Aspek–aspek kecemasan berbicara di muka umum
Burgoon dan Ruffner (1978) menyebutkan ada 3 aspek yang mempengruhi kecemasan berbicara di muka umum yaitu keengganan (unwillingness), tanpa ganjaran (unrewarding) dan tidak terkendali (uncontrol).
a. Keengganan adalah ketiadaan minat individu melakukan berbicara di muka,
sehingga ada usaha untuk menghindar bila melakukan kegiatan tersebut.
b. Tanpa ganjaran adalah tidak adanya penghargaan atau peningkatan hukuman atas komunikasi yang pernah dilakukan individu. Pengalaman tersebut menjadikan individu mengalami kecemasan bila dikemudian hari berbicara di muka umum lagi.
c. Tidak terkendali adalah ketidakmampuan individu melakukan kontrol terhadap situasi, peralatan, dan tempat komunikasi, sehingga menyebabkan kecemasan.
Aspek kognitif dan perilaku (behavioral) menurut Harjana (2003) dapat menjadi sumber kecemasan berbicara di muka umum. Aspek kognitif merupakan kecakapan pada tingkat pemahaman yang meliputi;
a. empati adalah pengetahuan memahami perasaan orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut,
b. perspektif sosial adalah pengetahuan tentang karakteristik sosial dari pendengarnya, sehingga pembicara dapat menyesuaikan gaya dan materi pembicaraan.
c. kepekaan sosial adalah pengetahuan tentang reaksi dari pendengar untuk dapat mengetahui respon terhadap materi pembicaraanya. Apakah pendengar sudah bosan atau masih tertarik untuk mendengarkan pembicaraannya?
d. pengetahuan konteks berbicara adalah pemahaman tentang situasi dan kondisi pada waktu berbicara di muka umum. Misal, gaya bicara pada saat rapat akan beerbeda pada saat seminar.
e. self monitoring adalah pegetahuan dalam menjaga dan memelihara penampilan selama berbicara di muka umum. Misal, apakah pilihan kata sesuai dengan tradisi para pendengar, apakah intonasi berbicara tidak terlalu kuat atau lemah ?
Aspek perilaku (behavioral) merupakan kecakapan dalam bertindak untuk
berbicara di muka umum yang meliputi ;
a. keterlibatan interaktif (interactive involment ) adalah kemampuan perilaku untuk melibatkan pendengar dapat ikut aktif dalam proses pembicaraan,
b. manajeman interaksi (interaction management ) merupakan kemampuan perilaku untuk mengatur interaksi antara pembicara dengan pendengar maupun diantara para pendengar,
c. keluwesan perilaku (behavioral flexibility) merupakan kemampuan perilaku untuk menyesuaikan tindakan sesuai denga n dinamika pada waktu berbicara di muka umum,
d. mendengarkan (listening) adalah kemampuan dalam mendengarkan respon dari
pendengar baik yang bersifat bahasa verbal maupun nonverbal,
e. gaya sosial (social style) adalah kemampuan perilaku sesuai dengan karakteristik dan kemampuan dari pendengar, sehingga pembicara mampu menjalin komunikasi dengan lebih intensif.
Berbicara di muka umum memerlukan pula kemampuan menciptakan hubungan yang bersifat transaksional dan sederajat. Cahyana dan Suyanto (1996) menjelaskan aspek-aspek yang diperlukan supaya tidak mengalami kecemasan berbicara di muka umum, adalah :
a. kemampuan menciptakan hubungan yang sederajat dan transaksional. Pembicara perlu memiliki ketrampilan dan kemampuan untuk menciptakan hubungan yang sederajat dengan pendengarnya, sehingga tidak ada pihak yang merasa lebih superior atau inferior. Selain itu, pembicara perlu memiliki ketrampilan untuk dapat menciptakan kesempatan untuk pendengarnya menjadi penerima dan pengirim pesan. Situasi ini akan melahirkan proses komunikasi yang interaktif dan tidak monoton.
b. kemampuan penyesuaian diri diperlukan karena situasi dan kondisi yang dihadapi
pembicara akan selalu berubah dan berbeda dari aspek waktu, tempat, dan karakteristik pendengar.
c. kemampuan menciptakan tujuan secara jelas supaya mudah dipahami oleh para pendengar.
Tubbs dan Moss (2001)menjelaskan bahwa kredibilitas merupakan salah satu
aspek dalam berbicara di muka umum. Orang dengan tingkat kredibilitas tinggi akan mengalami tingkat kecemasan yang rendah pada waktu berbicara di muka umum.
Kredibilitas merupakan kesediaan orang untuk mempercayai sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain. Lebih lanjut Tubbs dan Moss (2001) menjelaskan dua jenis kredibilitas, yaitu :
a. kredibilitas ekstrinsik adalah kepercayaan yang diperoleh pembicara sebelum menyampaikan pesan kepada orang lain. Misal, Megawati dipercaya untuk berbicara tentang nasionalisme karena ia anak dari Bung Karno.
b. kredibilitas intrinsik adalah kepercayaan yang diciptakan pembicara sebagai hasil langsung dari pidatonya. Misal, pembicara yang banyak menggunakan lelucon akan disebut sebagai humoris.
Berdasar penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kecemasan berbicara di
muka umum dipengaruhi oleh faktor afeksi, kognisi dan behavioral (perilaku). Satu faktor atau lebih dapat mengakibatkan kecemasan berbicara di muka umum.
Pendekatan Burgoon dan Ruffner (1978) menjadi dasar dalam penulisan ini. Walaupun pendekatan Burgoon dan Ruffner dapat dikategorikan cukup tua, tetapi masih memadai untuk menjelaskan kondisi subyek penelitian di dalam konteks Yogyakarta. Alasan yang lain adalah ;
a. faktor afeksi (keengganan dan tanpa kontrol) dalam pendekatan ini cukup dominan yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia termasuk juga subyek penelitian,
b. aspek tanpa ganjaran menjelaskan faktor afeksi (senang atau sedih menerima
ganjaran, faktor kognitif (kemampuan berpikir dalam berbicara di muka umum
mendapat pengakuan atau tidak mendapat pengakuan), faktor perilaku
(penampilan berbicara di muka umum disukai atau tidak disukai orang lain).
Arabiyatuna Arabiyatuna
