Teori–teori kepuasan kerja
Jewell dan Siegal (1998) secara ringkas membagi teori kepuasan kerja yang berkaitan dengan teori motivasi antara lain:
1. Teori dua faktor (motivator-hygiene).
Herzberg (Gibson, 1985) memandang bahwa kepuasan kerja berasal dari dua kelompok yaitu satisfiers dan dissatisfiers. Kelompok satisfiers adalah kelompok yang akan membuat orang puas terhadap pekerjaannya. Kelompok satisfiers disebut juga
motivator intrinsik, meliputi pencapaian prestasi, pengakuan, tanggung jawab, kemajuan, pekerjaan itu sendiri dan kemungkinan berkembang. Kelompok dissatisfiers adalah kelompok yang tidak akan membuat orang puas dengan pekerjaannya. Kelompok tersebut disebut hygiene factor atau faktor ekstrinsik. Ketidakpuasan kerja berasal dari ketidakberadaan faktor-faktor ekstrinsik, meliputi upah, keamanan kerja, kondisi kerja, status, prosedur perusahaan, mutu hubungan interpersonal antara sesama rekan kerja, atasan dan bawahan. Faktor yang termasuk dalam kelompok motivator cenderung merupakan faktor yang menimbulkan motivasi kerja yang lebih bercorak proaktif, sedangkan faktor yang termasuk dalam kelompok faktor hygiene cenderung menghasilkan motivasi kerja yang lebih reaktif.
2. Teori model aspek kepuasan (facet satisfaction).
Dikemukakan oleh Lawler (1973) dimana individu dipuaskan dengan suatu aspek khusus dari pekerjaan mereka, misalnya rekan kerja, atasan, upah, dan sebagainya, jika jumlah aspek yang mereka alami adalah yang seharusnya mereka peroleh karena telah melaksanakan pekerjaannya sama dengan jumlah yang benar-benar mereka peroleh. Implikasi teori ini adalah seseorang akan menyesuaikan kontribusinya sesuai dengan tingkat keadilan atau kepuasan yang diperolehnya. Jumlah dari bidang yang
dipersepsikan individu tergantung dari bagaimana individu tersebut mempersepsikan pekerjaannya.
3. Teori nilai (value theory).
Locke (1976) membuat pemilahan antara nilai dan kebutuhan. Orang sering memberi nilai pada hal-hal yang sebetulnya tidak ia butuhkan namun bisa juga terjadi sebaliknya dimana ia membutuhkan hal-hal yang sebenarnya tidak ia hargai. Kebutuhan adalah kondisi kodrati yang diperlukan individu demi kesejahteraan fisiologik maupun psikologiknya. Nilai merupakan sesuatu yang diinginkan atau didambakan yang muncul dari proses belajar dan bukan secara alami. Kepuasan kerja merupakan keadaan emosional akibat anggapan bahwa individu mendapatkan apa yang dinilai tinggi.
4. Teori proses-lawan (opponent-process theory).
Landy (1978) menekankan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan lebih pada usaha untuk mempertahankan keseimbangan emosional. Seseorang merasa puas sangat ditentukan oleh sejauhmana penghayatan emosionalnya terhadap situasi yang dihadapi. Apabila situasi tersebut memberikan keseimbangan emosional bagi dirinya maka orang tersebut merasa puas, sebaliknya jika situasi tersebut memberikan ketidaksetabilan emosional bagi dirinya maka orang tersebut merasa tidak puas.
5. Teori Kesenjangan (Discrepancy Theory)
Teori kesenjangan oleh Porter menjelaskan bahwa kepuasan adalah selisih dari sesuatu yang seharusnya ada (harapan) dengan sesuatu yang sesungguhnya ada. Locke (1969) juga berpendapat bahwa kepuasan kerja seseorang bergantung pada kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang menurut perasaannya telah diperoleh melalui pekerjaannya. Seseorang akan merasa puas bila tidak ada perbedaan antara apa yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataan karena batas minimum yang diinginkan telah terpenuhi. Apabila yang diperoleh ternyata lebih besar daripada yang diinginkan maka orang akan menjadi lebih puas walaupun terjadi kesenjangan karena yang terjadi adalah kesenjangan positif. Sebaliknya, semakin jauh kenyataan yang dirasakan itu dan dibawah standar minimum sehingga menjadi kesenjangan negatif maka makin besar pula ketidakpuasan seseorang terhadap pekerjaannya. Individu akan merasa puas atau tidak puas merupakan sesuatu yang pribadi, tergantung bagaimana ia mempersepsikan adanya kesesuaian atau pertentangan antara keinginan-keinginannya dan hasil yang diperoleh.
6. Teori Instrumentalia (Instrumentality Theory)
Dikemukakan oleh Porter & Lawler (1968) yang menyatakan bahwa kepuasan tergantung pada kecocokan antara penghargaan yang diharapkan dengan penghargaan yang diterima. Porter
membuat seperangkat pernyataan yang mencakup lima kategori kebutuhan yaitu kebutuhan rasa aman, kebutuhan penghargaan, kebutuhan sosial, kebutuhan otonomi, dan kebutuhan aktualisasi diri. Pada setiap butir pernyataan diajukan mengenai tiga hal, yaitu (1) kepuasan yang dinyatakan ada atau kenyataan, (2) kepuasan yang diinginkan, (3) derajat pentingnya keadaan puas tersebut.
Lawler (1973) kemudian mengembangkan metode Porter tersebut
dengan menambahkan unsur kerja (job facet ) untuk memperoleh gambaran kepuasan kerja secara menyeluruh dipakai rumus:
Kepuasan kerja = tingkat kepentingan (harapan-kenyataan)
Semakin kecil nilai perbedaan yang diperoleh maka semakin tinggi tingkat kepuasan kerjanya.
Teori model aspek kepuasan digunakan dalam penelitian ini untuk memahami kepuasan kerja dosen yang ada di Universitas Lampung. Teori tersebut menjelaskan bahwa seseorang akan dipuaskan dengan aspek dari pekerjaan mereka.
Arabiyatuna Arabiyatuna
