Saturday, 18 April 2026
above article banner area

Mental Pemberi

Ternyata ada saja orang-orang yang sukanya memberi. Mereka itu lebih suka memberi daripada menerima.  Dengan telah berhasil memberi maka hati mereka gembira dan puas. Tugas dan kewajibannya telah merasa ditunaikan. Itulah orang yang bermental pemberi.

  Hanya mungkin saja jumlah mereka itu tidak bayak. Yang selalu kita temukan adalah orang-orang yang gembira tatkala menerima. Orang-orang seperti itu, setiap hari yang dipikir adalah mencari sumbangan. Tatkala mendapatkannya, mereka merasa beruntung dan hatinya gembira. Mereka berprestasi dan bangga, karena telah mendapatkan sumbangan itu.   Islam mengajak umatnya menjadi pemberi dan bukan sebaliknya,  menjadi penerima. Dikatakan dalam sebuah hadits nabi, bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Artinya pemberi lebih baik dari mereka yang menerimanya. Orang Islam dianjurkan selalu memberi sesuatu yang  bermanfaat bagi orang lain. Hingga juga ada hadits nabi yang mengatakan bahwa, sebaik-baik orang adalah mereka yang banyak memberi manfaat bagi orang lain.   Tatkala memberi sudah menjadi kesenangan,  atau seseorang telah bermental pemberi, maka mereka merasa sukses dan berhasil hidupnya tatkala keinginan atau jiwanya  itu telah terpenuhi.  Mereka bekerja dan hasilnya agar bisa diberikan kepada orang lain.   Orang seperti ini, biasanya tidak suka menumpuk-numpuk hartanya. Keberhasilan menumpuk harta bukan menjadi kebanggaan, bahkan sebaliknya, risih dan atau malu.   Orang yang bermental seperti itu, tidak suka korupsi.  Mengambil harta bukan haknya dirasakan olehnya sebagai kenistaan, hina,  dan rendah. Seseorang jangankan mengambil sesuatu yang bukan haknya,  haram hukumnya,  barang yang tidak semestinya, sedangkan yang merupakan milik  dan halal saja,  segera barang itu diberikan kepada orang lain.  Orang yang bermental seperti ini, ternyata di mana-mana ada, sekalipun tidak banyak jumlahnya.   Orang bermental  pemberi  tidak selalu  kaya. Apa yang diberikan, sebatas yang mereka miliki. Apa yang dimiliki dan tidak sedang diperlukan, —–jika mungkin,   diberikan pada orang lain.  Mereka itulah pemilik sifat atau berjiwa pemberi. Tatkala mereka berhasil memberikan sesuatu kepada orang lain, maka mereka hatinya puas, gembira, dan bahagia. Kebanggaan atau kesenangan yang didapat oleh mereka tatkala berhasil memberi, melebihi kebanggaan atau kesenangan yang dirasakan  oleh orang lain  yang menerimanya.    Para koruptor sebenarnya adalah orang-orang yang berjiwa atau hatinya lebih menyukai ketika  mendapatkan, ——darimana pun datangnya, dan bukan sebaliknya, memberi atau melepas  sesuatu. Para koruptor itu, sebenarnya adalah orang-orang yang lebih menyukai harta atau uang.  Mereka lebih menyukai dirinya menjadi penerima.   Mental pemberi bisa dimiliki oleh siapapun, baik  orang kaya maupun orang yang tidak tergolong kaya.  Tidak selalu orang kaya  bermental murah hati atau suka member.  Tidak sulit kita temukan dalam kehidupan sehatri-hari, orang kaya justru pelit,  dan sebaliknya  orang  yang miskin tetapi bermental pemberi.  Mental pemberi bisa dilatih, hingga seseorang yang semula pelit, ——karena latihan itu, maka lama kelamaan  berubah menjadi suka memberi.   Pertanyaannya kemudian adalah, apakah birokrasi pemerintah   selama ini  lebih menumbuh-suburkan mental pemberi  dan atau  sebaliknya, bermental penerima. Sebagai abdi negara, masyarakat, dan rakyat, semestinya lingkungan birokrasi  ditumbuh-kembangkan mental atau jiwa pemberi, pejuang dan berkorban. Mental pemberi, pejuang,  dan berkorban sebenarnya bisa ditumbuh-kembangkan, tidak terkecuali di lingkungan birokrasi.   Jika di birokrasi ——birokrasi apa saja, yang ditumbuh-kembangkan adalah jiwa atau mental penerima, maka  akan tumbuh  mental korup. Orang yang gemarnya menerima, akan puas kalau kegemarannya terpenuhi.  Para pimpinan birokrasi yang selalu berpikir tunjangan, fasilitas, hak-hak, kenaikan honor,  dan seterusnya maka pada jiwanya akan lahir mental korup itu. Mental korup akhirnya menjadi tumbuh dan  berkembang. Bahkan   juga bisa menular ke orang lain. Sehingga,  seseorang yang semula baik, bermental dan berjiwa pemberi, suatu saaat berubah menjadi koruptor.   Ada kesan umum bahwa birokrasi selalu diwarnai oleh mental korup.  Jika kesan itu benar, maka  bagi orang-orang yang masuk birokrasi atau menjadi birokrat perlu dikasihani. Mereka berada di lingkungan, iklim atau suasana yang sedemikian mudah  berkorupsi.  Oleh karena itu,  dari memahami bahwa birokrasi  selalu melahirkan mental korup, maka menghindarinya perlu dikembangkan mental atau jiwa pemberi itu.    Mengembangkan mental pemberi bisa ditempuh dengan cara   selalu membiasakan untuk mengapresiasi, menghormati,  memuliakan, dan  menghargai terhadap orang-orang yang terbiasa memberi sesuatu kepada orang lain. Sebaliknya, mental suka menerima dan mendapatkan perlu dihindari. Sebab, orang yang hanya merasa nikmat tatkala menerima, maka sehari-hari  akan berusaha menerima sebanyak-banyaknya, sekalipun berasal dari jalan korupsi.  Di lingkungan para birokrat pada tingkatan atau level apapun, perlu ditumbuh-kembangkan mental dan jiwa pemberi, pejuang,  sekaligus berkorban.     Konsep jihad dalam Islam,  sebenarnya  adalah terkait dengan upaya  menumbuh-kembangkan mental pemberi, pejuang dan sekaligus berkorban. Maka,  jihad yang benar selalu  berhubungan dengan kebaikan, kemuliaan, kebenaran,  dan keagungan.  Para mujahid selalu  berjiwa atau  bermental pemberi.  Mereka tidak pernah akan korupsi.  Sebaliknya, para  koruptor adalah orang yang  suka menerima,  memperoleh, atau mendapatkan.   Oleh karena itu, sebenarnya  cara efektif mengurangi fenomena  korupsi,  bisa dilakukan dengan jalan menghindari  kebiasaan menerima, mendapatkan fasilitas, atau honor-honor tambahan lainnya. Jika itu dilakukan, maka sama halnya sehari-hari  membenci korupsi, tetapi secara nyata sehari-hari pula, ——disadari atau tidak, telah  menumbuh-kembangkan mental korup.  Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *