Monday, 20 April 2026
above article banner area

Tinjauan Tentang Anak Tunagrahita

Tinjauan Tentang Anak Tunagrahita

a.  Pengertian Anak Tunagrahita

Ada beberapa istilah mengenai anak tunagrahita, yaitu terbelakang mental, tuna mental, lemah otak, lemah fikiran, dan mentaly retarded. Smith, et.all., (2002: 43) mengemukakan bahwa:

People who are mentally retarded overtime have been rejerred to as dumb, stupid, immature defective, deficientg, subnormal, incompetent, and dull. Terms such as idiot, imbelice, moron and feebleminded were commonly used historically to label this population. Although the word faal referred to those who lwere mentally ill, and the word idiot was directed toward individuals who were severely retarded, these terms were frequently used interchangeably.

 

(Di  waktu  yang lalu  orang-orang menyebut  retardasi  mental  dengan sitlah dungu  (dumb), bodoh  (stupid), tidak  masuk  (immature), cacat (defective), kurang sempurna (deficient), di bawah normal (subnormal), tidak mampu (incompetent), dan dan tumpul (dull). Istilah lainnya idiot, imbecile, moron, dan feebleminded digunakan untuk melabel kelompok menyandang tersebut. Walaupun kata tolol (fool) menunjuk ke orang sakit mental, dan kata idiot, mengarah individu yang cacat berat, keduanya sering digunakan secara bergantian.

 

Menurut Munzayanah (2000: 13), “Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam bidang intelektual serta seluruh kepribadiannya, sehingga mereka tidak mampu hidup dengan kekuatan sendiri di dalam masyarakat”.

Anak tunagrahita adalah anak yang memiliki keterbelakangan mental, mental merupakan penggerak kecerdasan seseorang. Menurut Sri Purnamawati:

Mental merupakan penggerak kecerdasan seseorang. Orang tunagrahita dikodratkan memiliki intelegensia rendah mulai dari 30-69. Makin rendah tingkat intelegensianya, makin rendah pula daya nalarnya. Dia menjelaskan, tunagrahita ringan memiliki tingkat intelegensia antara 60-

69,  bisa  dididik  berbagai  keterampilan,  seperti  membaca,  mengenal huruf  dan  uang,  mengenal  norma  masyarakat,  serta  bersosialisasi.

Tunagrahita sedang bisa melakukan beberapa keterampilan hidup dan

berkomunikasi. Namun tunagrahita berat, motorik halusnya tidak berkembang akibatnya tidak bisa melakukan berbagai pekerjaan dengan

baik dan takut bertemu orang   lain. (By Copyright © 2002    Harian

KOMPAS)

 

7

 

 

 

Sunaryo Kartadinata (1996: 83) mengemukakan bahwa, “tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan           intelektual   di bawah  rata-rata,          sukar                       mengikuti     program pendidikan  di  sekolah  umum  sehingga  membutuhkan  layanan  pendidikan secara khusus disesuaikan dengan kemampuan anak.” Menurut Bratanata yang dikutip Mohammad Efendi (2006: 88) bahwa:

Seseorang    dikategorikan     berkelainan      mental     subnormal     atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya   (di          bawah            normal),                     sehingga         untuk         meniti        tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.

 

Dari pengertian-pengertian seperti yang dikemukakan di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud anak tunagrahita adalah mereka yang jelas-jelas mengalami keterlambatan dalam perkembangan kecerdasan, sehingga   untuk   mengembangkan    potensinya          secara  optimal                  diperlukan pelayanan  pendidikan  secara khusus.  Karena kelainannya itu  maka mereka mengalami    kesulitan    dalam   belajarnya    dimana    mereka    terlihat    sering ketinggalan dari teman-temannya yang normal.

b. Faktor  Penyebab Tunagrahita

 

Tunagrahita dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor dari dalam maupun faktor dari luar diri anak. Adapun faktor penyebab tunagrahita menurut beberapa ahli adalah:

Menurut Mohammad Efendi (2006: 91), bahwa “sebab terjadinya ketunagrahitaan pada seseorang menurut kurun waktu terjadinya, yaitu dibawa sejak lahir (faktor endogen) dan faktor dari luar seperti penyakit atau keadaan lainnya (faktor eksogen).” Faktor endogen yaitu faktor ketidaksempuraan psikobiologis dalam memindahkan gen, sedangkan faktor eksogen yaitu faktor yang terjdi akibat perubahan patologis dari perkembangan normal. Dari sisi pertumbuhan  dan         perkembangan,                          penyebab                        ketunagrahitaan                         menurut Devenport yang dikutip Mohammad Efendi (2006: 91) dapat dirinci melalui jenjang sebagai berikut:

1) kelainan atau keturunan yang timbul pada benih plasma;

2) kelainan atau keturunan yang dihasilkan selama penyuburan telur;

3) kelainan atau keturunan yang diakibatkan dengan implantasi;

4) kelainan atau keturunan yang timbul dalam embrio;

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

lain:

5) kelainan atau keturunan yang timbul dari luka saat kelaihiran;

6) kelainan atau keturunan yang timbul dalam janin;

7) kelainan atau keturunan yang timbul pada masa bayi dan masa kanak-kanak.

 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa anak tunagrahita dapat disebabkan antara

 

 

 

Ketunagrahitaan can be caused by heredity and not hereditary. Genetic damage in off spring, such as damage to cell chromosomes, genes, and one or both parents suffer from disorder or simply as a bearer of properties. Factors outside the cell lineage, because of factors including malnutrition, accidents (head trauma), and metabolic disorders. (http://pustakaut.ac.id/puslataionline.php?menu=bmpshort).

 

(Ketunagrahitaan    dapat   disebabkan    oleh    keturunan    dan    bukan keturunan. Genetik kerusakan pada keturunannya, seprti kerusakan kromosom sel, gen, dan salah satu atau kedua orangtua menderita kelainan atau hanya sebagai pembawa sifat. Faktor-faktor di luar keturunan, karena faktor termasuk kekurangan gizi, kecelakaan (trauma kepala), dan gangguan metabolisme.

 

Dari   uraian  di   atas   dapat   disimpulkan   bahwa  sebab-sebab   anak

 

tunagrahita adalah: pada masa prenatal kekurangan vitamin, gangguan psikologis sang ibu, gangguan kelainan janin; pada masa natal proses kelahiran tidak sempurna, masa pos natal, anak tunagrahita dapat disebabkan pada waktu kecil   pernah sakit           secara   terus             menerus;    faktor  keturunan,           gangguan metabolisme dan gizi, infeksi dan keracunan. Di samping itu juga disebabkan oleh predisposisi genetik terhadap gens atau faktor ekologis atau lingkungan, dan waktu terjadinya pemaparan, misalnya janin terpapar virus rubella sewaktu berusia trimester pertama maka kecacatan dapat berat.

 

c.  Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan.

 

Anak  tunagrahita  memiliki  beberapa  karakteristik  dan  mendapatkan pelayanan pendiikan yang bervariasi.

To facilitate in providing edecation services, children are classified tunagrahita: tunagrahita mild (mild mental retardation), tunagrahita moderate (moderate mental retardation), tunagrahita weight (severe mental retardation), and tunagrahita very severe (profound mental retardation). (http://pustakaut.ac.id/puslataionline.php?menu=bmpshort:

 

 

 

Untuk memudahkan dalam memberikan layanan pendidkan, anak-anak diklasifikasikan tunagrahita: tunagrahita ringan (keterbelakangan mental ringan), tunagrahita sedang (keterbelakangan mental moderat), tuna- grahita  berat  (keterbelakangan  mental  yang  berat),  dan  tunagrahita sangat berat (mendalam keterbelakangan mental).

 

Moh. Amin (2005: 34) menguraikan ciri-ciri anak tunagrahita sebagai berikut:

Kapasitas belajarnya amat terbatas dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus,          mengalami                     kesukaran      dalam          memusatkan                  perhatian, perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing, struktur maupun fungsi organisme pada umumnya kurang dari anak normal.

Pendapat lain dikemukakan oleh Munzayanah (2000: 24) bahwa: Karakteristik yang nampak serta banyak terjadi pada siswa penyandang

tunagrahita    adalah:    rasa    merusak    sebagai    dasar    perkembangan,

mengalami gangguan dalam sosialisasi, iri hati kodrati yang merupakan dasar  rasa  keadilan,  bergaul  mencampurkan  diri  dengan  orang  lain, sikap yang ingin memisahkan diri atau menarik diri, penyesuaian diri yang kaku dan labil.

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri anak tunagrahita adalah: kapasitas belajarnya amat terbatas dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, mengalami kesukaran berfikir abstrak, merekaa berbicara lancar, mereka masih dapat mengikuti pelajaran akademik di sekolah 0biasa ataupun khusus, mengalami gangguan dalam sosialisasi, iri hati korati yang merupakan dasar rasa keadilan, bergaul mencampurkan diri dengan orang lain, siikap yang ingin memisahkan diri atau menarik diri, penyesuaian diri yang kaku dan labil, pada umur 16 tahun baru mencapai umur kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun.

 

e.  Dampak Tunagrahita bagi Siswa

 

Ketidakmampuan anak tunagrahita meraih prestasi yang lebih baik dan sejajar dengan  anak normal, karena ingatan anak  tunagrahita sangat lemah dibanding dengan anak normal. Maka tidak heran, jika instruksi yang diberikan kepada anak tunagrahita cenderung tidak melalui proses analisis kognitif. Perkembangan kognitif anak tunagrahita sering mengalami kegagalan dalam melampaui                     periode    atau   tahapan    perkembangan.    Bahkan    dalam    taraf

 

 

 

perkembangan yang paling sederhana pun, anak tuna grhaita seringkali tidak mampu menyelesaikan dengan baik.

Keterlambatan perkembangan kognitif pada anak tunagrahita menjadi masalah besar bagi anak tunagrahita ketika meniti tugas perkembangannya. Beberapa hambatan yang tampak pada anak tunagrahita dari segi kognitif dan sekaligus  menjadi  karakteristiknya menurut  Mohammad  Efendi  (2006:  98), sebagai berikut:

1) Cenderung   memiliki    kemampuan   berpikir    konkret   dan   sukar berpikir.

2) Mengalami kesulitan dalam konsentrasi.

3) Kemampuan sosialisasinya terbatas.

4) Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit.

5) Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi.

6) Pada tunagrahita mampu didik, prestasi tertnggi bidang baca, tulis, hitung tidak lebih dari anak normal setingkat kelas III-IV SD.

 

Keterbatasan daya pikir yang dialami anak tunagrahita menyebabkan mereka sulit mengontrol, apakah perilaku yang ditampakkan dalam aktivitas sehari-hari wajar atau tidak, baik perilaku yang berlebihan maupun perilaku yang kurang serasi. Atas dasar itulah maka untuk anak tunagrahita perlu dilakukan modifikasi perilaku melalui terapi perilaku.

Dalam memberikan terapi perilaku pada anak tunagrahita, seorang terapis harus    memiliki              sikap    sebagaimana          yang                dipersyaratkan               dalam pendidikan humanistik, yaitu penerimaan secara hangat, antusias tinggi, ketulusan dan kesungguhan, serta menaruh empati yang tinggi terhadap kondisi anak. Tanpa dilengkapi persyaratan tersebut, penerapan teknik motifikasi perilaku pada anak tunagrahita tidak banyak memberikan hasil yang berarti.

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *