Tinjauan Tentang Anak Tunagrahita
a. Pengertian Anak Tunagrahita
Ada beberapa istilah mengenai anak tunagrahita, yaitu terbelakang mental, tuna mental, lemah otak, lemah fikiran, dan mentaly retarded. Smith, et.all., (2002: 43) mengemukakan bahwa:
People who are mentally retarded overtime have been rejerred to as dumb, stupid, immature defective, deficientg, subnormal, incompetent, and dull. Terms such as idiot, imbelice, moron and feebleminded were commonly used historically to label this population. Although the word faal referred to those who lwere mentally ill, and the word idiot was directed toward individuals who were severely retarded, these terms were frequently used interchangeably.
(Di waktu yang lalu orang-orang menyebut retardasi mental dengan sitlah dungu (dumb), bodoh (stupid), tidak masuk (immature), cacat (defective), kurang sempurna (deficient), di bawah normal (subnormal), tidak mampu (incompetent), dan dan tumpul (dull). Istilah lainnya idiot, imbecile, moron, dan feebleminded digunakan untuk melabel kelompok menyandang tersebut. Walaupun kata tolol (fool) menunjuk ke orang sakit mental, dan kata idiot, mengarah individu yang cacat berat, keduanya sering digunakan secara bergantian.
Menurut Munzayanah (2000: 13), “Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam bidang intelektual serta seluruh kepribadiannya, sehingga mereka tidak mampu hidup dengan kekuatan sendiri di dalam masyarakat”.
Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki keterbelakangan mental, mental merupakan penggerak kecerdasan seseorang. Menurut Sri Purnamawati:
Mental merupakan penggerak kecerdasan seseorang. Orang tunagrahita dikodratkan memiliki intelegensia rendah mulai dari 30-69. Makin rendah tingkat intelegensianya, makin rendah pula daya nalarnya. Dia menjelaskan, tunagrahita ringan memiliki tingkat intelegensia antara 60-
69, bisa dididik berbagai keterampilan, seperti membaca, mengenal huruf dan uang, mengenal norma masyarakat, serta bersosialisasi.
Tunagrahita sedang bisa melakukan beberapa keterampilan hidup dan
berkomunikasi. Namun tunagrahita berat, motorik halusnya tidak berkembang akibatnya tidak bisa melakukan berbagai pekerjaan dengan
baik dan takut bertemu orang lain. (By Copyright © 2002 Harian
KOMPAS)
7
Sunaryo Kartadinata (1996: 83) mengemukakan bahwa, “tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata, sukar mengikuti program pendidikan di sekolah umum sehingga membutuhkan layanan pendidikan secara khusus disesuaikan dengan kemampuan anak.” Menurut Bratanata yang dikutip Mohammad Efendi (2006: 88) bahwa:
Seseorang dikategorikan berkelainan mental subnormal atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (di bawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.
Dari pengertian-pengertian seperti yang dikemukakan di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud anak tunagrahita adalah mereka yang jelas-jelas mengalami keterlambatan dalam perkembangan kecerdasan, sehingga untuk mengembangkan potensinya secara optimal diperlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Karena kelainannya itu maka mereka mengalami kesulitan dalam belajarnya dimana mereka terlihat sering ketinggalan dari teman-temannya yang normal.
b. Faktor Penyebab Tunagrahita
Tunagrahita dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor dari dalam maupun faktor dari luar diri anak. Adapun faktor penyebab tunagrahita menurut beberapa ahli adalah:
Menurut Mohammad Efendi (2006: 91), bahwa “sebab terjadinya ketunagrahitaan pada seseorang menurut kurun waktu terjadinya, yaitu dibawa sejak lahir (faktor endogen) dan faktor dari luar seperti penyakit atau keadaan lainnya (faktor eksogen).” Faktor endogen yaitu faktor ketidaksempuraan psikobiologis dalam memindahkan gen, sedangkan faktor eksogen yaitu faktor yang terjdi akibat perubahan patologis dari perkembangan normal. Dari sisi pertumbuhan dan perkembangan, penyebab ketunagrahitaan menurut Devenport yang dikutip Mohammad Efendi (2006: 91) dapat dirinci melalui jenjang sebagai berikut:
1) kelainan atau keturunan yang timbul pada benih plasma;
2) kelainan atau keturunan yang dihasilkan selama penyuburan telur;
3) kelainan atau keturunan yang diakibatkan dengan implantasi;
4) kelainan atau keturunan yang timbul dalam embrio;
lain:
5) kelainan atau keturunan yang timbul dari luka saat kelaihiran;
6) kelainan atau keturunan yang timbul dalam janin;
7) kelainan atau keturunan yang timbul pada masa bayi dan masa kanak-kanak.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa anak tunagrahita dapat disebabkan antara
Ketunagrahitaan can be caused by heredity and not hereditary. Genetic damage in off spring, such as damage to cell chromosomes, genes, and one or both parents suffer from disorder or simply as a bearer of properties. Factors outside the cell lineage, because of factors including malnutrition, accidents (head trauma), and metabolic disorders. (http://pustakaut.ac.id/puslataionline.php?menu=bmpshort).
(Ketunagrahitaan dapat disebabkan oleh keturunan dan bukan keturunan. Genetik kerusakan pada keturunannya, seprti kerusakan kromosom sel, gen, dan salah satu atau kedua orangtua menderita kelainan atau hanya sebagai pembawa sifat. Faktor-faktor di luar keturunan, karena faktor termasuk kekurangan gizi, kecelakaan (trauma kepala), dan gangguan metabolisme.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab anak
tunagrahita adalah: pada masa prenatal kekurangan vitamin, gangguan psikologis sang ibu, gangguan kelainan janin; pada masa natal proses kelahiran tidak sempurna, masa pos natal, anak tunagrahita dapat disebabkan pada waktu kecil pernah sakit secara terus menerus; faktor keturunan, gangguan metabolisme dan gizi, infeksi dan keracunan. Di samping itu juga disebabkan oleh predisposisi genetik terhadap gens atau faktor ekologis atau lingkungan, dan waktu terjadinya pemaparan, misalnya janin terpapar virus rubella sewaktu berusia trimester pertama maka kecacatan dapat berat.
c. Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan.
Anak tunagrahita memiliki beberapa karakteristik dan mendapatkan pelayanan pendiikan yang bervariasi.
To facilitate in providing edecation services, children are classified tunagrahita: tunagrahita mild (mild mental retardation), tunagrahita moderate (moderate mental retardation), tunagrahita weight (severe mental retardation), and tunagrahita very severe (profound mental retardation). (http://pustakaut.ac.id/puslataionline.php?menu=bmpshort:
Untuk memudahkan dalam memberikan layanan pendidkan, anak-anak diklasifikasikan tunagrahita: tunagrahita ringan (keterbelakangan mental ringan), tunagrahita sedang (keterbelakangan mental moderat), tuna- grahita berat (keterbelakangan mental yang berat), dan tunagrahita sangat berat (mendalam keterbelakangan mental).
Moh. Amin (2005: 34) menguraikan ciri-ciri anak tunagrahita sebagai berikut:
Kapasitas belajarnya amat terbatas dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing, struktur maupun fungsi organisme pada umumnya kurang dari anak normal.
Pendapat lain dikemukakan oleh Munzayanah (2000: 24) bahwa: Karakteristik yang nampak serta banyak terjadi pada siswa penyandang
tunagrahita adalah: rasa merusak sebagai dasar perkembangan,
mengalami gangguan dalam sosialisasi, iri hati kodrati yang merupakan dasar rasa keadilan, bergaul mencampurkan diri dengan orang lain, sikap yang ingin memisahkan diri atau menarik diri, penyesuaian diri yang kaku dan labil.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri anak tunagrahita adalah: kapasitas belajarnya amat terbatas dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, mengalami kesukaran berfikir abstrak, merekaa berbicara lancar, mereka masih dapat mengikuti pelajaran akademik di sekolah 0biasa ataupun khusus, mengalami gangguan dalam sosialisasi, iri hati korati yang merupakan dasar rasa keadilan, bergaul mencampurkan diri dengan orang lain, siikap yang ingin memisahkan diri atau menarik diri, penyesuaian diri yang kaku dan labil, pada umur 16 tahun baru mencapai umur kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun.
e. Dampak Tunagrahita bagi Siswa
Ketidakmampuan anak tunagrahita meraih prestasi yang lebih baik dan sejajar dengan anak normal, karena ingatan anak tunagrahita sangat lemah dibanding dengan anak normal. Maka tidak heran, jika instruksi yang diberikan kepada anak tunagrahita cenderung tidak melalui proses analisis kognitif. Perkembangan kognitif anak tunagrahita sering mengalami kegagalan dalam melampaui periode atau tahapan perkembangan. Bahkan dalam taraf
perkembangan yang paling sederhana pun, anak tuna grhaita seringkali tidak mampu menyelesaikan dengan baik.
Keterlambatan perkembangan kognitif pada anak tunagrahita menjadi masalah besar bagi anak tunagrahita ketika meniti tugas perkembangannya. Beberapa hambatan yang tampak pada anak tunagrahita dari segi kognitif dan sekaligus menjadi karakteristiknya menurut Mohammad Efendi (2006: 98), sebagai berikut:
1) Cenderung memiliki kemampuan berpikir konkret dan sukar berpikir.
2) Mengalami kesulitan dalam konsentrasi.
3) Kemampuan sosialisasinya terbatas.
4) Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit.
5) Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi.
6) Pada tunagrahita mampu didik, prestasi tertnggi bidang baca, tulis, hitung tidak lebih dari anak normal setingkat kelas III-IV SD.
Keterbatasan daya pikir yang dialami anak tunagrahita menyebabkan mereka sulit mengontrol, apakah perilaku yang ditampakkan dalam aktivitas sehari-hari wajar atau tidak, baik perilaku yang berlebihan maupun perilaku yang kurang serasi. Atas dasar itulah maka untuk anak tunagrahita perlu dilakukan modifikasi perilaku melalui terapi perilaku.
Dalam memberikan terapi perilaku pada anak tunagrahita, seorang terapis harus memiliki sikap sebagaimana yang dipersyaratkan dalam pendidikan humanistik, yaitu penerimaan secara hangat, antusias tinggi, ketulusan dan kesungguhan, serta menaruh empati yang tinggi terhadap kondisi anak. Tanpa dilengkapi persyaratan tersebut, penerapan teknik motifikasi perilaku pada anak tunagrahita tidak banyak memberikan hasil yang berarti.
Arabiyatuna Arabiyatuna
