Realisme sosialis, meskipun berkecimpung dalam bidang sastra, ataupun kesenian semisal lukis, teater, ketoprak, dan masih banyak lagi. Tapi realisme sosialis selalu berangkat dari esensi masalah yang dihadapi masyarakat sekitarnya. Seniman yang mampu merefleksikan ensensi realitas, sehingga seni tidak akan pernah tercerabut dari permasalahan yang ada pada masyarakatnya.
Seni yang indah menurut Georg Lukacs, seorang tokoh realisme sosialis berasal dari Uni Soviet, mengungkapkan kebenaran realitas. Kebenaran dalam konsepsi Lukacs adalah jika realitas dipahami dalam totalitasnya. Pemahaman akan realitas total hanya terjadi jika seniman mampu memahami gerak dialektik dari realitas. Memahami adalah mengerti dengan melibatkan seluruh kesadaran diri.[1]
Hal ini yang dilakukan oleh Lekra, mereka mengirim para anggotnya ke tempat-tempat penting di desa-desa kaum tani dan ke kampung-kampung kaum buruh. Salah seorang tokoh PKI Njoto SOBSI atau lengkapnya atas nama kaum buruh dengan semua serikat buruh anggotanya, setelah melukiskan perjuangan kaum buruh juga dalam melawan kesulitan hidup agar tiada punah
Alangkah baiknya, jika keteguhan tekad kaum buruh ini dibacakan melalui karya-karya seni sastra, sehingga kaum buruh dapat lebih satu hati dan satu pikiran dalam perjuangan menghapuskan kepincangan sosial[2].
Selanjutnya:
Kami menyatakan terimakasih atas ungkapan-ungkapan yang telah dilakukan oleh sastrawan dalam bentuk sajak-sajak, cerita-cerita pendek, karikatur-karikatur dan sebagainya terhadap semua keunggulan perjuangan rakyat Indonesia yang heroik dan demokratis. Semua ini menambah keyakinan massa rakyat kearah kemenangan rakyat, pekerja. Alangkah baiknya, jika melalui karya-karya seni dan sastra dapat dibeberkan kenyataan-kenyataan sejarah yang objektif tentang kaum buruh yang lahirnya tampak kasar dan kotor, tapi isi batinnya, gelora hatinya, dan irama hidupnya adalah suci dan mulia, karena dalam otak kaum buruh tidak pernah terselip cita-cita untuk menggendutkan perutnya sendiri dengan memeras keringat orang lain. Yang dicita-citakan oleh kaum buruh adalah masyarakat baru yang menjamin semaksimal-maksimalnya kebutuhan-kebutuhan materiil dan kulturil, bagi semua orang yang bekerja[3].
Dari kutipan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa antara seni dan realitas itu sangat berhubungan erat. Sehingga jika seorang seniman ataupun sastrawan ingin memotret tentang keadaan para buruh dan juga petani maka mereka diharapkan turun langsung ke lapangan. Agar mereka para seniman tersebut dapat merasakan apa yang dialami oleh para petani dan juga para buruh. Sehingga para seniman dapat menggambarkan dengan pasti, dan juga detail setiap peristiwa yang dialami oleh buruh dan petani tersebut. Sebagai mana pidato Njoto:
“Kami mengundang para seniman dan sastrawan yang cinta rakyat, baik yang tergabung ataupun yang tidak tergabung dalam Lekra untuk menyempatkan diri turun kebawah, bicara dan berunding langsung dengan kaum buruh dan para aktivisnya[4]”.
Seniman dalam realis sosialis harus juga turut merasakan, pahit dan getirnya, kalah dan menangnya. Karena dalam kehendak masyarakat itulah terletak yang adil dan benar, karena masyarakat buruh dan juga petani adalah masyarakat yang paling merasakan dampak kesenjangan ekonomi. Dalam artian penindasan yang dilakukan oleh para borjuis, entah itu berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak, ataupun minimnya gaji yang diterima. Sedangkan bagi petani, harga gabah yang terus turun ataupun pengambilan atas tanah garapan mereka.
Tugas realisme sosialis juga memberikan dorongan pada rakyat yang masih pasif, sugestif untuk lebih berani memenangkan keadilan merata, untuk maju, untuk melawan dan menentang penindasan dan penghisapan serta penjajahan nasional maupun internasional, bukan saja berdasarkan ilmu dan pengetahuan, terutama memberanikan rakyat untuk melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri.
Karena dalam penghisapan kapitalisme, rakyat kurang cukup medapatkan dukungan apalagi melakukan orientasi bagi sejarahnya sendiri. Pemberanian-pemberanian semacam ini sama halnya dengan penggalangan moral atau spiritual, karena tanpa kekuatan spiritual tidak ada perjuangan itu bisa kuat.
Salah satu contoh dari militansi realisme sosialis dapat diketengahkan disini sepenggal tulisan Mas Marco Kartodikromo seorang jurnalis dan yang menciptakan slogan Sama Rata Sama Rasa dalam membela klas buruh:
“ Penghisapan yang begini macam kasta buruh haruslah dibantah dengan sekeras-kerasnya”
“Tidak usah kita ambil contoh busuk, tetapi sekarang saja cukup. Siapakah yang menjalankan mesin-mesin? Siapakah yang pergi kesana-kemari untuk mengatur perdagangan dan lain-lain? Siapakah yang menggalang rumah besar-besar dan gedung-gedung yang indah-indah itu?
“Sudah tentu buruh! Si modal tinggal menghisap cerutu saja”.
“Siapakah yang menjadi soldadu?
“Sudah tentu buruh!
“Padahal militerisme bukan kecil artinya dalam dunia kemodalan. Jadi dalam ini perkara artinya buruhlah yang menjalankan praktik untuk mengatur negeri. Majikan tinggal perintah-perintah saja sambil menunggu datangnya laba”.
“Umumlah memang bahwa buruh tak dapat mencapai pengetahuan yang tinggi-tinggi, sebab dalam jamannya kemodalan, pengetahuan itu dijual dengan harga yang setinggi-tingginya. Karena buruh itu miskin, tidak heran kalau mereka pada masa ini tinggal bodoh.”
“Padahal pengetahuan-pengetahuan yang bisa membikin kemajuan manusia itu tidak harus dijual sebagai barang dagangan, tetapi harus diberikan bagi kesejahteraan negeri. Lagi pula semua pelajaran itu sekarang terisi dengan racun kemodalan yang bisa menyempitkan angan-angan buruh”.
“Dan jikalau buruh yang mulai dulu sampai sekarang itu yang menjalankan sekalian yang perlu buat pergaulan hidup, apakah buruh tak bisa mengatur ketentraman dengan peraturan yang dirembug dengan teman sejawatnya sendiri?”[5]
Sebagai salah satu aliran seni yang berlandaskan pada sosialis, maka tidak heran jika yang menjadi landasan utama atau tinjauan utama adalah masalah ekonomi. Di dalam “ Kata Pengantar ” buku Zur Kritik der Politischen Okonomie (1859), Karl Marx jelas-jelas mengungkapkan bagaimana Karl Marx melihat hubungan antara basis ekonomi dan superstruktur atau struktur atas (termasuk sastra):
Cara memproduksi kehidupan yang bersifat materi menentukan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, melainkan sebaliknya, keadaan sosiallah yang menentukan kesadarannya. Pada tahap perkembangan tertentu, kekuatan produksi material dalam masyarakat berbenturan dengan hubungan produksi yang ada, atau secara resmi, hubungan milik tempat mereka bekerja. Karena situasi perkembangan kekuatan produksi material dalam masyarakat berbenturan dengan hubungan produksi yang ada, atau secara resmi, hubungan milik tempat mereka bekerja. Karena situasi perkembangan kekuatan produksi. Hubungan kepemilikan ini menjadi belenggu bagi mereka. Kemudian, mulailah periode revolusi social. Dengan perubahan yang terjadi pada basis ekonomi, semua struktur atas tersebut cepat atau lambat dirombak.[6]
Memang akan sulit untuk menemukan teori estetika Karl Marx (misalnya dalam bidang sastra), mengingat Karl Marx tidak pernah mengeluarkan rumusan-rumusan baku mengenai hal tersebut. Estetika Karl Marx sebagian besar merupakan tafsiran-tafsiran atas terori matrealisme histories yang menempatkan prinsip-prinsip dealiktika materialis menjadi studi kehidupan dan studi perkembangan social.
Karena hal tersebut, maka aliran realisme sosialis lebih banyak berkecimpung dalam seni yang melawan sistem kapitalis. Dalam artian di sini bagai mana seorang realisme sosialis mampu membawa penyadaran terhadap penindasan yang terjadi, dan membakar semangat kaum tertindas, seperti buruh dan petani untuk melawan.
Realisme sosialis memandang, bahwa tugas seorang seniman bukan hanya memberikan penghiburan semata. Karena itu realisme sosialis sangat tidak setuju dengan istilah “seni untuk seni”. Sebab menurut mereka, istilah tersebut adalah ulah para reaksioner yang lari dari tanggung jawab[7]. Seni justru hadir untuk perjuangan masyarakat yang tertindas di dalam masyarakat kapitalis, bukan malah melarikan diri. Dalam pandangan seperti itulah realisme sosialis lahir.
Realisme sosialis sebagai mana sosialis juga memandang para borjuis dan kapitalis sebagai musuh utama. Kapitalisme tidak saja membuat pertentangan kelas yang makin melebar antara pemilik modal dan buruh, namun juga memalsukan kesadaran manusia, hingga menilai kehidupan melulu dalam ukuran materi. Tak bisa disangkal bahwa dalam masyarakat kapitalis, seni pun telah direduksi sedemikian rupa, hingga hanya menjadi komoditas. Seni diperjual belikan, dan keindahan diukur dengan uang. Kritik-kritik seni dibangun sebatas kepentingan modal[8].
Menurut Lukacs, kapitalisme telah mengubah kesadaran manusia menjadi kesadaran palsu yang menjauhkan manusia dari eksistensinya yang bebas, dan sebaliknya mendekatkan manusia pada karakter materi yang hanya mempunyai nilai fungsional. Realisme sosialis datang sebagai upaya manusia untuk bebas dari keterasingan yang lahir dari kesadaran palsu, dan kemudian menghantarnya menuju suatu pemenuhan diri sebagai manusia utuh.[9]
Sebagaimana yang telah tercantum di atas, bahwa misi dari realisme sosialis adalah untuk membangun kesadaran bagi masyarakat yang tertindas, tapi mereka memakai media kesenian. Hal tersebut diperlukan untuk memudahkan media penyampaian ajaran Marxis, bagi masyarakat petani, buruh dan kelas proletar lainnya. Inilah tugas berat yang harus selalu diemban oleh para realisme sosialis.
Seperti yang telah dilakukan oleh Mas Marco Kartodikromo, seorang wartawan yang kelak juga pelopor komitmen sosial dalam sastra sebagai mana di catat oleh Pram. Mas marco Kartodikromo jugalah yang antara lain mempopulerkan semboyan “Sama Rata Sama Rasa” dalam sebuah artikel yang dirasakan Belanda sangat tajam, yang membuatnya dijebloskan kedalam penjara. Yang akhirnya dapat membuat radikalisasi gerakan semakin memuncak, berhubungan dengan tindakan pemerintah Hindia Belanda yang semakin represif. Dengan melakukan pengusiran terhadap sejumlah tokoh yang dianggapnya radikal seperti Mas Marco Kartodikromo, Semoen dan lain sebagainya.
Tujuan realisme sosialis dalam realitas yang ada adalah 1) Untuk apa dan mengapa ia menulis? (2) Benar tidakkah materi penulisan, dan bagai mana perkembangan dengan materi-materi tersebut sesuai dengan arah yang dikehendaki untuk menguntungkan sosialisme, untuk memenangkan keadilan sosial bagi semua dan setiap orang? Karena semua dan setiap orang membutuhkanya.[10]
Realiatas harus mampu dihadirkan oleh karya seni realisme sosialis. Realitas sekarang dialami rakyat, dan realitas masalah yang pernah terjadi, tidak hanya dibiarkan berlalu begitu saja. Masyarakat harus sadar bahwa masa sekarang merupakan pusat gerak sejarah di masa depan. Strategi perjuangan pembebasan rakyat tidak akan berhasil tanpa memahami realitas-realitas tersebut. Di sini ada kesatuan antara kesadaran seniman realisme sosialis yang membeberkan realitas dalam karya-karyanya, dengan kesadaran masyarakat yang tengah menggerakkan perjuangan pembebasan.
Dalam hal ini, posisi sastra realisme sosialis selamanya sebagai sastra perlawanan. Jika suatu realitas sudah tidak lagi memenuhi tuntutan zaman, maka bukan saja harus dirombak dan diubah, tetapi juga harus diberi realitas-realitas baru sebagai jawaban atas tantangan zaman tersebut. Memang dalam parkteknya, mengubah dan merombak realitas yang telah ada, kemudian menciptakan realitas baru, tidak selamanya sesuai dengan direncanakan. Bahkan adakalanya keliru. Akan tetapi, satu hal harus tetap dipegang, yakni prinsip untuk memenangkan proletar[11].
Realisme sosialis adalah salah satu alat perjuangan sosialis, mereka harus melihat segala permasalah yang ada dengan sifat kritis dan juga revolusioner. Maka ketika melihat petani yang tertindas ataupun buruh, ada tanggung jawab yang di pikul para sastrawan atauapun seniman realisme sosialis untuk mengajak mereka mereka merubah hal tersebut. Karena dalam pandangan realisme sosialis, tidak ada penindasan yang lahir begitu saja. Semua hal pasti ada sebabnya, untuk itu bagaimana membangun kesadaran bersama melawan penindasan tersebut. Sehingga terciptalah keadilan yang merata diatas bumi.
Karena dalam pandangan para realisme sosialis termasuk Pram, realitas adalah sebuah objek kajian yang harus diperjuangkan, seperti ketika ada seorang petani yang terampas tanahnya. Dalam pandangan Pram, hal tersebut bukanlah suatu kebetulan atau takdir semata, ada yang membuat hal tersebut terjadi. Sebagai mana pemahaman orang sosialis, bahwa petani yang terampas haknya tersebut karena pemilik modal yang ingin mengambil tanah petani tersebut. Maka petani tersebut harus memperjuangkan tanah yang digarapnya, sebab seorang petani jika tidak memiliki tanah maka dia bukanlah lagi seorang petani.
Pemahaman tersebut juga berlaku, untuk buruh atau manusia yang tertindas lainnya. Buruh adalah orang yang berada paling bawah dalam struktur ekonomi, yang paling atas adalah pemilik modal. Dan pemilik modal akan berusaha mengambil untung yang sebanyak-banyaknya salah satunya dengan memberi upah yang rendah pada buruh, maka agar buruh tidak lagi mendapat upah yang rendah dan terjadi kesenjangan yang begitu jauh. Buruh haruslah berjuang untuk menuntut haknya, sebagai mana yang terjadi saat ini. Banyak sekali buruh yang demo untuk kenaikan upah.
Sebagaimana yang di lakukan Soekarno dalam Manifesto politiknya, bahwa ekonomi harus diatur sebagai usaha bersama atas dasar kekeluargaan. Dalam penjelasan lebih jauh tentang hal tersebut, Soekarno mengingatkan bahwa kapitalisme–kapitalisme serakah baik itu orang Indonesia maupun orang asing yang mendominasi cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan hajat hidup orang banyak harus diatur oleh negara dan tidak dijalankan oleh pengusaha-pengusaha swasta. Agar menguntungkan investor-investor asing yang potensial, Soekarno menekankan bahwa modal asing maupun selain Belanda, yang memainkan peran negative akan mengalami nasib yang sama seperti halnya perusahaan-perusahaan Belanda yang diambil alih oleh pemerintah[12].
[1] Georg Lukacs, Op. Cit. hlm. 12.
[2] Pramoedya Ananta Toer, Op. Cit. hlm. 103-104.[3] Ibid…hlm. 104.
[4] Ibid…hlm. 105.[5] Ibid…hlm. 31-31.
[6] D.W. Fokkema dan Elrud Kunne-ibsch Teori sastra abad kedua puluh (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998) hlm. 106.[7] Eka kurniawan, Op. Cit. hlm. 55.
[8] Ibid….[9] Ibe karyanto, Op. Cit. hlm. 59.
[10] Pramoedya Ananta toer, Op. Cit. hlm. 69.
[11] Ibid…, hlm 40.[12] Jeanne S. Mintz, Muhammad Marx, Marhaen Akar Sosialisme Indonesia, terj. Zulhilmiyasri (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002) hlm. 251-252.
Arabiyatuna Arabiyatuna
