Isi efikasi diri
Bandura (1997) menyatakan bahwa efikasi diri merupakan penilaian kemampuan individu untuk melaksanakan tugas, dan mencapai aspirasinya. West dan Wicklund (1980) menyebutkan kemampuan ini menyangkut kapasitas kognitif dan ability dalam usaha memecahkan masalah dan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya.
Efikasi diri menyangkut pula daya tahan mental individu dalam menghadapi stres. Hasil penelitian Warnecke, dkk. (2001) disimpulkan bahwa siswa dengan efikasi diri tinggi memiliki tingkat stres yang rendah sewaktu mereka diganggu oleh pihak lain, bila dibandingkan dengan siswa yang memiliki efikasi diri rendah.
Individu yang memiliki efikasi diri tinggi berkecenderungan untuk lebih
berperilaku prososial dan loyalitas yang tinggi pula terhadap organisasi. Penelitian Yeongkoo (2001) menemukan bahwa karyawan dengan efikasi diri tinggi lebih berperilaku prososial terhadap teman sekerja dan loyalitas yang tinggi terhadap tempat kerja.
Efikasi diri berkaitan juga dengan kepuasan kerja dan komitmen pada
organisasi tempat bekerja. Penelitian Bonnie dan Mark (1998)menunjukan bahwa in dividu dengan efika diri tinggi memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi dan komitmen terhadap organisasi yang tinggi pula. Dengan kepuasan kerja yang tinggi semakin mendorong individu untuk bekerja lebih produktif, sedangkan komitmen pada organisasi mendorong individu untuk dapat bekerja secara kreatif dan bertangggung jawab.
Kohn dan Schooler (1973 dalam Yeongkoo 2001) berpendapa t bahawa efikasi diri merupakan bagian dari harga diri (self-esteem), karena orang yang merasa memiliki kemampuan akan memiliki pula harga diri yang tinggi. Salah satu pernyataan yang dibuat Kohn dan Schooler adalah :” saya bangga dengan ketrampilan dan kemampuan bekerja yang saya miliki”.
Grabowski, dkk. (2001) mendefinisikan efikasi diri tidak hanya pada aspek psikologis, tetapi memasukan pula aspek ekonomi. Grabowski meneliti para siswa dengan melihat kemampuan ekonomi dari orang tua siswa. Para siswa yang orang tuanya lebih mampu memiliki keyakinan diri dan keinginan untuk dapat melanjutkan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi, bila dibandingkan dengan siswa yang orang tuanya berada pada ekonomi yang lebih tidak mampu.
Arabiyatuna Arabiyatuna
