Senang, susah, gelisah, kecewa, bahagia, ceria dan sejenisnya merupakan kondisi psikologis seseorang yang umum kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang merasa senang jika kebutuhan terpenuhi atau cita-citanya berhasil. Sebaliknya, jika cita-citanya gagal orang menjadi susah. Orang bisa gelisah jika tugas-tugas yang diamanahkan ternyata tidak tuntas diselesaikan. Persoalannya dalam hidup ini manusia selalu berhubungan dengan orang lain. Sebagai social beings, manusia memerlukan orang lain. Misalnya, orang bisa berprofesi menjadi ‘guru’ atau ‘dosen’ karena ada orang yang disebut ‘murid’ atau ‘mahasiswa’. Orang dikenal ‘kaya’, karena ada orang lain yang ‘miskin’. Begitu juga ada ‘kyai’ karena ada orang lain yang menjadi ‘santri’. Ada orang yang menjadi ‘pemimpin’, karena ada yang menjadi ‘bawahan’ atau ‘staf’ yang dipimpinnya, dan seterusnya. Kesimpulannya, manusia tidak bisa hidup sendirian. Dia memerlukan kehadiran orang lain (others) untuk mengisi hidupnya. . Tatkala orang lain hadir di tengah-tengah kita, dia perlu merasa nyaman. Bahasa kerennya, dia memerlukan rasa ‘feeling at home’ agar kehadirannya bermakna bagi kita. Bagaimana caranya? Para ahli kepribadian memiliki tip sederhana tetapi jitu untuk mencapai maksud itu, yakni dengan cara senyum kepada siapa saja yang ditemui. Secara fisiologis, senyum adalah ekspresi wajah yang terjadi akibat gerakan bibir yang ditampilkan pada saat orang merasa senang. Wajah yang senyum enak dipandang karena memang tampak lebih anggun. Sebaliknya, wajah yang angker dan cemberut tentu tidak menarik bagi yang memandangnya. Setidaknya, orang akan memalingkan muka jika ketemu wajah cemberut. Sebab, wajah adalah cermin yang tepat yang menggambarkan isi hari seseorang. Wajah yang ceria dan penuh senyum tentu merupakan modal sangat kuat untuk memperoleh teman dan kerjasama dengan baik. Kita bisa mengambil contoh bagaimana perasaan kita tatkala di tempat kerja ada kawan atau kolega yang sering menunjukkan wajah cemberut dan jarang senyum. Kita juga menjadi tidak tenang dan setidaknya waktu dan energi kita sebagian tersita untuk menjawab pertanyaan: apa yang membuat dia cemberut seolah kecewa berat? Persoalan kantor atau keluarga? Jika persoalan kantor, mengapa tidak disampaikan secara terus terang sehingga kawan kanan kirinya tidak penasaran. Jika persoalannya menyangkut keluarga, mengapa mesti dibawa ke kantor sehingga kawan-kawannya menjadi korban. Dan, masih ada beberapa pertanyaan lainnya. Lebih parah lagi jika yang berwajah cemberut adalah sang atasan atau pemimpin kita. Tentu muncul banyak pertanyaan dari anak buah. Misalnya, apa kesalahan kita?, apa ada tugas yang diperintahkan ke kita tidak terselesaikan? Atau apa sengaja menjaga jarak dan tampak lebih berwibawa sehingga tidak setiap orang (bawahan) bisa bergaul seenaknya. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi kerja tatkala wajah sang pemimpin cemberut. Sebenarnya kita telah diberi tauladan luar biasa indahnya tentang senyum dari Nabi Muhammad SAW. Strategi paling utama yang beliau pakai sepanjang sejarah dakwahnya dalam mengembangkan Islam ialah senyum. Dengan senyum Nabi dapat meluluhkan sikap keras hati siapa saja yang dihadapinya. Beliau mengajak umatnya untuk senantiasa menghiasi hidup dengan akhlak mulia dan menggunakan senyum sebagai wahana berlomba berbuat kebaikan. Menurutnya senyum adalah ibadah. Beliau pun pernah bersabda dalam sebuah hadis “Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah”. Dalam sejarahnya, kita dapati pelajaran sangat mulia yang bisa dijadikan contoh bagi siapa saja. Suatu ketika beliau didatangi seorang Badui yang meminta harta dari baitul maal Nabi dengan cara amat sangat kasar, yakni dengan menarik selendang Nabi hingga leher beliau memerah. Sambil menoleh, Nabi pun menyuruh sahabatnya untuk memenuhi permintaan sang Badui itu dengan senyum. Betapa mulianya perilaku Rasulullah itu. Sayang dalam praktik kehidupan saat ini, contoh yang telah diberikan Nabi tersebut tidak banyak kita temukan, setidaknya pada kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir. Di ruang-ruang publik, kantor, sekolah, tempat hiburan, dan sebagainya yang seharusnya bertebaran senyum justru sering ditemukan orang dengan wajah buram. Kita menjadi heran mengapa masyarakat kita berperilaku demikian. Betapa mahalnya sebuah senyum. Sampai-sampai suatu kali teman saya dari Barat berkomentar bahwa selama ini dia mengenal Indonesia adalah negeri dengan masyarakatnya yang ramah dan murah senyum. Karena itu, dia sangat senang ketika memperoleh kesempatan bekerja di Indonesia untuk kurun waktu yang cukup lama. Tetapi dia menjadi heran ketika melihat sesuatu yang berbeda di masyarakat. “Mungkin masyarakat telah berubah” begitu pikiran yang ada dalam benaknya. Bagi pengkaji ilmu sosial, khususnya fenomenologi, fenomena demikian menyiratkan sebuah pertanyaan untuk ditelusuri lebih dalam. Sebab, menurutnya tidak ada peristiwa sekecil apapun yang terjadi tiba-tiba. Selalu ada mata rantai penyebab yang mengawalinya, kendati tidak dalam hubungan sebab akibat. Mungkin karena tekanan dan kesulitan hidup, ketidakpastian masa depan, sikap individualis yang merasa tidak memerlukan orang lain, para elit dan pemimpin yang tidak memberi contoh yang baik dan sebagainya merupakan beberapa penyebab masyarakat tidak lagi ramah. Padahal senyum merupakan anugerah Tuhan yang mestinya kita manfaatkan untuk menjadikan dunia dan lingkungan di mana kita berada dan tinggal menjadi indah. Oleh kawan saya yang seorang penulis profesional senyum dikatakan “menjangkiti” orang lain. Artinya, orang yang memandangnya akan “terjangkiti” dan kemudian ikut senyum. Sebaliknya, wajah muram juga “menjangkiti” orang lain. Orang akan ikut-ikutan tegang dan akan buang muka. Nah, daripada bikin orang lain susah, kita tebarkan senyum kepada sesama. . Untuk itu, kita hiasi lingkungan kita dengan membiasakan diri dengan senyum tulus, baik tatkala hati sebenarnya agak sumpek, gundah, apalagi hati sedang senang sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah tadi. Mengutip sebuah pepatah, kawan saya tadi menyatakan “Seulas senyum memperkaya mereka yang menerima tanpa memiskinkan mereka yang memberi. Ia berlangsung cuma sekilas namun kenangan tentangnya terkadang membekas abadi”. Saya berharap usai membaca tulisan ini anda pun juga bisa senyum. Setidaknya senyum untuk diri sendiri !.
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
