Sejak awal bangsa ini bercita-cita menjadi bangsa besar. Kebesaran itu bukan hanya dilihat dari jumlah penduduknya semata, melainkan karena memiliki pikiran dan jiwa besar. Jumlah besar tidak selalu banyak memberi arti, jika tidak bisa memberi apa-apa terhadap yang lain, apalagi kebesarannya itu hanya menjadi beban. Selain itu, besarnya jumlah penduduk tidak banyak yang bisa diperbuat, jika mereka tidak memiliki ilmu, ketrampilan, dan akhlak atau budi pekerti yang mulia. Bangsa Indonesia hadir tidak ingin seperti itu. Dulu, Presiden pertama, Ir. Soekarno, biasanya berpidato berapi-api meyakinkan rakyatnya, bahwa bangsa ini adalah bangsa besar dan bermartabat. Salah satu kelebihan Presiden Soekarno, jika sedang berpidato, ———biasanya lewat radio karena ketika itu belum ada televisi, berapi-api untuk membakar semangat, sehingga anak-anak sekolah yang sedang mendapatkan pelajaran di kelas pun, diajak oleh gurunya menuju rumah yang memiliki radio untuk mendengarkannya. Dengan pidato itu terasa benar hati menjadi besar, penuh percaya diri, dan bangga menjadi bangsa Indonesia. Presiden Soekarno memang seorang orator ulung. Pidatonya menggelegar mampu membangkitkan semangat bagi siapapun yang mendengarkannya. Sekalipun ketika itu, bangsa ini secara ekonomi masih lembek, tetapi melalui pidato presiden, seolah-olah terasa sebagai bangsa besar, unggul dan bermartabat. Menjadi anak-anak Indonesia dengan mendengar pidato itu terasa bangga sekali. Sudah lebih empat puluh tahun yang lalu, bangsa ini tidak memiliki pemimpin yang mampu membakar semangat seperti pada zaman kepemimpinan Ir.Soekarno itu. Padahal saat sekarang, secara ekonomi, bangsa ini sesungguhnya sudah jauh lebih maju. Jalan-jalan sudah beraspal hingga ke desa-desa. Listrik, tilpun, televise bisa dinikmati oleh masyarakat hingga ke pelosok-pelosok desa. Kendaraan roda dua, dan bahkan juga roda empat telah dimiliki bahkan oleh orang desa sekalipun. Namun tatkala kemajuan tersebut mulai diraih, akhir-akhir ini, yang muncul adalah justru sebaliknya, yaitu suasana rendah diri yang terbangun oleh statemen-statemen para elite yang kurang arif dan membangun. Disebutkan bahwa bangsa ini adalah bangsa tertinggal, terpuruk, korup, telah sampai titik nadzir dan sejenisnya. Belum lagi, sehari-hari generasi ini disuguhi oleh berita tentang korupsi, kolusi, nepotisme yang semakin lama semakin menjadi jadi. Berita yang kurang mendidik lainnya, misalnya tentang konflik antar elite, berebut jabatan, dan saling menjatuhkan antar sesama. Rakyat begitu mudah melihat gambar-gambar pejabat lewat TV, Koran, majalah yang sedang diadili dan dimasukkan ke penjara karena korupsi atau menyimpang. Bertengkar antar pemimpin dengan saling mengeluarkan kata atau kalimat kasar lewat media masa, disaksikan oleh rakyat hingga ke pelosok dianggap sebagai hal biasa. Sopan santun terhadap sesama, menghargai orang, tepo seliro, dan seterusnya menjadi hilang, entah kemana perginya. Menghujat diangggap hal biasa. Menghormati orang dianggap tidak perlu. Tidak sedikit para elite berebut kemenangan dan keunggulan dengan caranya sendiri. Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menjaga harkat dan martabat atau kehormatannya. Bangsa besar adalah bangsa yang bisa menghargai dan menghormati sesama, menempatkan orang lain pada tempat yang mulia, memberikan maaf, mau mengerti dan selalu berusaha menyelamatkan dan mau menjunjung tinggi nama baik sesamanya. Bangsa besar juga adalah bangsa yang mampu berpikir besar, yaitu bangsa yang selalu berusaha menyelamatkan orang lain dari kemungkinan berbuat salah. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu menempatkan diri secara terhormat, selalu memberi manfaat bagi bangsa lainnya. Sebaliknya, bangsa besar bukan bangsa yang bangga tatkala bisa menang dan berhasil menjatuhkan sesama tokoh. Bangsa besar bukan bangsa yang sehari-hari hanya sibuk mendaftar kesalahan banyak orang. Hal seperti itu sesungguhnya tidak terpuji dan tokh tidak akan berhasil memperbaiki keadaan. Semogalah bangsa ini tetap menjadi bangsa yang berjiwa dan berpikir besar. Yaitu bangsa yang selalu berpikir untuk mendapatkan keselamatan bersama, saling memberi manfaat bagi sesama, saling memaafkan, tenggang rasa, santun, sabar dan selalu saling berwasiat antara satu dengan lainnya tentang kesabaran dan kebenaran. Sebaliknya, bukan menjadi bangsa kecil, yaitu bangsa yang sehari-hari hanya sibuk saling menghujat, mencari kesalahan, dan saling menjatuhkan di antara sesama elitenya sendiri. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
