Saturday, 9 May 2026
above article banner area

Dunia Batin, Dunia Makna

Tidak seperti binatang yang mendapati lingkungan sebagai rangsang pemicu tanggapan biologis belaka, sebagai makhluk pengguna lambang (homo symbolicum) secara khas manusia menandai aneka benda dan peristiwa secara simbolik, dan sekaligus memaknai simbol-simbol sebagai seolah benda dan kejadian sebenarnya. Karena itu, hanya setelah melakukan penafsiran terhadap benda, peristiwa, dan simbol, manusia kemudian memberikan tanggapan terhadapnya. Selalu ada proses pemaknaan yang menjembatani rangsang mentah (distal stimuli) dengan tindakan manusia. Di antara sejumlah simbol yang berkembang dan dikembangkan manusia, bahasa merupakan simbol yang paling universal digunakan, serta paling generatif untuk merepresentasi benda, kejadian, dan bahkan gagasan. Menimbang secara serius kenyataan tersebut, tradisi fenomenologi menegaskan bahwa setiap makna tersusun secara sosial (socially reconstructed). Suatu makna tak melekat pada realitas per se, tetapi dipertalikan oleh manusia-manusia berdasarkan takrif dan tafsir yang mereka berikan (Berger dan Luckmann, 1967). Bahkan menurut para ahli komunikasi makna kata sangat subjektif dan tidak pernah tunggal. “Words do not mean what people mean”. Makna diciptakan sesuai kepentingan penggunanya. Kita lihat saja bagaimana persaingan makna antara pemerintah dan masyarakat yang tidak setuju dengan kenaikan harga BBM. Pemerintah memandang kenaikan harga BBM merupakan pilihan paling akhir dan diakui tidak populis, tetapi harus dilakukan karena terjadi kenaikan harga minyak dunia. Sementara masyarakat yang tidak setuju menganggap ada jalan lain untuk menghadapi kenaikan harga minyak dunia tersebut. Bagaimana pula dengan BLT? Pemerintah menganggap BLT sebagai bentuk kompensasi atas kenaikan BBM agar  jumlah orang miskin tidak meningkat dan oleh karenanya BLT harus jalan. Sedangkan bagi yang tidak setuju menganggap BLT tidak efektif dan menjadikan rakyat sebagai orang malas, peminta-minta, dan malah menjadi pengemis. Ada yang usul bantuan jangan diberikan dalam bentuk tunai, tetapi dalam bentuk padat karya. Toh akhirnya siapa pula yang memenangkan pertarungan makna tersebut? Lazim diterima, ketika menghadapi situasi tertentu, manusia mendefinisikan situasi tersebut dan secara tak terelakkan terbelenggu oleh definisi yang telah dibuat. Thomas dan Thomas (1928) merumuskan kaidah ini dalam bentuk teorema: “If men define situations as real, they are real in their consequences”. Ini menegaskan fakta bahwa manusia tak hanya menanggapi situasi objektif, tetapi juga mengembangkan makna subjektif situasi itu bagi dirinya. Karena itu, bukan situasi objektif yang mempengaruhi tindakan manusia, melainkan definisi manusia itu terhadap situasi. Bukan keberadaan hantu yang membuat seseorang takut, tetapi kepercayaan seseorang itu sendiri terhadap keberadaan hantu. Jadi terlepas dari apakah hantu itu ada atau tidak ada, bila anda meyakininya ada, maka anda pun akan takut karena keyakinan anda sendiri. Pun bila sekelompok masyarakat meyakini bahwa Islam memicu terorisme, maka kelompok masyarakat ini pun akan memberikan tanggapan secara negatif terhadap Islam. Tanggapan negatif menyeruak bukan karena situasinya nyata, tetapi karena telah didefinisikan nyata. Menurut Lofland dan Lofland (1984), realitas makna memiliki beberapa ciri penting, antara lain kerentanan dan kepirantian. Karena bersifat rentan dan mudah rusak, makna beserta simbolnya diperlakukan secara hati-hati oleh komunitas pendukungnya, dan dipertahankan bila ada serangan terhadapnya. Makna dan simbolnya juga bermatra kepirantian. Karena itu, kelompok masyarakat yang diuntungkan akan menerapkan politik permaknaan untuk mempertahankan dan mengesahkan kedudukannya. Sebaliknya, orang yang dirugikan akan menggunakan makna tandingan untuk mengakomodasi diri dalam memberikan perlawanan. Bisa disimpulkan bahwa dengan mengendalikan dunia makna manusia, maka jalan untuk menguasai dunia batin manusia lain pun menjadi terbuka.

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Share
below article banner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *