Friday, 17 April 2026
above article banner area

Ajaran Berbagi

Hal yang bernilai mulia tetapi tidak selalu dilakukan oleh kebanyakan orang adalah kegiatan berbagi.Andaikan semua orang  suka melakukan berbagi dengan sesama secara ikhlas, maka tidak akan terjadi kesenjangan antar individu, kelompok,  maupun bangsa. Sebaliknya, kebanyakan orang lebih suka menguasai sumber-sumber  yang dibutuhkan oleh banyak orang, sehingga akibatnya,  banyak orang tidak tercukupi kebutuhannya, sementara lainnya dalam keadaan berlebih dan bahkan melimpah.

  Islam menganjurkan umatnya agar berbagi. Orang yang kaya ilmu agar mengajarkan ilmunya kepada orang-orang yang tidak berilmu. Orang yang kaya harta,  supaya berbagi hartanya kepada orang-orang yang memerlukannya. Bahkan  ummat Islam  dianjurkian untuk  berbagi kasih sayang dengan sesama. Disebutkan  bahwa seorang muslim dipandang sempurna imannya,  manakala yang bersangkutan sanggup mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri.   Pada zaman Nabi,  masjid-masjid dijadikan sebagai tempat berbagi ilmu. Ayat-ayat al Qurán yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi,  segera disampaikan kepada para sahabat,  kemudian  dicatat dan  dihafal, selanjutnya disampaikan kepada ummat Islam ketika itu. Dengan begitu, masyarakat  secara bersama-sama menjadi murid,  tidak mengenal umur dan waktu. Ilmu pengetahuan diberikan kepada siapa saja dan kapan  saja.     Di zaman modern ini, ilmu  pengetahuan diberikan lewat berbagai bentuk, di antaranya  lewat sekolah atau institusi pendidikan lainnya.  Tradisi mebagi ilmu,  di zaman sekarang ini,  bentuk dan sifatnya  berlainan dari zaman Nabi. Pada akhir-akhir ini,  kegiatan menyebarkan  ilmu pengetahuan dilakukan secara terbatas, selektif,  dan birokratis. Akibatnya ilmu tidak merata hingga bisa diterima oleh semua orang.   Orang-orang tertentu,  bisa menguasai berbagai jenis ilmu pengethuan, sementara  lainnya tidak mengerti sama sekali. Padahal berbekal ilmu  pengetahuan yang dimiliki itu, seseorang akan berhasil menguasai berbagai potensi ekonomi maupun  politik. Orang pintar bisa menguasai sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan, sementara lainnya tidak mendapatkannya. Keadaan seperti itulah sebenarnya, yang menjadi sebab  terjadinya  perbedaan dan bahkan kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat.   Perbedaan antara kaya dan miskin  sebenarnya dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan yang berbeda-beda ini. Oleh karena itu kalau akhir-akhir ini muncul wacana untuk meningkatkan taraf hidup kaum miskin, seharusnya dimulai dari peningkatan pengetahuan kepada mereka. Bisa dibayangkan, betapa sulit dan beratnya   meningkatkan taraf ekonomi  terhadap  orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan di zaman modern  dan kemajuan teknologi seperti sekarang ini. Jelas, akan sangat sulit sekali.   Oleh karena itu,  upaya-upaya pengetasan kemiskinan,  maka pendekatan yang paling tepat dilakukan adalah lewat  pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikian.  Beberapa tahun terakhir,  pemerintah sudah berusaha meningkatkan anggaran pendidikan hingga 20 %  dari APBN. Namun anggaran yang besar tidak akan menjamin peningkatan ekonomi rakyat, jika  penggunaannya tidak tepat. Selain itu, masih ada faktor lain yang menentukan, yaitu  terkait  jenis ilmu yang dibagikan itu. Pemberian  ilmu tersebut  serta   metodologi yang  digunakan harus  relevan, ——ilmu yang bermanfaat,  terhadap kebutuhan masyarakat  yang sebenarnya.   Selain berbagi ilmu, Islam juga menganjurkan ummatnya agar  mau  berbagi harta, melalui zakat, infaq,  dan shadaqoh serta jenis lainnya. Ajaran Islam menganjurkan agar ummatnya memperhatikan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, seperti terhadap fakir miskin, anak yatim, orang yang terbebani hutang, dan juga pihak-pihak  selainnya yang memerlukan bantuan. Dianggap sebagai tidak pantas, yaitu  bagi orang yang memiliki kelebihan  tetapi tidak mau berbagi dan peduli terhadap mereka yang berkekurangan dan perlu dibantu.   Kesediaan berbagi ilmu pengetahuan, harta keyayaan, dan  bahkan  kasih sayang,  menjadikan  ummat Islam diwarnai oleh suasana kebersamaan, saling memperkokoh satu dengan yang lain, terhapusnya kesenjangan dan lain-lain. Kesenjangan   yang kadang sedemikian lebar, yang  terjadi di negeri ini,  sebenarnya menunjukkan bahwa semangat berbagi di kalangan umat Islam masih lemah. Keber-Ismanan masyarakat selama ini  masih baru diwarnai oleh kegiatan  ritual yang belum sepenuhnya diikuti oleh jen is kegiatan lainnya,—–termasuk ajaran berbagi.  Padahal  kegiatan berbagi   itu seharusnya  tidak boleh ditinggalkan. Wallahu a’lam.    

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *