Humanisme dalam konteks ini adalah sebuah pandangan yang mengacu pada filosof Marxis, Ernst Bloch (1885-1977), bahwa memandang ide tentang Tuhan sebagai sesuatu yang alamiah bagi manusia. Seluruh hidup manusia diarahkan ke masa depan. Sebab kita merasakan kehidupan kita sebagai sesuatu yang belum sempurna dan belum selesai. Seluruh mimpi dan ilham kita ingin menyibak apa yang akan datang.
Sebagaimana Feurbach, Bloch memandang Tuhan sebagai cita-cita manusia yang belum terwujud, tetapi alih-alih mengalienasikan, dia merasa Tuhan ini sangat dibutuhkan bagi kondisi manusia. Max Horkheimer (1895-1973), ahli teori sosialis Jerman dari mazhab Frankfurt, memandang tanpa ide tentang “Tuhan”, politik dan moralitas akan menjadi pragmatik dan licik, tidak bijak. Jika tidak ada yang mutlak, tak ada alasan untuk tidak bermusuhan atau bahwa perang lebih buruk daripada damai.[1]
Dalam konteks ini maka Ahmad Tohari sangat menekankan transendensi kepada Tuhan ketika mengaplikasikan makna-makna ketuhanan di bumi. Ini terlukis dalam guratan:
Namun malam ini Eyang Mus tidak ingin duduk termangu. Bulan hampir bulat yang dilihatnya sejenak ketika ia turun dari surau telah mengusik hatinya lalu menuntun langkahnya ke pojok ruang depan. Di sana ada gambang kayu keling yang usianya mungkin lebih tua daripada Eyang Mus sendiri. Eyang Mus yang sering mendapat sebutan santri kuno, mahir memainkan bait-bait suluk yang biasa ditembangkannya dalam irama sinom atau dhandhanggula. Bagi seorang santri kuno seperti eyang Mus, suluk diantar oleh irama gambang tak lain adalah tangis rindu seorang kawula akan Gusti-nya; tangis seorang pengembara yang ingin menyatu kembali dengan asal-mula dan tujuan akhir segala yang ada, sangkan paraning dumadi. Maka bila sudah tenggelam dalam suluk-nya, Eyang Mus lupa akan sekeliling, mabuk, keringat membasahi tubuh, dan air matanya berjatuhan. Suaranya ngelangut menusuk malam, menusuk langit. Apalagi bila ditembangkannya adalah bait-bait pilihan:
Wong kas ingkang sampun makolih
Hakul yakin tingale pan nyata
sarta lan sapatemone
Pan sampun sirna luluh
tetebenge jagat puniki
Kabotan katingalan
Ing wardayanipun
Anging jatine Sanghyang Suksma
Datan pegat anjenengaken mangkyeki
Kang ketung mung Pangeran
Sapolahe dadi pangabekti
Salat daim pan datan wangenanpan
Ora pesti wektune pan ora salat wulu
Tan pegat ing ulat liring
Madhep maring Hyang Suksma
Salir kang kadulu
Andulu jatining tunggal
Jroning bekti miwah sajabaning bekti
Sampun anunggal tingal
Adalah manusia istimewa yang telah sampai kepada kebenaran sejati; pandangan hatinya menjadi bening begitu ia berhadapan dengan Tuhan luluh lebur segala tabir dunia. Pandangannya larut dalam kebesaran Tuhan-nya. Tak putus menyebut nama-Nya. Baginya yang ada hanyalah Allah.
Semua geraknya menjadi sembah, salat jiwanya tegak sepanjang waktu bahkan ketika raganya dalam keadaan tak suci. Mata hatinya tak putus memandang Allah. Kenyataan yang ada baginya adalah kesatuan wujud baik ketika dalam salat maupun luarnya. Hasrat manusiawi ‘lah terselaraskan dengan kehendak Illahi (Bekisar Merah, hlm. 54-56).
Oleh sebab itu, ketika mencintai manusia sebagai sikap bertuhan secara transenden, bukan berarti semua tindakan kita tanpa niat dan diberangkatkan dari pikiran yang rasional. Bahwa semua kejadian yang ada di bumi ada sebabnya. Sehingga ketika sebuah kenyataan hidup sudah dijalani sebagai keniscayaan akan hakikat Yang Maha Kuasa, maka bagaimanapun juga kehendak dan niatan yang baik harus pula dijalankan sebagai upaya mensinkronkan antara takdir Tuhan dan usaha manusia sebagai mahluk berakal. Ahmad Tohari cukup fasih menjelaskan hal tersebut dengan tuturan-tuturan berikut ini:
“Eyang Mus, Lasi masih muda. Apa iya, seumur-umur ia harus ngewulani suami yang hanya bisa ngompol?” Mbok Wiryaji tersenyum pahit.
“Hus.”
“Saya tidak main-main, Eyang Mus. Sekarang Darsa memang hanya bisa ngompol, ditambah perangainya yang berubah menjadi pemarah. Dengan keadaan seperti itu, sampai kapan Lasi bisa bertahan, dan haruskah saya diam belaka?”
“Nanti dulu. Kalau perasaanku tak salah, aku menangkap maksud tertentu dalam kata-katamu. Kamu tidak lagi menghendaki Darsa jadi menantumu?”
Mbok Wiryaji terkejut. Wajahnya berubah. Eyang Mus tersenyum karena percaya dugaannya jitu.
“Jangan tergesa-gesa. Sebelum mendapat kecelakaan Darsa adalah suami yang baik. Kini Darsa tak berdaya karena sesuatu yang berasal dari luar kehendaknya. Lalu, apakah kamu mau tega?”
“Aku ikut tanya,” sela Mbok Mus, “Apakah Lasi kelihatan tak suka lagi bersuami Darsa?”
“Tidak juga. Saya kira Lasi tetap setia menemani suaminya yang bau sengak itu. Dan hal itulah yang membuat saya malah jadi lebih kasihan kepadanya. Masalahnya, apakah Lasi harus menderita lahir-batin seumur hidup?”
“Sebelum kamu punya pikiran pendek seperti tadi, apa kamu sudah cukup ikhtiar untuk menyembuhkan Darsa?”
“Sudah tak kurang, Eyang Mus. Tidak sembuh di rumah sakit, kemudian segala jamu sudah banyak diminum. Jampi sudah banyak disembur.”
“Ya, ikhtiar harus tetap dijalankan. Juga doa. Dulu kamu sendiri bilang, bila hendak memberikan welas-asih, Gusti Allah tidak kurang cara. Tetapi mengapa sekarang kamu jadi berputus asa? Kamu tak lagi percaya bahwa Gusti Allah ora sare, tetap jaga untuk menerima segala doa?” (Bekisar Merah, hlm. 59-60).
Demikianlah, maka ketika memandang Tuhan sebagai cita-cita manusia yang belum terwujud, manusia mendapatkan anugerah untuk tetap berusaha agar kenikmatan yang muncul dapat kita rasakan sebagai buah jerih yang paling pahit sekalipun. Di sini gagasan humanisme yang dikembangkan Ahmad Tohari mencakup lebih dari penghormatan terhadap keberadaan Sang Pencipta, namun juga memposisikan manusia sebagai hamba yang harus berusaha sesuai kemampuan.
Jadi apa yang menjadi pengharapan manusia harus disinkronkan dengan usaha agar mempunyai nilai lebih dari sekedar menerima apa yang menjadi kehendak-Nya. Lebih lanjut Ahmad Tohari mengemukakan:
“Soal berikhtiar, Eyang Mus, percayalah. Sampai sekarang pun kami terus berusaha. Kini pun Darsa sedang ditangani seorang tukang urut, Bunek.”
…
“Nah, itu namanya pikiran waras. Aku sungguh-sungguh ikut berdoa semoga ikhtiar kalian kali ini berhasil.” (Bekisar Merah, hlm. 61).
Dengan kata lain, bahwa manusia perlu menemukan sisi manusiawi yang memadahi untuk memberi umat manusia suatu pengertian baru tentang apa arti hidup bagi mereka sebagai upaya menjaga kemungkinan menuju pertumbuhan moral yang kreatif.[2] Demikian halnya ketika Ahmad Tohari menggambarkan kegundahan tokoh Kanjat berikut ini yang juga bermakna seperti dimaksud dalam subbab ini:
Kanjat hanya punya Eyang Mus untuk berbagi rasa. Orang tua itu bisa mengurangi beban perasaanya karena dia mau mendengar dengan telinga dan hatinya. Bahkan dengan wajah tuanya yang tetap jernih serta tawanya yang ringan.
“Jadi, sekarang kamu merasa seperti Rama kehilangan Shinta?” tanya Eyang Mus suatu malam ketika duduk hanya berdua dengan Kanjat. Suaranya yang ringan serta senyumnya yang polos membuat kemelut dalam hati Kanjat sedikit berkurang.
“Tidak juga, Yang. Tentang sama-sama kehilangan istri memang ya. Bedanya, Rama adalah raja sakti yang akhirnya bisa merebut kembali istrinya. Dan saya? Ternyata saya tak bisa berbuat apa-apa.”
“Itu namanya keterbatasan. Dan semua orang memilikinya. Jangan kira orang yang mengambil Lasi dari tangan kamu bebas dari keterbatasan itu. Hanya Gusti Allah yang tak punya keterbatasan.”
Ya, Yang. Saya sadar akan keterbatasan saya. Tetapi masa iya saya tidak berbuat sesuatu untuk menolong Lasi? Saya malu.”
“Mamang harus malu,” tanggap Eyang Mus sambil terkekeh. “Dan kamu harus tahu apa yang bisa kamu lakukan sekarang,”
“Apa Yang?”
“Kalau kamu masih percaya, berdoalah. Berdoa dengan sepenuh hati dan jiwa.” (Belantik, hlm. 124)
[1] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-Orang Yahudi, Kristen, dan Islam, terj. Zainul Am, Bandung: Mizan, 2001, hlm. 497.
[2] Marshall Hodgson, “Warisan Islam dalam Kesadaran Modern” dalam Mochtar Pabottingi, Islam: Antara Visi, Tradisi, dan Hegemoni bukan-Muslim, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1986, hlm. 11.
Arabiyatuna Arabiyatuna
