Tinjauan Tentang Metode Drill
a. Pengertian Metode Drill
Pengertian metode drill memiliki banyak pengertian dari sudut pandang para ahli yang berbeda. Dari beberapa pengertian tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
”Drill merupakan cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang telah dipelajari siswa untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu” (Hasibuan dan Mujiyono, 2000: 6). Misalnya keterampilan:
kecakapan motoris: menggunakan alat-alat dan keterampilan kecakapan mental: menghafal, menjumlah, membagi, dan sebagainya.
Metode drill (latihan) disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan. (http://totohernawo. blog.m3-access.com/posts/35929_ Drill-And-Practice.html.)
“Metode drill (latihan siap) sangat sesuai untuk melatih keterampilan, baik keterampilan fisik maupun keterampilan mental. Karena hanya dengan latihan, sesuatu keterampilan dapat dikuasai” (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, 2002: 87). Metode drill berhubungan dengan pembentukan asosiasi-asosiasi mental yang siap untuk direproduksi (diingat kembali), seperti: definisi-definisi, tahun-tahun, simbol-simbol, rumus-rumus dan perbendaharaan kata atau kosa kata.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode drill (latihan) adalah merupakan cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang telah dipelajari siswa untuk memperoleh suatu keterampilan fisik maupun keterampilan mental.
Seorang siswa perlu memiliki ketangkasan atau keterampilan dalam sesuatu, misalnya dalam memahami huruf maupun suku kata dan membacanya. Sebab itu di dalam proses mengajar belajar, perlu diadakan latihan untuk menguasai keterampilan tersebut. Maka salah satu teknik penyajian pelajaran untuk memenuhi tuntutan tersebut ialah teknik latihan atau drill. Ialah suatu teknik yang dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari.
Latihan yang praktis, mudah dilakukan, serta teratur melaksanakannya membina anak dalam meningkatkan penguasaan keterampilan itu; bahkan mungkin siswa dapat memiliki ketangkasan itu dengan sempurna. Hal ini me- nunjang siswa berprestasi dalam bidang membaca. Teknik ini memang banyak digunakan untuk pelajaran membaca. Dalam hal ini banyak cara yang
memerlukan latihan khusus dan teratur, serta pengawasan dari trainer yang
baik.
Kemampuan untuk mencapai keberhasilan belajar secara akurat dan tuntas adalah dengan berlatih dan melakukan praktek, yang diterapkan pada berbagai subjek membaca. Berlatih juga bisa dikatakan bagian dari praktek sebagai prosedur pembelajaran, contohnya: Drill (berlatih): mengeja kata, menghapal, dan sebagainya.
b. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Metode Drill
Berlatih dan praktek itu dikategorikan menjadi satu strategi karena di kelas dipakai bersamaan, karena Drill adalah latihan dengan praktek yang dilakukan berulang kali atau kontinyu/untuk mendapatkan keterampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari. Lebih dari itu diharapkan agar pengetahuan atau keterampilan yang telah dipelajari itu menjadi permanen, mantap dan dapat dipergunakan setiap saat oleh yang ber- sangkutan.
Agar metode drill ini dapat diterapkan sesuai dengan harapan yaitu siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya, maka terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Tujuan ( kompetensi yang akan dilatihkan/dikerjakan ) jelas.
2) Kebiasaan dan lama latihan disesuaikan dengan kemampuan siswa.
3) Ada selingan latihan supaya tidak bosan.
4) Diperhatikan tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa
untuk perbaikan (klasikal/perorangan). (Hasibuan dan Mujiyono,
2000: 16).
Dengan memperhatikan beberapa aspek tersebut, diharapkan guru dalam menerapkan metode drill dapat mencapai sasaran dan kesalahan- kesalahan siswa dapat diperbaiki untuk mencapai tujuan pembelajaran.
c. Langkah-langkah Metode Drill
Tujuan metode drill agar siswa dapat secara langsung memahami materi yang diajarkan guru, guru perlu merumuskan tujuan yang jelas yang hendak dicapai oleh siswa. Metode drill biasanya digunakan dengan tujuan sebagai berikut: 1) agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap; 2) untuk memperoleh pengetahuan, setelah melaksanakan mengerjakan latihan akan
memperluas dan memperkaya pengetahuan serta keterampilan siswa di sekolah, melalui kegiatan-kegiatan di luar sekolah; 3) dengan melaksanakan latihan siswa aktif belajar; 4) merasa terangsang untuk meningkatkan belajar yang lebih baik. Memupuk inisiatif dan berani bertanggung jawab sendiri; dan 5) selalu memanfaatkan waktu senggangnya untuk hal-hal yang menunjang belajarnya.
Metode drill dipergunakan apabila: suatu pokok bahasan atau aspek- aspek tertentu yang memerlukan latihan yang lebih banyak atau memerlukan penjelasan lebih lanjut melalui eksperimen atau sumber-sumber informasi lain yang lebih luas. Dalam keadaan darurat, di mana guru karena sesuatu hal tidak dapat mengajar baik untuk sebagian maupun seluruh jam pelajaran, di mana tidak ada guru lain siswa dapat melaksanakan latihan mengerjakan materi pelajaran melalui latihan mandiri.
Langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode drill yaitu: “1) fase pemberian latihan, 2) langkah pelaksanaan latihan, dan 3) fase mempertanggungjawabkan latihan” (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein,
2002: 89). Dari ketiga langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Fase Pemberian Latihan. Latihan yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan: tujuan yang akan dicapai, jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan, sesuai dengan kemampuan siswa, ada petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa, sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
Langkah Pelaksanaan Latihan. Fase ini meliputi: diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru, diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja, diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain, dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik.
Fase mempertanggungjawabkan latihan. Fase ini meliputi: laporan siswa secara tertulis dari apa yang telah dikerjakannya, ada tanya jawab/diskusi kelas, penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes atau cara lainnya.
Latihan yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, halaman sekolah, laboratorium, perpustakaan atuapun di rumah. Siswa akan mendalami dan akan mengalami sendiri pengetahuan yang dicarinya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya tinggal lama dalam pikiran atau jiwanya. Jika siswa dalam melaksanakan latihannya ditunjang dengan minat dan perhatian serta kejelasan tujuan belajarnya, maka tugas tersebut dapat mengembangkan daya berpikir siswa, daya inisiatif, daya kreatif dan melatih siswa bertanggungjawab.
d. Kebaikan dan Kelemahan Metode Drill
Harus disadari sepenuhnya bahwa apabila penggunaan metodc tersebut tidak/kurang tepat akan menimbulkan hal-hal yang negatif; anak kurang kreatif dan kurang dinamis. Sebagai suatu metode yang diakui, banyak mempunyai kelebihan, juga tidak dapat disangkal bahwa metode latihan mempunyai beberapa kelemahan. Maka dari itu, guru yang ingin mempergunakan metode latihan ini kiranya tidak salah bila memahami karakteristik metode ini. Metode latihan yang disebut juga metode training, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan, dan keterampilan.
Kelebihan dan kelemahan metode drill (latihan) adalah sebagai berikut: (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, 2002: 88):.
1) Kelebihan metode drill
a) Pengertian siswa lebih luas melalui latihan berulang-ulang.
b) Siswa siap menggunakan keterampilan karena sudah dibiasakan.
2) Kelemahan metode drill
a) Siswa cenderung belajar secara mekanis. b) Dapat menyebabkan kebosanan.
c) Mematikan kreasi siswa. d) Menimbulkan verbalisme.
Arabiyatuna Arabiyatuna
