Seminggu dua kali harus ke Sumatera. Pada tanggal 4 Agustus 2010 mendapat undangan ke Universitas Muhammadiyah Sumatera (UMSU) Medan, hari berikutnya tanggal 5 Agustus 2010 ke Bali, dan selanjutnya tanggal 6 Agustus 2010 kembali lagi ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat, untuk menghadiri undangan dari Lembaga Pendidikan Thawalib. Sepulang dari Bukit Tinggi, pada tanggal 9 Agustus, masih ada acara lagi di Jakarta.
Acara demi acara yang saya hadiri, baik di Medan, Bali, Bukit Tinggi, dan kemudian Jakarta sesungguhnya hanya berbicara soal yang sama, yaitu pendidikan Islam. Rupanya, akhir-akhir ini mulai banyak orang mengajak berdiskusi tentang hal tersebut. Materi perbincangannya juga selalu mirip, yaitu bagaimana peningkatan pendidikan Islam hingga menjadi lebih berkualitas. Rupanya orang mulai sadar bahwa pendidikan Islam dipandang sedemikian penting. Kesadaran itu tumbuh dari kenyataan bahwa ternyata pendidikan yang hanya mengedepankan pengembangan intelektual dan profesional tanpa dibekali dengan kekayaan spiritual dan akhlak tidak akan mengantarkan seseorang menjadi sempurna. Bahkan dengan ilmu dan ketrampilan saja, perilaku orang menjadi tidak terkendali. Banyak orang pintar, tetapi akhirnya celaka, justru karena kepintarannya itu. Kenyataan tersebut menjadikan orang semakin percaya terhadap pendidikan Islam. Mungkin, selama ini masih disadari bahwa pendidikan Islam belum mampu menunjukkan kualitasnya. Namun, masih memiliki kekuatan lainnya, yaitu dalam pengembangan spiritual dan akhlak. Kesadaran masyarakat tersebut, disambut positif oleh pengelola pendidikan Islam, dengan menyelenggarakan berbagai diskusi untuk mencari jalan keluar peningkatan kualitas itu. Di Medan, Sumatera Utara, melalui kegiatan seminar yang diselenggarakan atas kerjasama antara UMSU dan perguruan tinggi di Malaysia, ingin ditemukan model pengembangan pendidikan tinggi yang relevan dengan misi dakwah. Pada kesempatan tersebut, saya ajukan pandangan di antaranya, bahwa pendidikan Islam harus berhasil menunjukkan kelebihannya dari lembaga pendidikan lainnya. Kedua, harus berani melakukan terobosan yang diperlukan dan bahkan jika dipandang perlu melakukan restrukturisasi bangunan keilmuannya, hingga tidak lagi terjadi pandangan keilmuan secara dikotomis, yakni membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Selain itu, untuk meraih kualitas, maka pimpinan, guru, karyawan dan para siswa/mahasiswa harus total dalam menunaikan pekerjaannya. Saya mengingatkan bahwa selama ini, lembaga pendidikan Islam kalah dibanding lembaga pendidikan lainnya, disebabkan oleh hal-hal tersebut. Sedangkan di Bali, saya diminta untuk berbicara tentang kepemimpinan dan manajemen pendidikan tinggi di hadapan para pimpinan perguruan tinggi Islam di Indonesia bagian timur. Rupanya mereka menyadari, bahwa di antara titik lemah perguruan tinggi Islam ada pada aspek itu. Saya sampaikan bahwa menggerakkan dan sekaligus mengarahkan orang tidak mudah. Namun sebenarnya, dalam ajaran Islam sendiri sudah terlalu kaya akan prinsip-prinsip manajerial dan leadership yang seharusnya dijadikan pegangan. Selama ini tatkala mengkaji Islam, orang terlalu banyak menangkapnya hanya dari aspek ritualnya, atau hal-hal lain yang terkait dengan itu. Pada tanggal 6 Agustus, saya kembali ke Sumatera, yaitu ke Pesantren Thahawalib, Parabek, Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Di lembaga pendidikan yang telah berusia 100 tahun atau satu abad ini, saya diminta berbicara tentang Menggagas Pendidikan Progresif dan implementasinya. Rupanya di beberapa tempat, banyak orang mulai bersemangat untuk mencari alternatif, pendidikan Islam yang lebih progresif. Kemajuan itu tidak saja diharapkan dari tataran manajerian dan leadershipnya, melainkan juga dari isi pendidikan itu sendiri. Berangkat dari tema itu, saya menawarkan pandangan bahwa dalam mengkaji Islam perlu keberanian untuk membuka cakrawala pemikiran yang lebih luas dari yang selama ini dilakukan. Selama ini, apa yang disebut sebagai pendidikan Islam, sebatas kajian tentang tauhid, fiqh, akhlak dan tasawwuf, tarekh dan Bahasa Arab. Konsep itu tidak salah, akan tetapi jika dari sana diharapkan lahir pikiran-pikiran progresif, berdasar kenyataan selama ini, tidak akan tercapai. Bahkan Islam dengan formula seperti itu akan dikesankan sebagai ajaran yang hanya terkait dengan ritual, dosa dan pahala, haram dan halal, serta surga dan neraka. Persoalan itu bukan tidak penting, tetapi banyak orang menghendaki lebih dari sekedar itu. Sebagai alternatif yang saya ajukan, mengkaji Islam harus memulainya dengan kegiatan tilawah terhadap ayat-ayat Allah, yakni berupa jagad raya, baik menyangkut alam, perilaku manusia dan humaniora. Selanjutnya adalah tentang tazkiyah, tatanan sosial yang melahirkan keadilan dan kebersamaan, tata cara ritual dan amal saleh atau kegiatan apa saja harus dilakukan secara profesional. Manakala konsep ini bisa dikembangkan maka tidak akan terjadi lagi dikotomik dalam melihat ilmu pengetahuan, dan Islam akan benar-benar menjadi petunjuk dalam seluruh aspek kehidupan ini. Dalam beberapa hari ini, kegiatan itu masih akan berlanjut. Sebab hari Senin, tanggal 9 Agustus masih harus menghadiri seminar terbatas di Balai Penelitian Kementerian Agama di Jakarta. Setelah itu di awal Ramadhan masih harus ke Berao, Kalimantan Timur. Kegiatan terakhir ini, akan membicarakan tentang alternatif pengembangan zakat di daerah itu, yang sebenarnya oleh masyarakat di sana sudah beberapa lama dirintis. Padatnya acara tersebut, tentu sedikit banyak mengganggu kegiatan di kampus sendiri. Namun apa boleh buat, ternyata pimpinan kampus tidak saja harus aktif dalam arusan akademik dan managerial perguruan tinggi tetapi juga harus mau memenuhi permintaan berbagai pihak. Dengan begitu sebenarnya kampus akan dikenal dan akan berhasil memberi sesuatu kepada lingkungannya. Kampus pada hakekatnya adalah lembaga, yang salah satu misinya adalah mengembangkan masyarakat. Sehingga, jika dilihat dari sudut pandang ini, maka kegiatan yang saya lakukan, justru menjadi keniscayaan. Wallahu a’lam.
Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo
Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
