Self Change and Identity
Komunitas lokal dalam berbagai diskursif, senantiasa di(liyan)20kan. Seolah komunitas lokal tidak bisa merepresentasikan dirinya. Mereka adalah masyarakat yang tidak berdaya bagi para pemikir modern. Kebudayaan, tata cara kehidupan sampai pada masalah agama senantiasa dikontruksi oleh relasi kuasa yang ada. Agama, negara dan modal merupakan driving forces yang menjadi aspek penentu dalam perubahan dan pemaknaan komunitas lokal.
Dalam memahami kontruksi yang dilakukan oleh seperangkat aturan yang berada di luar komunitas lokal (Tengger), peneliti menggunakan analisis yang digagas oleh tokoh Psikoanalisis Pos-Strukturalis Jaques Emire Lacan21.
Seperti ditulis oleh Mark Bracher22 berikut ini.
19 Hogg, Michael, Op. cit. p. 255.
20 Istilah Gunawan Muhammad dalam menyebut Otherness. Untuk bisa lebih difahami di
Indonesia, Gunawan Muhammad menggunakan terminologi Liyan. Lihat dalam esainya dalam beberapa catatan Pinggirnya di majalah Tempo. pada tahun 90-an. Saat itu pemikiran Postmodern dan Postkolonial mulai menjadi diskursif di Indonesia. Lihat juga dalam pengantar tulisanya Al Fayadl, Jaques Derrid. (Yogyakarta: LKiS. 2006) hal. i-xii
21 Jacques Lacan lahir di Paris pada tahun 1901 dalam keluarga katolik borjuis. Kemudian
dia mengikuti pendidikan kedokteran di Sorbone sebelum lebih lanjut dia belajar dalam bidang Psikiatri pada tahun 1930-1940-an di bawah bimbinganm Psikiatri terkenal Gaetan de Clerambaut. Dari tokoh Ini, Lacan Belajar seni pengamatan dan dari kaum Surealis. Ia juga belajar seni penampilan diri gaya Barok. Nama lengkapnya adalah Jacquez Marie Emile Lacan (1901-1981). Dia adalah tokoh pemikir Prancis yang memiliki pengaruh cukup signifikan di Prancis dan belahan bumi lainya dalam bidang psikoanalisis. Lacan memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan para pemikir-pemikir lain. Di saat para pemikir banyak yang mengkritisi karya Psikoanalisis Sigmund Freud dia justru menginkan gerakan untuk kembali menuju Freud. Berbeda dengan kritikus Psikoanalisis yang datang dari Asosiasi Psikoanalisis Internasional manakala bersebrangan dengan Freud, Lacan seringkali dianggap sebagai Psikoanalaisis yang keluar dari meanstrim Psikoanalisis ortodok waktu itu. Lacan sempat dikeluarkan dari Asosiasi Psikoanalis Internasional. Pengucilan dan pengalienasianpun dialami oleh Lacan dengan lapang dada. Dalam kondisi terpinggirkan selepas perang dunia kedua, Lacan dengan sahabatnya Daniel Lagache mendirikan French Societey of Psychoanalysis yang pada waktu itu terkenal dengan nama Freudian School of Paris. Dalam komunitas itulah, Lacan mempelopori gerakan kembali ke Freud (Return to Freud). Komunitas ini tidak dimaksudkan untuk mendirikan aliran baru dalam Psikoanalisis meskipun Lacan pernah mendirikan aliran tersendiri yang kemudian ia tinggalkan. Lihat dalam Spivak, Gayatri Chakravorti, Jacques Derrida of Gramatologi ,(The John Hopkins University Press Baltimor and London 1976) p. 35. Untuk perbandingan, lihat Yudiarso, Ananta, Kritik
Lacan memandang bahwa subyek senantiasa tidak sadar. Subyek dibentuk oleh kekuatan yang berada di luar dirinya. Dalam pandangan lacan pola pembentukan subyek ini, bertahap. Pertama, tahap real merupakan tahap dimana subyek mengalami keadaan yang sebenarnya. Pada masa ini bahasa belum terbentuk. Tidak ada kekurangan (lake) dan kegelisahan yang ada hanyalah kepuasan segala kebutuhan dan kelengkapan. Tapi ini adalah ide pertama kekurangan yang muncul dari seorang bayi. Kekurangan itu tidak pernah akan bisa kembali terpenuhi lagi.
Kedua, tahap imaginer, tahap ini adalah tahap dimana sang bayi
mulai memiliki permintaan. Permintaan itu adalah pengakuan dirinya dari yang lain. Bayi pada masa ini, belum memiliki identifikasi yang jelas. Dia masih memandang yang lain di luar dirinya sebagai sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Dengan demikian oposisi biner antara aku (self) dan entitas di luar dirinya (liyan) kabur. Masa ini, disebut Lacan sebagai masa cermin. Proses identifikasi yang dilakukan oleh bayi tidak bersifat internal. Bayi lebih memilih identitasnya disesuaikan dengan apa yang berada di luar dirinya. Pada masa ini, sang bayi mulai gegar. Kebutuhanya tidak bisa dipenuhi total, seperti pada saat dia masih berada pada masa real. Kekurangan, tanpa gagasan disintegrasi tubuh dan alienasi mulai muncul. Bagi lacan, identitas diri senantiasa dilihat dari sisi liyan.
Ketiga, masa simbolis. Pada masa ini, Lacan beranggapan bahwa keretakan23 hubungan antara diri dan ibu yang terjadi pada masa cermin mulai bisa diatasi. Anak mulai memutuskan bahwa ia bisa menyatu dengan apa yang diinginkan oleh ibu. Berhubung anak sudah beranjak
dewasa, maka tidak mungkin dilakukanya kepada ibu. Anak lebih melampiaskan dalam wilayah simbolik. Ayah, bagi Lacan merupakan penentu kebijakan yang memberikan hukuman tertentu bagi anak. Lacan melihat ayah bukan sebagai ayah biologis sebagaimana digambarkan oleh Freud. Lacan memberikan gambaran ayah simbolis yang dituliskan
sebagai Phallus.24
Psikoanalisis Jacques Lacan,dalam Jurnal Psikologi Alternatif Antitesis Vol. 1, No. 1. 2003. (Surabaya: Ubaya 2003) Hal. 20. sedangkan untuk melihat inti pemikiran Lacan, baca dalam bukunya Lechte, John. 1994. Fifty Key Contemporary Thinkers, Routledge and New York. Terj. Gunawan, A Admiranto, 2001. 50 Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme Sampai Poststrukturalisme, (Yogyakarta: Kanisius, 2001) Hal. 114.
22 Bracher, Mark, Lacan, Dicourse, and Sosial Change: Psychoanaltic Cultural Critism,
(New York Cornell University press). Terj. Admiranto, Gunawan. Jaques Lacan Diskursus Perubahan Sosia: pengantar Kritik Budaya Psikoanalisis, (Yogyakarta: Jalasutra 1997) hal. xvi- xxiv.
23 Pada posisi seperti ini, identitas diri dan kelengkapan diri tidak ada. Yang ada tidak lain
adalah imajinasi dan khayalan tentang diri yang berada pada luar dirinya. Khayalan bagi Lacan dimaknai sebagai dunia citra dimana anak membuat identifikasi. Dalam perbuatan keseharianya anak akan mengarah pada kesalahpahaman tentang dirinya sendiri. Lihat dalam John Story, An Introdutory Guide to Cultural Theory and Popular Culture. 1993. Terj. Nurdin, Dede. Teori Budaya dan Budaya Pop: Memetakan Lanskap Konseptual Cultural Studies (Yogyakarta: Qalam
2003) 128-132.
24 Berbeda dengan Freud, Lacan memisahkan konsep penis dengan Phallus. Dalam pandangan Lacan, phallus merujuk pada kepenuhan dan merupakan penanda keutuhan yang tidak
Bagi Lacan, hasrat untuk keutuhan, kerinduan akan kesatuan, dan keinginginan untuk pengintegrasian itu adalah wajar dirasakan oleh subyek. Perlu dipahami bahwa, segalanya tidak akan pernah mungkin kembali. Pemikiran yang cenderung memberikan idealisasi masa lampau akan kembali
lagi, membuat keterjebakan ontologis yang cenderung romantisme masa lalu.25
Agar tidak terjebak dalam oposisi biner antara masa lalu dan sekarang, Lacan menggunakan posisi antara (periferi). Untuk menciptakan posisi antara, lacan menggunakan teori simbolic order. Dengan memberikan simbol penyatuan seperti ini lacan hendak memberikan identitas kebudayaan yang senantiasa memiliki hasrat penyatuan.
