bisa diurai  keberadaanya.  Untuk  mengetahui  pengertian  struktur  sosial lihat dalam Strauss, Antropologie  Strukturale,  PLON 1958. terj. Ninik Rohani Sjams. Antropologi Struktural (Yogyakarta: Kreasi Wacana 2005) hal. 375-425.

29   Michener,  Andrew  dan  Delamater,  John.  Social  Psychology.   Fourth  Edition.  (USA:

Harcourt Brace College Publishers, 1999) p. 440-441.

 

 

 

 

manusia dan kejadian-kejadian  menyusun dan menuangkannya  dalam sebuah narasi. Dalam perkembanganya, individu menjadi subyek yang terbelah identitasnya.  Identitas  tidak  lagi  diciptakan  dari  ego  seseorang,  melainkan super ego yang mendesain identitas diri.30

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *