Pada hari Sabtu, tanggal 25 September 2010, saya diundang oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Purworejo, Jawa Tengah pada acara milad kampus itu yang ke 46. Pada acara itu, saya diminta memberi orasi ilmiah. Pada acara itu, saya tidak melihat hal yang khusus dan luar biasa. Memang kegiatannya dikemas secara sederhana, sebagaimana biasa di lingkungan Muhammadiyah.
Pada acara itu banyak pejabat daerah diundang, tetapi rupanya tidak banyak yang hadir. Bupati Purworejo tidak hadir, karena esok harinya, tanggal 26 Seprember 2010, akan diselenggarakan coblosan pemilihan bupati periode berikutnya. Bupati sendiri, kabarnya ikut nyalonkan, sehingga sibuk dengan kegiatan itu. Namun, bupati mengirim sambutan yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pendidikan setempat. Hal yang juga sama dilakukan di berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah pada umumnya, adalah tampak dari semangat kerja kerasnya. Sekitar lima tahun lalu, saya datang di kampus ini, sebagai pembicara dalam sebuah seminar. Hanya dalam waktu lima tahun, atas kerja keras itu, keadaan UM Purworejo sudah jauh berubah. Gedung kuliah, perkantoran, dan bahkan juga jumlah dosen dan mahasiswanya meningkat. Sekalipun berada di kota kecil, UM Purworejo telah mendapatkan kepercayaan masyarakat, sehingga memiliki tidak kurang dari 5500 mahasiswa. Pada saat sekarang ini, penambahan fasilitas kampus juga masih berlangsung. Di sebelah bangunan yang sekarang dtempati, sedang dikerjakan pembangunan gedung perkantoran dan sekaligus masjid. Selain itu, rupanya Rektor UM Purworejo memiliki program berupa peningkatan iklim keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pada setiap waktu shalat, Rektor memberikan tauladan shalat berjama’ah di masjid kampus. Demikian pula, hal baru lainnlya, sejak beberapa tahun terakhir, diselenggarakan shalat jum’at dan juga shalat tarweh pada Bulan Ramadhan di kampus. Bagi saya ada hal baru lainnya yang justru menarik, yaitu pada acara Milad UM Purworejo itu, Rektor mengundang para perintis kampus, termasuk keluarganya. Selain itu, juga orang-orang yang telah mewakafkan harta kekayaannya yang dulu digunakan sebagai modal awal pembangunan perguruan tinggi ini. Rektor di akhir sambutannya membacakan satu persatu nama-nama para perintis itu. Jumlahnya cukup banyak, tetapi semua disebutkannya. Apa yang dilakukan oleh Rektor itu, —–saya melihat, para perintis menjadi sangat bergembira. Setelah acara itu, seorang yang masuk kategori peritis, mengungkapkan kebahagiaannya. Ia mengaku, umurnya sudah hampir genap 80 tahun, masih bisa menyaksikan kemajuan kampus yang dahulu dirintisnya. Sebelumnya, ia tidak membayangkan, perguruan tinggi Muhammadiyah bisa mengalami kemajuan seperti yang dilihat sekarang ini. Menyaksikan kejadian itu, terlintas dalam benak saya, bahwa tatkala seseorang memberikan sesuatu untuk perjuangan harus dilakukan secara ikhlas, dan karena itu tidak perlu disebut-sebut dan diingat-ingat kembali. Agar Tuhan sendiri sajalah yang mencatat dan kelak membalas. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Pengakuan tersebut ternyata memberikan manfaat yang besar. Di antaranya yang saya lihat, ada kegembiraan, kebanggaan, dan ungkapan syukur yang mendalam dari para sesepuh dan perintis itu. Selain itu, tentu akan melahirkan semangat dan sekaligus menjadi pelajaran pada generasai penerusnya. Satu di antara sesepuh yang masuk kategori awal merintis pendirian kampus itu, mengaku sangat bahagia melihat kemajuan UM Purworejo. Ia bercerita panjang lebar, seolah-olah akan memberikan semangat dan harapannya terhadap pengembangan kampus tersebut mendatang. Ia merasa bahagia, karena masih mendapatkan kesempatan melihat apa yang telah dirintis sejak lama, dan ternyata berkembang dengan baik. Mendengar dan menyaksikan cerita perintis UM Purworejo itu, saya menjadi semakin yakin bahwa apa yang dilakukan oleh rektor UM Purworejo menjadi sesuatu yang terpuji dan dari berbagai aspeknya memang banyak manfaatnya. Memang seperti itulah seharusnya, sejarah membangun kebaikan apapun, harus bersambung secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya tercatat secara baik. Tuhan saja mencatat amal ibadah hamba-Nya hingga sekecil-kecilnya. Apalagi manusia, semestinya melakukannya seperti itu. Wallahu a’lam
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
