Suatu kali saya tinggal di sebuah kota berukuran sedang karena tugas. Udara yang begitu dingin di kota itu membuat saya agak menggigil kedinginan. Namun karena capek, tidur pun terasa nyenyak. Saya menginap di sebuah hotel menghadap ke Samudera Indonesia. Di pagi buta saya bangun dan terdengar sayup-sayup suara adzan nan jauh di sana. Saya bangun dan keluar dari hotel dan bermaksud mencari masjid tempat adzan dikumandangkan untuk sholat subuh. Pohon-pohon rindang yang tumbuh tinggi di kota itu, bukit-bukit hijau yang mengelilinginya, dan suara ombak samudera yang amat luas seolah ingin menemani saya untuk bersujud kepada sang Maha Pencipta. Sebab, bukankah memang semua makhluk yang ada di langit dan bumi juga bersujud kepada Allah? Ternyata masjid itu cukup jauh dari hotel saya menginap. Tetapi karena sudah berbekal niat, perjalanan jauh itu tidak terasa. Malah perjalanan menuju masjid saya manfaatkan melihat-lhat keindahan suasana pagi di kota yang menghadap samudera tersebut. Saya bersyukur karena tidak terlambat datang di masjid dan alhamdulillah bisa ikut sholat subuh berjamaah. Usai sholat dan berdoa sejenak, saya bermaksud meninggalkan masjid kembali ke hotel. Ketika baru melangkah, ada seorang setengah baya menghentikan langkah saya dan bertanya saya dari mana dan mengapa bergegas pulang. Ketika saya jelaskan identitas saya, orang itu paham dan dengan santunnya meminta saya sabar sejenak tinggal di masjid karena akan ada pengajian ba’da subuh oleh seorang ustadz yang cukup terkenal di kota itu. Saya pun mengikuti acara pengajian itu. Rupanya di masjid itu ada tradisi bahwa jamaah dihimbau untuk tidak meninggalkan masjid jika ada pengajian, yang tentu saja tidak saya ketahui karena saya pendatang. Tetapi betapa untungnya saya mengikuti pengajian itu, karena ustadz yang bersahaja itu menyampaikan materi yang cukup menarik bagi saya, yakni tentang peran akal bagi kehidupan manusia. Saya perhatikan para jamaah terkesima mendengarkan uraian sang ustadz yang mengurai al Qur’an pada surat al Baqarah (2) : 170) dan surat al Maidah (5) : 104). Sayang, saya tidak berbekal alat tulis dan kertas sama sekali. Tetapi saya ingat materi ceramahnya. Berikut kisahnya. Manusia diciptakan oleh Allah tiada lain kecuali hanya untuk beribadah kepadaNya. Untuk dapat melaksanakan tugas itu sebagai bentuk pengabdiannya, Allah tidak membiarkannya tanpa bekal. Allah melengkapinya dengan akal agar bisa memahami semua petunjuk dan ciptaanNya. Ia menjadikan akal terbuka untuk mengetahui berbagai masalah, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Melalui ilmu pengetahuan, manusia mampu memahami berbagai masalah kehidupan dan mencari solusinya. Karena itu, malaikat dan seluruh makhluk penghuni langit diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Adam, nenek moyang manusia, karena dia telah diberi akal. Semuanya sujud kepada Adam, kecuali Iblis yang sombong. Penghormatan Islam terhadap akal adalah sebuah keniscayaan, sebab akal merupakan sumber pengetahuan. Melalui al Qur’an, Islam mengajak umatnya untuk mendayagunakan akal pikirannya, memperoleh petunjuk dengan berkreativitas dan bekerja keras sehingga hidup menjadi lebih bermakna. Sebaliknya, jika akal yang telah diberikan itu tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, hidup manusia akan berjalan seolah tanpa kekuatan dan pegangan. Itu sebabnya, karena berbekal akal, maanusia diangkat derajatnya oleh Allah sebagai makhluk terbaik yang pernah diciptakan. Menurut Imam Ghazali, akal merupakan karunia Allah yang luar biasa. Sebab, akal — walau punya keterbatasan — merupakan sumber ma’rifat (pengetahuan). Melalui akal, manusia bisa hidup lebih baik dan bermartabat. Karena demikian pentingnya fungsi akal bagi kehidupan manusia, Allah mengulang kata ‘al aqlu’ dalam al Qur’an yang bertebaran dalam berbagai ayat sedikitnya sebanyak lima puluh kali. Dalam khasanah kebahasaan, pengulangan bisa diartikan sebagai tingkat kepentingan makna kata yang diulang tersebut. Artinya, semakin banyak kata diulang, semakin penting arti kata tersebut. Selain kata ‘al aqlu’, kata ‘ulul albaab’ juga mengalami pengulangan berkali-kali. Itu semua menyiratkan suatu seruan yang kuat agar manusia mau menggunakan akalnya dalam memahami semua fenomena kehidupan dengan berbagai misterinya untuk memperoleh manfaatnya yang pada akhirnya dapat mengagumi semua ciptaan Allah serta tak satu pun ciptaanNya sia-sia. Jika akal adalah alat berpikir dan memahami semua ciptaan Allah, maka hakikatnya orang yang tidak mau menggunakan akal, sehingga menjadi bodoh dan terbelakang, berarti dia telah berbuat sia-sia karunia Allah yang sangat agung itu. Karena itu, berpikir dengan menggunakan akal merupakan kewajiban islami yang mesti dilakukan oleh siapa saja yang mengaku Islam. Keimanan seseorang bahkan tidak akan sempurna jika tidak disertai dengan pengetahuan melalui akal pikirannya. Itu sebabnya, Allah sampai menyebut orang yang tidak memanfaatkan akalnya sebagai ‘al an’aam’, yang artinya binatang ternak. Mengapa sebutan Allah demikian keras bagi orang-orang yang tidak menggunakan akal pikirannya? Sebab, dia dianggap telah mengabaikan alat pemisah antara kebenaran dan kebathilan, kebaikan dan keburukan, kejujuran dan kebohongan, petunjuk dan kesesatan, dan keduniaan dan keakhiratan, Bisa dibayangkan bagaimana jika di dunia ini tidak ada pemilahan yang jelas antara yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang sesaat dan abadi, dan sebagainya. Pasti kacau kan? Sang ustadz masih melanjutkan bahwa selain akal sebagai sumber ma’rifat, masih ada lagi sumber ma’rifat yang lain, yaitu ma’rifat pengindraan, dan ma’rifat khabar (berita). Ma’rifat pengindraan diperoleh lewat penglihatan dan pendengaran. Selanjutnya ma’rifat ini diolah oleh akal manusia untuk dipahami. Karena itu, tanpa akal, selengkap apapun ma’rifat indrawi tersebut, tidak banyak bermakna. Sang ustadz pun menutup acara pengajian dengan sekali lagi menekankan pentingya umat Islam memanfaatkan anugerah Allah swt yang agung berupa akal dalam kehidupan sehari-hari. Agar akal itu tumbuh dan berkembang, maka pintunya utamanya adalah pendidikan. Karena itu, bagi orang Islam belajar dan menunut ilmu merupakan kewajiban yang mesti ditunaikan. Saya pun menyimpulkan bahwa orang belajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai S1, dilanjutkan ke S2, dan bahkan S3 tidak saja merupakan tuntutan akademik agar manusia semakin pandai dan cerdas, tetapi lebih dari itu merupakan kewajiban. Kalau begitu, berislam pada dasarnya juga berilmu pengetahuan. Ilmu yang dimaksudkan tidak terbatas pada ilmu-ilmu agama saja, melainkan mencakup berbagai ilmu pengetahuan baik ilmu hukum, ekonomi, sains, sastra, sejarah, matematika, kimia, kedokteran, fisika dan sebagainya yang membawa maslahat bagi manusia. Tak satu pun jamaah, termasuk saya, yang menyangkal penegasan sang ustadz. Dalam batin saya itulah ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Universitas Islam Negeri Malang, tempat saya mengabdi. Akhirnya, kendati tak membawa alat tulis dan kertas sedikit pun pagi itu saya memperoleh pelajaran sangat berharga. Alhamdulillah !
Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo
Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Arabiyatuna Arabiyatuna
