Evaluasi Kultural terhadap Terapi Tawa
Di Indonesia terapi Tawa ini belum dikenal masyarakat secara luas, dan baru dikenal sebagian orang. Meskipun di Indonesia materi atau kultur tentang humor ini sangatlah melimpah. Terapi Tawa telah dikenalkan kepada masyarakat melalui klub-klub tawa di beberapa rumah sakit, kelompok-kelompok masyarakat dan kantor-kantor. Terapi Tawa pertama kali diperkenalkan untuk membantu para pasien mempercepat kesembuhan penyakitnya pada akhit tahun 1990, tepatnya di Rumah Sakit Dharma Graha. Di Indonesia dua tokoh terapi tawa yang sangat terkenal adalah Armand Archisaputra dan Paul Toar (Simanungkalit & Pasaribu, 2007: 22).
Terapi tawa di Indoensia bukan hanya di kenal di Jakarta saja, tetapi sudah merambah ke kota-kota besar lainnya, seperti Bandung dan Cirebon. Bahkan Armand bekerja sama dengan Dr. Yul Iskandar Ph. D yang merupakan pimpinan Rumah Sakit Dharma Graha telah melatih 400 lebih pemandu terapi tawa.
Terapi yang dilakukan di Rumah Sakit Dharma Graha lebih banyak diikuti oleh pasien yang ketergantungan obat serta orangtua yang stres. Orang tua yang stres tersebut sedang mengantar anaknya berobat ke Rumah Sakit Dharma Graha, Serpong akibat ketergantungan obat.
Terapi tawa yang diperkenalkan Armand di Rumah Sakit Dharma Graha juga dipadukan dengan senam otak. Misalnya dengan melakukan autosugesti untuk mempompa semangat si pasien dengan mengatakan ”Suri euy, bisa” yang berarti ”tawa, bisa”. Pada saat mengucapkan kata tersebut sebanyak tiga kali, tangan kiri dikepal. Contoh tersebut merupakan pola crossing pada terapi otak, sebab tertawa datang dari otak sebelah kanan, maka untuk menciptakan tawa, tangan sebelah kiri harus diaktifkan dengan maksud meminta perintah dari otak sebelah kanan.
Terapi tawa dilakukan di Klub Armand selama satu jam. Setiap satu program diharapkan si pasien dapat tertawa satu menit. Tertawa satu menit dalam arti tertawa lepas akan mengeluarkan keringat banyak. Tertawa satu menit sama dengan mengayun sepeda selama 10 menit.
Sedangkan kenyataannya dalam konteks perawatan gangguan mental atau kesehatan, sejumlah dokter masih merasa enggan untuk melaksanakan terapi senyum –mungkin karena terapi ini seperti tidak ilmiah, tidak membutuhkan pelatihan bertahun-tahun, dan tanpa biaya. Ia terdengar terlalu gampang dan biasa, sehingga dianggap tidak efektif. Kebanyakan perawatan menggunakan obat dimasa sekarang diberikan kepada pasien untuk menghentikan proses-proses tubuh mereka. Obat-obat antidepresan misalnya dan banyak obat penenang lainnya yang diberikan pada pasien dalam rumah sakit-rumah sakit jiwa malah membuat mereka semakin depresi; karena obat-obatan tersebut hanya berfungsi untuk memotong sinyal tertentu yang menuju ke otak. Pasien seperti zombie, tapi tidak sembuh.
Arabiyatuna Arabiyatuna
