Hubungan antara Tipe Kepribadian Extrovert dan Introvert
Menurut Eysenck (dalam Eysenck & Wilson, 1976) hubungan antara tipe kepribadian extrovert dan introvert merupakan suatu dimensi yang bergerak dari satu ujung ke ujung lain pada suatu kontinum. Kecenderungan tipe kepribadian extrovert dan introvert tersebut bekerja saling melengkapi satu sama lain yang berorientasi pada keseimbangan jiwa individu. Kedua tipe ini merupakan penggolongan tipe yang menunjukkan sifat baik dan buruk, karena masing- masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Eysenck (dalam Eysenck & Wilson, 1976) menyatakan bahwa setiap orang tidak dapat langsung dipilah/digolongkan sebagai orang extrovert atau orang introvert, sebab pada kenyataannya mayoritas orang ada pada distribusi normal, dalam arti tidak ada orang yang ekstrim pada ujung extrovert dan pada ujung intorvert. Orang yang berada pada pusat distribusi normal disebut orang yang mempunyai tipe kepribadian ambivert.
Menurut Feist & Feist (1998) pada masing- masing perannya, baik individu dengan tipe kepribadian extrovert maupun introvert merupakan hubungan yang saling mengisi satu dengan yang lain. Bila pada individu yang memiliki kecenderungan sikap extrovert lebih dominan, maka pada dasarnya sisi introvert suatu saat muncul di bawah alam kesadaran, begitu juga sebaliknya individu yang dalam perilaku sadarnya bagian dominan sikap intorvert , maka ada saat-saat tertentu dimana sikap extrovertnya muncul tanpa ia sadari. Jadi, tidak ada satupun individu yang memiliki sisi extrovert secara keseluruhan, sehingga sisi introvert pasti ada walau hanya sedikit dan sebaliknya. Dengan demikian bila semakin besar orientasi extrovert seseorang, semakin kecil orientasi introvert dan sebaliknya.
Arabiyatuna Arabiyatuna
