Tangis, sebuah kata pendek dengan beragam makna. Ia mengeskpresikan rasa sakit, takut, sedih, kecewa, ditinggal orang yang dicintai, minta belas kasihan, bahkan karena rasa bahagia. Ia tidak mengenal tempat, waktu, jenis kelamin, dan status sosial seseorang. Bahkan, Presiden SBY pun sempat menangis karena banyaknya hujatan yang ditujukan kepadanya akhir-akhir ini. Padahal, dia merasa telah berbuat banyak memimpin negei ini. Sebagai peristiwa psikologis, tangis sudah berusia sepanjang sejarah manusia. Dalam kebudayaan Cina, tradisi menyewa orang untuk menangis karena salah seorang anggota keluarganya meningal dunia masih berlaku sampai sekarang. Berikut adalah kisah-kisah tangis dengan beragaman sebab dan maknanya. Beberapa waktu lalu, saya menghadiri acara Ujian Doktor Terbuka seorang kolega yang kebetulan saya juga menjadi salah seorang pengujinya. Secara substantif ujian berjalan lancar dan semua pertanyaan penguji dapat dijawab sang calon doktor dengan baik. Semua senang dan puas karena promovendus dapat menunjukkan expertise-nya di bidang kajiannya. Memang begitulah seharusnya seorang doktor. Sebagai prestasi akademik puncak, doktor memang wajib menguasai bidang yang ditekuninya di atas kemampuan rata-rata orang lain yang tidak doktor. Usai tanya jawab yang berlangsung selama dua jam, pemimpin sidang mengumumkan ada jeda waktu selama lima belas menit untuk menyimpulkan predikat kelulusan. Alhasil, sang promovendus dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan. Semua hadirin bertepuk tangan dan terdengar pula ucapan “alhamdulillah” sebagai bentuk rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas prestasi yang diraih. Ucapan rasa syukur itu sudah sepantasnya dilantunkan. Sebab, menjadi doktor memang tidak mudah. Lebih-lebih jika yang bersangkutan masih harus membagi waktu dengan tugas rutinnya di tempat kerja. Persoalan waktu yang molor dari jatah waktu yang ditentukan menjadi hal biasa. Saya juga memerlukan waktu lebih dari lima tahun untuk menyelesaikan studi doktor. Padahal, jika semua berjalan normal program doktor bisa diselesaikan dalam waktu empat tahun. Sesi berikutnya adalah sambutan promotor dan ko-promotor yang berisi tentang kesan-kesan mereka tentang sang doktor baru tersebut selama proses pembimbingan. Sampai di situ suasana masih biasa-biasa saja dan sesekali saya melihat beberapa undangan yang hadir saling berbisik tanpa saya tahu apa artinya. Suasana menjadi berubah total ketika sang doktor baru itu diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesannya. Semua orang dan pihak yang telah berkontribusi dalam studinya diberi ucapan terima kasih yang mendalam dengan iringan doa semoga ilmu dan bantuan yang diberikan akan menjadi amal jariyah yang bermanfaat kelak. Saat itulah tiba-tiba suasana menjadi hening. Satu per satu orang yang diberi ucapan terima kasih meneteskan air mata, tak terkecuali saya. Padahal, biasanya saya bisa menahan tetesan air mata dalam situasi apapun. Tetapi, entah mengapa, kali itu saya gagal. Suasana haru dan sakral menyelimuti ruang ujian yang baru saja menyelenggarakan perhelatan akademik itu. Semua orang tertunduk dan terdengar sayup-sayup kata “amin”, menjawab doa sang promovendus. Saya menjadi bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan hampir semua orang yang ada di ruang itu meneteskan air mata? Bahkan, sebagian ibu-ibu terlihat menangis. Itulah perhelatan akademik pertama yang pernah saya ikuti dengan suasana haru dan tangis yang menyelimutinya. Sebenarnya tangis dan tetesan air mata bukan peristiwa aneh bagi kita. Setiap orang pasti pernah menangis atau meneteskan air mata. Tetapi, karena itu merupakan peristiwa biasa, tak banyak orang memperhatikannya secara serius. Tetapi setelah acara tersebut, saya penasaran dan ingin memahami lebih dalam tentang tangis dan tetesan air mata. Apa sebenarnya tangis? Dalam bahasa Inggris tangis disepadankan dengan cry. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary (1990: 289) cry didefinisikan sebagai “loud wordless sound expressing grief, pain, joy, etc.”. Artinya, suara tanpa kata untuk menyatakan perasaan susah, sakit, gembira, dan sebagainya. Jadi tangis merupakan ragam bahasa untuk menyampaikan pesan tanpa kata-kata. Menangis bukan monopoli anak kecil, atau kaum hawa yang sering diidentikkan sebagai kaum lemah. Dalam sejarah manusia-manusia hebat, seperti para nabi, juga pernah menangis. Menangis bisa terjadi pada semua orang dengan segala jenis usia dan profesi. Para ahli ilmu jiwa memahami tangis sebagai bentuk ekspresi dunia batin yang sangat dalam dan terkait dengan sumber spiritual manusia. Karena itu, umumnya orang mudah menangis jika bersentuhan dengan aktivitas spiritual dan peristiwa sakral di mana saja. Orang Yahudi bisa menangis keras-keras ketika sedang berada di Tembok Ratapan. Orang Hindu juga menangis tatkala sembahyang di Pura. Orang Nasrani juga menangis ketika melaksanakan kebaktian di Gereja. Begitu juga orang Islam. Dia bisa menangis tatkala membaca atau mendengar lantunan ayat-ayat suci dari al Qur’an yang diresapi maknanya. Saya juga menyaksikan orang yang sedang berhaji menangis sesenggukan tatkala tawaf mengelilingi ka’bah, wukuf di padang Arofah, berdoa di hijir Ismail dan multzam. Banyak orang menangis tatkala melihat jenazah diusung menuju ka’bah untuk disholatkan. Tangis juga tak kuasa ditahan tatkala berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah. Sangat jarang di saat-saat begitu terlihat wajah yang tidak sembab karena terlalu banyak menangis. Menangis justru menjadi pemandangan lumrah. Menjadi sangat tidak lumrah tatkala di saat seperti itu orang tidak menangis. Ada pengalaman menarik sewaktu saya menunaikan ibadah haji yang pertama. Seorang kawan yang sejak berangkat dari Tanah Air berjanji tidak menangis selama menjalankan ibadah haji agar dianggap gentle tiba-tiba justru menangis paling dulu sambil histeris, bahkan hampir pingsan, tatkala masuk Masjidil Haram dan melihat ka’bah. Ketika saya tanya mengapa menangis, dia menjawab tidak bisa melukiskan dengan kata-kata atas rasa kagumnya melihat ka’bah yang tampak gagah dan berwibawa. Ka’bah yang selama ini menjadi arah kiblat waktu sholat saat itu tepat berada di depannya. Rupanya tangisnya adalah karena rasa syukur yang tiada tara bisa melihat ka’bah dari dekat, arah jutaan manusia menjalankan ibadah sholat. Persoalannya adalah apa makna tangis mereka semua itu? Jawabannya tentu beragam. Mungkin ada yang menangis karena rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah, ada yang karena meratapi dosanya yang lalu, ada yang mengagungkan kebesaran Allah, ada pula yang takut akan ancaman dan siksaan Allah, dan masih banyak kemungkinan yang lain. Yang jelas hanya pelakunya saja yang tahu persis apa maknanya. . Tangis dan tetesan air mata memang menyimpan banyak misteri. Tangis tidak selalu mengekspresikan rasa sedih. Sebab, kenyataannya orang bisa menangis tatkala senang karena memperoleh nikmat dan rahmat Allah yang besar, sebagaimana dilakukan oleh para undangan Ujian Terbuka kolega saya tadi. Mereka menangis tentu karena salah seorang kawannya telah meraih prestasi puncak menjadi doktor. . . Kadang-kadang bahasa tangis bisa lebih jelas maknanya daripada bahasa kata-kata. Sebab, kata sangat terbatas. Dia tidak sanggup mengungkap makna atau realitas yang ada. Sebab realitas atau kenyataan jauh lebih kompleks daripada yang bisa diungkap dengan kata-kata. Karena itu, jangan ikut bersedih tatkala melihat orang menangis atau meneteskan air mata. Sebab, puncak kebahagiaan bisa berupa tangis dan tetesan air mata. Sebaliknya, jangan cepat-cepat ikut senang tatkala melihat orang tertawa lebar. Sebab, bisa saja seseorang tertawa lebar lantaran dipresi berat. Melalui tulisan ini saya mengajak anda semua untuk menangis karena rasa syukur kita kepada Allah yang telah mengaruniai nikmat berupa hidup sehingga bisa melihat indahnya dunia ini dan nikmat-nikmat yang lain yang tak terhitung jumlahnya. Karena karunia hidup pula, kita bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi untuk menjadikan hidup lebih bermakna kendati hanya lewat dunia maya. Saya juga ingin mengajak anda semua sering meneteskan air mata merenungi kesalahan-kesalahan kita masa lalu seraya mohon ampunanNya. Akhirnya, kepada Allah pula kita serahkan makna tangis dan tetesan air mata kita.
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
