Beberapa hari yang lalu, saya menulis tentang perlunya kegiatan membaca. Bahwa orang yang pintar membaca, yaitu membaca apa saja dalam pengertian luas, maka mereka itulah yang akan mendapatkan keuntungan. Sebaliknya, orang yang selalu merugi, adalah karena kurang pandai atau tidak mau membaca.
Membaca dalam pengertian yang mendalam, dalam dunia ilmu pengetahuan disebut riset. Umat Islam masih lemah dalam melakukan kegiatan ini. Belum banyak temuan-temuan yang dihasilkan oleh ilmuwan Islam. Hal itu diakibatkan oleh karena semangat meneliti atau riset di kalangan umat Islam belum bangkit. Pusat-pusat penelitian di kalangan umat Islam masih belum tumbuh secara maksimal. Itulah sebabnya, umat Islam masih ketinggalan. Berbagai temuan ilmiah dan teknologi belum banyak yang dihasilkan. Umat Islam, misalnya belum berhasil menciptakan jenis pesawat terbang sendiri. Padahal setiap saat memerlukannya, setidak-tidaknya untuk mengangkut jamaáh haji dari semua penjuru menuju ke Makkah dan Madinah. Demikian pula alat-alat komunikasi, persenjataan modern, dan lain-lain masih membeli dari negara maju yang berpenduduk bukan muslim. Sebenarnya Nabi Muhammad telah memberikan inspirasi yang sedemikian dahsyad. Pada ketika itu, nabi telah mentradisikan catat mencatat, hingga wahyu pun dicatat, dan akhirnya sekarang tertulis dalam bentuk kitab suci yaitu al Qurán. Nabi juga telah melakukan perjalanan jauh melebihi cara modern, yaitu perjalanan dari masjidl haram ke masjidil aqsha, dan kemudian diteruskan ke Sidratul Muntaha. Perjalanan tersebut, menurut kisahnya, berhasil mendapatkan pengetahuan yang tidak pernah dicapai dan dialami oleh manusia yang hidup hingga saat ini. Sebutan langit berlapis tujuh di dapatkan dari kitab suci al Qurán dan keadaan itu telah dibuktikan sendiri oleh Nabi Muhammad melalui perjalanan mikraj. Maka artinya, ummat Islam telah diajari oleh nabinya tentang sesuatu atau pemandangan yang sedemikian luas dan jauh hingga tidak terperkirakan. Namun sayangnya, apa yang diajarkan oleh Nabi itu belum sepenuhnya berhasil ditangkap. Ummat Islam masih di bumi, artinya belum melakukan apa yang diperintahkan, yaitu penjelajahan ke sudut-sudut bumi yang jauh dan apalagi ke langit. Jika pandangan itu berhasil ditangkap, maka umat Islam akan menjadi pelopor dalam melakukan uji coba, eksperimentasi, kajian-kajian, dan riset di mana-mana. Gambaran yang tampak selama ini , kadang masih justru sebaliknya. Sekedar muncul pikiran mau mengembangkan bentuk lembaga pendidikan dari STAIN dan IAIN menjadi universitas atau UIN saja, banyak yang khawatir, jangan-jangan ilmu agamanya menjadi hilang. Mereka yang khawatir itu memaknai ilmu agama hanya sebatas ilmu ushuluddin, syariáh, tarbiyah, dakwah dan adab. Selain itu dianggap bukan bagian dari pengetahuan Islam. Padahal al Qurán dan hadits sendiri menyuruh umatnya memikirkan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, hingga berbicara tentang langit yang berlapis tujuh, dan benda-benda yang tampak maupun yang tidak tampak. Tafaqquh fiddien oleh sementara kalangan ummat Islam hanya dimaknai sebagai upaya mengkaji aqidah, fiqh, akhlak, tasawwuf, tarekh dan Bahasa Arab. Padahal nabi sendiri, sebagai bagian dari tugas-tugas kenabiannya diperjalankan, hanya dalam waktu semalam pada jarak yang sedemikian jauh, yang tidak mungkin dialami oleh manusia biasa. Hal seperti ini kiranya tepat dan wajar dijadikan sebagai sumber inspirasi terhadap keharusan bagi ummat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan secara luas dan mendalam. Atas dasar pandangan itu, maka semestinya lembaga pendidikan Islam melakukan kajian atau riset secara luas dan mendalam tentang apa saja yang seharusnya bisa diketahui. Jika di dalam al Qurán disebutkan bahwa Tuhan tidak akan memberi ilmu kecuali sedikit, maka yang sedikit itu harus dicari secara terus menerus tanpa henti. Ummat Islam semestinya tidak takut akan kebanyakan ilmu. Akan tetapi harus sebaliknya, menjadi takut kalau dianggap miskin ilmu. Islam menganjurkan ummatnya mencari ilmu, mulai dari ayunan hingga liang lahat, dan ke mana saja. Itulah sebabnya, maka pusat-pusat riset seharusnya dikembangkan oleh umat Islam. Sehingga dengan demikian umat Islam berhasil tampil di depan, dan selalu mendahului zamannya. Gambaran ideal itu hanya akan berhasil diraih manakala umat Islam, ——–berbekalklan al Qurán dan hadits nabi, berani menjelajah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan hingga pada batas-batas yang tidak mungkin lagi bisa dilakukan. Adapun sebagai salah satu instrument atau wadah pengembangan ilmu adalah pusat-pusat riset, dan universitas. Sehingga, mestinya umat Islam dan apalagi tokoh-tokohnya menjadi gelisah jika tidak memiliki instrument itu. Bukan sebaliknya, selalu khawatir dan bahkan takut kalau lembaga pendidikannya berubah menjadi lebih luas jangkauannya, yaitu tatkala STAIN atau IAIN berubah menjadi universitas. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