Bagi Lacan, setiap subyek senantiasa mengisi kekosongan dan jeda oposisi biner yang terjadi antara subyek dan obyek (others) akan melahirkan desire.26 Pemenuhan kebutuhan ini menggunakan mekanisme bahasa, yaitu
dengan displacement melalui metonimia condensation melalui metafora yang
tidak pernah bisa dipenuhi. Bahasa bekerja dalam wilayah simbol yang secara paradigmatik akan mengisi kekosongan itu. Anak yang sudah mulai memasuki
kemampuan bahasa akan memiliki ketergantungan terhadap bahasa dalam
dimiliki oleh manusia. Lihat dalam Sarup, Madan, 1993. An Introductory Guide to Post- Strukturalism and Post Modern, Athens, Georgia, (The University of Georgia Press) Terj. Aginta, Hidayat Aginta, Post-Strukturalisme dan Post-Modernisme, Sebuah Pengantar Kritis (Yogyakarta: Jendela, 2004) hal. 17 -22.
25 Ibid. hal. 38.
26 Untuk mengetahui wacana tentang hasrat lihat esainya Edhenk, Postmodern dan
Pembebasan Hasrat, Majalah Inovasi. UIN Malang Edisi 22 Th. 2005. (Malang: Inovasi, 2005) hal. 57–58. Bandingkan dengan Agustinus Hartono, Deluze, Guatari dan Skizoanalisis: Sebuah Pengantar Genealogi Hasrat. (Yogyakarta: Jalasutra 2007) hal. 13-40.
mengenali subyek. Dengan demikian simbol menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh subyek.27
Andrew Michener dan John Delamater, (1999) melihat bahwa struktur sosial28 memiliki peranan yang signifikan terhadap pembentukan identitas.
There are three ways in wich social structure influences a person’s life. First, every person ucopies one or more position in the social structure (role). Second, influence from the individual is social network, the set of relationships asosiated with the various position a person ucopies. A third way that social stucrure influences the individual trough status, the social ranking of a person’s position. Impact of social structure on four area: achivement value, mental health and person’s
belonging.29
Subyek (self) tidak lagi memberikan identifikasi pada dirinya sebagai sesuatu yang riil adanya. Dia akan senantiasa melihat sisi lain diluar dirinya untuk dijadikan cerminan dirinya. Dengan cara demikianlah subyek berhasil untuk mengidentifikasikan dirinya. Sebenarnya Jaques lacan hendak memberikan pemahaman bahwa, subyek terbentuk dari berbagai diskursif yang berada di luar diri. Karena diskursif yang berada di sekelilingnya senantiasa membentuknya, maka subyek tidak lagi sadar kalau dia dibentuk dari kondisi sosialnya.
Subyek bukanlah suatu kesadaran yang bebas yang terlepas dari kontruksi di sekelilingnya. Subyek adalah kontruksi bahasa, politik, dan
budaya. Subyek hanya bisa dimengerti dengan cara mencermati cara-cara
27 Lechte, John. Fifty Key Contemporary Thinkers, Routledge and New York. Terj. Gunawan, A Admiranto, 2001 50 Filsuf Kontemporer dari Strukturalisme Sampai Poststrukturalisme. (Yogyakarta: Kanisius, 1994) Hal. 68.
28 Dalam pandangan Claude Levi Strauss struktur sosial tidak hanya berbicara tentang
struktur masyarakat (organisasi masyarakat). Struktur sosial lebih dimaknai sebagai aspek-aspek formal yang berada dalam fenomena sosial. Bahasa, sistem kekerabatan dan mitologi juga merupakan struktur yang bisa diurai keberadaanya. Untuk mengetahui pengertian struktur sosial lihat dalam Strauss, Antropologie Strukturale, PLON 1958. terj. Ninik Rohani Sjams. Antropologi Struktural (Yogyakarta: Kreasi Wacana 2005) hal. 375-425.
29 Michener, Andrew dan Delamater, John. Social Psychology. Fourth Edition. (USA:
Harcourt Brace College Publishers, 1999) p. 440-441.
manusia dan kejadian-kejadian menyusun dan menuangkannya dalam sebuah narasi. Dalam perkembanganya, individu menjadi subyek yang terbelah identitasnya. Identitas tidak lagi diciptakan dari ego seseorang, melainkan super ego yang mendesain identitas diri.30
Arabiyatuna Arabiyatuna
