Tinjauan Tentang Kemampuan Membaca Permulaan
a. Pengertian Kemampuan Membaca Permulaan
Kemampuan membaca permulaan memiliki beberapa pengertian menurut pandangan beberapa ahli. Untuk lebih jelasnya berikut ini dikemukakan pendapat para ahli yang berkaitan dengan kemampuan membaca permulaan.
Menurut Bormouth yang dikutip Darmiyati Zuchdi (2007: 22), “kemampuan adalah seperangkat keterampilan yang digeneralisasi, yang memungkinan orang memperoleh dan mewujudkan informasi yang diperoleh dari kegiatan”. Pendapat lain dikemukakan oleh Jhonson yang dikutip Cece Wijaya dan Rusyan A. Tabrahi (2002: 8) menjelaskan bahwa “kemampuan merupakan perilaku rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan”.
“Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anak pun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya” (Temu Ilmiah Tumbuh Kembang Jiwa Anak dan Remaja, iqeq.web.id).
Anak pada dasarnya senang meniru, karena salah satu proses pembentukan tingkah laku mereka adalah diperoleh dengan cara meniru. Anak gemar membaca umumnya adalah anak yang mempunyai lingkungan dimana orang-orang di sekelilingnya juga gemar membaca. Mereka meniru ibu, ayah, kakak, atau orang lain di sekelilingnya yang mempunyai kebiasaan membaca dengan baik. Dengan demikian orang tua dan guru di tuntut untuk bisa memberikan contoh keteladanan yang nyata akan hal yang baik, termasuk perilaku bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru. (Kak Seto, 2008: 3).
Zaenal Alimin (2008: 65) mengemukakan bahwa:
Simbol bahasa dari membaca permulaan merupakan bagian dari kesadaran linguistik (bunyi) dan kesadaran akan bentuk atau lambang bahasa merupakan prerequisit dalam belajar membaca permulaan Berkenaan dengan hal itu dalam melihat kegagalan belajar membaca harus dilihat dari dua sisi, apakah menyangkut persoalan persepsi visual atau persepsi auditori. Yang berhubungan kuat antara pemahaman lambang bahasa yang ditrasfer melalui visual memiliki hubungan dan berkontribusi terhadap kemampuan membaca anak. Namun demikian, perkembangan sekarang berkenaan dengan masalah yang mendukung kearah kesiapan membaca justru banyak pula ditentukan oleh kesadaran linguistik yang diperoleh melalui pengalaman auditori.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah kemampuan yang dimiliki dalam melakukan suatu kegiatan yang komplek dan kesatuan berbagai proses psikologis, sensoris, dan perkembangan keterampilan pada dasarnya anak hanya bisa meniru. Sedangkan membaca permulaan merupakan kegiatan membaca mula-mula diajarkan pada anak yang baru masuk sekolah dasar sebelum anak mengenal huruf atau bacaan.
Apabila dalam sekolah permulaan, siswa tidak memiliki kemampuan membaca, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan untuk mata pelajaran yang lain, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lerner sebagai berikut:
Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang studi. Jika anak pada usia sekolah permulaan tidak segera memiliki kemampuan membaca, maka ia akan mengalami banyak kesulitan dalam mempelajari berbagai bidang studi pada kelas-kelas berikutnya. Oleh karena itu, anak harus belajar membaca agar ia dapat membaca untuk belajar (Lerner dalam Mulyono Abdurrahman, 2003:
200).
Membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulisan atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahan tulisan. Dengan demikian, membaca pada hakikatnya merupakan suatu bentuk komunikasi tulis.
b. Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca.
Tujuan membaca, tentu saja berkaitan erat dengan motivasi dalam membaca dan minat terhadap materi bacaan. Jika motivasi dan minat sangat rendah atau bahkan sama sekali tidak ada, menetapkan tujuan yang jelas sering kali tidak menciptakan motivasi dan meningaktkan minat baca, walaupun sedikit, kehadirannya sangat berarti.
Kemampuan membaca dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang ada dalam diri pembaca meliputi kemampuan linguistik (kebahasaan), minat, motivasi, dan kumpulan membaca (seberapa baik pembaca dapat membaca), sedangkan faktor dari luar diri pembaca salah satunya adalah faktor kesiapan guru dalam pembelajaran (Johnson dan Pearson dalam Darmiyati Zuhdi, 2007:23-24).”
Ketepatan guru dalam mendiagnosis hal-hal yang diduga sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa seperti yang penulis uraikan tersebut di atas dapat menjadi petunjuk bagi guru bahasa Indonesia menangani permasalahan dalam pengajaran membaca. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengkonstruk makna ketika membaca.
Mengenai berbagai faktor penentuan kemampuan membaca, menurut
Yap yang dikutip Darmiyati Zuchdi (2007:25), bahwa:
Kemampuan membaca seseorang sangat ditentukan oleh faktor kuantitas membacanya, maksudnya adalah kemampuan membaca seseorang itu sangat dipengaruhi oleh jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas membaca. Semakin bayak waktu membaca setiap hari, besar kemungkinan semakin tinggi tingkat komprehensinya atau semakin mudah memahami bacaan.
Suyatmi (1997: 11) menjelaskan beberapa faktor penunjang kegiatan membaca, antara lain:
1) Faktor intern meliputi: kompetensi bahasa, minat, motivasi, konsentrasi, ketekunan, kesehatan jasmani dan rohani, kemampuan menetralkan titik kelemahan, memiliki latar belakang pengetahuan yang sesuai dan penguasaan kosa kata yang memadai serta kemampuan memahami maksud bacaan secara cepat dan cermat.
2) Faktor ekstern/dari luar meliputi: (a) Pengadaan buku-buku bacaan yang baik sesuai dengan kebutuhan, menarik, dan menimbulkan keasyikan dan harga yang terjangkau masyarakat luas, (b) Unsur- unsur dalam bacaan dan sifat-sifat lingkungan baca atau faktor keterbacaan, (c) Kondisi dan situasi lingkungan yang merangsang
kegemaran membaca, termasuk didalamnya pengadaan tempat belajar, sussana keluarga, sekolah, masyarakat sekitar, teman guru, dan tokoh masyarakat.
Suyatmi (1997: 21) agar dapat memiliki keterampilan membaca yang memadai perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini, yaitu:
1) Membaca secara berencana dan teratur.
2) Membaca harus disertai dengan seluruh aktifitas jiwa yang berarti melibatkan pikiran, perasaan, ingatan, daya khayal, dan lain-lain.
3) Membaca dengan mengenal batas.
4) Membaca dengan menggunakan perpustakaan.
Pengertian kemampuan membaca permulaan menurut Zaenal Alimin
(2008: 44) sebagai berikut:
Membaca permulaan merupakan keterampilan memahami symbol bahasa atau tanda-tanda baca. Cepat lambatnya pemahaman terhadap symbol atau tanda-tanda baca tadi akan banyak bergantung pada motode yang digunakan. Namun demikian keterampilan itu biasanya mencakup sekurang-kurangnya pada empat aspek yaitu; a) mengenal huruf (Latter indintification), b) peleburan bunyi ( Sound blanding), c) membaca kata (Word Attack), dan d) membaca kalimat (Understanding). Membaca permulaan pada dasarnya merupakan suatu proses di dalam membunyikan simbol bahasa, apakah itu huruf, suku-kata, kata atau kalimat. Kesadaran akan lambang bahasa tadi dengan bunyi dari lambang yang dibaca memiliki kaitan yang sangat erat dalam membaca permulaan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kemampuan membaca baik itu faktor instrinsik maupun faktor ekstrinsik. Bagi anak tunagrahita faktor instrinsik berupa kemampuan psikologis antara lain tingkat intelegensi yang rendah, kemampuan koordinasi motorik lambat, bicara lambat dan daya ingat yang rendah perlu diperhatikan dengan merangsang kemampuannya berupa stimulus dari luar.
c. Manfaat Membaca
Membaca memberikan banyak manfaat. Beberapa ahli memberikan pandangan yang bervariasi tentang manfaat membaca. Berikut dikemukakan manfaat membaca sebagai berikut.
Menurut Farida Rahim (2007:1), “masyarakat yang gemar membaca memperoleh pengetahuan dan wawasan baru yang akan semakin meningaktkan kecerdasannya sehingga mereka lebih mampu menjawab tantangan hidup pada masa-masa mendatang.” Adapun manfaat membaca adalah:
1) dapat menemukan sejumlah informasi dan pengetahuan yang sangat berguna dalam kehidupan; 2) dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir di dunia; 3) dapat mengayakan batin, meluaskan cakrawala kehidupan; 4) isi yang terkandung dalam teks yang dibacanya dapat segera dikethaui; 5) membaca intensif dapat menghemat energi, karena tidak terpancang pada suatu situasi, tempat dan waktu karena tidak menggangu orang di sekelilingnya.
Kemampuan membaca merupakan tuntutan realitas kehidupan sehari- hari baik bagi guru maupun siswa. Beribu judul buku dan berjuta koran diterbitkan setiap hari. Ledakan informasi ini menimbulkan tekanan pada guru untuk menyiapkan bacaan yang memuat informasi yang relevan untuk siswa- siswanya. Walupun tidak semua informasi perlu dibaca, tetapi jenis-jenis bacaan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan guru dan siswa tentu perlu dibaca.
Keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh kemampuan dan kesempatannya dalam membaca, karena membaca merupakan kunci seseorang meraih berbagai ilmu pengetahuan, teknologi dan wawasan kebudayaan yang ada di dunia.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa membaca memiliki banyak manfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Dengan membaca kita akan memiliki banyak pengetahuan dan dapat menularkan ilmu yang telah kita peroleh kepada orang lain.
d. Tujuan Membaca
Membaca hendaknya mempunyai tujuan, karena siswa yang membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan siswa yang tidak mempunyai tujuan. Kegiatan membaca yang dilakukan seseorang, memiliki beberapa tujuan. Tujuan utama membaca adalah untuk memperoleh informasi dan memahami makna bacaan. Menurut Suwaryono Wiryodijoyo (1999:1) tujuan membaca sebagai berikut:
(1) Membaca untuk kesenangan, materi bacaan berupa roman, novel, komik; (2) Membaca untuk penerapan praktis, materi bacaan berupa buku petunjuk praktis, buku resep makanan, modul ketrampilan; (3) Membaca untuk mencari informasi khusus, materi bacaan berupa ensiklopedia, kamus, buku petunjuk telepon; (4) Membaca untuk mendapatkan gambaran umum, materi bacaan berupa buku teori, buku teks, esay; (5) Membaca untuk mengevaluasi secara umum, materi bacannya berupa roman, novel, maupun puisi.
Dalam hubungannya dengan tujuan membaca, Djago Tarigan (2005:37)
mengemukakan bahwa:
Tujuan utama membaca adalah memperoleh kesuksesan, pemahaman penuh terhadap argumen-argumen yang logis, urutan-urutan retoris atau pola-pola teks, pola-pola simbolisme, nada-nada tambahan yang bersifat emosional dan sosial, pola-pola sikap dan tujuan sang pengarang juga sarana-sarana linguistik yang digunakan untuk mencapai tujuan.
Sedangkan menurut Burn yang dikutip Farida Rahim (2007:11), tujuan membaca mencakup:
1) kesenangan;
2) menyempurnakan membaca nyaring;
3) menggunakan strategi tertentu;
4) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik;
5) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah
diketahuinya;
6) memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis;
7) mengkonfirmasikan atau menolak prediksi;
8) menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi
yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks;
9) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.
Membaca semakin penting bagi siswa tunagrahita. Setiap aspek kehidupan baik di sekolah maupun di rumah. Tujuan membaca pada siswa tuna grahita agar anak tidak ketinggalan terhadap mata pelajaran yang diterima di sekolah, sehingga setiap kelas dapat diikuti anak tunagrahita sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam KTSP SDLB.
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah memahami maksud keseluruhan yang terkandung dalam teks bacaan sampai hal yang paling mendetail, tujuan tersebut belum dapat sepenuhnya dicapai anak-anak tunagrahita, terutama pada saat awal pembelajaran membaca sehingga diperlukan inovasi pembelajaran dari guru yang tepat.
e. Materi Pembelajaran Membaca Permulaan
Materi pembelajaran membaca permulaan mengacu pada bahan ajar yang telah digariskan dalam kurikulum. “Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu siswa/guru dalam proses pembelajaran
. Bahan tersebut bisa tertulis dan tidak tertulis” (Depdiknas, 2004: 10). Materi pembelajaran membaca permulaan pada kelas II yang tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2001, aspek membaca pada pelajaran Bahasa Indonesia adalah:
1) Menyebutkan huruf pada kata.
Siswa diharapkan dapat menyebutkan huruf dalam kata dan kalimat
sederhana yang sudah dikenal siswa (menirukan guru).
2) Menyebutkan kata dengan bantuan gambar.
Siswa ditunjukkan gambar untuk menyebutkan gambar tersebut, lalu ditampilkan huruf sesuai gambar. Ditampilkan kata-kata baru dengan
menujuk gambar yang sesuai dengan huruf.
“Permendiknas No. 24 Tahun 2006, guru sebagai tenaga pengajar berkewajiban menentukan bahan ajar dalam rangka pengembangan materi. Tujuan menentukan materi pembelajaran adalah meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, dari bahan pembelajaran untuk membentuk kemampuan kognitif, sikap dan keterampilan”. (Direktorat Pembinaan SLB,
2008: 1).
f. Strategi Membaca
Dalam usaha memperoleh pemahaman terhadap bahan bacaan, pembaca menggunakan stretegi tertentu. Pemilihan strategi berkaitan erat dengan faktor- faktor yang terlibat dalam pemahaman, yaitu teks dan konteks.
Pada dasarnya, strategi membaca menggambarkan bagaimana siswa memproses bacaan sehingga dia memperoleh pemahaman terhadap bacaan tersebut. Menurut Mulyono Abdurrahman (2003:201) ”tahap-tahap membaca permulaan umumnya dimulai sejak anak masuk kelas satu SD, yaitu pada saat berusia sekitar enam tahun.” Meskipun demikian, ada anak yang sudah belajar membaca lebih awal dan ada pula yang baru belajar membaca pada usia tujuh atau delapan tahun. Untuk anak tunagrahita membaca permulaan masih dilaksanakan pada siswa kelas II karena siswa tunagrahita tidak sama dengan anak SD pada umumnya karena kondisi mental yang dimiliki.
Menurut Mercer yang dikutip Mulyono Abdurrahman (2003:202) menyajikan suatu model pendekatan tiga tahap belajar membaca terdiri dari: 1) membaca keseluruhan, 2) membaca rinci, 3) membaca tanpa kesadaran rinci. Model pendekatan tersebut mirip dengan pengajaran yang banyak digunakan di Indonesia yang dikenal dengan metode SAS (Struktur-Analitik-Sintetik).
Melalui metode SAS, anak lebih dulu diperkenalkan pada suatu unit bahasa terkecil, yaitu kalimat. Kalimat tersebut selanjutnya dipecah-pecah lagi menjadi huruf-huruf. Huruf-huruf tersebut selanjutnya disintesiskan lagi menjadi sukukata, kata, dan akhirnya menajdi kalimat yang utuh lagi. Contoh penggunaan metode SAS sebagai berikut:
ini mama budi
ini mama budi
i – ni ma – ma bu – di
i n i m a m a b u d i i – ni ma – ma bu – di
ini mama budi ini mama budi
g. Evaluasi Pembelajaran Membaca Permulaan.
Evaluasi ini merupakan salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar, maka dari itu evaluasi tidak dapat dipisahkan hasil akhir proses pembelajaran. Menurut Asnawi dan Hamid (1991: 10-13):
Evaluasi memegang peranan penting dalam komponen perencanaan dan komponen interaksi dari proses belajar mengajar. Fungsi evaluasi antara lain:
1) Fungsi formatif artinya hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki hasil belajar dan kegiatan belajar mengajar.
2) Fungsi sumatif artinya evaluasi dilakukan untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mengajar.
3) Fungsi penerapan memberikan kemampuan kepada evaluator untuk mengelompokkan siswa berdasarkan kreteria tertentu.
4) Fungsi diagnostik artinya hasil evaluasi berguna sebagai bahan untuk membicrakan yang dihadapi siswa yang bersangkutan, dimana bersifat mendasar pada kelemahannya.
Sedangkan Budiasih dan Zuchdi (2001: 139-141) mengatakan:
”Evaluasi membaca permulaan, artinya mengukur seberapa tinggi keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran maka alat pengukurannya atau alat evaluasinya harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.” Adapun butir-butir yang perlu diperhatikan dalam evaluasi membaca permulaan antara lain: 1) Ketetapan menyuarakan tulisan; 2) Kewajaran lafal;
3) Kewajaran intonasi; 4) Kejelasan suara; dan 5) Pemahaman isi atau
makna.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi membaca permulaan dilaksanakan untuk dapat mengetahui sejauhmana informasi tentang kemampuan siswa dalam mengenal dan membaca setiap huruf dan suku kata dengan benar dalam menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa dalam kalimat dengan intonasi yang wajar. Membaca permulaan ditekankan pada kemampuan siswa yang dimiliki.
Arabiyatuna Arabiyatuna
