Wednesday, 22 April 2026
above article banner area

Ramalan Malaikat

Malaikat  ternyata bisa meramal tentang sesuatu yang akan terjadi di masa depan. Ramalannya yang dimaksudkan itu  juga tepat. Makhluk yang diciptakan oleh Allah jauh sebelum manusia itu meramalkan bahwa adam dan cucu-cucunya hanya akan membuat kerusakan di muka bumi dan akan melakukan pertumpahan darah. Di antara sesama akan saling membunuh dan memusnahkan.

  Ramalan malaikat itu, dalam kisah yang bisa dibaca melalui kitab suci al Qurán, disampaikan langsung kepada Tuhan. Atas keberatan malaikat terhadap rencana Tuhan menciptakan makhluk berupa manusia di muka bumi tidak dikabulkan. Tuhan malah mempertegas bahwasanya Ia lebih tahu terhadap apa saja  yang tidak diketahui oleh makhluk yang terbuat dari cahaya itu.   Sekalipun mendapat protes, manusia tetap diciptakan. Kemudian, diajarilah makhluk baru ini  tentang nama-nama benda, yang hal itu tidak diberikan kepada malaikat. Dengan begitu maka manusia yang diciptakan dari sari pati tanah, dalam soal ilmu pengetahuan, ternyata  lebih unggul dari makhluk lain yang diciptakan dari  cahaya. Malaikat atas kekuarangannya itu disuruh bersujud kepada makhluk baru dan dijalaninya perintah itu.  Hal itu berbeda dengan iblis, karena sombong, merasa asal kejadiannya lebih unggul, yaitu diciptakan dari api, menolak atas perintah itu. Makhluk ini akhirnya menjadi terlaknat dan akan menghadapi siksa selama-lamanya di akherat nanti.  Namun mereka meminta dan diberi kebebasan untuk menggoda manusia yang menyandang ilmu itu, untuk dijadikan teman kelak.   Manusia, sekalipun unggul  dalam soal ilmu, tetapi masih kalah  dalam hal bertasbih, memuji Allah dan mensucikan asma-Nya. Oleh karena itu kedua  jenis makhluk  tersebut memiliki keunggulan masing-masing. Manusia diciptakan dari tanah,  yang  tidak seunggul cahaya, tetapi memiliki kelebihan dalam ilmu pengetahuan. Sedangkan malaikat, lebih unggul dalam  spiritualnya, tetapi tidak demikian dalam ilmu pengetahuannya.   Ramalan makhluk  yang memiliki spiritualitas lebih unggul itu,  ternyata  tepat. Manusia yang  diramalkan akan melakukan kerusakan di muka bumi dan  pertumpahan darah, ternyata benar-benar terjadi. Kasus Osama bin Laden yang dituduh telah melakukan terror hingga menewaskan banyak orang ternyata juga mati terkena serangan tentara Amerika beberapa hari yang lalu. Itulah contoh kejadian,  saling bunuh membunuh di antara makhluk manusia di muka bumi.              Akan tetapi tidak berarti bahwa maksud Tuhan menjadikan khalifah di muka bumi  gagal sama sekali. Manusia dengan akal, semangatnya  dalam bekerja,  dan kebaikan akhlaknya, telah  terbukti  berhasil membuat kebaikan dan keindahan dalam kehidupan bersama. Kita lihat misalnya,  berbagai komunitas manusia, bersama-sama saling mengingatkan dan menyeru untuk bekerja keras, beribadah, menuntut ilmu, memelihara  akhlaknya, hingga masyarakat manusia berkembang biak dari zaman ke zaman.      Dialog  antara Tuhan dan Malaikat yang terdokumentasikan  dalam kitab suci al Qurán, pada kenyataannya   dapat kita saksikan dalam kehidupan ini.  Bahwa dari waktu ke waktu, selalu saja terjadi permusuhan di antara manusia, baik antar individu, kelompok dan antar bangsa. Selalu saja  muncul pihak-pihak yang  membuat kerusakan dan  membunuh sesama  yang dianggap sebagai musuh.   Selain itu, sebagaimana dimaksudkan dalam al Qur’an,  di mana-mana telah muncul  kepemimpinan atau kekhalifahan yang melahirkan kehidupan yang damai dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Maka lahirlah komunitas manusia dengan berbagai corak kepemimpinannya  yang  dijalankan dari waktu ke waktu. Itulah kehidupan dunia yang diwarnai oleh kebaikan dan keburukan yang selalu terjadi dan silih berganti sepanjang zaman.   Semua kejadian tersebut tidak lepas dari skenario Tuhan, yaitu Sang Pencipta,  Pemilik jagad raya seisinya ini, sedangkan manusia hanya sebagai pelaku skenario besar itu.  Gambaran tentang kehidupan   itu ternyata  telah diramalkan sebelumnya oleh malaikat yang senantiasa  beribadah kepada-Nya.   Manusia yang  telah dikaruniai potensi untuk belajar, semestinya menggunakan potensinya itu secara maksimal,  yaitu mau belajar tentang sejarah dan asal kejadiannya agar tidak tersesat,  membuat kerusakan, dan saling  bunuh-membunuh  sebagaimana telah diramalkan sebelumnya  oleh malaikat dimaksud.    Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *