Monday, 20 April 2026
above article banner area

Bangsa Yang Sehat

Bangsa sehat tidak selalu sama artinya dengan bangsa yang kaya. Bisa jadi, bangsa itu kaya tetapi tidak sehat. Demikian pula sebaliknya, bisa jadi bangsa itu miskin, tetapi sehat. Memang semua orang menginginkan menjadi sehat dan sekaligus kaya. Tetapi kalau harus memilih, kiranya akan lebih memilih sehat sekalipun miskin, dari pada kaya tetapi tidak sehat. Sehat mesti diletakkan pada pilihan utama. Orang kaya, tetapi sakit-sakitan, maka kekayaannya tidak akan bisa dinikmati. Demikian pula sebuah bangsa, mereka selalu ingin menjadi sehat. Sejak reformasi digulirkan, bangsa ini ditimpa problem-problem yang seolah-olah tidak ada hentinya. Presioden Soeharto jatuh, kemudian digantikan Habibie. Ketika itu, Habibie meraih prestasi yang luar biasa. Misalnya, nilai rupiah dari yang semula mencapai Rp. 16.500, – perdolar bisa diturunkan hingga Rp. 6.500,- per dollar. Tetapi, karena sesuatu hal, pemilu dipercepat. Habibie tidak bersedia dicalonkan, akhirnya digantikan oleh Gus Dur. Belum genap dua tahun Gus Dur menduduki kursi presiden, diturunkan. Selanjutnya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. Sehabis masa jabatannya, presiden ini tidak terpilih dan digantikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono. Berbagai musibah pada masa pemerintahannya datang silih berganti. Namun semua itu bisa diatasi, hingga pemerintah berjalan sampai akhir masa jabatannya. Periode berikutnya, SBY terpilih kembali. Belum lama dilantik, jika pada periode pertama didera oleh berbagai musibah secara beruntun, maka rupanya pada periode kedua ini ditimpa oleh fitnah. Fitnah yang dimaksudkan itu berupa perselisihan. Pada awalnya, perselisihan itu terjadi antara Polisi, KPK, dan Kejaksaan. Fitnah atau perselisihan itu dapat diselesaikan. Akan tetapi kini muncul fitnah berikutnya berupa kasus Bank Century. Kasus ini melibatkan berbagai pihak, yang hingga kini belum ada tanda-tanda selesai. Sejak reformasi hingga sekarang, hampir sepanjang masa, selalu muncul isu-isu tentang korupsi, peradilan, dan berbagai jenis skandal lainnya. Seolah-olah sehari-hari bangsa ini tidak pernah sepi dari kasus-kasus yang tidak ringan. Para tokoh negeri ini, mulai dari bupati, wali kota, gubernur, menteri, anggota DPR, kejaksaan, hakim, KPK, Direktur Bank, pejabat BUMN, dan bahkan pejabat KPU pada periode yang lalu, setelah menyelesaikan tugasnya dituduh korupsi dan akhirnya diadili dan masuk penjara. Memperhatikan kenyataan-kenyataan seperti itu, bangsa ini seakan-akan tidak dalam keadaan sehat. Para pejabat pada tingkat apapun tidak ada yang merasa aman. Peluang dituduh salah terbuka lebar. Akibatnya, pejabat pemerintah, pada tingkat apapun, tidak ada yang merasa aman sepenuhnya. Bahkan pada saat ini, menteri yang terkait persoalan Bank Century dan bahkan Wakil Presiden pun dipanggil dan dimintai keterangan sebagai saksi terhadap kasus Bank Century itu. Perasaan aman, hingga bisa menjalankan tugas, tanggung jawab, serta wewenangnya hampir-hampir tidak dimiliki sepenuhnya oleh setiap pejabat. Sebaliknya suasana curiga, tidak mempercayai, cepat menyalahkan, perasaan diperlakukan secara tidak adil dan jujur, selalu terasakan di mana-mana. Akibatnya, banyak orang cepat protes, berlaku kasar, bahkan kasus-kasus melawan petugas terjadi di mana-mana. Melihat suasana atau keadaan seperti itu, saya seringkali bertanya-tanya, jangan-jangan bangsa ini sebenarnya sedang sakit. Secara fisik saja bangsa ini sehat, tetapi secara mental bisa jadi lagi sakit. Jika demikian, maka para pemimpin di berbagai tingkatannya seharusnya lebih arif, sehingga ada langkah-langkah strategis untuk menjadikan bangsa ini sehat, yaitu menjadi bangsa yang para pemimpinnya berhasil menunaikan amanah sebaik-baiknya, sedangkan rakyatnya merasa terlayani dengan baik dan merasa diperlakukan secara jujur dan adil, sehingga semuanya mensyukuri semua nikmat yang selama ini diterimanya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *