Wednesday, 29 April 2026
above article banner area

Pandangan Ahmad Tohari tentang Humanisme sebagai Jalan Tengah

 

Pada saat terjadi proses globalisasi –bukan saja secara ekonomi melainkan juga dan terutama secara budaya—yang sangat kuat, penetapan tujuan di gelanggang dunia menjadi semakin penting. Arus yang ada sangat keras, sehingga kita tidak merasa puas dengan beberapa konsep dari sumber rujukan yang memberikan ide sangat parsial tentang masyarakat. Kita bisa terus bicara tentang asimilasi, integrasi, dan isolasi, tetapi itu semua konsep yang masih kosong selama kita tidak mengetahui secara literal maupun filosofis, siapa subjek yang sedang kita bicarakan, yang secara implisit mengandung intuisi berbeda tentang makna dan isi identitas Muslim.[1] Bahwa mereka merasa sebagai subjek sejarah, yang harus bertanggungjawab di hadapan Tuhan dan manusia. Menjadi subjek sejarah mereka sendiri juga berarti bahwa mereka, pada akhirnya, akan keluar dari perasaan yang merusak.[2] Perhatikan ilustrasi Ahmad Tohari berikut ini:

 

Darsa masih ingat, setelah mendesak Sipah, Bunek masuk kembali ke dalam bilik. Ketika itu Darsa masih terbaring dan memberi kesan demikian  rupa seakan dia tak mendengar apa-apa. Bunek memintanya duduk lalu mengungkapkan keinginannya dengan terus terang dalam kata-kata yang sangat cair dan ringan, bahkan diselingi tawa dan latah.

Ya. Darsa masih ingat. Ketika itu pikirannya terbelah-belah. Ada kesadaran tidak ingin menyakiti Lasi. Pada kesadaran ini Lasi terlalu baik untuk dikhianati. Atau Lasi adalah cermin tempat Darsa memperoleh pantulan gambar tentang dirinya sendiri. Adalah bodoh bila Darsa ingin memecah cermin berharga itu. Tetapi ada juga keinginan untuk tidak mengecewakan Bunek yang sudah sekian lama dengan sabar merawatnya sampai terasa berhasil. Dan ada berahi. Tetapi bahkan untuk soal berani ini pun Darsa sudah dapat mengira-ngira beban yang mungkin harus dipikulnya kelak.

Darsa juga menyadari waktu itu ada cukup peluang untuk mempertimbangkan dengan baik pilihan mana yang akan diambilnya; tidak menyakiti Lasi di satu pihak atau menyenangkan Bunek sekaligus melampiaskan berahi di pihak lain. (Bekisar Merah, hlm. 107)

 

Sebagaimana telah penulis jelaskan pada bab ketiga, Tariq Ramadan mengidentifikasi empat unsur atau dimensi yang secara bersamaan, dapat mengisi secara pas konsep identitas Muslim. Sebenarnya, itu adalah masalah menyadap esensi identitas ini dari aktualisasinya pada tempat atau waktu tertentu. Dengan kata lain, sasaran dan tujuannya adalah membedakan Islam dari budaya, tradisi, atau kebiasaan Arab atau Asia, sehingga bisa dipikirkan bagaimana menampilkan citra Muslim Sejati.

Dalam upaya menyatakan konsep humanisme sebagai jalan tengah ini, Tariq Ramadhan mengemukakan empat identitasnya adalah sebagai berikut.

  1. 1. Iman, Amaliah, dan Spiritualitas

Unsur identitas Muslim yang pertama dan terpenting adalah iman, yang merupakan tanda sebenarnya bahwa seseorang mempercayai Zat Pencipta yang tidak mempunyai sekutu. Ini adalah makna konsep sentral tauhid, keimanan pada keesaan Tuhan, yakni membenarkan dan memberi kesaksian dengan sahadat. Dalam pengertian ini, syahadat adalah ungkapan paling murni tentang esensi identitas Muslim yang melampaui ruang dan waktu.

  1. 2. Memahami Teks dan Konteks

“Tiada iman sejati tanpa pemahaman”, bagi seorang Muslim pernyataan ini berarti keharusan memahami kedua sumber (Al-Qur’an dan Sunnah) dan konteks dia hidup. Tanggungjawab setiap Muslim didasarkan pada aspek “pemahaman” ganda ini: yakni mengkaji, secara bersamaan, “pesan dari teks” dan “pesan dari konteks” untuk mencari jalan tengah agar tetap dapat selaras dengan ajaran-ajaran Islam. Hal ini telah menjadi ajaran fundamental dalam praktik hukum Islam sejak masa Nabi SAW., yang selalu dijaga oleh para ulama besar sepanjang abad. Dengan demikian, “identitas Muslim tidak tertutup, terkurung dalam prinsip-prinsip yang kaku dan tetap”. Sebaliknya, identitas Muslim didasarkan pada gerakan dinamis dan dialektis yang permanen antara sumber dan lingkungan, untuk mencari cara hidup yang harmonis. Tampaknya cerita Ahmad Tohari berikut ini mengandung makna memahami teks dan konteks secara lebih transendental:

 

“Yang kumaksud, Kanjat dan Lasi menikah secara syariat atau secara siri, atau apalah namanya sebelum keduanya berangkat. Ini penting demi menjaga martabar dan kehormatan mereka, juga kita semua. Ya, mereka masih muda. Bila tidak terikat pernikahan dan dalam perjalanan mereka tak kuat menahan godaan, aku merasa ikut bersalah.”

“Nanti bila sudah sampai di Sulawesi,” tambah Eyang Mus, “Mereka boleh mempertimbangkan kembali pernikahan itu. Syukur Lasi dan Kanjat mau mengukuhkannya. Bila tidak, ya terserah keduanya. Lasi dan Kanjat bisa menanggalkan pernikahan itu atas persetujuan bersama. Itulah gagasan yang ingin kusampaikan kepada kalian. Wiryaji, Mukri, dan juga Kanjat, apa kalian setuju?” (Belantik, hlm. 90-91)

 

 

  1. 3. Mendidik dan Menyampaikan

Iman adalah kepercayaan (amanah) dan orang Muslim diminta untuk menyampaikan amanah ini kepada anak-anak dan kerabat mereka, dan seperti yang sudah dijelaskan, memberikan kesaksian terhadapnya di hadapan manusia. Salah satu fungsi terpenting orang tua adalah memberi anak-anak mereka pemahaman tentang ‘siapa mereka’, dan kemudian anak-anak yang akan bertanggungjawab di hadapan Tuhan, akan memilih ‘ingin menjadi apa mereka’, karena Al-Qur’an menyatakan (QS. Al An’am [6]: 164), bahwa “seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”.

  1. 4. Bertindak dan Berpartisipasi

Kesempurnaan identitas Muslim dicapai dalam ekspresi dan manifestasi keimanan melalui perilaku yang sesuai. Iman, pemahaman, pendidikan, dan penyampaian secara bersamaan menggambarkan dasar etika Islam, dan pada dasarnya, unsur-unsur ini harus memberi petunjuk tindakan orang Muslim. Definisi identitas Muslim dalam konteks humanisme di sini tampak jelas hanya dapat dimengerti prinsip-prinsip, tetapi selalu dalam interaksi dengan lingkungan.

Pandangan Ahmad Tohari yang terkandung dalam novel Bekisar Merah dan Belantik tentang Iman, Amaliah, dan Spiritualitas tidak akan penulis uraikan dalam subbab ini karena secara eksplisit sudah terjelaskan dalam subbab pertama dan ketiga. Bahwa tentang iman atau kepercayaan telah menjadi trade merk Ahmad Tohari dalam setiap tulisan-tulisannya karena ia mengakui sebagai santri adalah menyampaikan yang hak dan batil. Dalam subbab ini penulis mencoba menguraikan pada persoalan upaya menjalani kehidupan dengan konsep jalan tengah melalui: (1) Memahami Teks dan Konteks; (2) Mendidik dan Menyampaikan; dan (3) Bertindak dan Berpartisipasi.

Untuk penjelasan item 1 dan 2 Ahmad Tohari menulis gagasan tersebut dengan mengilustrasikan kejadian Lasi yang mencari keterangan perihal dirinya:

 

Mata Lasi terbelalak. Meski tidak jelas benar, Lasi mengerti apa yang dimaksud emaknya. Rona amarah muncul sangat jelas pada wajahnya yang putih. Bibirnya bergerak-gerak hendak mengucapkan sesuatu tetapi Lasi hanya tergagap. Ketika akhirnya meluncur sebuah pertanyaan dari mulutnya, giliran Mbok Wiryaji yang tergagap.

“Karena diperkosa itu kemudian Emak mengandung saya?”

“Oh tidak, Nak! Tidak.”

“Emak Bohong.”

“Oalah, Las, Emak tidak bohong. Dengarlah, kamu lahir tiga tahun sesudah peristiwa cabul yang amat kubenci itu. Entah bagaimana setelah tiga tahun menghilang orang Jepang itu muncul lagi di Karangsoga. Kedatangannya yang kedua tidak lagi bersama bala tentara Jepang melainkan bersama para pemuda gerilya. Tampaknya ayahmu menjadi pelatih para pemuda. Dan mereka, para pemuda itu, juga Eyang Mus, minta aku memaafkan ayahmu, bahkan aku diminta juga menerima lamarannya.”

“Emak mau?”

“Mula-mula, Las, karena aku tidak bisa menolak permintaan para pemuda dan Eyang Mus. Tetapi aku akhirnya tahu, ayahmu baik, kok.”

Lasi terdiam, alisnya berkerut.

“Las, akhirnya aku menikah dengan ayahmu dan sesudah itu kamu lahir. Tetapi, Las, ayahmu kemudian pergi lagi bersama para pemuda dan tak pernah kembali, padahal kamu sudah lima tahun dalam kandunganku. Kabarnya ayahmu meninggal dalam tawanan tentara Belanda.” (Bekisar Merah, hlm. 39-40).

 

 

Dulu, selama menjadi istri Darsa, Lasi bekerja dan merasa hadir secara utuh. Ya, bekerja karena merasa hadir. Bukan hanya memasak untuk suami dan mencuci pakaiannya, melainkan juga mengambil peran dalam urusan nira sampai bisa menjual sebagai gula jawa. Ya, bekerja sampai berkeringat dan menikmati makna kehadirannya di alam nyata. Kehidupan adalah beban berdua suami, yang harus dibayar dengan kebersamaan bahkan kesatuan suami-istri, lahir-batin, dengan keringat lelaki dan perempuan setiap hari. Dan hidup seperti di Karangsoga dulu memang sering dipandang rendah, sengsara, lapar dan sakit. Tetapi terasa lebih nggenah, lebih mudah dipahami, lebih teratur tembus pandang, dan lebih mudah diraba, bahkan digenggam. Lasi pun dapat dengan gamblang melihat peran dan arti dirinya sendiri dalam kehidupan rumah tangganya, yang ternyata merupakan bobot indah dan mendalam. Lasi merasa bobot indah itu hilang justru seletlah dia dimanjakan menjadi sekadar hiasan sebuah rumah tangga yang makmur, sangat-sangat makmur.

Lasi berusaha memahami kata-kata Bu Lantingbh dalam hidup hal penting adalah duit. Dengan duit, demikian kata Bu Lanting sering bilang, orang baru bisa hidup dengan baik. Omong kosong bila ada orang bisa hidup tenang tanpa duit. Lasi memang bisa menerima kata-kata Bu Lanting itu. Sebagian. Namun entahlah, bagi Lasi dunia yang makmur adalah dunia yang belum lama dikenalnya. Lasi merasa sudah ikut mengecap enaknya, tetapi sungguh tak mudah melarutkan diri di dalamnya. (Belantik, hlm. 22-23)

 

 

Melalui kisah ini Ahmad Tohari ingin mengemukakan bahwa pelajaran pertama yang harus diterima oleh anaknya adalah mengetahui sejarah yang terkandung dalam diri si anak. Sepahit apapaun sejarah itu. Ketika persoalan bagi orangtua sulit diungkapkan karena pahit diketahui oleh orang lain, di sinilah sikap kompromistis itu harus dilakukan sebagai jalan tengah, yakni dalam konteks si anak dan si ibu harus saling memahami dalam konteks tertentu, dan jangan sampai orang lain mengetahui bagaimana sebetulnya hal itu terjadi. Lagi-lagi persoalan rumit harus diselesaikan karena menyangkut kepentingan orang lain sesama manusia. Di sinilah humanisme kompromistis ini menjadi tawaran yang cukup membantu menunjukkan arah kehidupan bagi manusia dalam sebuah komunitas/ masyarakat. Juga ada ilustrasi yang cukup menyejukkan tentang pendidikan bagaimana bergaul dengan sesama manusia:

Pardi keluar dari ruang dalam dan sudah berganti baju. Lasi heran lagi. Tetapi pardi hanya menanggapinya dengan senyum, lalu minta dilayani makan. Lagi-lagi perempuan muda itu meladeninya seperti seorang istri. Lasi teringat pada istri Pardi di Karangsoga. Kalau begitu, pikir Lasi, benar kata orang, wis sakjege wong lanang gedhe gorohe, memang demikian adanya semua lelaki tukang ngibul. Dan perempuan yang berambut keriting dan beranting berbentuk cincin itu melirik Lasi. Lasi tersinggung dan hatinya berkata bahwa perempuan itu cemburu terhadapnya. Jantung Lasi berdebar. Ingin sekali menerangkan bahwa dirinya adalah perempuan somahan yang punya harga diri dan tidak ingin merebut lelaki manapun. Dirinya sekedar menumpang truk untuk lari dan kebetulan Pardi yang menjadi sopir. Tetapi kata-kata yang sudah hampir tumpah itu hanya berputar-putar kemudian bergaung dalam dada. Pada kenyataannya Lasi hanya bisa menelan ludah dan menelan ludah lagi. (Bekisar Merah, hlm. 86-87).

 

 

“Yang kupikir, dalam truk ini sekarang ada perempuan cantik, lebih cantik dari semua pacarmu, Mas Pardi. Apa kamu tidak…”

“Hus! Monyet, kamu jangan macam-macam. Kami para sopir memang rata-rata bajingan. Tetapi kami punya aturan. Kami pantang main-main dengan perempuan bersuami. Itu pemali, tabu besar jika kami tidak ingin mampus dalam perjalanan.”

“Ya, Mas. Namun juga aku sedang berpikir bagaimana bila Lasi benar-benar jadi janda, Karangsoga bakal ramai.” (Bekisar Merah, hlm. 88)

 

 

Handarbeni lenyap, duduk seorang diri, Lasi merasa seperti baru datang dari tempat asing. Film yang baru ditontonnya itu! Lasi bergidik. Muskil, mustahil. Sebidang wilayah yang baginya sangat pribadi dan rahasia, yang bagi Lasi keindahannya justru pada kerahasiaannya itu, bisa disontoloyokan dengan cara yang paling brengsek. Lasi bergidik lagi. Mual dan pusing lagi. Ada yang terasa terinjak-injak dalam jiwanya. Anehnya, kesontoloyoan itu juga membawa pertanyaan yang menusuk hati: mengapa kamu merasa terhina ketika melihat adegan brengsek itu? Untuk pertanyaan ini Lasi hanya punya jawaban sahaja, “Karena aku buka kambing, bukan pula munyuk.” (Bekisar Merah, hlm. 227)

 

 

Melalui cerita yang dicuplik dari halaman 227 ini Ahmad Tohari hendak menyatakan bahwa batas-batas kompromistis harus ditegaskan sejak pendirian harga diri manusia muncul. Artinya, dalam batas-batas normal kemanusiaan ala Jawa, pengumbaran hal yang bersifat rahasia adalah tabu, bagaimanapun juga tidak sesuai dengan kodrat manusia sebagai mahluk berakal. Dengan kata lain, ada yang harus disikapi dengan mendhem jero mikul duwur, yang rahasia dijaga yang terpuji diunggulkan. Dalam cerita lain yang menyangkut kompromistis ini Ahmad Tohari juga memberikan gambaran di bawah ini tentang kenyataan yang harus dijalani oleh Darsa. Dalam ilustrasi ini juga mengandung makna Bertindak dan Berpartisipasi:

 

Kata “tidak apa-apa” yang selalu diulang dengan senyum Bunek yang ringan akhirnya mampu membangkitkan kepercayaan Darsa, percaya bahwa cacat tubuh yang disandangnya hanya masalah sementara, tidak apa-apa, dan tidak mustahil Bunek bisa mengatasinya. Maka Darsa makin patuh kepada Bunek. (Bekisar Merah, hlm. 64).

 

 

Artinya, di satu sisi Darsa merasa tidak bisa menerima kehadiran Bunek yang perilakunya di Karangsoga sangat menyita perhatian karena suka mengumbar kabar kejelekan orang, namun di sisi lain Darsa membutuhkan kesembuhan. Maka pilihan menerima Bunek sebagai dukun urut adalah jalan tengah demi sembuhnya sakit salah urat yang dialami Darsa. Bahwa partisipasi Bunek, bagaimanapun opini negatif yang melingkupi dirinya, menjadi hal penting dalam sebuah dinamika kehidupan antarmanusia, yakni saling tolong-menolong dengan tindakan yang jelas yang bisa memberi manfaat orang lain.

Selain itu, menyangkut gagasan bertindak dan berpartisipasi ini ada dalam kisah tentang Eyang Mus yang selalu menerima kehadiran orang lain apapun keadaannya dan siap membantu:

 

“Nah, Eyang Mus!” Tiba-tiba Mbok Wiryaji menyambar. “Dulu saya menyuruh Lasi minta cerai, tetapi sampeyan tidak setuju. Sekarang malah begini jadinya. Sampeyan harus ikut menanggung semua ini. Sekarang sampeyan harus ikut menyuruh Lasi minta cerai.”

“Sabar. Dari dulu aku selalu ikut menanggung kesulitan yang kalian hadapi. Sekarang aku juga ikut menyalahkan Darsa. Memang, wong lanang punya wenang. Tapi sekali-kali tak boleh sewenang-wenang. Jelas Darsa salah. Namun aku minta jangan dulu bicara soal perceraian.”

“Tunggu apa lagi, Eyang Mus? Apa karena hanya lelaki yang punya talak?”

“Sabar. Aku tak bermaksud sejauh itu. Yang harus kalian tunggu adalah suasana hati yang tenang. Tidak baik mengambil keputusan besar dalam keadaan panas seperti ini. Juga apapun sikap yang akan diambil terhadap Darsa, Lasi-lah yang punya hak. Percayalah akan adanya hak di tangan anakmu. Karena istri yang setia hanya untuk suami yang setia, begitu aturannya.”

Seseorang mengingatkan Mbok Wiryaji akan keyakinan orang Karangsoga bahwa segala hal sudah ada yang mengatur, “Manusia mung saderma nglakoni,” katanya. (Bekisar Merah, hlm. 76-77).

 

 

Untuk gagasan ini penting juga dihayati pemikiran Ahmad Tohari yang ditransformasikan melalui perasaan Lasi berikut ini:

 

Kemudian Lasi menyambung sejarah hidupnya sebagai istri Handarbeni. Namun selama hampir dua tahun menjadi istri orang kaya itu, sekalipun Lasi tak pernah menyediakan haribaannya menjadi ladang bagi benih Handarbeni. Mungkin sekali dua Lasi pernah memperoleh kesenangan ragawi. Tetapi hatinya tak pernah benar-benar terbuka. Maka dalam hati Lasi sering muncul pertanyaan, inikah sebab dia tidak pernah hamil dari benih Handarbeni?

Entahlah. Yang pasti menjelang dini hari, setelah merasa sangat penat, maka Lasi terpejam juga. Dalam tidur yang tak seberapa lama ia bermimpi menikmati laksa banyak sekali. Pedas dan panas. Segar, sumringah. Dan penjualnya adalah Kanjat.

Pukul lima pagi Lasi terbangun. Dan gerakan pertama yang dilakukannya adalah meraba perut. Ah, masih seperti biasa. Namun demikian Lasi sudah amat yakin ada sesuatu yang tumbuh pada tahap awal di rahimnya. Tersenyum.

Gusti terima kasih.

Lalu entahlah, Lasi ingin bersyukur karena yakin Gusti Allah telah berkenan menitipkan amanat kepadanya. Amanat itu membuat Lasi, sebagai perempuan, merasa lebih punya makna. Maka ia bangkit dan keluar menuju kamar pembantu yang ternyata sudah lama bangun. Lasi minta dipinjami perlengkapan sembahyang. Gusti, berkati dan rahmati kandunganku. Aku tahu, aku ingin, dan aku harus memeliharanya. Tetapi bagaimana caranya, karena sekarang aku berada dalam keadaan seperti ini ?

Lindungi kandunganmu dan juga kesuciannya! Apa pun yang mungkin akan terjadi padamu, tetap jaga dan pertahankan kesuciannya!

Lasi terkejut karena tiba-tiba dia mendengar suara jawaban yang begitu terang. Dia ingin tahu siapa yang telah memberi jawaban bernada perintah itu. Lalu hening. Air mata meleleh karena keharuan yang dalam. Ya, Lasi sadar suara itu bukan suara siapa-siapa, melainkan suara hati nurani sendiri. Suara itu bergema dalam jiwa, lalu mengendap dan mapan menjadi peneguh hati. Maka Lasi merasa telah sampai pada kekukuhan sikap yang kemudian diputuskannya; apa pun yang terjadi, keselamatan dan kesucian kandungan adalah segala-gala baginya. (Belantik, hlm. 107-108)

 

 


[1] Tariq Ramadan, Teologi Dialog Islam-Barat: Pergumulan Muslim Eropa, terj. Abdullah Ali, Bandung: Mizan, hlm. 207.

[2] Ibid.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *