Thursday, 9 July 2026
above article banner area

Bersyukur dan Meluruskan Niat

Beberapa hari ini, ujian SNMPTN  2011 telah diumumkan, demikian pula ujian SPMB-PTAIN. Lewat  seleksi  tersebut , banyak calon mahasiswa dinyatakan lulus, diterima pada perguruan tinggi yang menjadi idamannya. Sejumlah lainnya, oleh karena daya tampung PTN atau PTAIN  terbatas, maka terpaksa tidak lulus. Mereka yang lulus, tentu harus bersyukur, karena  keinginannya tercapai. Sebaliknya, yang tidak lulus,  tidak perlu  merasa terlalu  terbebani, sebab keberhasilan di masa depan tidak selalu  lewat kuliah di PTN. Masih banyak lagi pintu-pintu yang bisa dilalui untuk meraih keberhasilan di masa depan.

  Bagi mereka yang lulus, langsung akan memenuhi kewajiban yang ditentukan oleh kampusnya masing-masing. Mereka akan mengisi formulir yang disediakan oleh kampus. Selain itu, juga harus membayar sejumlah dana yang ditentukan. Bagi mereka yang berasal dari keluarga  mampu, terkait dana tidak dirasakan sebagai beban yang berat. Sebaliknya, bagi yang kurang berkecukupan, dan apalagi beban yang harus ditanggung cukup banyak, masuk ke perguruan tinggi  akan dirasakan sebagai beban  yang ringan.   Bagi orang tua yang berharap agar anaknya mendapatkan pendidikan yang diinginkan,  asalkan masih  terjangkau, betapapun beratnya beban itu,  akan  dipenuhi. Orang tua biasanya lebih mengutamakan   kepentingan anaknya daripada kepentingan dirinya sendiri.   Mereka ingin melihat keberhasilan  masa depan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, kita seringkali menyaksikan, ada sementara orang tua yang tidak saja sibuk mendapatkan dana yang diperlukan, tetapi juga masih harus mengantarkan  ke kampus untuk mendaftar ulang, mencarikan tempat kost, ——-bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dari kampus, untuk kepentingan  anaknya.   Sukses anaknya adalah juga dianggap sukses diri dan semua keluarganya.  Anaknya diangap sukses, manakala  ia bisa menyelesaikan belajarnya di perguruan tinggi tepat waktu, indek prestasi bagus, banyak  penghargaan yang dihasilkan, dan tentu berhasil membangun pribadi yang matang dan atau dewasa, baik dari aspek intelektual, sosial, emosional,  dan juga spiritualnya. Itulah pribadi utuh, yang diharapkan dari semua pihak, baik oleh kampusnya sendiri, orang tua,  dan juga keluarganya.   Hal yang perlu diketahui bahwa, belajar di perguruan tinggi  sudah tidak sama dengan belajar di sekolah tingkat sebelumnya. Di sekolah biasanya para guru lebih aktif memberikan bimbingan kepada para siswanya. Berbeda dengan itu adalah di perguruan tinggi. Para mahasiswa dianggap sudah mulai dewasa. Atas dasar anggapan itu, maka mahasiswa dianggap telah bisa memimpin dirinya sendiri, dalam menyelesaikan studinya di perguruan tinggi.   Perguruan tinggi pada umumnya hanya memberikan fasilitas, baik berupa tenaga pengajar, perpustakaan, laboratorium,  dan  lingkungan belajar.  Mahasiswa yang sukses yang berhasil memanfaatkan berbagai fasilitas itu semaksimal mungkin. Tetapi hal yang perlu diketahui bahwa,  pengetahuan yang  diperoleh melalui  kuliah dari para dosennya hanya terbatas jumlahnya. Bahan kuliah yang diberikan umumnya hanya berupa garis-garis besar yang  untuk selanjutnya agar  dikembangkan sendiri  lewat  membaca buku, menyusun  makalah, berdiskusi sesama teman,   kerja  penelitian di laboratorium,  dan lain-lain.   Belajar di perguruan tinggi, jika mahasiswa hanya mencukupkan  pengetahuannya dari apa yang disampaikan oleh para dosen, maka hasilnya sangat tidak mencukupi.   System sks  yang pada umumnya dijalankan seperti sekarang ini,  tanpa usaha dan belajar keras,  bisa saja seorang mahasiswa menyelesaikan studinya, tetapi hasilnya tidak akan  kelihatan. Mereka lulus dan bergelar akademik, akan tetapi gelarnya hanya akan membebani dirinya.   Setelah mereka lulus,  dan  diketahui bahwa,  yang bersangkutan  tidak memiliki kemampuan apa-apa, maka masyarakat tidak akan mempercayai. Itulah maka, gelarnya hanya akan menjadi beban sepanjang umurnya.     Untuk meraih prestasi terbaik,  dalam arti  berhasil mengembangkan kedewasaan spiritual, intelektual, sosial,  dan emosional, maka ada beberapa bekal yang seharusnya   dimiliki, yaitu kemampuan berbahasa secara bagus, ketrampilan berkomunikasi, ——komunikasi lisan maupun tulis, kemampuan untuk meneliti, dan kaya bacaan.  Mahasiswa UIN Maliki Malang misalnya, dibekali dua bahasa asing, yaitu Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Bahasa Arab dijadikan piranti memahami kitab suci al Qurán dan hadits nabi, sedangkan kemampuan Bahasa Inggris untuk bekal memahami literatur ilmu pengetahuan pada umumnya.   Kemampuan berkomunikasi menjadi sangat penting. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini, kekayaan relasi menjadi kunci keberhasilan. Orang sukses biasanya akan dialami oleh  mereka  yang memiliki relasi atau jaringan yang kuat. Membangun relasi tidak selalu mudah. Diperlukan strategi yang tepat. Oleh karena itu, mahasiswa tidak semestinya melakukan kegiatan yang justru kontra produktif, misalnya melakukan aksi yang tidak jelas manfaatnya. Mahasiswa harus tampil hingga dikenal luas kualitas kepribadiannya atas dasar  ukuran-ukuran sebagaimana dikemukakan di muka.   Namun, satu lagi yang terpenting,   adalah meluruskan niat. Bahwa belajar di mana saja, tidak terkecuali di perguruan tinggi, harus didasarkan pada niat yang lurus dan benar. Niat  lurus dan benar dimaksud itu adalah mencari ilmu dengan ikhlas   untuk memenuhi perintah Allah.  Orang yang berilmu,  diharapkan berhasil  mengenal dirinya sendiri, Tuhannya, dan selalu berpikir tentang ciptaan Allah baik di langit maupun di bumi. Sebaliknya, belajar bukan sebatas agar lulus, diwisuda,  dan mendapatkan ijazah, tanpa disertai kualitas pribadi yang memadai. Berniat  menjadi manusia  berkualitas,  yaitu  berakhlakul karimah,  beriman,  berilmu, beramal saleh  itulah,  yang seharusnya dijaga secara terus menerus dan istiqomah. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *