Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan berbicara di muka umum

Faktorfaktor yang mempengaruhi kecemasan berbicara di muka umum

 

Pengalaman masa lalu individu dapat menjadi sumber kecemasan sewaktu berbicara  di  muka  umum.  Adler  dan  Rodman  (1991)  menyebutkan  dua  faktor penyebab kecemasan   berbicara di muka umum, yaitu pengalaman   negatif di masa lalu dan pikiran tidak rasional.

a. Pengalaman negatif masa lalu pada saat berbicara di muka umum dapat memunculkan kecemasan  kembali, jika individu harus melakukan hal yang sama di kemudian hari.  Misal, sering diejek jika berbicara di muka kelas oleh guru dan teman-temannya merupakan pengalaman yang dapat menjadikan kecemasan berbicara di muka umum

b.   Pikiran  tidak  rasional.  Kecemasan     berbicara  di  muka  umum  muncul  bukan karena peristiwa tersebut yang menjadikan cemas, melainkan kepercayaan dan keyakinan diri yang menjadi sumber kecemasan. Ellis (dalam Adler dan Rodman,

1991) mengidentifikasi pikiran tidak rasional sebagai buah pikiran yang keliru, yaitu kegagalan katastropik, kesempurnaan, persetujuan dan generalisasi tidak tepat. 1) Kegagalan katastropik berawal dari praduga terhadap situasi buruk yang akan mengancam dirinya, sehingga mengakibatkan kecemasan dan perasaan tidak mampu, 2) Kesempurnaan menjadi tujuan individu berpotensi melahirkan kecemasan, jika yang bersangkutan tidak mampu mewujudkan tujuan tersebut, 3)

 

 

 

 

 

Persetujuan adalah   keyakinan individu untuk selalu mendapat persetujuan dari seluruh pendengar. 4) Generalisasi yang tidak tepat atau generalisasi berlebihan, yaitu pengambilan kesimpulan yang tidak berdasarkan fakta-fakta obyektif dan hanya menekankan pada pengalaman subyektif.

Kecemasan berbicara   di muka umum dapat terjadi karena individu memiliki

 

perasaan negatif, sehingga    komunikasi yang dilakukan    memberikan hasil negatif pula.  Devito  (1995)  menjelaskan  secara  rinci  faktor- faktor  penyebab  kecemasan berbicara di muka umum, yaitu :

a.   Keterbatasan keahlian dan pengalaman. Individu dengan pengalaman, keahlian dan ketrampilan terbatas akan mudah mengalami kecemasan   berbicara di muka umum.

b.   Tingkat evaluasi. Individu yang sedang berada dalam evaluasi pada saat berbicara di muka umum akan sangat mudah mengalami kecemasan, seperti pada waktu wawancara masuk kerja, ujian lisan di sekolah atau wawancara dengan hakim di ruang sidang pengadilan.

c.   Status lebih rendah. Pembicara mudah mengalami kecemasan jika mengetahui individu yang diajak bicara memiliki status lebih tinggi dari padanya. Misal, seorang siswa SD berbicara di hadapan para menteri.

d.   Menjadi pusat perhatian. Individu semakin menjadi pusat perhatian banyak orang akan semakin besar kemungkinan mengalami kecemasan. Berbicara di hadapan banyak orang akan semakin besar peluang mengalami kecemasan, bila dibandingkan berbicara di dalam kelompok kecil.

 

 

 

 

 

e.   Tingkat kemungkinan terprediksi situasi. Situasi semakin sulit diprediksi   maka semakin besar kemungkinan untuk mengalami kecemasan                              berbicara di muka umum.

f.    Tingkat perbedaan. Semakin tinggi tingkat perbedaan antara pembicara dengan pendengar, maka semakin besar peluang untuk merasakan  kecemasan  berbicara di muka umum.

g.   Pengalaman  sukses  atau  gagal  pada  masa  lalu.  Kesuksesan  atau  kegagalan berbicara di muka umum  pada masa lalu, akan mempengaruhi tingkat kecemasan berbicara di muka umum pada masa kemudian.

Individu dengan konsep diri yang tinggi akan semakin berkurang mengalami

 

kecemasan  berbicara di muka umum. Hasil penelitian Mitchell (dalam Burns,1979) menyebutkan    bahwa                         konsep  diri         merupakan            faktor   yang   mampu    mengatasi kecemasan  berbicara di muka umum.

Dalam   penelitian    ini    faktor   yang   dianggap    mempengaruhi    kecemasan berbicara di muka umum adalah konsep dari Adler dan Rodman (1991).

Kemudian penulis memilih efikasi diri dan konsep diri sebagai variabel yang dapat menurunkan kecemasan berbicara di muka umum. Penulis berpendapat bahwa kedua variabel tersebut memiliki pengaruh signifikan dalam perilaku individu, khususnya dalam berbicara di muka umum. Karena individu dengan tingkat efikasi diri dan konsep diri yang tinggi akan mampu menyelesaikan tugas dan tujuan yang telah  ditetapkan,  termasuk  pula  tugas  untuk  berbicara  di  muka  umum.  Dengan

 

 

 

 

 

demikian,  individu  dengan  tingkat  efikasi  diri  dan  konsep  diri  yang  tinggi  akan mengalami kecemasan berbicara di muka umum lebih rendah.

Efikasi diri dan konsep diri merupakan bagian dari diri (self) yang dapat dilihat dalam  perspektif afeksi, kognisi dan perilaku (Brehm & Kasin, 1993). Komponen kognitif dari sikap adalah penilaian individu tentang diri sendiri dan mengembangkan perilaku. Komponen perilaku dari self adalah tindakan individu dalam menyelesaikan tugas  sesuai  dengan  tuntutan  lingkungan  yang  berkaitan  dengan  efikasi  diri. Pemilihan kedua variabel tersebut, karena konsep diri merupakan komponen dari aspek kognitif dan efikasi diri  menjadi komponen dari aspek perilaku. Artinya, kedua variabel lebih representatif dalam melihat penampilan individu pada saat berbicara di muka umum.

Bandura (1986) mengungkapkan bahwa perilaku individu dapat diprediksikan berdasarkan pada keyakinan seseorang tentang kemampuannya. Berdasar pada keyakinan  tersebut      individu  dapat  menentukan  perilaku  dalam  menggunakan pengetahuan  dan  ketrampilan untuk  menyelesaikan  tugas-tugasnya. Lebih lanjut Bandura dan Schunk (1981) menyatakan bahwa keyakinan yang kuat tentang kemampuan diri sendiri akan menentukan tingkat usahanya di dalam menghadapi situasi yang kabur, penuh dengan tekanan dan tidak terduga.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *