Perkembangan konsep diri
a. Masa anak-anak sebagai dasar perkembangan konsep dasar.
Pada masa ini pemahaman individu tentang konsep diri belum jelas atau masih samar-samar. Pembentukan yang masih samar-samar ini menjadi dasar pembentukan konsep diri di kemudian hari. Coopersmith (dalam Calhoun dan Acocella, 1990) berpendapat bahwa benih konsep diri akan tumbuh dan berkembang ke arah positif, bila anak mendapat perlakuan dalam kehangatan cinta dan kasih sayang. Sebaliknya, jika anak diperlakukan dengan penolakan dan kebencian, maka konsep diri yang berkembang menjadi negatif.
Wair menyebutkan perkembangan benih konsep diri mengalami kemajuan pesat pada waktu anak mulai mampu menggunakan bahasa pada usia kira-kira satu tahun (dalam Calhoun dan Acocela, 1990). Pada waktu ini anak sudah mampu memahami perkataan dari orang yang berada di likungan dekatnya. Anak semakin banyak memperoleh informasi lebih banyak tentang dirinya. Tahap perkembangan selanjutnya, ketika kemampuan kognisi anak muncul dalam mengucapkan perkataan, dan anak mulai mampu melihat hubungan diantara berbagai obyek dan membuat generalisasi. Kemampuan generalisasi anak terlihat pada kemampuan mengatakan bahwa “aku benci”, “kalau aku sudah besar”, “aku sudah dapat memakai sepatu sendiri”.
Pada tahap perkembangan ini, gambar konsep diri anak masih berupa sketsa kasar yang akan menentukan tahap perkembangan berikutnya, Selain itu akan dapat diprediksikan sifat konsep diri anak pada masa akan datang. Anak pada fase ini akan memproses semua informasi masuk yang sejalan dengan gagasannya tentang konsep dirinya. Misal, bila seorang anak di dalam keluarga mendapat perhatian dan kasih sayang yang memadai, maka anak tidak mengalami kesulitan untuk bermain dengan teman-teman di sekolahnya. Karena anak merasakan lingkungan di dalam keluarganya bersahabat, sehingga teman-teman di sekolah ditafsirkan bukan sebagai ancaman atau musuh tetapi sebagai kawan.
Konsep diri negatif pada anak dapat diubah dengan pemberian pengalaman baru
berisi kecakapan untuk menerima penghargaan positif secara berulang-ulang dalam interval waktu tertentu. Peranan guru menjadi sangat penting untuk menjaga kedekatan dengan anak untuk dapat memberikan pengalaman baru, sehingga anak mampu memperbaiki konsep dirinya yang salah. Pada tahap perkembangan tertentu konsep diri anak akan sulit diubah dengan prosedur semacam itu, karena perkembangan konsep diri akan mengikuti pola yang telah terbentuk pada awal masa kanak-kanak.
b. Perkermbangan konsep diri pada remaja
Anak setelah memasuki masa remaja maka akan mengalami banyak perubahan di dalam dirinya.
c. Sumber pembentukan konsep diri
Sumber pertama pembentukan konsep diri anak berasal dari diri anak sendiri. Pada batas tertentu tubuh mengajarkan bahwa diri anak terlepas dari dunia, tetapi masih memiliki hubungan bahkan ketergantungan dengan likungan. Sumber informasi berikutnya dalam pembentukan konsep diri anak adalah proses interaksi dengan orang lain. Balwin dan Holmes (1987) menyebutkan bahwa konsep diri diperoleh dari hasil belajar individu melalui interaksi sosial di kingkungannya.
Sumber kedua pembentukan konsep diri berasal dari orang tua. Kontak sosial paling awal dari bayi adalah orang tua, dan orang tua menjadi figur paling kuat dalam pembentukan konsep diri pada manusia. Pemberian perlindungan dan kenyamanan dari orang tua kepada bayi, menjadikan orang tua sebagai figur penting di mata anak. Akibatnya informasi yang dikomunikasikan orang tua kepada anak menjadi lebih tertanam pada diri anak sepanjang hidupnya.
Sumber ketiga pembentukan konsep diri adalah kawan sebaya. Jika pada masa kanak-kanak merasa cukup dengan cinta dan kehangatan orang tua, maka pada perkembangan selanjutnya membutuhkan penerimaan dari teman sebaya (peers group). Perlakuan teman sebaya yang dirasakan menyakitkan diri anak akan mengganggu perkembangan konsep dirinya, misal diacuhkan, dipukul dan dibentak. Pengalaman yang diperoleh selama berinteraksi dengan kelompok sebaya memberikan sumbangan tentang konsep diri pada anak.
Perkembangan konsep diri menurut Steward dan Nejodlo (1980) dipengaruhi 3
(tiga) aspek yaitu : 1). faktor genetika, sifat kepribadian dan penampilan; 2) faktor lingkungan sosial seperti orang tua, saudara, keluarga, teman sebaya dan sekolah
serta masyarakat; 3) pengalaman hidup baik yang menyenangkan (positif) maupun tidak menyenangkan (negatif).
Hurlock (1999) menyebutkan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi konsep diri pada remaja yaitu usia kemasakan (age of maturing), jenis kelamin, penampilan, keakraban dalam keluarga dan teman sebaya serta tingkat aspirasi.
Remaja yang mengalami kematangan sesuai dengan age of maturing akan mampu mengembangkan konsep diri secara positif dan konstruktif. Penampilan diri yang tidak sesuai dengan harapan dan kelompok akan menjadikan remaja rendah diri (inferiority). Penampilan diri meliputi pilihan pakaian, kondisi fisik, kualitas kesehatan dan produksi kelenjar tubuh. Kesesuain jenis kelamin menentukan penampilan, minat, tingkah laku dan pilihan teman sebaya. Pilihan kegiatan yang sesuai dengan jenis kelamin dapat menolong remaja memiliki konsep diri positif. Nama dan nama panggilan yang tidak sesuai dengan kelompoknya dapat menjadikan konsep diri remaja menjadi terhambat. Hubungan remaja dengan keluarga membantu dalam mengidentifikasi dan mengembangkan pola-pola kepribadian dengan anggota keluarga tersebut.
Pengaruh teman sebaya dalam membentuk kepribadian anak melalui dua mekanisme, yaitu (1) konsep diri yang menjadi cermin dari perilaku teman sebaya terhadap dirinya, (2) remaja mengembangkan konsep diri karena mendapat tekanan dan kelompok sebaya supaya mendapat pengakuan.
Remaja dengan tingkat aspirasi terlalu tinggi dan tidak realistis tentang kemampuannya cenderung mudah mengalami kegagalan. Kondisi ini dapat memicu
remaja menjadi cemas dan mengembangkan reaksi pertahanan diri. Sebaliknya, remaja yang realistik dengan kemampuannya cenderung lebih berhasil mencapai cita-cita, sehingga mampu membentuk kepercayaan diri dan konsep diri yang positif.
Arabiyatuna Arabiyatuna
