Dimensi-dimensi komitmen organisasi.
Allan dan Meyer (1990) dan Meyer et al., (1989) mengajukan tiga bentuk komitmen organisasi yang terdiri atas:
1. Komitmen afektif, yaitu keikatan emosional, identifikasi dan
keterlibatan dalam suatu organisasi. Individu menetap dalam suatu organisasi karena keinginan sendiri.
2. Komitmen kontinuans, yaitu komitmen individu yang didasarkan pada pertimbangan tentang apa yang harus dikorbankan bila akan meninggalkan organisasi. Individu memutuskan menetap pada suatu organisasi karena menganggapnya sebagai suatu pemenuhan kebutuhan.
3. Komitmen normatif, yaitu keyakinan individu tentang tanggung jawab terhadap organisasi. Individu tetap tinggal pada suatu organisasi karena merasa wajib untuk loyal pada organisasi tersebut.
Komitmen organisasi merupakan instrumen peramal yang tepat untuk melihat perpindahan kerja dan instrumen yang lebih baik dibandingkan dengan kepuasan kerja karena dengan berjalannya waktu dan menyadari keterkaitannya dengan organisasi maka tingkat rasa tanggung jawab dan rasa memiliki dari pekerja akan semakin tinggi.
Komitmen organisasi juga merupakan peramal lebih baik karena merupakan respon yang lebih global dan bertahan terhadap organisasi sebagai suatu keseluruhan daripada kepuasan kerja.
Steers dan Salancik (1991) walaupun tidak secara tegas mengatakan bahwa komitmen berpengaruh terhadap kepuasan kerja, namun dalam situasi hubungan pekerja dan organisasi yang begitu kompleks beberapa aspek kepuasan kerja dapat dipenuhi melalui manifestasi komitmen terhadap organisasi. Model hubungan sebab akibat komitmen organisasi yang bersifat lingkaran umpan balik, pada situasi tertentu dapat menjelaskan hubungan antara komitmen organisasi dan kepuasan kerja.
Penelitian ini memilih dimensi-dimensi komitmen organisasi
dari Allan dan Meyer (1990) yang meliputi aspek afektif, aspek kontinuans, serta aspek normatif sebagai alat ukur dengan anggapan model tersebut menampilkan secara jelas komitmen organisasi itu sendiri.
Arabiyatuna Arabiyatuna
