Beberapa hari ini, ujian SNMPTN 2011 telah diumumkan, demikian pula ujian SPMB-PTAIN. Lewat seleksi tersebut , banyak calon mahasiswa dinyatakan lulus, diterima pada perguruan tinggi yang menjadi idamannya. Sejumlah lainnya, oleh karena daya tampung PTN atau PTAIN terbatas, maka terpaksa tidak lulus. Mereka yang lulus, tentu harus bersyukur, karena keinginannya tercapai. Sebaliknya, yang tidak lulus, tidak perlu merasa terlalu terbebani, sebab keberhasilan di masa depan tidak selalu lewat kuliah di PTN. Masih banyak lagi pintu-pintu yang bisa dilalui untuk meraih keberhasilan di masa depan.
Bagi mereka yang lulus, langsung akan memenuhi kewajiban yang ditentukan oleh kampusnya masing-masing. Mereka akan mengisi formulir yang disediakan oleh kampus. Selain itu, juga harus membayar sejumlah dana yang ditentukan. Bagi mereka yang berasal dari keluarga mampu, terkait dana tidak dirasakan sebagai beban yang berat. Sebaliknya, bagi yang kurang berkecukupan, dan apalagi beban yang harus ditanggung cukup banyak, masuk ke perguruan tinggi akan dirasakan sebagai beban yang ringan. Bagi orang tua yang berharap agar anaknya mendapatkan pendidikan yang diinginkan, asalkan masih terjangkau, betapapun beratnya beban itu, akan dipenuhi. Orang tua biasanya lebih mengutamakan kepentingan anaknya daripada kepentingan dirinya sendiri. Mereka ingin melihat keberhasilan masa depan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, kita seringkali menyaksikan, ada sementara orang tua yang tidak saja sibuk mendapatkan dana yang diperlukan, tetapi juga masih harus mengantarkan ke kampus untuk mendaftar ulang, mencarikan tempat kost, ——-bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dari kampus, untuk kepentingan anaknya. Sukses anaknya adalah juga dianggap sukses diri dan semua keluarganya. Anaknya diangap sukses, manakala ia bisa menyelesaikan belajarnya di perguruan tinggi tepat waktu, indek prestasi bagus, banyak penghargaan yang dihasilkan, dan tentu berhasil membangun pribadi yang matang dan atau dewasa, baik dari aspek intelektual, sosial, emosional, dan juga spiritualnya. Itulah pribadi utuh, yang diharapkan dari semua pihak, baik oleh kampusnya sendiri, orang tua, dan juga keluarganya. Hal yang perlu diketahui bahwa, belajar di perguruan tinggi sudah tidak sama dengan belajar di sekolah tingkat sebelumnya. Di sekolah biasanya para guru lebih aktif memberikan bimbingan kepada para siswanya. Berbeda dengan itu adalah di perguruan tinggi. Para mahasiswa dianggap sudah mulai dewasa. Atas dasar anggapan itu, maka mahasiswa dianggap telah bisa memimpin dirinya sendiri, dalam menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Perguruan tinggi pada umumnya hanya memberikan fasilitas, baik berupa tenaga pengajar, perpustakaan, laboratorium, dan lingkungan belajar. Mahasiswa yang sukses yang berhasil memanfaatkan berbagai fasilitas itu semaksimal mungkin. Tetapi hal yang perlu diketahui bahwa, pengetahuan yang diperoleh melalui kuliah dari para dosennya hanya terbatas jumlahnya. Bahan kuliah yang diberikan umumnya hanya berupa garis-garis besar yang untuk selanjutnya agar dikembangkan sendiri lewat membaca buku, menyusun makalah, berdiskusi sesama teman, kerja penelitian di laboratorium, dan lain-lain. Belajar di perguruan tinggi, jika mahasiswa hanya mencukupkan pengetahuannya dari apa yang disampaikan oleh para dosen, maka hasilnya sangat tidak mencukupi. System sks yang pada umumnya dijalankan seperti sekarang ini, tanpa usaha dan belajar keras, bisa saja seorang mahasiswa menyelesaikan studinya, tetapi hasilnya tidak akan kelihatan. Mereka lulus dan bergelar akademik, akan tetapi gelarnya hanya akan membebani dirinya. Setelah mereka lulus, dan diketahui bahwa, yang bersangkutan tidak memiliki kemampuan apa-apa, maka masyarakat tidak akan mempercayai. Itulah maka, gelarnya hanya akan menjadi beban sepanjang umurnya. Untuk meraih prestasi terbaik, dalam arti berhasil mengembangkan kedewasaan spiritual, intelektual, sosial, dan emosional, maka ada beberapa bekal yang seharusnya dimiliki, yaitu kemampuan berbahasa secara bagus, ketrampilan berkomunikasi, ——komunikasi lisan maupun tulis, kemampuan untuk meneliti, dan kaya bacaan. Mahasiswa UIN Maliki Malang misalnya, dibekali dua bahasa asing, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Bahasa Arab dijadikan piranti memahami kitab suci al Qurán dan hadits nabi, sedangkan kemampuan Bahasa Inggris untuk bekal memahami literatur ilmu pengetahuan pada umumnya. Kemampuan berkomunikasi menjadi sangat penting. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini, kekayaan relasi menjadi kunci keberhasilan. Orang sukses biasanya akan dialami oleh mereka yang memiliki relasi atau jaringan yang kuat. Membangun relasi tidak selalu mudah. Diperlukan strategi yang tepat. Oleh karena itu, mahasiswa tidak semestinya melakukan kegiatan yang justru kontra produktif, misalnya melakukan aksi yang tidak jelas manfaatnya. Mahasiswa harus tampil hingga dikenal luas kualitas kepribadiannya atas dasar ukuran-ukuran sebagaimana dikemukakan di muka. Namun, satu lagi yang terpenting, adalah meluruskan niat. Bahwa belajar di mana saja, tidak terkecuali di perguruan tinggi, harus didasarkan pada niat yang lurus dan benar. Niat lurus dan benar dimaksud itu adalah mencari ilmu dengan ikhlas untuk memenuhi perintah Allah. Orang yang berilmu, diharapkan berhasil mengenal dirinya sendiri, Tuhannya, dan selalu berpikir tentang ciptaan Allah baik di langit maupun di bumi. Sebaliknya, belajar bukan sebatas agar lulus, diwisuda, dan mendapatkan ijazah, tanpa disertai kualitas pribadi yang memadai. Berniat menjadi manusia berkualitas, yaitu berakhlakul karimah, beriman, berilmu, beramal saleh itulah, yang seharusnya dijaga secara terus menerus dan istiqomah. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
